Banner Uhamka
Senin, September 21, 2020
Banner Uhamka

Bekal Makan dan Miskonsepsi Feminisme

Teror Definisi dalam RUU Terorisme

Lima hari berselang pascapenyanderaan maut di Mako Brimob, rentetan aksi terorisme bom bunuh diri meletus di Surabaya. Tindakan biadab yang menimbulkan korban warga sipil...

Akankah Kita Melanggengkan Kultur Kekerasan Islam terhadap Perempuan?

Dokumenter To Kill A Sparrow: Afghan Women Jailed for Love (2014) mengisahkan nasib kurang baik Suheila dalam asmara. Ia adalah seorang perempuan Afghanistan yang...

Tantangan Tito Karnavian

Presiden telah menunjuk Komisaris Jenderal Polisi Tito Karnavian sebagai calon Kapolri menggantikan Jenderal Badrodin Haiti yang akan segera memasuki usia pensiun. Komisi III Dewan...

Phobia Cyberist di Ruang Hampa Filsafat

Cyberspace ibarat aliran listrik yang menghidupkan kehidupan masyarakat era ini. Tanpanya, gelap gulitalah ruang pada masyarakat modern. Bahkan, mesin modernitas akan mogok apabila tidak...
Muhammad Husni
Mahasiswa yang sedang mempelajari Ilmu Sejarah di Universitas Indonesia ini memiliki hobi membaca dan menonton. Anggota Kolektif Literasi Makara Universitas Indonesia (Kolim UI). Sedang Magang di Geotimes

Pada akhir bulan lalu, tepatnya tanggal 26 Juni 2020 sebuah utas berjudul “Bekal Buat Suami Hari Ini” dikirim oleh akun @rainydecember dan menjadi sebuah topik panas di Twitter.

Sembari mengunggah beberapa foto menu masakannya, ia mengaku jika ia melakukan hal tersebut baru sekitar 2 Minggu─tak lepas dari keadaannya yang saat ini berada di bawah bayang-bayang covid-19.

Awalnya tanggapan-tanggapan yang hadir bernada positif karena merasa terbantu dengan unggahan tersebut, namun lama-kelamaan tanggapan yang hadir melebar dari fokus utamanya dan bahkan utas tersebut menjadi sebuah medan perang argumen.

Akun dengan nama pengguna @hillandianest menyahuti utas tersebut dengan pandangan yang sedikit nyinyir dan menyulut datangnya komentar dari orang lain. Meskipun cuitannya sudah dihapus, jejak darinya masih dapat kita telusuri di mesin pencari dan hasil yang hadir merujuk pada istilah Feminis ataupun Feminisme.

“Bayangin lo buat masakan buat swamik lo sebegitu wownya masakan ampe sekali buat bekel 200 rebu abis itu 3 bulan kemudian dia slengki (selingkuh) wow,” kira-kira begitulah tanggapannya. “Pengen julid yg bikin thread bekal buat swamik. Gabanget. Persepsi orang beda beda kali ya. Apalagi dengan watak gue kaya gini udh deh,” lanjutnya.

Pada titik ini saya menyadari satu hal, bahwasanya orang-orang yang hadir dan memberi komentar mengenai tanggapannya melakukan sebuah kekeliruan berpikir ad hominem dengan membalas nyinyiran tersebut dengan hal yang sama. Baik dengan atau tanpa bertujuan untuk memperbaiki miskonsepsi mengenai Feminisme, semuanya ingin menjatuhkan pendapat lawannya.

Bila dilihat dari cuitan miliknya, ia tidak mengakui bahwa dirinya seorang Feminis atau semacamnya, massa yang memberikan label padanya. Hal ini memperkuat hipotesis saya bahwasanya awam masih menganggap bahwa segala tindakan berontak seorang perempuan adalah gerakan Feminisme.

Kesalahpahaman ini semakin diperkuat dari faktor sosiokultural yang ada di Indonesia. Kanal-kanal televisi menayangkan drama-drama yang menunjukkan sekaligus mendoktrin bahwasanya perempuan itu harus bekerja di ranah domestik, lemah lembut─bahkan jika dikhianati suaminya, dan semacamnya.

Di tengah deras dan bebasnya arus  informasi yang dibuka media sosial, kampanye Feminisme yang benar-benar berkonsentrasi pada pemahaman gender dan pewujudan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan selalu terbentur musuh dalam selimut yakni mereka yang mengatasnamakan feminisme untuk melakukan tindakan reverse role dalam naungan feminazi: sebuah bentuk kebalikan dari misoginis (membenci perempuan).

Sebelum lebih jauh, pemahaman mengenai Feminisme lekat dengan pembedaan mengenai apa itu seks dan gender. Dewasa ini, gender yang mana merupakan pembagian kerja yang dapat dikonstruksi dan disosialisasi diilhami sebagai kodrat. Karena kaum laki-laki kebanyakan secara fisik lebih kuat dan besar maka diwajarkan apabila mereka lebih agresif, sebaliknya pada perempuan.

Kesalahpahaman ini juga mencaplok definisi pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang mana apabila kita mencari pengertian kata gender maka yang keluar adalah jenis kelamin yang mana merupakan pengertian dari seks. Peyorasi ini semakin diperparah dengan mesin propaganda lain yakni aksi turun ke jalan.

