Rabu, Maret 3, 2021

Bahaya Beragama Secara Fatalistik di Era Pagebluk

“Dian” yang Harus Dipadamkan

Akhir pekan lalu antara lain ditandai berita-berita besar terkait terorisme. Di berbagai belahan dunia, aksi-aksi teroris memakan banyak korban. Di negeri kita, Polri dan...

Investasi Generasi di Desa Cidahu Sukabumi

Rahma Aliya Rizki adalah anak yang hidup dalam nestapa di masa silam. Lahir dengan kaki dan tangan tidak sempurna di Desa Cikadu, Bandung Barat....

Orang-Orang (Luar) Biasa, Orang-Orang Baik

Andrea Hirata kembali mengeluarkan novel terbarunya awal tahun ini: Orang-orang Biasa (OOB). Seperti sebelumnya, Andrea berhasil menyihir saya untuk tidak beranjak membaca novelnya. Sekali baca harus...

Obat Mahal dan Keragaman Hayati Indonesia

Sebagian besar obat yang beredar di Indonesia masih harus diimpor. Itu salah satu yang membuat biaya layanan kesehatan menjadi mahal, dan sering tak terjangkau...
Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Hari-hari ini, bangsa kita dan bangsa sedunia sedang mengalami pandemi global yang disebabkan oleh Covid19. Semoga kita bisa melampaui ini semuanya.

Secara historis, dunia ini sudah mengalami beberapa kali pandemi, namun pandemi kali ini, menurut catatan para ahlinya, dianggap sebagai pandemi yang terbesar dalam sejarah kehidupan manusia, terutama dalam kecepatan ketersebaran dan jangkauan wilayahnya.

Sudah barang tentu dalam kesedihan yang sangat mendalam ini kita tidak bisa berdiam diri. Sikap yang paling bijak dalam situasi yang sulit ini adalah tetap berusaha (ikhtiar) secara pribadi, mendukung kelompok sosial dan terakhir mendukung ulil amri yang berusaha mengatasi masalah ini. Presiden Indonesia, Jokowi dan beberapa pemimpin daerah sebagai ulil amri kita telah mengambil keputusan sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan mereka.

Kepatuhan pada ulil al-amri apalagi untuk urusan yang maha penting ini adalah hal yang utama. Namun, kepatuhan ini harus diimbangi dengan kerja yang baik dari ulil-amri untuk masyarakatnya.

Sebagaimana manusia beragama, adanya pandemi ini berdampak pada kehiduoan keagamaan kita. Memang, pandemi tidak bisa menghilangkan kewajiban-kewajiban agama, namun prinsip agama juga tidak menyusahkan. Misalnya, dalam keadaan dimana kita harus menjaga jarak sosial satu sama lain (social distancing) dan atau isolasi mandiri (self-isolation) pada satu sisi, namun kita juga disunnahkan dan diwajibkan ibadah yang melibatkan banyak seperti shalat berjamaah dan Jum’at di masjid dan musolla pada sisi yang lain.

Pandemi yang kita hadapi menyebabkan kita harus rela shalat di rumah kita masing-masing dan menggantikan shalat Jumat di rumah. Dalam situasi normal, kita pergi ke majlis-majlis pengajian, maka kini kegiatan seperti itu untuk sementara harus kita dihentikan.

Meskipun virus ini berbahaya, namun masih banyak sebagian masyarakat kita yang masih meremehkannya. Anjuran pemerintah untuk menjaga jarak sosial dijawab dengan kepergian berbondong-bondong ke tempat wisata seolah liburan biasa.

Bahkan, sikap denial (menolak) atas bahasanya virus ini juga masih banyak. Ironinya ada yang menggunakan dalih agama. Mereka menganggap bahwa beribadah ke masjid, gereja, biara dlsb, itu harus tetap dilakukan karena panggilan Tuhan itu harus lebih diutamakan. Mereka berargumen, bukankah Tuhan yang menentukan hidup dan mati seseorang. Argumen demikian adalah argumen kaum fatalistik. Dalam literatur keislaman hal ini disebut sebagai teologi jabbariyyah.

