Kamis, Januari 28, 2021

Belajar dari Prestasi Sepakbola Portugal

Saatnya Golkar Menjadi Partai Modern

Keberhasilan Musyawarah Nasional Luar Biasa Partai Golkar di Bali menjadi momentum yang baik untuk menjelmakan Golkar sebagai partai modern. Transformasi Partai Golkar menuju partai...

Penduduk NKRI dan Penonton Sinetron

Seorang gadis didekati dua pria. Yang satu tampan, kaya, dan royal. Sementara pesaingnya bertampang pas-pasan, miskin, tetapi budiman. Agar episode sinetronnya bisa panjang dan mendapat...

Pak Jokowi, Mohon Bentuk Kabinet Keberlanjutan Indonesia

Pak Jokowi yang terhormat, Tinggal beberapa hari ke depan Bapak akan kembali dilantik menjadi pimpinan cabang kekuasaan eksekutif negeri ini. Bapak akan kembali menjadi Presiden...

Perang Media di Mina

  Belum usai tangis sanak saudara korban tragedi Mina yang menewaskan hampir seribu orang, peristiwa tersebut telah memunculkan “tragedi” lanjutan: pertempuran opini tentang apa sebenarnya...
Ribut Lupiyanto
Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration); Penggemar Sepakbola

ronaldo
Christiano Ronaldo berpose sambil menggendong trofi Euro 2016. AFP/Francisco Leong

Portugal akhirnya menjadi juara Piala Eropa (EUROPE) 2016. Juara diraih setelah menundukkan tuan rumah Prancis 1-0 pada laga final di Stadion Saint Denis atau Stade de France, Prancis.

Gelar ini adalah perdana bagi Portugal. Sebelumnya prestasi yang ditorehkan di turnamen tertinggi di Eropa ini adalah perempat final (1996 dan 2008), semifinal (1984, 2000, 2012), dan runner up (2004). Portugal bahkan beberapa kali tidak lolos kualifikasi, yaitu tahun 1960-1980, 1988, dan 1992.

Sedangkan Prancis telah dua kali menjadi juara Piala Eropa, yaitu di tahun 1984 dan 2000. Selainnya menembus perempat final (2004 dan 2012) dan semifinal (1960 dan1996).

Sebelum laga final berlangsung, mayoritas pengamat dan penggemar sepakbola mengunggulkan Prancis. Pertama, Prancis kali ini menjadi tuan rumah. Tradisi tuan rumah Prancis yang sukses meraih juara telah terjadi pada Piala Dunia 1998. Kedua, perjalanan Prancis  sejak fase grup lebih meyakinkan. Portugal sempat tertatih-tatih di fase grup.

Publik dan  insan sepakbola di Indonesia penting untuk tidak sekadar menikmati laga Piala Eropa 2016 sebagai hiburan semata. Kesuksesan Portugal menjadi juara penting dikaji rahasianya dan diambil pembelajarannya, baik dari sisi teknis maupun nom teknis bagi pemajuan sepakbola dalam negeri.

Persepakbolaan nasional kini sedang terpuruk dan menjadi terburuk di sepanjang sejarah. Indonesia baru saja terkena sanksi FIFA. Dampaknya seluruh aktivitas persepakbolaan kita mati suri. Meski sanksi baru saja dicabut, belum ada tanda-tanda reformasi dan kepastian pengelolaan sepakbola di negeri ini.

Momentum buruk ini mesti tetap dioptimalkan salah satunya dengan belajar dari negara-negara lain guna membangkitkan persepakbolaan nasional. Banyak poin pembelajaran yang dapat dipetik dari kesuksesan Portugal memboyong Piala Eropa 2016.

Pertama, kemampuan percaya diri, nasionalisme, dan tidak demam panggung. Para pemain sukses menguatkan mental dan mendayagunakan dukungan mayoritas suporter selaku tuan rumah. Nasionalisme pemain Portugal nampaknya mencapai puncak guna merengkuh gelar perdana dari turnamen tersebut.  Mereka tidak menghiraukan prediksi yang tidak mengunggulkannya.

