Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Big Data, Simultan Melawan Corona

Ganjar Pranowo dan Pabrik Sosis Impiannya

Ganjar Pranowo sepertinya memang ditakdirkan menjadi gubernur yang selalu bermimpi mendirikan banyak pabrik di Jawa Tengah. Setelah memicu kemarahan publik Jawa Tengah akibat kontroversi...

Membedah Otak Kaum Fundamentalis-Ekstremis

Indonesia darurat intoleransi. Ya, sesuai hasil survei Wahid Institute, intoleransi, radikalisme, dan fundamentalisme agama rawan terjadi di Indonesia. Hal ini merebak beberapa tahun belakangan...

Putusan Lepasnya Syafruddin Temenggung dari Tuntutan Pidana dan Masa Depan KPK

Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia (MA) yang menyatakan terdakwa Syafruddin Arsyad Temenggung dilepas dari tuntutan pidana (ontslag van alle rechtsvervolging) merupakan kejutan, khususnya bagi...

Menagih Janji Jokowi-JK Membangun Desa

Para petani memanen padi yang ambruk akibat hujan dan angin di lahan pertanian Bendosari, Sawit, Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu (23/1). ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho. Puluhan...
Mustaq Zabidi
Penulis Lepas

Virus Corona menjadi perhatian serius di hampir semua negara, terkhusus yang masuk kategori zona merah, yang tentu memerlukan upaya penanganan yang ekstra ordinary. Penularan virus ini sangat cepat berkembang dan rentan terhadap media yang sifatnya lembab.

Pola perkembangan yang demikian itu sangat mudah terjadi kepada siapapun. Pasalnya, virus ini bisa menular ke orang lain manakala terjadi kontak fisik secara langsung dari pasien penderita Corona. Karenanya, physical distancing menjadi penting supaya tidak terjadi distribusi virus.

Penderita suspect Corona saat ini cenderung mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Bahkan, setiap hari jumlahnya semakin bertambah. Pemerintah sendiri memilih opsi karantina daripada lockdown.

Kebijakan tersebut sama baiknya, akan tetapi ada faktor lain yang dipertimbangkan diluar faktor kesehatan dan kemanusiaan, yakni kebijakan fiskal. Hal ini pula yang melatarbelakangi munculnya kebijakan tersebut disaat kondisi global yang kurang menentu, terjadinya perlambatan ekonomi domestik dan melemahnya kurs rupiah.

Langkah antisipasi terhadap penularan virus Corona memerlukan sinergi bersama, transparansi informasi yang meliputi data dan informasi pasien harus valid supaya tidak terjadi ketimpangan dalam upaya pembatasan ruang gerak penularan virus dari para pasien penderita suspect Corona.

Data Intelijen dan Kementerian kesehatan harus balance, guna menghindari tumpang tindih kepentingan. Pasalnya, ini melibatkan jutaan nyawa manusia dan antisipasi gejolak sosio-politik yang sewaktu bisa terjadi.

Upaya pencegahan virus secara simultan harus selalu dilakukan, monitoring kesehatan dan pengamanan kebutuhan medis termasuk APD (Alat Pelindung Diri) terkontrol dengan baik. Jangan sampai disaat pasien penderita Corona semakin bertambah kebutuhan penunjangnya justru belum terfasilitasi dengan baik. Tanpa itu, mustahil pemangkasan mata rantai penularan virus Corona akan terhenti.

Angka pasien penderita Corona sampai saat ini (31/03/2020) sudah mencapai jumlah 1.528 orang. Ini artinya, persebaran virus Corona terbilang cukup masif dengan rentang waktu satu bulan pasca informasi resmi pemerintah ini diturunkan. Capaian angka yang tidak biasa. Bahkan, angka tersebut bisa saja mengalami peningkatan jika intruksi pemerintah tidak dipatuhi. Maka dari itu, kesadaran kolektif adalah barang mahal saat ini.

