OUR NETWORK

Buya Sudah Lelah, Tapi Piye Meneh? DPRe Pekok!

“Yang muda-muda boleh ikut sedih, tapi harus tetap tegak dengan terus berbuat, kewajiban kita ikhtiar, selebihnya tawakal. Buya saking prihatinnya dengan keadaan menjawab seperti itu, tapi beliau tetap memandu kita yang muda-muda dengan spiritnya yang tidak pernah menyerah”
Foto: beritagar.id

“Saya sebenarnya sudah lelah mengamati situasi negara ini” begitu jawaban Buya saat saya bertanya bagaimana keadaan republik bisa begini.

Jawaban Buya itu saya teruskan kepada Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pak Haedar Nashir.

“Saya sedih dengan jawaban Buya ini. Jika tokoh ideal yang masih hidup hari ini sudah menjawab seperti ini” pesan saya kepada Pak Haedar.

***

Ya Tuhan, kesedihan saya pun bertambah saat mendengar kabar, Randi (21), mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara, kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) meninggal (26/09). Dadanya ditembus peluru. Dagingnya terkoyak dalam. Kehidupan dan masa depannya hilang. Innalillahi wainnailahi rojiun.

Sebagai salah seorang mantan Ketua IMM Cabang Ciputat, Tangerang Selatan, di masa pimpinan M. Dwi Fajri, secara natural naik darah saya. Marah. Manusia purba macam apa yang telah merenggut nyawa Randi. Keruan Biadabnya!

Kesedihan natural ini tentu spontan terjadi karena saya tak bisa lepas dari ruang didik pengkaderan Muhammadiyah, khususnya IMM Ciputat. Tokoh-tokoh gerakan dan intelektual yang lahir dari IMM Ciputat secara langsung dan tak langsung telah menyegarkan ruang kreatif dan jaringan intelektual-sosial-keagamaan saya, barangkali juga kawan-kawan seangkatan.

Tokoh-tokoh itu, misalnya intelektual yang kini sedang meraih gelar doktor di Australian National University (ANU), Ahmad Fuad Fanani, Mantan Ketua Umum DPP IMM Kiai Piet H. Khaidir, Anggota KPU RI Pramono U Thantowi, Abd. Rohim Ghazali, Ahmad Najib Burhani, Izza Rahman Nahrowi, dan tentu yang ditunggu kehadirannya di tanah air, Sukidi Mulyadi yang belum lama ini berhasil mempertahankan ujian doktoralnya di Universitas Harvard Amerika Serikat.

Jika dihimpun, cukup banyak intelektual dan tokoh Indonesia yang lahir dari rahim IMM Ciputat, sebut saja misalnya Prof. Dien Syamsudin, Prof. Faturahman Djamil, Prof. Yunan Yusuf, Dr. Anwar Abas, Prof. Sudarnoto, Andi Nurpati, Prof. Masri Mansoer, dan bila dilacak utuh dari berbagai bidang tentu masih banyak. Belum lagi jika ditambah dengan intelektual yang istrinya alumni IMM Ciputat, seperti Buya Azyumardi Azra, Kiai Syafiq Hasyim, dan Burhanuddin Muhtadi.

Itu baru keluarga besar IMM Ciputat yang teringat, belum lagi jika dihimpun IMM secara Nasional, atau keluar besar Muhammadiyah sedunia. Nah, bayangkan Pak Jokowi, jika semua keluarga besar Muhammadiyah turun ke jalan, menuntut manusia purba yang telah menembak Randi segera dijerat hukum berat!

Penulis di halaman rumah Buya

Muazin Bangsa

Dari IMM Ciputat kemudian “berangkat” ke Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), saya termasuk generasi pertama JIMM yang didirikan oleh tokoh Islam Transformatif, Antropolog Moeslim Abdurrahman. Kang Moeslim sudah wafat (2012), meninggalkan amanat Islam Transformatifnya untuk kader-kader JIMM yang belum terlaksana sampai kini.

Buya, kata Kang Moeslim saat itu, adalah payung intelektual JIMM, dan Muhammadiyah adalah tenda besarnya. Ya, Ahmad Syafii Maarif, Sang ‘Muazin Bangsa dari Makkah Darat’ adalah sang pengingat. Sang Muazin tiada lelah menyerukan nilai-nilai moralitas dan kebajikan. Mengingatkan orang-orang untuk terhindar dari perilaku-perilaku buruk kebangsaan; tuna-adab, rabun ayam, preman bersorban, dan politisi ikan lele yang tidak mau naik kelas menjadi negarawan.

Di Grahaa Suara Muhamamdiyah

Kini, Buya Syafii sudah lelah mengamati situasi negara yang begini, lalu bagaimana dengan kita, apakah juga sudah lelah?

Begini jawaban Pak Haedar Nashir membalas pesan saya:

“Yang muda-muda boleh ikut sedih, tapi harus tetap tegak dengan terus berbuat, kewajiban kita ikhtiar, selebihnya tawakal. Buya saking prihatinnya dengan keadaan menjawab seperti itu, tapi beliau tetap memandu kita yang muda-muda dengan spiritnya yang tidak pernah menyerah”.

Ya, Buya, ingin generasi muda dan generasi baru bangsa tetap waras, jernih, dan bertanggung jawab. Sang Muazin Bangsa dari Makkah Darat ini berusaha menjaga kita tetap menjadi manusia waras supaya tidak menjadi manusia purba. Tetapi Buya, meminjam poster dari demo mahasiswa kemarin-sebenarnya saya juga lelah, tapi piye meneh? DPRe Pekok!”

David Krisna Alka
Penyuka kopi susu gula aren, Alumni INS, UIN Jakarta, dan Wall Street English, sedang belajar di Pascasarjana Departemen Ilmu Antropologi UI. Peneliti Senior MAARIF Institute for Culture and Humanity dan Wasekjen PP Pemuda Muhmamadiyah

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.