Jumat, Januari 22, 2021

Buya Bagai Rumah Terbuka

Godaan Melawai, Godaan Little Tokyo yang Aduhai

Bagi orang-orang Jepang yang bertugas di Jakarta dan sekitarnya, kawasan Melawai di Blok M adalah Little Tokyo alias Tokyo Kecil. Kawasan yang tadinya pusat...

Kebocoran Data Telkomsel, Ini Permainan Siapa?

Kasus Denny Siregar memancing banyak oknum bermain. Ormas anarkis jelas nyari panggung paling depan. Teriak paling kencang. Mengancam paling ganas. Kemudian muncul akun Twitter...

Pesan PKI untuk Ustadz Abdul Somad tentang Bom Bunuh Diri

Beberapa hari terakhir, khususnya usai peledakan bom bunuh diri di Surabaya, beredar rekaman ceramah Ustadz Abdul Somad tentang hukum bom bunuh diri. Dalam rekaman...

Masalah Jokowi dengan Golput dan Pelajaran dari Jair Bolsonaro

Jika Anda melihat semua hasil survei Pilpres akhir-akhir ini, Anda diberitahu kemungkinan bahwa Jokowi akan menang dalam Pilpres April mendatang. Tidak saja menang, dia...
Avatar
Haedar Nashir
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Buya Ahmad Syafii Maarif genap 85 tahun. Perjalanan usia yang cukup panjang, alhamdulillah tampak sehat dan segar. Selamat, Buya. Semoga diberi anugerah berkah!

Saya mengenal Buya sejak beliau kembali dari Chicago, tahun 1983. Tahun 1984 waktu itu beliau jadi narasumber seminar Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di Surabaya dan saya mewakili PP IPM, bersama naik kereta api malam dari Stasiun Tugu, Yogyakarta. Di situlah saya berkesempatan pertama kalinya mengobrol panjang dan dekat dengan beliau. Kagum, tidak tahu jadi merasa dekat.

Setelah itu, melalui IPM dan kemudian Badan Pendidikan Kader di mana saya aktif, sering komunikasi sampai Muktamar ke-40 tahun 1985 yang heboh karena asas tunggal Pancaila berlangsung. Waktu itu Buya Syafii menjadi anggota Majelis Tabligh dengan Ketua Pak Amien Rais. Kami lebih dekat lagi setelah tahun 2000 ketika terpilih 13 anggota PP Muhammadiyah, yang mengantarkan beliau menjadi Ketua dan kemudian saya menjadi Sekretaris.

Buya Syafii sosok yang sederhana, tentu cerdas berilmu dan berwawasan luas, humanis, serta lugas tapi santun. Itulah gambaran singkat tentang sosok Buya dalam kesimpulan saya setelah mengenal beliau yang cukup lama. Kelugasannya lahir dari sikapnya yang terbuka secara tulus. Sikap terbuka apa adanya –autentik meminjam istilah beliau– yang membuat dirinya sangat egaliter dan demokratis. Egaliter  dapat berkomunikasi dengan siapa saja tanpa sekat usia, kedudukan, dan lainnya yang membuatnya setiap orang nyaman tanpa rasa takut tapi tetap hormat kepadanya.

Beliau demokratis antara kata dan tindakan. Buya Syafii, kalau boleh saya katakan adalah satu tokoh bangsa yang langka dalam sikap demokratisnya yang autentik. Maaf tokoh lain boleh ada yang banyak disebut tokoh demokrasi, tetapi belum tentu sikapnya demokratis terhadap pihak lain. Malah tidak sedikit yang otoriter, sekehandaknya, dan tidak mau mendengar kritik atau masukkan dari orang lain.

Buya Syafii berbeda. Beliau bersedia dikritik oleh siapapun, bahkan dihujat dan dihakimi buruk. Buya tetap terbuka tanpa marah dan bersikap posesif atau reaktif berlebihan terhadap kritik. Apalagi rasa dendam. Itulah demokrat apa adanya, aseli. Kelugasannya dalam bersikap atau ketika menyampaikan kritik tidak disertai kalimat-kalimat menyerang, sehingga tidak menyakiti subjek.

Keterbukaannya juga ditunjukkan dalam pemikiran beliau dan berinteraksi dengan siapapun secara inklusif, sehingga radius pergaulannya bersita lintas tanpa batas. Buya sosok pluralis yang sesungguhnya, yang kadang atau sering disalahpahami oleh sementara pihak seperti rumah tanpa pagar.

Kelebihan Buya dalam mengusung interaksi dan pemikiran antariman dan antargolongan disertai ketulusan atau bersikap apa adanya, tanpa banyak retorika dan bumbu-bumbu simbolisme. Apalagi ada unsur politisasi, jauh panggang dari api. Sikap inklusif yang alamiah seperti inilah yang membuat Buya memperoleh trust atau kepercayaan tinggi di masyarakat luas, termasuk di kalangan pemuka agama-agama dan  tokoh bangsa lainnya.

Setiap orang tentu memiliki kelemahan, tiada gading yang tak retak. Bila disimpulkan,  di antara yang menonjol dari Buya Syafii Maarif ialah sikapnya yang egaliter dan demokratis dalam arti yang sebenarnya.

Ibarat rumah, Buya adalah rumah terbuka. Siapa pun dapat melihat dan berinteraksi dengannya secara transparan, tanpa sungkan dan berhiaskan kamuflase!

Avatar
Haedar Nashir
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.