OUR NETWORK

Beragama dengan Akal

agama-akal
(ilustrasi) jalandamai.org

Tulisan saudara Fathorrahman Ghufron, “Melawan Jebakan Indoktrinasi” (Geotimes, 6/8/206), sangat menarik. Setidaknya, lewat tulisan itu, saya menyimpulkan kalau kami memiliki keresahan yang sama. Cara penyebaran ajaran agama dengan klaim sebagai paling benar memang meresahkan.

Tepat seperti yang dituliskannya, cara-cara seperti itu akan menimbulkan konflik sosio-kultural. Bahkan tidak tertutup kemungkinan konfliknya akan merembes pada bidang kehidupan lain.

Dalam konteks kehidupan beragama di Indonesia, tidak bisa dipungkiri bahwa gerakan fundamentalisme agama sedang marak. Di sisi lain, fundamentalisme ternyata bukan sesuatu yang mudah dikenali. Fundamentalisme yang dipahami selama ini sebagai orang-orang yang memahami kitab suci secara harfiah, menurut James Barr, adalah jauh dari tepat (Fundamentalisme, 2011).

Namun demikian, usaha untuk mengidentifikasi kelompok fundamentalisme tetap perlu dilakukan. Walau mengamati dari fenomena fundamentalisme Kristen, kriteria yang diusulkan James Barr dalam usaha mengidentifikasi fundamentalisme bisa digunakan sebagai patokan.

James Barr menawarkan tiga kriteria dalam mengidentifikasi fundamentalisme. Ciri fundamentalisme adalah: (1) penekanan yang amat kuat pada ineransi (ketiadasalahan) Alkitab (kitab suci, pen); (2) kebencian mendalam pada teologi modern serta terhadap metode, hasil, dan akibat-akibat studi kritik modern terhadap Alkitab (kitab suci, pen.); (3) jaminanan kepastian bahwa mereka yang tidak ikut menganut pandangan keagamaan mereka sama sekali bukanlah “Kristen sejati.” (atau Islam sejati, dsb, pen).

Dari ketiga ciri yang ada, kelahiran fundamentalisme agama ternyata berkaitan erat dengan usahanya menafsir kitab suci. Ketegangan terjadi ketika kitab suci harus berhadap-hadapan dengan doktrin atau dogma agama. Dogma, yang sejatinya merupakan ajaran relatif, justru malah dipahami setara dengan kitab suci. Dogma dijadikan sebagai sesuatu yang tidak bisa dibantah, apalagi dikaji ulang.

Tulisan ini akan mencoba meneruskan gagasan Fathorrahman Ghufron. Adakah solusi lain yang bisa ditambahkan dari solusi yang sebelumnya ditawarkan?

Beragama dengan Akal
Dari perspektif Kristen, menggunakan akal untuk mencintai Tuhan sangat ditekankan (Markus 12:30). Paulus mengingatkan juga betapa pentingnya perubahan akal budi (nuous, Yunani) sebagai bagian dari ibadah yang sejati (Roma 12:1-2). Dalam tradisi pemikiran Kristen Injili, misalnya, pertobatan selalu dipahami sebagai perubahan akal budi (metanoia, Yunani). Pendeknya, dalam ajaran Alkitab, akal menjadi bagian elementer dalam aktivitas religius.

Hal ini senada dengan pemahaman teisme itu sendiri. Teisme adalah sebuah paham yang mengakui bahwa Tuhan itu ada. Namun, teisme tidak berhenti sampai pada pengakuan semata. Teisme juga harus mampu menjelaskan secara sistematis dan rasional bahwa Tuhan itu ada. Jika teisme tidak mampu melakukannya, dia sudah berubah menjadi agnositisme.

Agama menjadi sangat relevan didekati dengan akal karena agama adalah bagian dari pengalaman eksistensial manusia. Pengalaman eksistensial tidak mungkin berangkat dari ruang hampa. Pengalaman, entah itu bersifat empiris atau tidak, selalu menyediakan ruang yang luas untuk dipahami akal.

Akal berasal dari kata Yunani, logos. Stephen Palmquis memberi penjelasan yang cukup memadai tentang istilah ini. Logos bisa menunjukkan pada sesuatu yang kita sebut sebagai makna tersembunyi. Logos, masih menurut Palmquis, merupakan tujuan akhir atau suatu sifat hakiki (Pohon Filsafat, 2000). Dalam usahanya untuk mencari sesuatu yang tersembunyi dan ultimat, akal akan mengerahkan seluruh daya manusia yang ada padanya. Hal itu meliputi pikiran, pengetahuan, perasaan, dan kehendak.

Beragama dengan akal juga memberi keuntungan jika dilihat dari metodenya. Akal mengandung unsur kritis di dalamnya. Dia tidak hanya merefleksikan sesuatu secara sistematis-logis, tapi dia juga berani mempertanyakan, memutuskan, menimbang, dan menentukan sikap rasional.

Sifatnya ini bisa menangkal segala kedangkalan atau indoktrinasi membabi buta dari sekelompok pemeluk agama yang merasa paling benar. Akal, dengan sendirinya, akan menguji segala ajaran, apakah ajaran itu sehat atau tidak.