Sejak menit ke-25 bahkan mereka bermain tanpa bintang lapangan Ronaldo karena cidera. Skuad Portugal terus berjuang keras sebelum peluit panjang wasit dibunyikan. Terbukti, Eder sukse menjebol gawang Prancis yang dijaga Hugo Lloris pada menit ke-108. Tak ayal Eder menjadi pahlawan Portugal.

Indonesia juga memiliki modal tersebut. Dukungan penggila sepakbola di tanah air luar biasa ketika tim nasional tampil. Iklim nasionalisme juga hadir kuat. Tinggal mental pemain yang perlu ditata dan dilatih agar profesional dan keluar dari tekanan psikologis.

Kedua, mental petarung dan tidak meremehkan lawan. Peringkat FIFA Portugal edisi Juni 2016 memang di atas Prancis. Portugal di peringkat  8, sedangkan  Prancis 17.  Hasil ini menjawab keraguan dan kritik lantaran performa Portugal dinilai kurang meyakinkan sejak fase penyisihan hingga semi final.

Portugal sukses menerapkan sepakbola modern yang mengandalkan sistem dan strategi bermain bukan aksi per pemain. Sepakbola modern membuktikan bahwa ketika tim memasuki lapangan hijau, maka semua memiliki peluang sama. Indonesia masih harus banyak berlatih dalam hal mental, strategi bermain, kekompakan sistem bermain, manajemen energi pemain, kedewasaan suporter, dan lainnya.

Ketiga, dukungan manajemen persepakbolaan. Badan sepakbola Portugal membentuk manajemen persepakbolaan secara independen dan profesional. Jarang terjadi konflik antara organisasi tersebut dengan pemerintahnya. Mata rantai pembinaan terjalin baik dan optimal. Profesionalisme sepakbola juga berjalan baik melalui industrialisasi hingga mencetak pemain-pemain berbakat di kancah liga Eropa. Poin ini menjadi aspek paling berat untuk diteladani Indonesia. Bagaimanapun Indonesia mesti bangkit menuju profesionalisme sebagaimana Portugal.

Keempat, dukungan sportivitas, kedewasaan, dan nasionalisme suporter. Suporter disebut juga pemain keduabelas. Peran suporter sangat besar guna menguatkan mental pemain, meski sudah menurun perannya dalam sepakbola modern ini. Riuh rendah suporter justru bisa menjadi penekan psikologis pemain jika tidak bisa dikelola mentalnya.

Meski minoritas, suporter Portugal tetap semangat menyemangati tim negaranya. Bahkan volume suaranya justru tampak menjadi mayoritas di dalam stadion. Suporter Portugal juga menunjukkan sikap sportif, tidak banyak melakukan pelanggaran, dan menyemangati timnya dengan aura nasionalisme yang kuat melalui atributisasi.

Suporter Indonesia jujur masih perlu banyak belajar. Kuantitas suporter yang kerap memenuhi stadion kadang dinodai ulah yang kurang dewasa, seperti pelembaran benda ke lapangan, pembakaran kembang api, hingga perusakan atau tawuran. Kualitas suporter dalam sepakbola modern juga mencerminkan kualitas tim negara atau klubnya.

Kelima, kualitas pemain Protugal ditempa oleh kompetisi liga yang berkualitas di dalam negeri maupun di luar negeri pada liga-liga berkelas. Pemerintah Indonesia penting memudahkan pemain yang akan ke luar negeri dalam hal administrasi. Fasilitasi trial dan promosi bahkan secara pro aktif penting dilakukan. PSSI bisa melakukan promosi dan penawaran ke otoritas sepakbola mancanegara hingga klub-klub asing terkait talenta pemain nasional. Iklim kompetisi di liga domestik juga mesti terus ditingkatkan kualitasnya berstandar internasional.

Indonesia yang berpenduduk lebih  dari 250 juta sudah lama bermimpi melihat tim nasional berprestasi. Peta jalan penting ditata mulai dari nol memanfaatkan kondisi terkini. Langkah kecil dan sistematis mesti dilakukan dalam multiaspek guna mencapai titik optimal persepakbolaan dari sisi manajemen dan prestasi.

Ribut Lupiyanto
Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration); Penggemar Sepakbola
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.