Jumat, Oktober 30, 2020

Ben Anderson yang Saya Kenal

Perginya Dawam Rahardjo, Voltaire van Solo

Suatu siang Mas Dawam Rahardjo menelepon saya di kantor harian Republika. Ia bilang, ia sudah mendengar kontroversi yang melibatkan saya, dan bahwa saya akan...

Teknopolitik Presiden Jokowi

Para pengunjung mengamati miniatur kereta cepat dalam "Pameran Kereta Cepat dari Tiongkok" di Jakarta, Kamis (13/8). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga Mari kita coba pahami mengapa...

Menagih Janji Gubernur Ganjar

Mana bukti menjadikan Jawa Tengah "Ijo Royo-royo" dan "Ora Ngapusi”? Perempuan-perempuan di Desa Tegaldowo dan Desa Timbrangan, Rembang, sudah 447 hari lebih bertahan di tenda...

10 Catatan dari Fase Grup Piala Dunia 2018

Tuhan Sepakbola Selalu Bermain Dadu di Lapangan Malang tak bisa ditolak, untung tak dapat diraih. Begitulah ketika dewa-dewa sepakbola menggulirkan dadu di atas lapangan....
Avatar
Philips J Vermonte
Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS)

Benedict Anderson and Dr. Niall î Dochartaigh at NUI Galway Photograph by Aengus McMahon
Benedict Anderson and Dr. Niall î Dochartaigh at NUI Galway
Photograph by Aengus McMahon

Ben adalah raksasa di dunia ilmu sosial dan ilmu politik, yang dihormati di seluruh dunia. Karya-karyanya juga dihormati di seluruh dunia. Kajian dia soal Indonesia, Thailand, dan Filipina.

Jadi, saya ingin bercerita sedikit tentang “interaksi” saya yang hanya dari jarak amat jauh dengan dia, hanya dari tulisan dan ceramahnya. Yang jelas, sebetulnya Ben Anderson bukan pembicara publik yang baik, nada bicaranya monoton. Saya pernah hadir ke ceramah dia di Universitas Chicago, AS, nyetir menembus salju brutal yang tengah turun dari tempat saya tinggal/studi beberapa mil dari arah barat Chicago.

Sampai di lokasi saya rada kecewa karena gaya bicara Ben Anderson yang datar. Bertolak belakang dengan buku-buku dan tulisannya yang menghujam.

Pada sebuah musim panas saat libur panjang kampus sekitar tahun 2008, saya dapat part-time job di perpustakaan kampus Northern Illinois University (NIU). Pekerjaannya “ringan”, scan buku-buku tua koleksi Asia Tenggara perpustakaan NIU dan bikin database digital dari buku-buku itu.

Suatu hari, saya mengerjakan sebuah buku mengenai Burma yang diterbitkan di London tahun 1900. Bukunya dikarang oleh dua orang Barat, berkisah mengenai seputar kehidupan masyarakat Burma di akhir tahun 1800-an. Banyak sekali foto di dalamnya. Hitam putih.

Sambil meng-entry foto-foto dari buku itu ke database, saya melihat-lihat dan membaca sedikit. Tergambar lengkap kehidupan masyarakat Burma seratus tahun lebih yang lalu itu. Saya baru sadar, ternyata saya menggemari sejarah. Sejak kecil saya suka hal-hal berbau sejarah. Menyenangkan sekali bisa mengetahui kehidupan masa lalu.

Melihat foto-foto itu, ada satu section yang menarik perhatian saya. Yaitu foto-foto di monastery, pesantrennya agama Budha. Ada banyak foto “santri-santri” agama Budha, mempelajari kitab-kitab yang tertulis di atas kayu. Duduk melingkar, dengan pusatnya seorang biksu.

Saya lantas berpikir-pikir, mungkin salah satu temuan manusia yang luar biasa adalah institusi pendidikan alias sekolah.

Bagaimana pengetahuan diajarkan dan ditransfer dari masa ke masa dan manusia terus menerus berusaha menyempurnakan metode pengajaran pengetahuan.