Perlu kiranya semua pihak belajar pada penanganan kasus virus Corona di Wuhan. Pola penanganan yang disiplin dibarengi dengan SDM dan infrastruktur yang memadai. Disamping itu, pemanfaatan teknologi didorong mampu memberikan pengaruh positif. Penggunaan Big data dalam rangka pendeteksian dini kondisi kesehatan terbilang cukup efektif.

Big data dibuka secara fair, merekam setiap aktivitas masyarakat melalui aplikasi ponsel yang terkoneksi langsung ke pusat kesehatan nasional dan ada konsekuensi hukum jika melanggarnya. Commited to the truth ini menjadi pegangan bahwa penanganan virus Corona harus dibarengi langkah transenden dan disiplin sehingga efektif dalam penanganannya.

Kiblat dunia saat ini tertuju pada Tiongkok, kesuksesan yang dilakukan dalam menangani kasus virus Corona menjadi rujukan banyak negara. Tak terkecuali, negara AS yang selama ini berseteru terkait perang dagang.

Negara Paman Sam tersebut mengakui membutuhkan bantuan penanganan dari Tiongkok melihat angka pasien penderita Corona di negara tersebut semakin bertambah tinggi. Tak hanya itu, negara Italia pun juga demikian. Setidaknya, ada 199 negara yang mengalami serangan virus Corona ini.

Superhero itu adalah Tiongkok. Negara tirai bambu itu telah menerapkan kebijakan yang ketat, masa isolasi yang tak mudah namun menjadi jalan harapan. Harta karun itu adalah kesehatan, merupakan semboyan motivasi yang selalu dimunculkan bukan narasi pesimis jatuhnya korban jiwa dan absensi kematian. Semangat melawan virus Corona ini layak diakui dan prestisius.

Memori itu masih melekat kuat, dimana Rumah Sakit darurat virus Corona dibangun ekstra cepat dalam kurun satu minggu dan lengkap dengan infrastruktur medis. Ini terbilang gila dan nyata.

Namun, bagi negara Tiongkok hal ini barangkali diasumsikan biasa karena agenda pembangunan infrastruktur sangat sering dilakukan. Terlepas dari itu, misi kemanusiaan ini menjadi satu kekuatan bersama, gotong-royong, yang pada akhirnya melunturkan egosentris. Kini, pasca virus Corona memudar di Wuhan, Rumah Sakit darurat tersebut telah ditutup sementara.

Semua pihak harus sadar tupoksinya, masyarakat harus taat aturan, tenaga medis bekerja keras menangani pasien dan pemerintah mengawal kebijakan. Tak perlu melakukan langkah yang merugikan diri sendiri apalagi orang lain. Masa isolasi menjadi sangat efektif untuk bangkit dan berjuang bersama. Hal ini tak serta merta menandai sikap inferiority complex melainkan secara kolektif percaya diri mengusung harapan kemenangan.

Masyarakat tidak perlu khawatir dengan adanya virus Corona, apalagi melakukan upaya panic buying karena itu tindakan yang konyol dan merugikan. Langkah tersebut bukanlah solutif melainkan bentuk dari lemahnya edukasi mengenai pencegahan dan penanganan virus. Ini sama halnya, berani takut pada masalah tapi tidak berani untuk paham masalah.

Solidaritas perang melawan Corona harus dibuktikan dengan sikap menaati aturan hukum. Physical distancing, isolasi diri, dan work from home sebetulnya bisa dilakukan dengan mudah jika ingin pandemi Corona ini cepat teratasi. Pekerja di sektor informal sangat tidak mudah menerima kenyataan ini, bahkan diantaranya ada yang nekat melakukan mudik premature karena isu kelaparan ini bisa saja lebih kejam dari virus Corona. Namun, semua pihak harus bersabar bahwa semua masalah akan ada solusi terbaiknya.

Mustaq Zabidi
Penulis Lepas
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.