Banner Uhamka
Jumat, September 25, 2020
Banner Uhamka

Belajar pada Abdul Sattar Edhi [Catatan Sosial 2016]

Keislaman dan Keindonesiaan: Mana Lebih Mengkhawatirkan?

Akhir-akhir ini saya mencoba memperhatikan kegairahan kehidupan masyarakat di sekitar saya sehari-hari dan mungkin juga di lingkup yang lebih besar akan pelaksanaan nilai-nilai dan...

Arief Budiman Kini Bisa Diam

Arief Budiman masuk ke ruang ceramah dengan santai. Ia mengenakan kemeja lengan pendek, berbahan tipis, sutra tiruan, yang bercorak lukisan abstrak, dengan warna dominan...

Apakah Tuhan Bahagia?

Tiba-tiba saya teringat sebuah buku yang ditulis oleh Leszek Kalakowski, salah satu filsuf dan pemikir humanis berpengaruh di abad ke-20, yang berjudul Is God...

Mas Kus adalah Korban

Salah satu ritual yang hampir saya lakukan setiap pagi adalah mengecek HP, siapa tahu ada kabar penting yang menggembirakan. Kabar gembira di pagi hari...
Avatar
Ihsan Ali-Fauzi
Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD), Yayasan Paramadina, Jakarta

sattar-ambulans
Abdul Sattar Edhi dan ambulansnya yang selalu sigap membantu siapa pun tanpa pandang bulu.

Di penghujung 2016 ini, saya ingin mengajak Anda untuk bersama-sama belajar lebih banyak dari Abdul Sattar Edhi, pekerja sosial asal Pakistan, yang wafat 8 Juli 2016 lalu. Bagi saya, dia guru kemanusiaan terbesar tahun ini dan kita belum cukup memberi penghargaan kepadanya.

Ketika Edhi akan dimakamkan lewat suatu upacara di Stadion Nasional Karachi, sebelum dikebumikan di makam yang digalinya sendiri, massa berduyun-duyun ikut mengusung peti jenazahnya, yang dibalut bendera hijau-putih (Pakistan).

Kematian Edhi, yang seperti malaikat penolong bagi banyak orang miskin di negeri itu, yang dikenal lewat pasukan ambulansnya yang selalu siaga menolong siapa saja, membawa duka mendalam.

Tapi Nawaz Sharif, Perdana Menteri Pakistan, juga menyatakan berduka. “Edhi permata sejati dan aset Pakistan. Kami kehilangan pelayan kemanusiaan yang luar biasa. Dia manifestasi cinta kepada orang-orang yang rentan, miskin, tertindas, dan sulit mendapat pertolongan,” katanya.

Kegagalan Negara
Kita tidak pernah tahu apa yang sesungguhnya bergejolak di benak sang Perdana Menteri saat itu—dan apa makna dukanya. Sebab, yang pertama-tama ditunjukkan Edhi sepanjang hayatnya adalah bahwa negara telah gagal mengurusi warganya—dan bahwa tiap warga harus siap mengurus diri sendiri. Yang ironis, negara itu adalah negara yang menyebut diri “Negara Islam” dan yang didirikan persis karena alasan keagamaan itu, hampir 70 tahun sebelumnya.

Inilah yang menjadi awal kerja-kerja sosial Edhi. Lahir di Gujarat (kini di India), pada 1928, Edhi dan keluarganya yang Muslim harus pindah ke Karachi (kini di Pakistan) pada 1947: mereka jadi korban konflik sektarian yang membelah anak-benua Indo-Pakistan (disebut Partition).

Di tanah baru ini, ibunya, yang sudah lama sakit-sakitan, wafat ketika Edhi 19 tahun. Dalam satu peristiwa mengenaskan, Edhi harus membawa ibunya ke rumah sakit dan diberitahu bahwa di kota itu hanya ada satu ambulan dan itu milik Palang Merah Internasional.

Trauma di atas mendorong Edhi memulai kerja-kerjanya. Dia juga amat kecewa melihat lingkungan sekitarnya, “di mana ketidakadilan, sogok-menyogok dan perampokan sangat umum terjadi.” Dia mulai dengan membuka toko obat kecil di samping rumahnya, yang menawarkan obat-obatan sederhana, berapa pun bayarannya.

Tempat itu kini masih menjadi rumahnya yang sederhana, yang ditinggali juga oleh istri dan empat anaknya. “Saya kira itu kewajiban saya sebagai manusia,” kata Edhi mengenang langkah-langkah awalnya dulu. “Saya dapat pastikan bahwa pemerintahan kami tidak akan mengurusi layanan-layanan sosial seperti itu.”