Di dalam sejarah kita, termasuk sejarah dunia Islam, pandemi atau pagebluk sudah pernah terjadi berkali-kali dan cara menghadapinya adalah cara kemanusiaan. Pada masa Rasululullah dan para sahabatnya hidup, pandemi atau endemi juga terjadi dan banyak cara Rasulullah contohkan untuk menghadapinya. Salah satunya adalah menghindar masuk ke daerah pandemi. Rasulullah mengatakan “ketika kalian telah mendengar penyakit tha’un (pandemik) di sebuah tempat, maka janganlah kalian semua datangi tempat itu dan jika pandemik itu terjadi dan sementara kamu berada di wilayah tersebut maka jangan kalian semua berlari keluar dari tempat itu.” (Hadis Riwayat Bukhari).

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah di atas merupakan upaya untuk menghindar dari bahaya pandemi. Orang tidak boleh masuk karena dikuatirkan tertular dan orang dilarang keluar dikuatirkan takut menulari orang lain.

Sahabat Amr bin Ash (w.43 H), pada masanya, juga pernah melakukan pengisolasian kaum Muslimin yang dipimpinnya ke gunung-gunung untuk menghindarkan terjadinya infeksi penyakit pandemi (al-tha’un). Tindakan ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh cuek dan gegabah dan menantang kematian.

Di dalam prinsip teori hukum Islam, jika kita menghadapi dua perkara yang keduanya adalah keburukan maka ambil keburukan yang dampaknya lebih ringan. Seperti, jika kita tetap keluar rumah dan berkerumun namun kemungkinan penularan penyakit pandemik lebih gampang dan kita diam di rumah dan kecil kemungkinan tertular namun tidak bisa kerja di kantor. Kaidah lain yang bisa gunakan adalah “menolak keburukan didahulukan daripada menarik kebajikan.”

Kini di beberapa negara Islam seperti Mesir, Saudi Arabia, Iran, dan lain-lain, mereka sudah mulai menganjurkan kepada masyarakat untuk menghindari peristiwa-peristiwa agama yang melibatkan banyak orang. Shalat Jama’ah dan shalat Jum’at mulai dialihkan untuk dilaksanakan di rumah. Majelis Ulama Indonesia beberapa hari lalu juga mengeluarkan fatwa bahwa shalat Jum’at boleh digantikan dengan shalat dzuhur karena pandemik ini.

Mengapa pemerintah-pemerintah di atas sampai berani mengeluarkan fatwa untuk personalisasi dan domestifikasi ibadah shalat jama’ah dan shalat Jum’at? Selain praktik-praktik ini memiliki pijakan dalil yang kuat, hal penting lain adalah karena apa yang kita sedang hadapi saat ini adalah hal yang berkaitan dengan mempertahakankan kehidupan.

Di dalam Islam, ada lima dasar yang asasi sebagai tujuan syariah (maqasid al-shariah) dalam kehidupan manusia yang harus dipenuhi. Lima dasar dasar itu diberi nama al-daruriyat al-khamsah, artinya, keharusan yang lima. Hal ini terdiri dari hifdz al-din (menjaga agama), hifdz al-hayat (menjaga kehidupan), hifdz al-aql (menjaga akal), hifdz al-mal (menjaga harta) dan hifdz al-nasl (menjaga keturunan).

Bahkan menurut sebagian ulama diletakkan di atas menjaga agama karena baik agama, akal, harta dan keturunan semua berpangkal pada adanya kehidupan. Agama, akal, harta dan keturunan itu untuk orang yang hidup.

Sebagai catatan, upaya-upaya social distancing dan self-isolation untuk menjaga diri kita terinfeksi virus berbahaya sama sekali tidak mengurangi mutu keberagamaan kita. Bahkan agama memberikan ajaran dan juga praktik baik pada masa lalu yang bisa kita tiru dalam situasi pandemi ini.

Terkait:

Catatan Syafiq Hasyim

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Visiting Fellow pada Indonesia Programs ISEAS Singapore. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.