Minggu, Maret 7, 2021

Budaya Bacot di Tengah Banjir Data

Sekolah Desa dan Anggaran (SADAR) di Kebumen, Pulau Harapan Indonesia

Saya sudah cukup lama memendam keinginan pergi ke Kabupaten Kebumen, Jateng. Meski kulinernya terkenal enak dan tradisi budayanya sangat kuat, hasrat ke kota tersebut...

Pernikahan Anak: Cara Toxic Parents Berinvestasi Secara Halus

Berdasarkan data dari UNICEF, dari seluruh negara anggota ASEAN, Indonesia menempati peringkat ke-2 negara dengan pernikahan anak tertinggi. Pada 2018, dari total 627 juta penduduk...

Masih tentang Calon Perseorangan dalam Pilkada

Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat mesti berpacu dengan waktu. Waktu yang sangat singkat harus dimaksimalkan oleh pemerintah dan DPR untuk menuntaskan revisi Undang-Undang Nomor...

Satu Dekade YouTube: Dari Urusan Ekspresi sampai Demokrasi

Saat video pertama YouTube berjudul “Me at The Zoo” diunggah 23 April 2005 oleh co-founder YouTube Jawed Karim, tak ada seorang pun menyangka YouTube akan...
Arif Utama
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.

Setiap hari kita dibanjiri distorsi data. Informasi baru terus berdatangan dari hari ke hari ke kepala kita seakan tanpa titik dan bahkan tanpa koma. Beberapanya adalah kalimat-kalimat yang kita duga adalah menyejukkan, beberapanya adalah kalimat yang dipandang penuh curiga. Dalam kata-kata tersebut ada satu kesamaan: semuanya kacau balau dalam banjir bandang informasi.

Nicholas Carr, dalam bukunya The Shallows, memperingatkan kita kemudian: mereka yang biasa membaca dari link, hanya sedikit paham daripada mereka yang membaca linear teks yang tradisional (seperti buku, koran, dan hal-hal yang bersifat di-print); mereka yang terbuai dan sibuk dengan pemberian informasi secara multimedia akan sedikit ingat daripada mereka yang benar-benar berusaha terfokus akan informasi; mereka yang terdistraksi melalui email, dan notifikasi di telepon selular akan memahami sedikit daripada mereka yang benar-benar berkonsentrasi; juga mereka yang mengaku bahwa bisa multitasking adalah orang yang kurang kreatif dan kurang produktif daripada mereka yang melakukan satu hal di suatu waktu.

Kendati sudah diperingatkan Carr, sulit membendung keinginan untuk menggunakan teknologi. Internet bukan lagi suatu hal yang sifatnya tersier, namun sudah menjadi kebutuhan primer di masa kini. Manusia modern terobsesi dan mencintai informasi yang sifatnya termutakhir.

Di zaman di mana setiap individu dituntut bergerak cepat, informasi yang cepat juga pada akhirnya membuat kita tergesa-gesa. Membuat kita, pada akhirnya, terdorong dan kemudian tenggelam dalam kolom komentar.

Budaya berkomentar kemudian muncul, sayangnya, di masa di mana minat membaca tersebut sudah terkikis oleh banjir data. Orang-orang membaca, tapi tak benar-benar paham. Orang-orang berkomentar, tanpa mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Orang-orang hanya menggunakan satu perspektif untuk menghakimi dan, sayangnya, kerapkali lupa untuk memandang dari sisi yang lain.

Orang-orang sudah cukup puas jika hasratnya berbicara sudah bisa sesuai data. Tanpa merasa perlu beropini yang berarti memahami.

Orang-orang kemudian percaya bahwa data adalah segalanya. Informasi yang clickbait, pesan viral dari kolega mereka di Facebook, broadcast di BBM, sialnya, masuk bagian dari kategori data. Jika kemudian dahulu W. Edwards Deming mengatakan, “without data, you’re just a person with an opinion,” di masa kini ada tantangan yang terjadi di balik itu. Kita hidup di zaman di mana data itu banyak sekali, dan dalam kebingungan hebat untuk membingkainya.

Dalam kaitannya, skema musik elektronik lahir dalam keadaan serupa. Beberapa dari Anda mungkin akan mengkategorikan bahwa musik elektronik adalah musik berisik. Tak salah, karena beberapa musik elektronik memang kelewat ramai. Sehingga pendengarnya akan bingung karena diserang data dengan kapasitas yang sangat hebat tapi tak bermakna. Data-data yang tak berkata apa-apa. Dan hal ini jelas sekelumit contoh bagaimana musik elektronik berhasil menggambarkan manusia modern secara sempurna. Dan atas sebab itu mungkin mengapa kaum urban betul-betul menggilai jenis musik ini.

Musik elektronik lahir sebagai wahana eskapis bagi kaum urban. Kaum yang sangat tak punya waktu atas ceramah-ceramah yang menggurui dan lebih senang berhura-hura. Di bar, klub malam, mal-mal, hingga dalam kamar kosan, sangat mudah menemukan musik elektronik. Bahkan ketika Anda tak mau sekalipun mendengarnya.

Jenis musik elektronik mengajak Anda kacau sejak dalam pikiran: nada yang gembira dibalut dengan lirik yang sangat sendu. Beberapa komposer/DJ sengaja mengaransemen lagu aslinya, sementara musisi aslinya secara sukarela membiarkannya. Beberapa musisi bahkan sengaja bekerja sama dengan komposer/DJ untuk mendapatkan nuansa kekacauan ini. Bahkan Kodaline, yang notabene band bergenre folk yang lebih tenang, kemudian melahirkan lagu “Raging” bersama Kygo.

Atau yang paling mainstream, lagu-lagu di Album “Purpose”-nya Justin Bieber yang turut membiarkan Skrillex campur tangan di sana. “Sorry”, “What do You Mean”. Kata-kata sendu yang tersamarkan dalam nada-nada yang akan membuat Anda tak tahan untuk berdansa. Ujung-ujungnya, pilihan untuk berdansa tersebut yang dipilih.

Hal ini tentu persis dengan pola pikiran manusia modern di banjir data: sangat pandai dalam menciptakan chaos, asal bacot, namun terlalu dungu untuk urusan memahami apa yang sebenarnya terjadi. Mudah hanyut dalam terpaan media yang kerapkali memang membutuhkan pandangan luas dan pandangan yang lebih lebar dan lebih luas. Sialnya, kendati data-data tersebut sangat banyak, manusia modern kerapkali sudah puas jika mereka bisa sudah turut dalam kekacauan.

Beberapa data yang dianggap paling dipercaya kemudian dianggap sudah cukup untuk menyingkap apa yang terjadi di dunia mereka. Mereka, orang-orang macam ini, kemudian menjelma sebagai “True Believer” yang digambarkan oleh Dale Carnegie–tipikal orang yang mudah percaya dan, sialnya, terlampau bebal untuk dibantah.

Pada akhirnya, sama seperti skema musik elektronik, orang-orang hanya peduli apakah mereka bisa bersenang-senang dalam kekacauan ini atau tidak. Tanpa paham dan meluangkan waktu lebih terhadap makna sesungguhnya dalam setiap apa yang mereka lihat di dunia ini.

Arif Utama
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.