Selasa, Oktober 20, 2020

Berlindung di Balik Simbol Sakral

Jokowi, Putin, dan Islam di Mata Rusia

Indonesia dan Turki adalah dua negara Islam yang selalu mendapat perhatian khusus dari Rusia, dengan cara dan "kacamata" yang sangat berbeda. Bagi Rusia, sebagai...

Mati Ketawa Cara Mukidi

Mukidi jadi nama yang sangat populer pekan ini di kalangan netizen Indonesia. Sosok itu ramai dibahas di jejaring WhatsApp (WA), BlackBerry Messenger (BBM), menular...

Saatnya Melibatkan Warga Merancang Ruang Publik Kota

Berita seputar penolakan warga atas rencana penataan kawasan oleh pemerintah kota-kota di Indonesia masih kerap terdengar. Peristiwa terakhir yang menyita perhatian kita adalah penolakan...

Ijtima Siapa Mendapat Ulama?

Terpilihnya Ma'ruf Amin sebagai cawapres mendampingi Jokowi dan Sandiaga Uno mendampingi Prabowo Subianto telah membuat lindu politik yang lumayan mengacaukan peta pertempuran di medan...
Eko Kuntadhi
Pegiat Media Sosial

Seorang perempuan mengenakan pakaian tertutup berwarna hitam, berjilbab panjang. Dia membawa bom yang akan diledakkan di kantor polisi di Jawa Barat. Untung polisi berhasil meringkusnya. Ada sedikit perlawanan saat proses penangkapan itu.

Apa isu yang disebarkan? Polisi menganiaya seorang muslimah berjilbab.

Seorang penceramah agama, Alfian Tanjung, naik mimbar. Di hadapan para pendengarnya dia bicara bahwa istana negara adalah sarang PKI. Tentu saja itu adalah pembicaraan berisi fitnah. Karena kebenciannya, Alfian menyebar provokasi dan fitnah kepada Jokowi. Bukan hanya kepada Jokowi, Alfian juga memfitnah PDIP sebagai partai PKI.

Beberapa pihak tidak terima dengan kelakuan itu, Alfian diadukan ke polisi. Dasar omongannya memang hanya berisi kebohongan, polisi gampang saja menangkap Alfian. Lalu mengadilinya dan Alfian dinyatakan bersalah.

Apa isu yang kemudian disebarkan? Pemerintah mengkriminalisasi ulama.

Seorang tokoh agama, Bahtiar Nasir, mengumpulkan sumbangan. Dia menyebarkan informasi bahwa sumbangan itu untuk rakyat korban perang Syuriah dengan tagar #SaveAleppo. Ketika sumbangan terkumpul, rupanya diketahui malah disalurkan ke kelompok-kelompok pemberontak yang berafiliasi dengan teroris.

Polisi menyelidiki kasus ini. Bagaimana sumbangan rakyat Indonesia malah ada di markas-markas teroris di Syuriah.

Apa isu yang beredar? Polisi mempersekusi seorang tokoh agama.

Ada pula orang yang “konon” aktivis Islam, Jonru. Kerjanya melempar tulisan berisi fitnah dan berita bohong. Beberapa status media sosialnya bahkan melecehkan kepala negara, bahasanya kasar dan mengadu domba. Membakar sentimen beragama. Lalu polisi menangkapnya.

Apa isu yang beredar? Polisi menangkap seorang aktivis Islam.

Pemerintah mengeluarkan UU tentang Ormas. Salah satu poin pentingnya adalah semua ormas harus berdasar pada NKRI dan ideologi Pancasila. HTI jelas merupakan organisasi politik yang bertentangan dengan Pancasila. Dengan diberlakukannya UU tersebut, otomatis HTI dan semua organisasi yang anti-Pancasila dilarang di Indonesia.

HTI menggugat secara hukum. Tetapi dari seluruh gugatan yang dilayangkan HTI, pemerintah dimenangkan oleh pengadilan. Artinya, secara hukum positif, di Indonesia HTI sejenis dengan PKI, sebagai organisasi terlarang.

Lalu apa isu yang disebarkan? Pemerintah memusuhi umat Islam.

Kemarin ada perayaan hari Santri. Salah seorang penyusup datang ke acara tersebut dengan mengibarkan bendera HTI. Sebagai penjaga gawang Pancasila, tentu saja anggota Banser marah. Bagaimana bisa ada bendera organisasi anti-Pancasila yang tujuannya membubarkan Indonesia, berkibar di acara mereka.

Lalu Banser tanggap, merampas bendera itu dan membakarnya. Yang dibakar adalah bendera HTI, bendera Ormas terlarang. Organisasi yang dibentuk untuk menghancurkan berbagai negara dan mengubahnya menjadi khilafah.

Apa isu yang disebar atas kejadian itu? Banser membakar bendera tauhid. Lalu dengan isu tersebut, mereka membakar emosi umat Islam, bahwa ada kalimat Allah yang dibakar Banser. Mereka malah membawa-bawa bahwa itu adalah bendera Rasulullah.

Padahal di zaman Nabi, khat atau aksara Arab bentuknya masih kuno. Belum ada tanda baca seperti pada bendera HTI. Belum ada juga desainer grafis yang bisa membuat huruf-huruf yang tersusun pada logo HTI yang terlihat simetris.

Lihatlah, mereka memang selalu berlindung di balik sesuatu yang dianggap sakral. Tujuannya untuk menyembunyikan niat jahat dan membungkusnya dengan bahasa agama. Orang-orang yang tidak memahami gaya ini pasti mudah tertipu.

Muslim mana yang tidak marah mendengar seorang muslimah berjilbab ditangkap polisi dengan kekerasan?

Muslim mana yang tidak marah mendengar ada ulama dikriminalisasi?

Muslim mana yang tidak bangkit emosinya mendengar pemerintah memusuhi umat Islam?

Muslim mana yang tidak marah jika diprovokasi ada yang membakar kalimat Tauhid?

Padahal itu semua adalah cara mereka untuk menyembunyikan kejahatan. Mereka memanipulasi emosi umat Islam dan sensitivitas beragama untuk melancarkan niat busuknya.

Apakah Anda adalah salah satu korban penipuan mereka?

Eko Kuntadhi
Pegiat Media Sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

Prekariatisasi Global dan Omnibus Law

"Setuju", dengan intonasi panjang penuh kebahagiaan peserta sidang secara serentak merespons pimpinan demi ketukan palu UU Cipta Kerja atau akrab dikenal sebagai Omnibus Law. Tok,...

Perang dan Cerita

Demonstrasi tolak RUU Cipta Kerja terjadi pada 8 Oktober 2020. Seperti aksi-aksi lainnya, kita barangkali bisa mulai menebak, bahwa sepulangnya nanti, hal-hal yang menarik...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

Hakikat Demokrasi

Demokrasi bagi bangsa Indonesia sendiri adalah istilah baru yang dikenal pada paruh abad ke-20. Dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, demokrasi dalam bentuknya yang modern...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.