Selasa, Maret 2, 2021

Masalah Jokowi dengan Golput dan Pelajaran dari Jair Bolsonaro

Olimpiade dan Rasa Merdeka

“Go to hell with IOC! Kita negara-negara berkembang sudah punya ajang olahraganya sendiri, yakni the Games of the New Emerging Forces (Ganefo),” ujar Sukarno...

Merajut Keindonesiaan, Melawan Ekstremisme

Ketua Komnas HAM Nur Kholis (kedua kanan) berfoto bersama Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi (tengah), Wali Kota Kupang Jonas Salean (ketiga kiri), Direktur The Wahid...

Perjumpaan dengan Kaum Pembaharu Muslim

Pada tahun 1980-1990-an, Bapak dan Ibu saya yang seorang guru PNS dan aktivis Muhammadiyah dan Aisyiyah di desa, berlangganan majalah kaum pembaharu, reformis dan...

Inovasi Pemuda Indonesia Abad XXI: Sudut Pandang Eropa

Setiap masa punya ikonnya sendiri. Masa pergerakan kemerdekaan Indonesia di luar negeri misalnya ada Bung Hatta. Ia belajar di Rotterdam, Belanda. Setelah Indonesia merdeka,...
Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.

Jika Anda melihat semua hasil survei Pilpres akhir-akhir ini, Anda diberitahu kemungkinan bahwa Jokowi akan menang dalam Pilpres April mendatang. Tidak saja menang, dia akan menang besar.

Prabowo tampak terseok-seok. Majalah Tempo memberitakan bahwa kampanyenya kekurangan dana. Itu juga yang menyebabkan Prabowo tidak bisa berkeliling Indonesia untuk berkampanye. Sandiaga Uno, wakilnya, menjelaskan bahwa dia harus berhemat-hemat dan sangat hati-hati menentukan target kampanyenya.

Pendukung Jokowi bersorak ketika video Prabowo berdansa di perayaan Natal keluarga ‘bocor’ keluar. Prabowo tampak lepas berdansa-dansi. Demikian juga ada video lain di mana Prabowo tampak menari gembira diiringi musik Papua.

Orang dengan segera menunjuk adanya hipokrisi dari Prabowo, calon presiden pilihan ijtima ulama. Sementara para ulama sekeliling Prabowo mengharamkan ucapan Natal, capres mereka malah berdansa-dansi merayakan Natal.

Benarkah Prabowo tidak ada kans untuk menang dan Jokowi akan melenggang dengan mudah?

Bagi saya sendiri, Pilpres ini agak sulit ditebak. Sekalipun sebagai orang yang belajar ilmu politik saya memperhatikan survei, saya menangkap nuansa lain dari elektorat Indonesia saat ini.

Itulah sebabnya tempo hari saya membagikan tulisan Linda Christanty, yang menurut saya mewakili apa yang saya tangkap dan rasakan. Tulisan itu ditanggapi dengan gusar oleh pendukung Jokowi.

Penulis seperti Linda memang hanya memakai satu orang untuk menarasikan apa yang dia lihat sehari-hari. Namun satu orang itu mewakili puluhan mungkin ratusan orang yang dia jumpai.

Seorang penulis yang baik berusaha menangkap ‘jiwa’ yang ditulisnya. Persis itulah yang dilakukan oleh Linda. Dia menuliskan mood elektorat yang mayoritas orang biasa.

Bagi saya, tulisan Linda itu seperti sebuah etnografi dalam antropologi. Persis di sinilah soalnya. Antropologi bisa menangkap apa yang tidak bisa dimengerti oleh survei, polling, dan modelling yang dilakukan ilmuwan politik.

Bagaimana mengerti mengapa sistem demokrasi membuat orang seperti Donald Trump di Amerika atau Jair Bolsonaro di Brasil bisa menang? Dua orang ini adalah antitesis dari semua ideal yang hendak dicapai oleh demokrasi. Ironisnya, mereka menang lewat demokrasi.

Saya tidak berpretensi bahwa saya ahli soal politik Brasil. Saya juga tidak terlalu paham mengapa Bolsonaro—mantan tentara berpangkat kapten, yang mengidolakan kediktoran militer, suka melecehkan perempuan, anti-LGBT, anti-lingkungan, dan hiper-nasionalistik— itu bisa memang.

Namun, saya mendapati bahwa interview dengan seorang antropolog, Benjamin Junge, ini menarik. Menurut saya, dia berhasil menangkap perasaan elektorat di kalangan kelas pekerja di Brasil, terutama bekas pendukung presiden kiri yang sangat populer, Luiz Inácio “Lula” da Silva, yang kini dipenjara karena tuduhan korupsi itu.

