Banner Uhamka
Jumat, September 25, 2020
Banner Uhamka

Buya Bagai Rumah Terbuka

Aksi 212, Wiro Sableng, dan Indikasi Makar

Bagi kalangan pembaca novel Wiro Sableng yang ditulis Tito Bastian, aksi 212 memiliki kenangan tersendiri. Angka 212 adalah bilangan bersejarah yang menganggit imajinasi setiap...

Sains dan Nalar Instrumental: Tanggapan terhadap GM, Pertanyaan untuk Hamid Basyaib

Dalam tulisan sebelumnya di laman Geotimes (13 Juni 2020), “Sains, Saintis, dan Vaksin Korona”, kami fokus menyoroti polemik antara Goenawan Mohamad (GM) dan AS Laksana...

Investasi Generasi di Desa Cidahu Sukabumi

Rahma Aliya Rizki adalah anak yang hidup dalam nestapa di masa silam. Lahir dengan kaki dan tangan tidak sempurna di Desa Cikadu, Bandung Barat....

Tetap Teguh Walau Langit Runtuh

Saya ingin mengenang Arief Budiman, aktivis dan sarjana yang melegenda di kalangan mahasiswa itu, dengan menziarahi debatnya dengan kawan dan muridnya sendiri, Rizal Mallarangeng,...
Avatar
Haedar Nashir
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Buya Ahmad Syafii Maarif genap 85 tahun. Perjalanan usia yang cukup panjang, alhamdulillah tampak sehat dan segar. Selamat, Buya. Semoga diberi anugerah berkah!

Saya mengenal Buya sejak beliau kembali dari Chicago, tahun 1983. Tahun 1984 waktu itu beliau jadi narasumber seminar Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di Surabaya dan saya mewakili PP IPM, bersama naik kereta api malam dari Stasiun Tugu, Yogyakarta. Di situlah saya berkesempatan pertama kalinya mengobrol panjang dan dekat dengan beliau. Kagum, tidak tahu jadi merasa dekat.

Setelah itu, melalui IPM dan kemudian Badan Pendidikan Kader di mana saya aktif, sering komunikasi sampai Muktamar ke-40 tahun 1985 yang heboh karena asas tunggal Pancaila berlangsung. Waktu itu Buya Syafii menjadi anggota Majelis Tabligh dengan Ketua Pak Amien Rais. Kami lebih dekat lagi setelah tahun 2000 ketika terpilih 13 anggota PP Muhammadiyah, yang mengantarkan beliau menjadi Ketua dan kemudian saya menjadi Sekretaris.

Buya Syafii sosok yang sederhana, tentu cerdas berilmu dan berwawasan luas, humanis, serta lugas tapi santun. Itulah gambaran singkat tentang sosok Buya dalam kesimpulan saya setelah mengenal beliau yang cukup lama. Kelugasannya lahir dari sikapnya yang terbuka secara tulus. Sikap terbuka apa adanya –autentik meminjam istilah beliau– yang membuat dirinya sangat egaliter dan demokratis. Egaliter  dapat berkomunikasi dengan siapa saja tanpa sekat usia, kedudukan, dan lainnya yang membuatnya setiap orang nyaman tanpa rasa takut tapi tetap hormat kepadanya.

Beliau demokratis antara kata dan tindakan. Buya Syafii, kalau boleh saya katakan adalah satu tokoh bangsa yang langka dalam sikap demokratisnya yang autentik. Maaf tokoh lain boleh ada yang banyak disebut tokoh demokrasi, tetapi belum tentu sikapnya demokratis terhadap pihak lain. Malah tidak sedikit yang otoriter, sekehandaknya, dan tidak mau mendengar kritik atau masukkan dari orang lain.

Buya Syafii berbeda. Beliau bersedia dikritik oleh siapapun, bahkan dihujat dan dihakimi buruk. Buya tetap terbuka tanpa marah dan bersikap posesif atau reaktif berlebihan terhadap kritik. Apalagi rasa dendam. Itulah demokrat apa adanya, aseli. Kelugasannya dalam bersikap atau ketika menyampaikan kritik tidak disertai kalimat-kalimat menyerang, sehingga tidak menyakiti subjek.

Keterbukaannya juga ditunjukkan dalam pemikiran beliau dan berinteraksi dengan siapapun secara inklusif, sehingga radius pergaulannya bersita lintas tanpa batas. Buya sosok pluralis yang sesungguhnya, yang kadang atau sering disalahpahami oleh sementara pihak seperti rumah tanpa pagar.

Kelebihan Buya dalam mengusung interaksi dan pemikiran antariman dan antargolongan disertai ketulusan atau bersikap apa adanya, tanpa banyak retorika dan bumbu-bumbu simbolisme. Apalagi ada unsur politisasi, jauh panggang dari api. Sikap inklusif yang alamiah seperti inilah yang membuat Buya memperoleh trust atau kepercayaan tinggi di masyarakat luas, termasuk di kalangan pemuka agama-agama dan  tokoh bangsa lainnya.

Setiap orang tentu memiliki kelemahan, tiada gading yang tak retak. Bila disimpulkan,  di antara yang menonjol dari Buya Syafii Maarif ialah sikapnya yang egaliter dan demokratis dalam arti yang sebenarnya.

Ibarat rumah, Buya adalah rumah terbuka. Siapa pun dapat melihat dan berinteraksi dengannya secara transparan, tanpa sungkan dan berhiaskan kamuflase!

Avatar
Haedar Nashir
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini...

Pandemi Dapat Membunuh Populis, Tidak Populisme

Demokrasi atau otoriter? Masa awal pandemi diwarnai dengan perdebatan mengenai tipe rezim mana yang paling efektif dalam menghadapi wabah Covid-19. Namun memasuki kuartal ketiga...

Potret Seorang Feodal Tua sebagai Seniman Serba Bisa

Pada zaman dahulu kala, ketika revolusi tidak ada lagi, Goenawan Mohamad pernah mengibaratkan dirinya, dengan heroisme penyair muda, sebagai Malin Kundang. Tapi kini, Malin...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.