Pada 1957, dia mendirikan Yayasan Edhi untuk menerima donasi dalam rangka membangun tenda-tenda rumah sakit bagi korban flu Hong Kong yang mengancam kala itu. Dari seorang pengusaha, dia memperoleh dana untuk membeli mobil ambulan yang dibawanya sendiri untuk menjemput orang-orang sakit. “Itulah pertama kalinya saya memperoleh kepercayaan yang besar,” katanya.

Pada 1965, Edhi menikahi Bilquis Bano, seorang perawat di satu klinik miliknya. Dinakhodai Bilquis, Yayasan Edhi lalu membangun rumah bersalin gratis dan membantu proses adopsi anak-anak yatim atau bayi-bayi “terbengkalai”. Mereka menyiapkan keranjang bayi di banyak tempat untuk siapa saja yang tak menghendaki bayinya. Mereka juga mengumumkan nomor telepon yang bisa dihubungi untuk tujuan yang sama, tanpa minta keterangan siapa sang ibu atau lainnya. Di samping kantornya ada ayunan bayi dan tulisan “Jangan Bunuh Anakmu.”

Salah satu periode paling mengerikan bagi Edhi dan Balquis adalah perang 1965 antara India dan Pakistan, ketika Karachi dibom. Selain merawat mereka yang terluka dan sekarat, keduanya harus memandikan 45 mayat (Edhi yang laki-laki, Bilquis perempuan) dan menyiapkan pemakaman mereka. Dalam memoarnya, A Mirror to the Blind (1996), Edhi terang-terangan mengecam mereka yang merasa jijik dan terlalu suci untuk menyentuh tubuh orang-orang mati.

Sejak itu hingga sekarang, Yayasan Edhi menjadi organisasi besar yang memberikan layanan ambulan, klinik, rumah yatim, bank darah, dan banyak lagi yang lainnya—semuanya gratis atau dengan bayar seadanya. Yayasan itu paling dikenal berkat 1.800 mobil ambulannya, yang selalu tiba pertama, lebih dulu dibanding yang lain, di tempat kejadian.

Salah satu momen penting dalam karir Edhi terjadi pada Mei 2002, ketika polisi menemukan jasad Daniel Pearl, reporter Wall Street Journal yang dibunuh jaringan teroris di Karachi. Ketika tak seorang pun mau mengurusnya, Edhi tampil mengumpulkan sisa-sisa tubuhnya (maaf: yang tercerai-berai menjadi sepuluh potongan), “membersihkannya”, dan membawanya ke bandara.

Karachi memang salah satu kota dengan tingkat kekerasan tertinggi di dunia. Tapi bahkan di kota ini pun kelompok-kelompok yang biasa saling serang tunduk kepada satu “kode etik”: jika ambulans Edhi tiba, semua tembak-menembak harus berhenti, agar para relawan Edhi bisa mengumpulkan mereka yang mati atau terluka dan membawa mereka pergi.

Pemerintah Pakistan wajib malu kepada Edhi dan yayasannya, karena yayasan itu kini merupakan organisasi layanan sosial terbesar di negara itu. Sejak didirikan, yayasan itu telah menampung sekitar 20.000 bayi yang ditelantarkan, merawat sekitar 50.000 anak yatim, dan melatih lebih dari 40.000 perawat. Dan yang paling Edhi kagumi: jumlah armada ambulansnya kini terbesar yang dijalankan organisasi non-pemerintah di dunia. Jika Anda di Pakistan dan sekarat tanpa sejawat sama sekali, telepon saja Edhi!

“Ambulans Saya lebih Muslim dibanding Kalian”
Banyak orang menyebut Edhi seorang “filantropis”. Mungkin semacam miliarder Bill Gates di Amerika Serikat atau lembaga Dompet Dhuafa di Indonesia. Meski tak pernah menemukan informasi bahwa Edhi terang-terangan menolak penyebutan itu, saya duga dia belum tentu gembira mendengarnya.

