OUR NETWORK

Bhinneka Tunggal Drama

Foto dari Facebook Ben Anderson.
Foto dari Facebook Ben Anderson.

Ben Anderson, pengkaji Indonesia yang paling masyhur mungkin, pernah menandaskan, bangsa ada berkat kapitalisme cetak. Media massa—koran, buku—memungkinkan insan-insan yang tak saling mengenal merasa berada dalam satu derap waktu yang sama.

Saya tak pernah melihat Anda, pembaca Geotimes, misal. Tetapi, dengan membaca tulisan ini, Anda percaya kita tengah mengalami hal yang sama. Sama-sama tengah merenungi Indonesia. Anda tak pernah melihat redaksi Geotimes—apakah mereka ganteng-ganteng atau sebaliknya. Tapi Anda tak perlu diyakinkan lagi, Anda dan mereka sedang memikirkan mau dibawa ke mana bangsa ini.

Berkat media massa, dus, kita membayangkan diri sebagai satu komunitas. Komunitas yang dibayangkan, kata Om Ben. Amin.

Saya percaya Om Ben. Saya percaya dengannya khususnya setelah mendapati di Minahasa sini, jauh dari hiruk pikuk politisi yang menyerukan bela negara atau komedian berdikari yang berusaha tampak keren dengan nasionalismenya, kita masih insan yang sama. Tergoda dengan skandal yang sama.

Satu siang di sini, tiba-tiba saja, orang-orang berkerumun di depan televisi. Dari kejauhan saya, yang sedang asyik sendiri, mendengar suara televisi dipasang keras. Semua orang ingin menyimak secara seksama kesaksian yang mengemuka dalam sidang Jessica 15 Agustus. Apakah Jessica benar berpotensi meracuni Mirna? Apa kata ahli tentang ini?

Jauh di Jakarta sana, pemandangan serupa nampaknya terpampang di mana-mana. Jejaring sosial saya dibeludaki dengan komentar perihal sidang bersangkutan. Saya membayangkan, di rumah-rumah makan seluruh mata tertuju ke televisi. Sendok-sendok tergeletak tak bergerak di atas piring. Perhatian orang-orang terisap ke setiap gestur yang mengemuka dalam sidang yang berlangsung.

Aktivitas di kantor, saya bayangkan, juga tak berbeda. Bos yang tengah naik pitam dengan karyawannya menghentikan kemarahannya sejenak agar bisa mendengar televisi. Sang karyawan pun menonton bersama sang bos di atas sofanya—lupa kalau barusan saja ia diamuk dan masih akan diamuk habis-habisan setelah ini. Silakan buktikan saya benar.

Tetapi, kalau saya ingat-ingat pula beberapa pengalaman sebelumnya, saya seharusnya yakin dengan teori Om Ben sejak dulu. Sewaktu berada di tengah-tengah hutan Pulau Seram, rekan saya tetap dapat menyaksikan apa yang dengan setia ditunggu rumah-rumah di Jakarta.

Jam delapan malam tiba dan desa Huaulu di tengah gunung yang ditinggalinya itu mendadak terang. Genset, yang hanya dipergunakan pada waktu-waktu dibutuhkan, dinyalakan. Semua warga Huaulu, yang dianggap orang-orang kota ahli ilmu, mistis, setia dengan adat, tak ingin ketinggalan dengan Asoka. Mereka haus mengetahui petualangan apa yang akan dilewati Asoka pada episode kali ini.

Saya, yang berada di sisi lain Pulau Seram pada saat itu, juga harus melewati tayangan yang sama bersama segenap keluarga induk semang. Meski saya tak bisa memahami mengapa dramatisasi dengan zoom in tayangan ini bisa menghabiskan sampai lima menit sendiri, tetapi berkat ini saya punya sesuatu untuk dibicarakan dengan keluarga induk semang. Bahkan ketika kami sudah berpisah. Saya kembali ke Jawa. Mereka di Maluku.

Pada awal Orde Baru, kita tahu, kecemasan dengan perpecahan begitu menggentayangi rezim. Mereka pun mencekoki orang dewasa maupun anak-anak dengan sejarah membosankan yang dibuat-buat, memaksa baris-berbaris di bawah terik matahari, dan sewaktu-waktu menggunakan pentungan dan senapan.

Dan ketakutan ini, jelas, masih menghantui segelintir pihak. Segelintir pihak yang, entah bagaimana ceritanya, merasa hal seremeh preferensi pasangan dan Pokemon Go pun bisa membahayakan bangsa. Tetapi, untuk apa terlalu serius sebenarnya?

Mereka lupa bahwa persoalannya sesederhana kita belum menertawakan hiburan picisan dan terpaku dengan sinetron yang sama; selain, tentu saja, mereka tak seharusnya khilaf kelewat maruk melalap kekayaan daerah-daerah lain untuk dirinya sendiri.

Toh, di daerah-daerah kebudayaannya berbeda gamblang dengan daerah asal saya, saya tetap menemukan wajah-wajah yang tak beda dengan wajah-wajah di rumah saya. Wajah-wajah yang terpana dan tak berkutik oleh benderang gosip, intrik, skandal yang disiarkan televisi. Saya bisa tenang mengingat Om Ben benar.

Seperti halnya di masa silam surat kabar serta novel para jurnalis negeri jajahan Belanda mengikat pembacanya dalam perasaan ruang waktu yang sama, demikian juga dengan karya terbaik studio televisi kita yang telaten mengejar rating. Drama Jessica dan Mirna, berkat mereka, bukan hanya drama kita. Ia adalah drama seluruh warga Indonesia—bahkan mereka yang mencibir Jawa sekalipun.

Terimalah kabar ini sebagai kabar yang menggembirakan, khususnya di hari 71 tahun setelah negeri ini diproklamasikan. Kita berbeda tapi, pada kenyataannya, tetap satu tayangan. Satu drama.

Bhinneka tunggal drama? Ya.

Geger Riyanto
Esais, sosiolog. Mahasiswa Ph.D. bidang Etnologi, Universitas Heidelberg, Jerman

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…