Betulkah Akal Bertentangan dengan Agama?
Sejak zaman Pencerahan, seiring dengan majunya sains dan teknologi, akal memang dipuja luar biasa. Masa ini setidaknya ditandai oleh gagasan “Sapere Aude”-nya Kant. Dia mengatakan, “Ketidakdewasaan adalah ketidakmampuan seseorang menggunakan pemahamannya sendiri tanpa bantuan dari yang lain.” Dare to Think! Implikasinya jelas. Semua otoritas yang ingin memonopoli pengetahuan, seperti institusi agama dan kitab suci, ditolak mentah-mentah.

Apalagi dalam perkembangan selanjutnya, muncul pemikir-pemikir ateis yang mengolok-olok ajaran-ajaran agama, khususnya isi kitab suci, secara membabi buta. Pemikir-pemikir ateis, yang mayoritas berlatar belakang sains dan filsafat, yang cenderung menggunakan “akal”-nya saja, menjadi semacam legitimasi bahwa akal dan agama tidak pernah bertitik temu. Bukan hanya tidak menemukan titik temu, akal, oleh pihak tertentu, diklaim bertolak belakang dengan agama. Dampak dari pandangan ini adalah diharamkannya akal digunakan dalam beragama.

Otoritas paling akhir dalam menguji sebuah kebenaran agama tentu saja adalah kitab sucinya. Kitab suci diyakini sebagai wahyu Tuhan. Kebenarannya mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Maka, pertanyaannya sekarang, “Betulkah akal bertentangan dengan wahyu Tuhan?”

Pertanyaan ini sebenarnya masih bersifat hipotetis. Dia masih bersifat sangkaan karena belum ada jawaban mutlak tentang ini. Namun, pertanyaan ini tetap membutuhkan alternatif jawaban.

Sama seperti agama, wahyu pun tidak turun dalam ruang kosong. Wahyu yang terbukti bisa bertahan ribuan tahun setidaknya menjadi bukti bahwa dia kompatibel di kehidupan manusia. Menyitir filsuf Hegel, sesuatu yang kompatibel, pasti masuk akal. Dengan demikian, wahyu tidak akan pernah bertentangan dengan akal.

Tapi kenyataan berbicara lain. Faktanya, kitab suci mengakui bahwa mataharilah yang bergerak mengelilingi Bumi, Bumi itu datar, manusia berasal dari tanah, ular bisa bicara menggoda manusia, dan berbagai “fakta-fakta ilmiah” yang “bertentangan” dengan penemuan sains terbaru. Bukankah itu berarti wahyu selalu bertentangan dengan akal?

Untuk menjawab ini, kita harus mengetahui sifat dari wahyu itu sendiri. Wahyu diturunkan kepada pendengarnya dengan konteks nyata kehidupan mereka kala itu. Tuhan menyampaikan maksud-Nya, melalui wahyu, kepada umat-Nya dengan memperhitungkan juga konteks sosial, politik, kebudayaan, dan bahasa yang berlaku kala itu. Dengan begitu, ada konteks yang memisahkan antara pembaca sekarang dan pendengar pertama ketika wahyu itu diturunkan.

Pada akhirnya, kita akan dibawa pada persoalan hermenutika. Hermeneutika, dalam kaitannya dengan kitab suci, adalah metode ilmiah yang bertujuan untuk menafsir teks (simbol) di mana dia berusaha menjembatani jarak pemaknaan antara pendengar pertamanya (past) dann pembacanya sekarang (present). Karena dia bersifat ilmiah, itu artinya hasil penafsiran dari hermeneutika itu bisa masuk akal.

Artinya, “fakta-fakta ilmiah” yang terdapat di kitab suci, dengan bantuan hermenutika, sebenarnya (dan memang) bisa dijelaskan dengan cara yang rasional. Hermenutika mampu memberi pemaknaan baru terhadap teks yang sudah berusia ratusan bahkan ribuan tahun kepada pembaca sekarang.

Agama Mengandung Misteri
Cak Nur pernah berujar, wahyu memiliki dimensi keruhanian (Ensiklopedi Nurcholish Madjid, 2012). Sifat rohani dari wahyu ini membuat dia mengandung sisi misteri. Sebuah misteri ilahi. Misteri bukan berarti tidak masuk akal. Misteri adalah sesuatu yang belum diketahui jawabannya. Misteri adalah teka-teki, di mana jawabannya adalah teka-teki berikutnya. Bagaimanakah akal berdiri di hadapan misteri ini?

Di hadapan misteri ilahi ini, akal hanya bisa berpasrah diri. Akal harus mengakui keterbatasannya. Akal harus menerima kenyataan bahwa dia tidak mampu menjawab segalanya. Memang, tidak ada yang bisa menjawab segalanya. Sains yang dipuja di zaman modern ini pun punya keterbatasan. Sains pun tak bisa menjawab segalanya. Hanya Tuhan itu sendiri yang sempurna dan tahu segala jawaban.

Namun, kepasrahan akal bukanlah kepasrahan yang pasif. Dia aktif mempertanggungjawabkan keyakinan imannya secara rasional, logis, dan sistematis. Batasan akal bukanlah untuk memberi bukti empiris terhadap eksistensi imannya. Jika akal dituntut untuk memberi pembuktian empiris, itu secara langsung sudah merendahkan keyakinan agama itu sendiri sebagai “barang”.

Beragama dengan akal berarti membuat akal sebagai alat. Alat untuk menyediakan argumentasi rasional terhadap keyakinan imannya. Inilah tugas akal untuk mengantisipasi segala kedangkalan. Jadi, mari beragama dengan akal!

Rinto Pangaribuan
Pegiat di Ut Omens Unum Sint Institute - Jakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…