OUR NETWORK

Belajar dari Lee Kuan Yew

 

A man bows as he pays his respects to late former prime minister Lee Kuan Yew at Tanjong Pagar community club, in the constituency which Lee represented as Member of Parliament since 1955, in Singapore March 23, 2015. Lee, Singapore's first prime minister, died on Monday aged 91, triggering a flood of tributes to the man who oversaw the tiny city-state's rapid rise from a British colonial backwater to a global trade and financial centre. REUTERS/Edgar Su TPX IMAGES OF THE DAY
Lee Kuan Yew (16 September 1923 – 23 Maret 2015). REUTERS/Edgar Su TPX IMAGES OF THE DAY

Humor paling terkenal tentang Lee Kuan Yew menggambarkan bagaimana sebagian karakter Lee dipersepsi oleh warga Singapura.

Q: ”Who’s the godess of mercy?”
A: ”Kwan Im!”
Q: ”Who’s the god of no mercy?”
A: ”Kuan Yew!”

Singapura dipimpin Lee sejak 1959 hingga 1990, dan pengamat selalu menyematkan penjelasan “dengan tangan besi” terhadap kepemimpinannya itu.

Di antara tindakan-tindakan pertama yang dia lakukan sebagai pemimpin—yang menyumbang pada reputasi yang disebutkan para pengamat itu—adalah penataan kawasan, di mana dia menggusur banyak sekali tempat tinggal yang tadinya berserakan seantero negeri kecil itu, menjadikannya terpusat di beberapa tempat saja. Lalu, bekas-bekas tempat tinggal itu ia hutankan kembali.

Menggusur, menata kawasan, dan menghutankan kembali di tahun 1960-an hingga 1970-an adalah tindakan yang amat tak populer. Apalagi dia kemudian membangun banyak taman, terutama dari bandara menuju pusat kota. Tak ada yang paham mengapa sebuah negeri baru malahan berkonsentrasi membuat hutan dan taman. ”Karena itu memberi tahu kepada seluruh dunia bahwa di sini pemerintahan berjalan dengan efektif,” demikian penjelasan Lee kemudian.

Pada saat penjelasan itu diberikan, masyarakat Singapura sudah merasakan manfaat dari negeri kecil nan teratur dan indah itu. Tak ada yang protes dengan kondisi itu. Negara Taman, begitu Singapura kemudian dikenal, dan julukan itu membuat warganya bangga. Kini, dukungan untuk menambah luasan ruang terbuka hijau selalu mudah diperoleh, termasuk ketika Kebun Raya Singapura terus menambah luasannya.

Singapura bahkan melakukan reklamasi untuk menambah tamannya. Namun, selama beberapa tahun awal, bahkan lebih dari satu dekade, orang kebanyakan hanya paham bahwa Lee adalah simbol kekejaman terkait dengan penggusuran, a god of no mercy.

Keteraturan, buat Lee, adalah hal yang mutlak untuk negeri kecil dengan beragam kultur itu. Dan ia memang tak ragu menciptakannya dengan tangan besi, sebagaimana yang ia akui sendiri.

Salah satu kutipan pernyataan Lee yang paling terkenal adalah: “Whoever governs Singapore must have that iron in him or give it up. This is not a game of cards. This is your life and mine. I’ve spent the whole life in building this, and as long as I am in charge nobody’s going to knock it down.” Begitu kata Lee yang juga secara terbuka menyatakan percaya pada ajaran Niccolo Machiavelli.

Demonstrasi sangat keras dilarang, karena itu akan membuat investor tak nyaman. Minuman keras dan rokok sangat dibatasi, sebab itu akan membuat kota menjadi rusuh dan kotor. Permen karet pun bukan makanan yang diperkenankan di sana, karena sulit dibersihkan.

Pelanggaran atas itu dikenai denda yang tinggi. Lagi-lagi warganya menyindir, kali ini dengan permainan kata: ”Singapore is a fine city” yang bisa berarti kota yang baik atau tertib, namun maksud sesungguhnya adalah kota di mana banyak denda dikenakan kepada penduduknya.

Dengan modal keteraturan itu Lee berhasil membangun negeri kecil tanpa sumber daya alam yang memadai menjadi raksasa ekonomi. Dengan bekal pengetahuan hukum dari Universitas Cambridge yang dimiliki, ia fasih bernegosiasi dengan para pengacara bisnis dari banyak negeri. Ia membujuk para investor untuk menjadikan Singapura sebagai pusat bisnis jasa, dengan jaminan kepastian hukum.

Pengetahuannya yang luas tentang negeri-negeri tetangganya—dan kefasihan dalam bahasa Cina (seluruh dialeknya!) dan Inggris, selain Melayu, Jepang, dan Tamil—menjadikannya mudah mewakili kepentingan Singapura untuk menjadi mitra bisnis yang andal. Terutama sekali sebagai perantara bagi pebisnis dari seluruh penjuru dunia yang ingin mendapatkan akses sumber daya dan pasar ke negeri-negeri seantero jazirah Asia Tenggara.

Menjadikan diri sebagai perantara yang andal adalah keniscayaan bila Singapura hendak menjadi negeri yang makmur. Sebab, memang tak ada sumber daya lain yang lebih besar dibandingkan kepercayaan.

Untuk membuat Singapura menjadi negeri yang benar-benar bisa dipercaya, Lee berkonsentrasi pada pendidikan. Ia mendirikan universitas-universitas, mengirim banyak sekali warga Singapura untuk belajar di universitas ternama di Eropa dan Amerika, lalu menarik mereka kembali untuk mengajar di negerinya.

Dalam waktu terbilang singkat, ia berhasil menunjukkan mutu sumber daya manusia Singapura memang jauh di atas negeri-negeri tetangganya. Di tahun 2011, ia mengumumkan ambisi barunya untuk terus meningkatkan mutu penduduk Singapura: membuat seluruh generasi mudanya menguasai setidaknya dua bahasa. Sebuah ambisi yang disambut meriah warganya.

Lee telah berpulang (23 Maret 2015). Tapi tak akan ada yang melupakan jasanya. Ia mengubah pulau kecil yang dahulu terkenal sebagai sarang perompak dan surga pecandu menjadi economic hub terpenting di kawasan Asia. Tanpa Lee dan visinya, dan terutama disiplin mencapai visi itu, entah akan jadi apa negeri mungil tanpa sumber daya alam itu.

Jalal
Provokator Keberlanjutan. Reader on Corporate Governance and Political Ecology Thamrin School of Climate Change and Sustainability, Jakarta. Bukunya berjudul "Mengurai Benang Kusut Indonesia" akan segera terbit.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…