Yayasan Edhi tak bergerak seperti umumnya filantropi modern bekerja. Selain bukan orang kaya, dia sendiri hanya mengumpulkan donasi langsung yang diberikan kepadanya. Hingga wafatnya, Edhi terus menunggu donatur yang datang—dan tak seorang pun minta bukti pembayaran darinya. Dia menolak dana dari pemerintah dan pergi ke mana-mana dengan ambulansnya, siapa tahu ada seseorang yang butuh bantuan di perjalanan. Pada 1991, dia pernah minta supaya dia tidak diundang ke banyak acara, karena “itu hanya akan menghabiskan waktu saya untuk membantu orang-orang lain.”

kutipan-sattar-edhiDalam Yayasan Edhi, tidak ada birokrasi yang ruwet dan makan biaya, dan semua orang bekerja sebagai sukarelawan. Para dokter, perawat, dan sopir ambulans diharapkan membantu tanpa bayaran. Dalam satu adegan These Birds Walk (2013), film dokumenter tentang Edhi, kita menyaksikan bagaimana seorang sopir ambulansnya keteteran harus menjemput seorang anak yang kabur dari panti asuhan tapi hendak kembali lagi.

Yayasan Edhi juga dikenal imparsial, tidak memihak kelompok mana pun. Ketika suatu kali ditanya mengapa dia melayani semua orang tanpa pandang bulu, tanpa mendahulukan mereka yang Muslim, Edhi menjawab, “karena ambulans saya lebih Muslim dibanding kalian.”
Ini pula yang mendorong Edhi untuk tak membatasi kiprahnya hanya di Pakistan. Pada 2005, ketika Hurricane Katrina menghantam Amerika Serikat, Yayasan Edhi mendonasikan US$100.000 kepada para korban.

Karena keteguhannya memegang prinsip ini, Edhi sering menjadi target serangan kalangan konservatif dan radikal Muslim di Pakistan, yang menuduhnya atheis atau “kafir”. Tak heran jika dia kerap diancam mau dibunuh.

Edhi tak pernah menggubris kecaman-kecaman seperti ini. Umum dikenal berkat janggut putihnya yang tebal dan sorot matanya yang tajam, dia hanya menjawab, “Agama saya adalah mengabdi kepada kemanusiaan dan saya percaya bahwa semua agama di dunia punya dasar-dasar kemanusiaan.” Kitab suci, katanya lagi, “harus terpancar dari jiwamu… Bukalah hatimu dan lihatlah para hamba Tuhan ini. Dalam penderitaan mereka, kamu akan menemukan-Nya.”

Nobel Perdamaian
Edhi kadang disebut “The Mother (Father) Teresa of Pakistan”, merujuk kepada kerja-kerja kemanusiaan Bunda Teresa di India, yang dianugerahi Nobel Perdamaian (1979). Meskipun dimaksudkan sebagai pujian, perbandingan ini tidak fair dan tidak memadai, karena keduanya bekerja dalam konteks yang berbeda. (Ini mengingatkan saya pada Abdul Ghaffar Khan, pemimpin Muslim perbatasan India-Afghanistan yang memang kawan dan pengikut Gandhi, yang sering sekali disebut “The Frontier Gandhi”, seakan tidak ada yang khas dari Khan dibanding Gandhi.)

Banyak pula orang mengusulkan agar Edhi dianugerahi Nobel Perdamaian. Selain oleh para aktivis kemanusiaan di Pakistan dan seluruh dunia, usulan itu juga disampaikan Malala Yousafzai, perempuan belia Pakistan yang dianugerahi hadiah itu pada 2014 (bersama Kailash Satyarthi, aktivis hak-hak anak dari India). Hingga akhir hayatnya, Edhi tak memperoleh penghargaan itu.

Saya duga Edhi juga tak pusing dengan sebutan dan penghargaan di atas. Dalam satu kesempatan dia menyatakan, “Saya mengharapkan hadiah yang lebih baik dari Allah, ketika nanti tiba saatnya saya berjumpa dengan-Nya.”

Pada diri Edhi, saya menyaksikan contoh bagaimana Islam yang benar, yang merupakan rahmat bagi semesta alam itu, dijalankan dengan baik. Dengan sendirinya tanpa pamrih dan kesombongan, riya’. Terima kasih, Sattar Edhi.

Avatar
Ihsan Ali-Fauzi
Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD), Yayasan Paramadina, Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini...

Pandemi Dapat Membunuh Populis, Tidak Populisme

Demokrasi atau otoriter? Masa awal pandemi diwarnai dengan perdebatan mengenai tipe rezim mana yang paling efektif dalam menghadapi wabah Covid-19. Namun memasuki kuartal ketiga...

Potret Seorang Feodal Tua sebagai Seniman Serba Bisa

Pada zaman dahulu kala, ketika revolusi tidak ada lagi, Goenawan Mohamad pernah mengibaratkan dirinya, dengan heroisme penyair muda, sebagai Malin Kundang. Tapi kini, Malin...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.