Birdwatching di Yamdena, Maluku

553

Tanimnar Corella. [Oka Dwi Prihatmoko]
Angin bertiup sangat kencang dan langit dipenuhi awan hitam. Tak terlihat sinar matahari. Tapi, tak ada rintik hujan saya rasakan menerpa muka saat mendarat di Bandar Udara Mathilda Batlayeri, Saumlaki. Cuaca seperti itu ternyata selalu menemani perjalanan 3 hari saya dan para pengamat burung dari Amerika di Pulau Yamdena, Kepulauan Tanimbar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat.

“Musim angin timur memang begini”, kata Ibu Handa di Hotel Harapan Indah, tempat kami menginap. “Tak seperti di Indonesia bagian barat, yang biasanya sedang kemarau,” ujar Ibu Handa menambahkan.

Tak lama, kami sedikit melupakan persoalan cuaca itu. Sebab, di ujung hotel yang berbatasan langsung dengan Teluk Saumlaki itu, kami melihat pertunjukan 4 ekor burung Cikalang kecil (Fregata ariel) berkali-kali menukik dan menyambar ikan. Beberapa di antaranya adalah ikan (atau mungkin jeroan) yang dilemparkan ke laut oleh para penjual ikan di pasar.

Cukup lama mereka berada di sana. Sesekali terbang berputar meninggi dan menjauh ke sisi lain teluk. Tapi kemudian kembali lagi mendekati pasar. Menanti kebaikan hati para penjual ikan. Kesannya jadi seperti pertunjukan pinguin yang menanti lemparan ikan di kebun binatang.

Seekor Elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster) yang datang belakangan juga ikut meramaikan pertunjukan. Tetapi ia hanya sebentar saja. Satu kali menyambar ikan lalu pergi menjauh. Asumsi saya, ia hendak mencari tempat bertengger yang pas untuk menikmati hasil tangkapannya. Biasanya di batu-batuan besar, tebing, ataupun batang pohon tepi pantai.

Siang itu, hanya dari atas dek kayu di ujung hotel, total kami telah mengidentifikasi 6 spesies burung. Seekor Cekakak Australia (Halcyon sancta), empat ekor Pecuk padi hitam (Phalacrocorax sulcirostris), beberapa ekor Dara laut kecil (Sterna albifrons) dan satu ekor Kuntul karang (Egretta sacra). “Sebuah pembukaan yang bagus”, pikir saya waktu itu.

Sorenya sekitar pukul 3, kami mulai bergerak menuju lokasi birdwatching yang disarankan oleh supir. Lokasinya adalah tepian hutan di jalan yang baru dibuat menuju desa Batuputih. Tepatnya sekitar 5 kilometer setelah kompleks militer Batalyon Infanteri 734/SNS.

Saat melewati kompleks militer tersebut, sang supir sempat kami buat kaget. Sebab, kami seketika memintanya untuk berhenti karena melihat ada seekor burung yang menyerupai jenis Trulek topeng (Vanellus miles) sedang berdiri di tengah-tengah lapangan rumput. Burung jenis ini memang sangat saya idam-idamkan untuk dapat melihatnya di alam.

Semua teman pengamatan saya sudah paham hal ini. Tetapi setelah pengamatan lebih jauh, burung tersebut kami identifikasi sebagai jenis Kuntul belang (Egretta picata). Bukan Trulek topeng.

Tiba-tiba, dua orang tentara yang berada di pos jaga meneriaki kami dan sedikit berlari mendekati. Rupanya mereka curiga dengan gerak-gerik kami yang menggunakan binokuler, kamera, lengkap dengan tripodnya mengamat-amati fasilitas militer. Akhirnya setelah dijelaskan bahwa kami hanya ingin melihat burung dan kami perlihatkan foto-foto burung yang ada di memory card,  perjalanan pun diperkenankan untuk dilanjutkan.

Sekitar 1 km sebelum jalan aspal berganti tanah yang sedang dikeraskan, giliran supir kami yang tiba-tiba menghentikan mobil. Sesaat ia menunjuk-nunjuk ke salah satu tajuk pohon mati. “Ada kakatua di sana”, kata bapak berkepala gundul yang aslinya adalah orang Kupang ini.

Itu adalah dua ekor Kakatua tanimbar (Cacatua goffiniana) kami yang pertama. Mereka berteriak mengeluarkan suara khas “kraaaak…kraaaak..kraaaaaak”. Terdengar serak dan keras.

Tak berapa lama mereka terbang menjauh ke dalam hutan. Sepertinya karena menyadari kehadiran kami.

Setelah itu kami memutuskan untuk memulai saja berjalan kaki menyusuri jalan itu. Sebab, terlihat hutan di tepian jalan masih bagus. Tak ada rumah penduduk. Tak terlalu banyak yang dibuka untuk pertanian. Serta tak banyak kendaraan yang berlalu lalang.

Burung nuri pipi merah betina [Oka Dwi Prihatmoko]
Burung nuri pipi merah betina [Oka Dwi Prihatmoko]
Benar saja beberapa ekor burung Nuri pipi-merah (Geoffroyus geoffroyi), Nuri bayan (Eclectus roratus), Myzomela merah-tua (Myzomela boiei), Isapmadu babar (Lichmera squamata) selalu terlihat selama kami berjalan. Ada yang terbang melintas atau bertengger, tetapi ada juga yang terus setia aktif bersuara. Mencericit dengan gesit sembari mengincar makanannya di semak semak.

Sore itu sangat menyenangkan buat kami. Sebab banyak pula burung endemik tanimbar yang kami temui, selain Kakatua tanimbar. Cikukua Maluku (Philemon moluccensis), Kipasan tanimbar (Rhipidura opistherythra), Nuri tanimbar (Eos reticulata), Sikatan perut-emas (Microeca hemixantha), dan Kehicap tengkuk-putih (Monarcha pileatus) bergantian menunjukkan keberadaannya.

