OUR NETWORK

Benarkah Musim Kemarau Penyebaran Covid-19 Melambat?

Tubuh yang jarang kena sinar matahari akan kekurangan vitamin D yang bisa berakibat pada menurunnya daya tahan tubuh. Selain itu di musim dingin kebanyakan orang berada dalam ruangan yang memiliki peluang penyebaran virus lebih besar.

Awal Maret 2020, Muhammad M Sajadi dan kawan-kawan dari Institut of Human Virology, University of Maryland School of Medicine, Baltimore, USA melakukan penelitian menggunakan pemodelan cuaca untuk menentukan kawasan yang paling berisiko tinggi dalam hal penyebaran virus.

Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa penyebaran Covid-19 lebih efektif  pada kawasan sub tropis atau iklim sedang dengan rentang suhu 5º-11ºC dan kelembaban 47-79%. Di kawasan tropis yang memiliki suhu lebih hangat penyebaran virus lebih lambat.

Hasil penelitian tersebut belum ditinjau oleh rekan sejawat namun berdampak pada spekulasi bahwa di musim panas nanti virus ini akan melambat dan hilang dengan sendirinya. Presiden Trump malahan dengan sangat percaya diri menyatakan bahwa diawal April nanti virus ini akan berakhir dengan sendirinya.

Beberapa ahli meragukan dengan prediksi tersebut. Mereka belum berani menyamakan Covid-19 dengan flu biasa yang memuncak pada musim dingin dan hilang di musim panas. Seperti yang diketahui bahwa flu biasa bertahan baik pada suhu dingin, udara kering dan kurangnya sinar Ultra Violet (UV).

Tubuh yang jarang kena sinar matahari akan kekurangan vitamin D yang bisa berakibat pada menurunnya daya tahan tubuh. Selain itu di musim dingin kebanyakan orang berada dalam ruangan yang memiliki peluang penyebaran virus lebih besar. Namun sampai saat ini belum ada ahli yang menyatakan bahwa Covid 19 memiliki prilaku yang sama dengan flu biasa.

Kawasan Eropa

Kita lihat kenyataan yang ada saat ini bahwa Covid 19 meningkat tajam di benua Eropa, padahal suhu udara mulai menghangat di kawasan tersebut. Dilihat dari 10 besar negara dengat tingkat infeksi paling tinggi, negara Eropa diwakili oleh 6 negara antara lain: Italia, Spanyol, Jerman, Perancis, Swiss dan Inggris (data The Center for Systems Science and Engineering (CSSE) at Jhons Hopkins University tanggal 20/3/2020).

Tingkat kematian terbanyak saat ini ditempati oleh Italia dengan 3.405 orang yang meninggal. Padahal dua hari sebelumnya masih ditempati oleh China. Beberapa negara seperti Jerman satu hari terakhir mengalami peningkatan jumlah kasus sangat cukup signifikan, yakni meningkat sekitar 3000an kasus.

Jika kita akumulasi jumlah pasien yang terjangkit di 6 negara tersebut sekitar 92.198 orang. China yang masih menempati urutan pertama kasus terbanyak sekitar 81.189 orang. Secara keseluruhan total yang terjangkit COVID 19 ini adalah 243.912 orang. Ini berarti 6 negara Eropa tersebut terjangkit sekitar 37,8% kasus sedangkan China sebanyak 33,3% kasus. Tren yang terlihat di Eropa saat ini belum menunjukkan penurunan sebaliknya di China trennya hampir tidak ada penambahan yang berarti.

Kawasan Indonesia

Indonesia yang memiliki iklim tropis memang penyebaran virus tak secepat di daerah iklim sedang. Namun peningkatan kasus meningkat tajam selama tiga hari terakhir. Tanggal 17 Maret 2020 kasus positif Covid 19 sebanyak 172 orang, tanggal 18 Maret 2020 bertambah 55 kasus menjadi 227 orang (meningkat 32%) dan tanggal 19 Maret 2020 bertambah lagi sebanyak 84 kasus menjadi 311 orang (meningkat 37%).

Tren yang terlihat adalah terus terjadi peningkatan. Jika mengacu pada hasil penelitian dari Muhammad M Sajadi sebelumnya, menampakkan hasil yang sebaliknya. Kita tidak pula sepenuhnya membantah hasil kajian tersebut karena mereka melakukan proyeksi hanya dengan pemodelan cuaca.

Marc Lipsitch, Profesor epidemiologi di Harvard T.H. Chan School of Public Health, baru-baru ini memposting sebuah analisis dimana ia mengatakan bahwa cuaca yang lebih hangat “mungkin tidak” secara signifikan menekan penyebaran penyakit. Dua penelitian yang bertolak belakang tersebut mungkin bisa kita jadikan referensi dalam mengambil keputusan.

Belajar dari China yang mengalami kasus Covid-19 paling banyak di dunia mereka melakukan tindakan mengisolasi kawasan terdampak yang dikenal dengan istilah lockdown. Selama hampir tiga bulan mereka berhasil mengendalikan virus dan penyebarannya saat ini sangat kecil.

Selanjutnya Korea Selatan yang tidak melakukan lockdown, namun rakyat mereka patuh kepada anjuran pmerintah. Dalam kurun waktu yang hampir sama dengan China mereka juga bisa mengendalikan laju penyebaran virus. Lalu kita lihat Italia yang saat ini merupakan negara dengan tingkat kematian terbanyak saat ini (8,3%).

Mereka juga melakukan lockdown namun rakyatnya seperti acuh tak acuh dengan anjuran tersebut. Tiga contoh negara yang memiliki tipe iklim sama tersebut bisa kita tarik kesimpulan bahwa faktor cuaca memang tidak terlalu signifikan terhadap laju penyebaran virus.

Di kawasan Asia Tenggara Indonesia menjadi negara paling tinggi tingkat kematian akibat Covid 19 (8%). Ini sudah merupakan lampu kuning bagi penanganan penyebaran virus. Jangan terlalu berharap virus ini akan hilang dengan sendirinya seiring masuknya musim kemarau nanti. Jika tidak ditangani sejak dari dini, mungkin kita akan susah untuk mengatasinya. Sebaiknya patuhi anjuran yang dikeluarkan pemerintah, seperti tetap dirumah. Tidak mengunjungi tempat-tempat keramaian.

Doktor pada prodi Klimatologi Terapan IPB dan dosen Fisika Universitas Negeri Padang. Pemerhati cuaca dan iklim,

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…