Melihat foto-foto itu, kelihatan peran otoritatif seorang biksu. Mungkin sama dengan kiai di pesantren. Saya sempat berpikir, di situlah letak perbedaannya dengan sistem pendidikan Barat. Tapi pikiran itu saya sanggah sendiri. Peran profesor di kelas, ya mirip-mirip juga dengan otoritas kiai atau biksu. Dalam bidang filsafat, malah hampir mirip dengan para sufi yang berguru pada ulama-ulama tertentu.

Ketika melihat foto-foto itu, saya ingat dua buku. Pertama, Imagined Community-nya Ben Anderson. Ben Anderson menjelaskan asal usul nasionalisme, yang menurut dia antara lain berkembang setelah institusi agama mengalami kemerosotan. Terutama “bahasa” agama. Dia merujuk pada agama Kristen/Katolik dulu, ketika bahasa Latin hanya dikuasai oleh tokoh agama. Ketika mesin cetak ditemukan, kitab suci dicetak dalam jumlah eksemplar berlipat-lipat, dengan akibat kitab suci bisa diakses orang banyak dan karenanya penafsiran agama tidak lagi menjadi monopoli tokoh agama.

Saya rasa semua agama mengalami hal itu. Ben Anderson kurang lebih menyebutnya sebagai efek dari print capitalism.

Dari foto-foto tadi, saya melihat bagaimana para “santri” Budha mempelajari kitab yang ditulis di atas pelepah kayu. Pastinya jumlah kitab itu terbatas, tidak mungkin bisa diakses banyak orang, seperti yang terjadi ketika mesin cetak semakin meluas penggunaannya.

Di sisi lain, melihat foto-foto “santri” Budha mengelilingi biksu belajar, saya juga ingat sebuah buku yang ditulis Michael Laffan, judulnya Ummah Below the Wind. Laffan mengkritik Ben Anderson yang menafikan peran agama dalam tumbuh berkembangnya nasionalisme. Studi Michael Laffan adalah mengenai peran agama (Islam) dalam tumbuh berkembangnya nasionalisme di Indonesia. Dia menunjukkan bahwa Islam sangat menonjol perannya pada awal perkembangan nasionalisme Indonesia. Terutama, kata Laffan, dari muslim Nusantara yang pergi haji (di akhir 1800-an).

Setelah haji, mereka tidak langsung pulang, tetapi menyebar untuk berguru pada intelektual-intelektual besar muslim di berbagai negeri di Timur Tengah dan Afrika. Lantas terbentuklah jaringan intelektual Muslim Indonesia modern, yang pulang dengan pemikiran baru yang progresif.

Ben Anderson meyakini bahwa salah satu asal muasal nasionalisme adalah rotasi birokrasi kolonial, terutama di Amerika Latin. Di masa kolonial Amerika Latin, terbentuk kelompok masyarakat bernama mestizo alias campuran. Bisa dari kawin campur antara mereka yang berdarah kolonial (Portugis atau Spanyol) dengan penduduk lokal. Juga terbentuk generasi kedua kolonial, yang orang tuanya lahir di Spanyol atau Portugal tetapi dirinya dilahirkan di bumi Amerika Latin.

Birokrat-birokrat mestizo atau dari generasi kedua bangsa penjajah ini hanya dirotasi di negara kolonial saja. Tidak pernah (tidak berhak) dikirim ke Lisabon di Portugal atau Madrid di Spanyol. Karena “karir” yang dihambat ini muncul benih-benih nasionalisme di Amerika Latin.

Birokrat-birokrat mestizo ataupun yang keturunan generasi kedua ini, karena pekerjaannya, mengalami “bureaucratic pilgrimage”, terbentuk jaringan sesama birokrat (hampir sinonim dengan “kelas menengah”) yang pelan-pelan berkembang menjadi semangat perlawanan anti kolonialisme yang berpusat di jantung kota-kota Eropa.

Michael Laffan pada dasarnya juga mempercayai bahwa perpindahan orang (pilgrimage) juga menjadi basis terbentuknya nasionalisme Indonesia. Bedanya, dia mempercayai bahwa dalam konteks Indonesia, yang terjadi adalah intellectual dan religious pilgrimage.

Rest in peace, Om Ben.

 

Avatar
Philips J Vermonte
Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.