Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Belajar dari Kisruh Pasca Pemilu di Negara Lain

Ijtima Siapa Mendapat Ulama?

Terpilihnya Ma'ruf Amin sebagai cawapres mendampingi Jokowi dan Sandiaga Uno mendampingi Prabowo Subianto telah membuat lindu politik yang lumayan mengacaukan peta pertempuran di medan...

Kenegarawanan dan Krisis

Oleh Jeffrey D. Sachs* Jika kedua pemimpin bertemu sebagai negarawan, bagaimanapun, mereka akan menyelamat- kan Yunani, Eurozone, dan menggoyahkan semangat Eropa. Krisis utang seperti di Yunani...

Koopsusgab dan Rivalitas TNI-Polri

Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopsusgab) akhirnya dihidupkan kembali oleh Presiden Jokowi dan akan ditugaskan membantu Polri dalam penanggulangan terorisme. Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto...

Maurizio Sarri dan Keanehan Chelsea

Maurizio Sarri dan Chelsea-nya, dan sepakbolanya yang kaku dan keras kepala, kembali kalah. Ini yang kelima dari sepuluh pertandingan terakhir. Dari lima itu, dua...
Avatar
Achmad Murtafi Haris
Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

Ada beberapa catatan dari rentetan hiruk pikuk pemilu 2019 ini. Khususnya yang terkait dengan perlawanan kubu 02 terhadap hasil penghitungan suara yang memenangkan kubu 01 Jokowi-Makruf. Tanpa menyangkal kemungkinan kecurangan dilakukan oleh pihak yang menang, tapi kecenderungan tidak bisa menerima kekalahan adalah masalah mendasar dalam kontestasi apa pun.

Konflik Pasca Pemilu di Tiga Negara
Banyak konflik bahkan perang sipil terjadi akibat ketidakmampuan menerima kekalahan pemilu. Di negara Afrika kerap terjadi hal itu. Juga di Amerika Latin, seperti di Honduras, di mana bentrokan terjadi antara polisi anti huru-hara dan pendukung paslon yang kalah meski pemilu sudah lewat dua tahun. Pemilu yang dimenangkan oleh Hernandez lawan Manuel Zelaya (mantan presiden) ternyata menyisakan kerusuhan yang tidak kunjung usai.

Sementara di Mesir, pemilu 2012 yang memenangkan Muhammad Mursi dari kelompok Ikhwanul Muslimin pada akhirnya memunculkan gerakan penolakan massal yang berujung penggulingan sang presiden oleh militer. Abdel Fatah el-Sisi sang Jendral pun melenggang ke tampuk kekuasaan dan mewarisi kekuasaan junta militer di sana. Parlemen Mesir belum lama ini bahkan menyetujui perpanjangan kekuasaan el-Sisi hingga 2030. Suatu hal yang bertentangan dengan keharusan adanya rotasi kepemimpinan periodik dalam praktek demokrasi.

Di negara maju konflik pasca pemilu juga terjadi. Pasca kemenangan Donald Trump melawan Hillary Clinton pada pemilu Amerika Serikat 2016, warga New York yang mayoritas memilih Hillary melakukan demonstrasi menolak kemenangan Trump. Namun aksi-aksi itu akhirnya reda dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Dari ketiga contoh keributan pasca pemilu di Honduras, Mesir, dan Amerika, nampaknya apa yang terjadi di Amerika adalah relatif paling baik. Kekalahan Hillary Clinton yang sungguh di luar dugaan, sangat bisa dimaklumi meninggalkan kekecewaan berat di kalangan pendukungnya terutama di New York. Tetapi penolakan akan hasil pemilu itu tidak berlangsung lama.

Kehebatannya lagi, Hillary yang menang secara populist vote, tapi kalau secara electoral, dengan cepat menerima kekalahan dan menyatakannya di depan publik. Dalam pidatonya dia mengajak para pendukungnya untuk menerima kekalahan dan tetap berbuat yang terbaik untuk Amerika.

Hillary mengingatkan akan fondasi demokrasi yang harus dijaga yaitu pergantian kepemimpinan yang aman. Dia memotivasi para kaum wanita muda bahwa masa depan terbuka untuk mereka menjadi presiden Amerika. Sebuah harapan yang pudar seiring kekalahannya dalam Pilpres. Dia juga menanamkan jiwa besar dan menyampaikan pengalaamannya yang panjang di dunia politik bahwa berjuang untuk kebenaran tidak pernah rugi (Never stop believing that fighting for what is right is worth it).

Pidato yang sungguh menenangkan hati, menghibur jiwa, menyadarkan akan mahalnya nilai perjuangan dan membangkitkan optimisme para pendukung yang sedang menangis badai karena kekalahan.

Tragedi Terparah Pasca Pemilu Amerika
Konflik pasca pemilu di negara Paman Sam bukanlah suatu hal yang aneh. Pada awal pendirian negara, 1804, Aaron Burr wakil presiden Thomas Jefferson, terlibat pembunuhan lawan politiknya Alexander Hamilton sekretaris keuangan George Washington.

Pada tahun pemilu 1820 terjadi perang sipil seiring dengan memanasnya isu ras dan agama. Yaitu kekhawatiran kaum kulit putih Protestan terhadap kehadiran warga Irlandia dan Jerman yang Katolik. Mereka, kaum Protestan, mengkhawatirkan identitas Amerika yang dominan akan tergerus oleh pendatang baru. Mereka pun membuat Partai Amerika yang anti-Katolik pada 1850an. Konflik berdarah terjadi pada pemilu 1855 yang terkenal dengan sebutan ‘Bloody Monday’ di mana 22 warga asal Jerman dan Irlandia meregang nyawa di Louisville, Kentucky agar tidak ikut serta dalam pencoblosan.

Yang paling parah adalah pada pilpres 1860 yang bertanding empat calon presiden dan dimenangkan oleh Abraham Lincoln. Lincoln meraih kemenangan setelah meraih 39,9 persen suara yang kemudian ditolak oleh warga Amerika bagian Selatan dan berakibat pada perang sipil. Mesti Lincoln tidak mendukung perubahan drastis sistem perbudakan namun warga yang tinggal di Amerika bagian Selatan meyakini bahwa Lincoln akan mengarah ke sana, kemerdekaan para budak. Warga selatan menuntut pemisahan diri dari Amerika yang kemudian ditolak oleh Lincoln sehingga berujung pada perang sipil dan terbunuhnya Lincoln sendiri.

Setelah kemenangan bagian utara atas selatan, konflik masih terjadi dalam kaitannya dengan pemilu. Yaitu ketika Utara menuntut agar mereka warga Afro-Amerika diberi hak untuk mencoblos dan tuduhan bahwa mereka akan dijadikan pendulang suara Partai Republik. Pada 1873 pembantaian terjadi 62-150 warga Afro-Amerika yang mengawasi perolehan suara Partai Republik dalam pemilihan gubernur.

Demikianlah, Amerika yang telah melewati perjalanan panjang demokrasi ternyata menyimpan kejadian tragis seputar pemilu. Dan itu semua terjadi tatkala pemilu mengusung sentimen SARA atau salah dari Suku, Agama atau Ras. Dalam pemilu 2019 kali ini di Indonesia, isu sejenis telah muncul dan digunakan untuk pendulang suara. Akankah tragedi buruk akan menimpa Indonesia seperti halnya Amerika dua abad?! Semoga tidak. Dan semoga ada solusi berujung pada penerimaan semua pihak akan hasil Pemilu.

Avatar
Achmad Murtafi Haris
Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.