Junge menangkap banyak faktor di balik kemenangan Bolsonaro ini. Dia mengatakan bahwa pendukung Bolsonaro (orang-orang kanan garis keras yang memilih Bolsonaro karena mereka menyukainya dan setuju dengan pandangan-pandangannya) sesungguhnya hanya minoritas kecil.

Pendukung Partai Buruh (Workers’ Party), yang adalah partainya Lula masih sangat besar. Mereka masih pakai kaos partai buruh. Mereka juga pasti akan memilih Lula jika dia berhasil menjadi calon (dia berusaha, tapi tidak berhasil menjadi kandidat).

Mengapa pendukung Lula beralih memilih Bolsonaro? Junge menjawabnya dengan ilustrasi ketika Lula dihukum karena kasus korupsi. Dia bicara tentang seorang perempuan tua di kampung tempat dia melakukan penelitian.

Perempuan ini dianggap sebagai matriarkh dari keluarga besarnya. Ibu ini muak dan marah karena kasus korupsi Lula, tetapi dia juga tidak bisa menyembunyikan kecintaannya kepada Lula, yang sudah banyak berbuat untuk dirinya dan keluarganya.

Saya tertarik bagaimana Junge menggambarkan sikap perempuan itu tehadap Lula. “Orang ini (Lula) bikin banyak sekali hal yang baik dan mungkin akan bisa bikin jauh lebih banyak kebaikan, tapi dia tidak atau gagal melakukannya.”

Orang-orang ini, menurut Junge, adalah golongan kelas buruh. Mereka terangkat dari garis kemiskinan karena kebijakan Lula. Mereka mendapat jaminan kesehatan karena Lula. Kebanyakan dari mereka menjadi kelas menengah bawah karena Lula. Namun, sejak 2014, ketika Lula berhenti menjadi presiden, kondisi mereka merosot miskin lagi.

Tapi mengapa mereka tidak mencoblos orang yang ditunjuk Lula menjadi penggantinya, Fernando Haddad? Kenyataan ini yang membikin ilmuwan politik garuk-garuk kepala. Ini irasional. Jika mereka mencintai Lula, mereka harusnya memilih Haddad.

Juga, bukankah di bawah Haddad, si ibu matriarkh dan keluarganya ini (serta seluruh kelas buruh) akan kembali mendapatkan kebijakan seperti zaman Lula dan kembali menjadi kelas menengah?

Hidup sosial tidak linier. Jungen menunjuk pada satu faktor mengapa Bolsonaro bisa mengikat dukungan dari si ibu martiarkh ini. Kuncinya ada di media sosial.

Seperti di Indonesia, sebagian besar penduduk Brasil terhubung dengan media sosial, khususnya WhatsApp dan Facebook. WhatsApp (WA) mendominasi, orang mudah membuat WA group. Hampir setiap asosiasi sosial kini terhubung lewat WA group atau FB group.

Anehnya, Jungen tidak terlalu menekankan berita bohong (hoaxes dan fake news) sebagai faktor utama yang membuat si ibu matriarkh ini mendukung Bolsonaro. Ada faktor lain yang lebih penting.

Di keluarganya, hanya anak tertuanya (dari lima yang dia punyai) yang mendukung Bolsonaro. Dia sering membagi pesan dan berita tentang Bolsonaro di keluarganya. Akibatnya, dia sering didebat oleh keponakannya yang baru masuk universitas.

Nah, di sinilah anehnya. Si ibu matriarkh ini sangat terganggu debat dan perpecahan yang terjadi dalam keluarganya. Namun pada saat yang bersamaan, kejengkelan ini menyebabkan dia tertarik pada Bolsonaro, yang berjanji akan membawa kembali Brasil menjadi masyarakat yang tertib dan taat, sistem yang hanya bisa dilakukan lewat cara-cara kediktatoran militer. Mimpi yang sama yang secara alamiah dimiliki oleh seorang matriarkh.

Kultur ingatan di Brasil tentang kekejaman kediktatoran militer memang berbeda dari negara-negara tetangganya. Jika di Argentina atau Chile, pemerintah berusaha untuk mengingat kembali kekejaman dan kesalahan dari kediktatoran militer. Di Brasil, selama dua puluh tahun sesudah pemerintahan militer, mereka berusaha untuk melupakan dan bahkan membangun dialog antara jagal dengan korbannya. Tidak adanya memori tentang kekejaman kediktatoran militer tentu memudahkan Bolsonaro untuk berkuasa.

Namun, ada bagian yang lebih menarik. Yaitu ketika suatu saat Junge berjumpa ibu matriarkh ini di jalan. Seperti biasa, dia bertanya tentang Pilpres. Si ibu menjawab mengomel sambil mengeluarkan hapenya. Dia memperlihatkan video gadis-gadis muda yang membuka pakaiannya dan bertelanjang dada di depan umum. Dia bertanya pada Junge, “Saya enggak mau masyarakat kayak gini! Ini yang kamu dapat kalau kamu pilih Partai Buruh!”

