Sabtu, Februari 27, 2021

Ben Anderson: Jangan Pukul yang Lemah

Di Balik Teror Bom Sarinah

Hanya dalam hitungan jam setelah teror bom Thamrin/Sarinah di Jakarta, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) merilis pernyataan bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Rilis...

Pendekatan Pemolisian Terorisme

Presiden Jokowi pada tanggal 6 Januari yang lalu telah menandatangani Peraturan Presiden tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah...

Hanya Political Will yang Bisa Selamatkan Petani Tembakau

Alkisah, seorang wali bernama Ki Ageng Makukuhan diutus Sunan Kudus membuka lahan pertanian dan menyebarkan Islam di lereng Gunung Sindoro-Sumbing, Temanggung, Jawa Tengah. Salah...

Surat Penting untuk Pak Jokowi tentang Kematian KPK

Bapak Presiden Joko Widodo yang terhormat, Saya menulis surat ini sambil bersenda gurau dengan anak saya yang masih berusia 2 tahun. Saya membayangkan betapa banyak...
Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.

Barangsiapa yang pernah ke rumah Om Ben Anderson di di Desa Freeville, di dekat kota Ithaca, New York bagian atas, pasti akan menemukan begitu banyak jejak Indonesia di dalamnya. Dan, Indonesia yang ditemui bukanlah Indonesia Raya yang biasa diperkenalkan oleh pemerintah untuk menggenjot nafsu nasionalisme itu.

Indonesia yang jelas tampak adalah Indonesia sehari-hari. Atau, sebutlah dengan istilah yang sedikit romantik: Indonesia yang membikin orang Indonesia membayangkan dirinya sebagai orang Indonesia.

Masuklah ke dapur. Ini adalah pusat dunia, di rumah ini J.S. Furnivall pernah mengatakan, orang berbeda-beda suku, bahasa, agama, dan sebagainya, namun toh berjumpa di pasar.

Di Griya Andersonian ini, orang sibuk bermacam-macam bertemunya ya di dapur. Di sini terjadi banyak hal. Orang ketawa, makan, minum, ngerumpi, bicara politik, seks, musik, kebudayaan, dan sebagainya. Sesekali ada juga orang menangis sesenggukan mengadukan sesuatu, dan di sana ada Om Ben yang menjadi pendengar keluh kesah. Sepanjang ingatan saya, paling tidak ada tiga kali kejadian seperti itu.

Waktu saya datang, dapur ini baru saja direnovasi. Masih kinclong, tapi tetap tidak bisa menyembunyikan suasana rumah ini. Di sudut, ada gambar Bung Karno muda (tidak ada gambar Soeharto di rumah itu). Kemudian ada beberapa lukisan. Salah satunya adalah yang paling nakal: lukisan wayang dari pensil yang menggambarkan adegan ‘kawin’ Arjuna yang menindih tubuh Drupadi. Kebetulan wayang itu adalah wayang Bali yang bentuk badannya belum dideformed seperti wayang Jawa.

Lukisan-lukisan Bali berserakan di rumah ini. Kebanyakan didapat pada tahun 1950-60an sewaktu Om Ben menyelesaikan penelitian (istilah dia) skripsinya. Ada lukisan kuda yang selalu dikomentari dengan tertawa oleh Om Ben, ‘Kayak kuda bantal!’ Memang kudanya berbadan kegendutan dengan kaki kekecilan.

Tapi yang paling menarik, ya Arjuna kawin itu. Om Ben pernah bercerita bahwa lukisan ini diberikan sendiri oleh pelukisnya. Malam-malam pelukis itu datang membawa gulungan kertas, dan sambil berbisik-bisik seperti pedagang menawarkan majalah porno, dia bilang, “Apakah tuan mau bawa lukisan ini. Ambil saja.” Lukisan itu diberikan begitu saja oleh pelukisnya yang eksentrik dan terkenal tidak pernah mau menjual lukisannya.

Selain beberapa patung dan lukisan Bali, ada juga lukisan diri Om Ben sendiri. Satu lukisan dirinya semasa anak-anak. Entah dibuat oleh siapa.

Lukisan lain yang selalu menyita perhatian pengunjung rumah itu adalah lukisan ‘Kolonel’ bintang empat(!) yang bernama B. Bajinguk. Wajahnya adalah wajah Om Ben ketika masih muda, dan tampaknya dia sangat menikmati sebutan kolonel ini. Hingga dalam korespondensi dia dengan sahabatnya yang pegawai negeri sipil Jerman, Pipit Rochijat, dia dengan senang hati mengambil alih sebutan kolonel itu. Sebagaimana Pipit dengan senang hati memeluk julukan ‘sersan’ untuk dirinya.

Ada banyak sekali ‘artefak’ Indonesia di rumah itu. Dan, satu lagi yang jadi favorit orang adalah yang melambai-lambai di atas gudang yang bercat merah. Di sana bertakhta Petruk yang bergerak kemana angin berhembus.

Ada sesuatu yang tidak terbantahkan dari rumah itu, yakni begitu kuatnya ikatan pemiliknya dengan Indonesia. Om Ben Anderson tidak saja mendekati Indonesia secara profesional sebagai intelektual dan akademisi, namun dia sungguh-sungguh hidup di dalamnya. Dia memungut Indonesia seperti seseorang memungut anak.

Namun yang dipungutnya bukanlah versi negara dari Indonesia. Dia memungut Indonesia dari versi rakyat biasa. Versi ini yang sangat dia kenal ketika dia menjelajahi Indonesia pada akhir tahun 1950an dan awal 1960an.

Sekaligus, versi ini adalah versi revolusioner dari Indonesia yang dibabat habis pada pada tahun 1965-1966. Sehingga tidak heran bahwa  Ben Anderson memiliki hubungan yang sangat unik dengan Indonesia. Om Ben adalah pengkritik paling tajam dari rezim militer Soeharto.

Jarang sekali ada sarjana bule yang terjun begitu dalam ke persoalan politik dan sosial di Indonesia. Dan, sebagaimana kita tahu, dia membayar begitu mahal untuk kritiknya itu. Selama 27 tahun, dia dilarang masuk ke Indonesia.

Pelarangan itu sekaligus menjadi bukti kebrutalan dari Orde Barunya Soeharto. Dia sendiri menyimpulkan hubungan dengan Indonesia setelah pembantaian 1965 seperti orang yang ‘jatuh cinta dan kemudian mendapati yang dicintainya adalah seorang pembunuh.’

Telalu banyak yang sudah disumbangkan oleh Ben Anderson untuk studi ilmu-ilmu sosial dan studi tentang Indonesia. Sulit untuk mencari tandingan kekayaan pengetahuan, kreativitas, dan orisinalitasnya sebagai ilmuwan sosial. Namun tidak terlalu sulit bagi kita untuk meniru prinsip hidupnya.

Salah satu yang paling saya kenang adalah tulisannya tentang bagaimana ibunya mengasuh dia. Nasehat ibunya yang selalu jadi pegangannya adalah, “Jangan pukul yang lemah.” Untuk saya, itulah yang selalu terpancar dalam pribadi Om Ben.

***

Diambil dari: “Tulisan Kenangan untuk Ben Anderson” sebagai bagian dari acara Ben Anderson Memorial yang diselenggarakan di Jakarta, 22 Januari 2016.

Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.