Perlu kita akui, aksi turun ke jalan merupakan langkah yang sangat efektif untuk mengkampanyekan dan membumikan segala isu sosial. Namun dalam kasus ini, hal tersebut bisa menjadi pisau bermata dua yang mana bisa menusuk juru kampanye serta isu yang dibawanya.

Sebelum mencapai pemahaman “my body is my authority” seperti yang ada di poster kampanye. Seseorang harus menguasai pemahaman teoritis seperti pembedaan dan ketidakadilan gender supaya benar-benar bisa membumikan isu ke segala golongan dan juga supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Awam tentunya bila melihat poster tersebut akan sinis dan menganggap Feminisme adalah penyimpangan norma.

Hal yang sama juga terjadi pada kasus bekal makan kali ini. Tindakan cyberfeminism dewasa ini seringkali dilakukan oleh oknum-oknum perempuan yang sakit hati terhadap laki-laki─apapun penyebabnya. Sebab itu segala gerakan yang dilakukannya didasari kebencian saja pada laki-laki─apa bedanya dengan misoginis?

Banyak pengguna internet yang datang dari kalangan muda yang pada akhirnya terjerumus ke dalam lingkaran setan tersebut. Saya merasa sedih karena usaha-usaha yang dilakukan oleh Lingkar Studi Feminis dengan membuka diskusi interaktif dan proses pembumian isu Feminisme yang lebih halus, harus kalah dari barisan sakit hati seperti mereka.

Feminisme bukanlah ideologi yang bertujuan untuk membentuk dan menebar kebencian pada tiap-tiap hati perempuan kepada laki-laki. Feminis berjuang untuk membebaskan perempuan-perempuan yang terseret dan terbelenggu sistem patriarki, bukan berarti mereka membenci laki-laki.

Sesuatu yang membuat hal ini menjadi ironi adalah akun-akun sosial media yang mengujar kebencian atas nama feminisme menghasilkan kaum baru: misoginis ekstrim. Akibatnya adalah gerakan feminsime─khususnya di Indonesia─semakin sempit lingkupnya menjadi sekadar kesetaraan dari segi pekerjaan/luar saja. Kalau membalas api dengan api, maka adakah yang tersisa selain abu dan asap?

Studi Feminisme yang masuk ke dalam analisis gender dianggap sebagai analisis baru, dan seperti yang kita ketahui mendapat sambutan baik akhir-akhir ini. Dengan pesatnya perkembangan ideologi ini, semakin banyak aliran Feminisme yang muncul dan menjadi pisau bedah yang tajam─yang bisa berfungsi multidimensional. Misalnya analisis kelas yang dikembangkan oleh Karl Marx ketika melakukan kritik terhadap sistem Kapitalisme, akan lebih tajam jika pertanyaan tentang gender─yang kait dengan Feminisme─juga ikut dikemukakan.

Mitos-mitos yang bertebaran seperti kabar burung yang berucap bahwasanya Feminisme menuntut derajat yang lebih tinggi dari laki-laki, melewati kodrat yang diberikan Tuhan, benci lawan jenis, dan bahkan tidak ingin mempunyai anak agaknya bisa kita sudahi dengan diskusi tenang tanpa adu otot seperti yang terjadi di Twitter akhir bulan lalu.

Cobalah untuk menjadi pribadi yang lebih tenang dan dewasa, kita adalah representasi dari apa yang kita kampanyekan dan dilabeli ke kita─oleh sebab itu agaknya kita perlu membangun diri yang tidak antikritik.

Miskonsepsi yang berujung pada Feminazi sudah jelas sangat berbahaya. Tindakan cyberfeminism yang dilakukan oleh oknum sakit hati tidak mustahil untuk dikalahkan dan diluruskan apabila kita yang memiliki pengetahuan berlebih tidak enggan untuk turun ke awam dan membumikan apa yang kita miliki, baik dengan kampanye udara maupun darat.

Feminisme sebagai paham juga tentunya pasti memiliki kekurangan, namun bukan berarti bahwa kita tidak boleh mengambil pelajaran dari ideologi tersebut. Banyak buku-buku dan jurnal-jurnal Feminisme yang bisa kita jadikan rujukan untuk mengkaji Feminis lebih dalam dan lebih kritis lagi.

Muhammad Husni
Mahasiswa yang sedang mempelajari Ilmu Sejarah di Universitas Indonesia ini memiliki hobi membaca dan menonton. Anggota Kolektif Literasi Makara Universitas Indonesia (Kolim UI). Sedang Magang di Geotimes
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Religion in Academic Study; An Introduction

"Religion" in relation to ritual practice became an item in an inventory of cultural topics that could be presented either ethnographically in terms of...

Optimisme di Tengah Ketidakbersatuan ASEAN

Optimisme ASEAN yang memasuki usia 53 tahun pada 8 Agustus lalu harus dihadapkan pada kenyataan pahit dan diliputi keprihatinan. Negara-negara anggota ASEAN dipaksa atau...

Investasi dalam Bidang SDA dan Agenda Neoliberal

Hari telah menuju sore, dengan wajah yang elok Presiden Joko Widodo membacakan naskah pidatonya saat dilantik untuk kedua kalinya pada tahun 2019 lalu. Sepenggal...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Konflik Yaman dan Kesepakatan Damai Israel-UEA

Kesepakatan damai Israel-UEA (Uni Emirat Arab), disusul Bahrain dan kemungkinan negara Arab lainnya, menandai babak baru geopolitik Timur Tengah. Sejauh ini, pihak yang paling...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.