Sekali lagi, saya ingin menekankan, bukan hoax atau berita bohong yang pertama-tama membuat pemilih Brasil memilih Bolsonaro. Tetapi, sesuatu yang dirasakan akan mengubah masyarakat yang dia kenal. Sesuatu yang dirasakan bertabrakan dengan nilai-nilainya.

Nah, adakah ini bergema di Indonesia? Itu juga yang menjadi refleksi saya.

Semakin saya mendalami, semakin saya melihat kesalahan besar Jokowi. Seperti kalangan kelas buruh pendukung Lula, demikian pula yang saya lihat pada pendukung Jokowi saat ini. Jokowi banyak membikin hal yang baik. Tapi sesungguhnya dia bisa melakukan lebih banyak lagi tetapi dia gagal atau memilih tidak melakukan karena akan merugikannya secara politis.

Banyak sekali pendukung Jokowi yang kecewa karena dia meninggalkan isu HAM sama sekali. Padahal dia terpilih, salah satunya karena isu ini. Dia membuat banyak infrastruktur, mempersingkat waktu tempuh antarkota, tapi dia sama sekali tidak menyentuh isu keadilan sosial. Dia dipilih dengan harapan melindungi minoritas, ini pun dia tinggalkan seluruhnya. Dia dipilih untuk memberi keadilan kepada para korban HAM, tapi orang dengan mudah menunjuk beberapa orang yang sangat bermasalah di lingkaran terdalam kekuasaannya.

Yang paling menohok adalah ketika Prabowo bergerak ke kanan, dengan merangkul golongan Islam kanan, Jokowi berusaha menjadi lebih kanan. Kini, Prabowo dengan cerdik bergerak ke tengah. Dia menari. Dia berdansa. Dia menurunkan retorik agamisnya. Dia mulai membongkar isu-isu ekonomi.

Jokowi mengira bahwa dengan bergerak ke kanan dia akan bisa menghentikan dukungan Prabowo. Itu tidak terjadi. Dukung terhadap Prabowo ‘rock solid’ di kanan. Memang jumlahnya kecil. Namun ini pendukung fanatik, dengan suara keras dan berusaha berteriak dengan kekuatan mega-decibel.

Inilah yang tidak dipunyai oleh Jokowi. Massa pendukungnya lebih moderat dan cenderung untuk tidak bersuara. Mereka dulu memilih Jokowi justru karena janji-janji—yang sebagian besar tidak dipenuhinya itu.

Apakah orang-orang ini akan memilih Prabowo? Sama sekali tidak. Mereka akan menjadi golput (non-voting). Rumusan saya adalah: Jika Prabowo menang, itu bukan karena programnya atau karena dia dicintai dan didukung oleh pemilih; tetapi karena Jokowi tidak mampu menarik suara yang Golput, karena Jokowi meninggalkan semua ideal yang membuatnya terpilih pada 2014. Kedengarannya keras dan pahit. Tapi itulah yang terjadi.

Jokowi akan kalah karena Golput. Dan sampai kini pun kampanyenya tidak sedikit pun mau membuat appeal kepada mereka yang Golput. Budi Pego? Diam. Kendeng? Diam. Sawit? Malah mendukung. Airport Jogja? Pro. Reklamasi di Bali? Diam-diam pro. Soal PKI? Pro-tentara dan golongan kanan. Anda bisa membikin daftar yang panjangnya ratusan.

Diakui atau tidak, isu-isu inilah yang membuat orang menjadi Golput. Dan kita tidak tahu berapa jumlahnya.

Polling-polling sekarang ini hampir sebagian besar menunjuk keunggulan Jokowi. Bahkan dua digit. Namun saya tidak optimistis.

Ada banyak hal yang tersembunyi dalam elektorat yang tidak bisa disentuh oleh polling. Pemilih kulit putih tidak akan menunjukkan preferensinya jika kandidat yang ditanyakan berkulit hitam. Karena mereka takut dicap rasis. Ini yang dinamakan sebagai “Bradley effect” (silahkan di-Google kalau belum paham).

Juga pesan-pesan yang mengalir lewat media sosial, khususnya WA group, yang sulit dideteksi. Kita bisa menelusuri Twitter, tapi lebih sulit lagi WA group.

Itulah, saya kira untuk mengerti ini kita membutuhkan antropolog yang mau melakukan etnografi. Antropolog bisa mengisi kekosongan ketika ilmuwan politik tidak mampu menangkap psyche masyarakat.

Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.