Sesaat sebelum gelap, kami kembali ke penginapan. Perjalanan kali ini saya memang tidak mengincar kemunculan burung-burung malam. Sehingga selalu kembali ke penginapan saat matahari baru saja tenggelam.

Pukul 05.30 pagi keesokan harinya, supir kami yang baik sudah siap menunggu di depan hotel. Tujuannya masih ke lokasi yang sama. Hanya saja rutenya kami balik. Pengamatan mulai dari pertigaan di jalan tanpa aspal hingga ke jalan aspal.

Kurang lebih 40 menit kemudian kami tiba. Cuaca masih sama. Angin kencang tanpa sinar matahari. Tetapi kali ini disertai sedikit rintikan hujan. Gerimis.

Setelah menunggu beberapa saat sembari minum kopi hangat dan mengunyah roti sebagai sarapan, kegiatan pengamatan pun kami mulai.

Dua ekor Kakatua tanimbar yang berlompatan di satu pohon mati dalam jarak yang tak seberapa jauh menjadi momen paling menarik buat saya pagi itu. Di latarbelakangi langit kelabu yang pekat, warna putih dengan sedikit semu coklat muda di badan kakatua semakin terlihat mencolok. Sangat puas melihat tingkah mereka. Bahkan tak henti-hentinya saya mengulang-ulang video hasil rekaman peristiwa itu saat di penginapan.

Satu momen berharga lain adalah saat rekan saya asyik memotret seekor burung Nuri pipi-merah jantan, tiba-tiba supir kami memberitahu bahwa ada betinanya memunculkan badan dari lubang sarang. Ketika itu saya sesungguhnya sudah tidak berminat memotret burung jenis itu lagi. Sebab, sudah punya banyak foto dalam berbagai pose. Tetapi burung Nuri-pipi merah betina yang nongol dari lubang sarangnya bukan momen yang harus dilewatkan tanpa dokumentasi.

Lubangnya kecil, pas seukuran badan burung. Pohonnya pun hanya berdiameter 12-15 sentimeter. Tanpa takut, sang betina terus berdiam di depan lubang. Setengah badan di luar dan setengahnya lagi di dalam. Sesekali ia menengokkan kepalanya ke kanan ke kiri. Seakan ingin memastikan bahwa orang-orang yang berjarak sekitar 4 meter darinya itu tidaklah berbahaya.

Sang jantan yang sebelumnya mengeluarkan suara peringatan berulang-ulang akhirnya memilih pergi. Tetapi kemudian bertengger di pohon yang tak seberapa jauh ke dalam hutan, sambil kembali mengeluarkan suara lengkingan peringatan berulang-ulang. Mungkin ia pikir kami adalah para pemburu bersenapan angin yang akan membahayakan jiwanya.

Laki-laki dengan senapan angin di pundaknya memang beberapa kali kami temui. Selain keterangan dari pak supir, dua orang pemburu yang saya ajak bicara memang mengatakan tujuan mereka adalah menembak burung. Baik untuk dikonsumsi sendiri maupun untuk dijual.

Jenis yang paling sering diincar untuk dijadikan lauk sumber protein adalah Pergam tarut (Ducula concinna), Walik ratu (Ptilinopus regina), dan Walik wallacea (Ptilinopus wallacii). Sebab, burung-burung itu sering bergerombol dalam kelompok besar pada satu pohon beringin yang sedang berbuah.

Ukurannya pun cukup besar. Sekitar 15 sampai 25 cm. Karenanya mudah untuk dibidik.

Sedangkan untuk jenis yang dijual biasanya adalah Nuri tanimbar. Burung yang hanya hidup di Kepulauan Tanimbar tersebut memang sangat cantik. Warnanya merah cerah dengan garis-garis biru yang melintang dari area mata hingga pundak. Dengan ukurannya yang 31 cm pemburu biasanya mengincar sayap maupun paha untuk ditembak. Sehingga burung masih akan hidup tetapi kesulitan terbang kembali.

tepian hutan-2
[Oka Dwi Prihatmoko]
Di Kota Saumlaki, saya melihat sendiri banyak burung jenis ini dipelihara di depan rumah-rumah penduduk. Suaranya yang khas juga terdengar dari dalam beberapa rumah. Dalam data merah IUCN, jenis ini memang berstatus hampir terancam (Near Threatened/NT). Sepertinya, perburuan manusia itulah ancaman utamanya.

Selain burung, babi hutan adalah binatang yang paling sering diburu. Selain berstatus sebagai hama pertanian dan perkebunan, babi hutan merupakan satwa yang tidak menjadi pantangan makanan bagi mayoritas penduduk Saumlaki. Sehingga dagingnya cukup laris saat dijual di pasar.

Di pagi terakhir, lagi-lagi Kakatua tanimbar menjadi bintang utamanya. Adalah Randy Collins, rekan pengamat burung dari Amerika, yang berteriak pertama kali dari dalam mobil, “Cockatoos! Stooppp!!!”

Berjarak sekitar 10 meter, puluhan ekor kakatua bertengger di dua pohon kering tanpa daun. Mereka bercanda, berteriak, membersihkan bulu, berlompatan, dan beterbangan dengan santainya. Sesekali ada yang terbang ke pohon mati di seberang jalan untuk kemudian bergabung lagi.

Berulang kali saya harus meralat jumlah total kakatua yang ada saat itu. Sebab, hitungan saya selalu menjadi kacau setiap kali ada yang terbang mendekat ataupun menjauh dari pohon. Tapi setidaknya ada 24 ekor di salah satu frame foto yang berhasil saya abadikan.