OUR NETWORK

Bagaimana Rentetan Penelitian Menggoyang Bangunan Sosial Mapan

Lewat penelitian demi penelitian mereka pernah mengalami demokrasi dan kedaulatan.

Siang itu terjadi ketegangan menjelang peresmian saluran air di sebuah desa. Acara akan digelar malam hari, sebagian penganan sudah siap, tamu undangan dari luar telah tiba, dan kepala desa belum kunjung memberi izin pemakaian halaman masjid desa.

Dipimpin seorang perempuan tua yang disegani, warga beramai-ramai mendatangi rumah kepala desa. Melihat rombongan warga dengan berani melempar protes terbuka kepadanya, lewat sebuah negosiasi alot, akhirnya kepala desa melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan, ia menyerah di hadapan publik, mengizinkan halaman masjid dipakai untuk acara peresmian.

Malamnya, acara peresmian berlangsung meriah, di sana saya melihat sang kepala desa datang membuka acara setelah melempar deretan pujian kepada para penyelenggara.
Hari itu, timbangan kekuasaan di desa itu mencapai satu titik balik.

Sejak itu kelompok petani yang mewakili keramaian itu berubah menjadi kelompok penekan yang efektif. Pemerintah desa senantiasa mengundang mereka dan meminta pendapat dalam banyak pengambilan keputusan publik, para anggotanya pun menjadi rujukan dan bahkan pelaksana dalam pelbagai urusan publik di desa.

Apa yang memungkinkan perubahan itu terjadi?

Di desa itu telah berlangsung pengorganisasian rakyat yang memanfaatkan metode Participatory Action Research (PAR). Sebuah metode penelitian yang meminta keterlibatan penuh warga, kadang atas bantuan pihak luar, dengan satu cita-cita: mewujudkan transformasi sosial.

Proses PAR berlangsung antara 2008 dan 2009, ketika desa itu didatangi dua program secara beruntun untuk mengusahakan kedaulatan pangan. Dari catatan lapangan dan cerita kawan-kawan saya yang bekerja di sana, dipadu dengan kesaksian sendiri, saya dapat melihat bagaimana di desa itu—satu desa di Sulawesi Selatan—PAR berhasil mengerjakan tiga hal sekaligus: memperkenalkan operasi berpikir dan proses penelitian ilmiah, menciptakan hasil nyata yang dibutuhkan warga, dan akhirnya mewujudkan perubahan sosial.

Program itu dimulai dengan serangkaian kajian dan diskusi bersama warga untuk menemukan isu yang dirasakan banyak warga. Setelah tinggal beberapa bulan di desa itu seorang pengorganisir bersama dua petani mulai mengajak sekelompok kecil warga membicarakan soal krisis air yang banyak dikeluhkan: dua hamparan sawah semakin sulit ditanami kacang pada masa sela yang jatuh pada musim kemarau.

Mereka sepakat memulai dengan mempelajari luasan lahan sawah dan petani terdampak di dua hamparan—mereka menemukan luasannya 15 hektare dan digarap 43 keluarga. Mereka kemudian mencari mata air yang paling cocok untuk mengairi hamparan tersebut, mempertimbangkan antara lain jarak, kecukupan debit air, dan medan yang harus dilewati air menuju hamparan. Mereka pun mencari tahu cara terbaik membangun saluran, berikut perkiraan ongkos pembangunannya.

Hasil kajian awal itu kemudian mereka sajikan secara informal kepada lebih banyak petani untuk mendapat dukungan. Gayung bersambut, ketika mereka menyelenggarakan rapat untuk menyusun agenda kerja pembangunan irigasi, 29 orang petani bersedia terlibat.

Mereka membangun penampung air (embung) di mata air di dalam hutan dan memasang pipa sepanjang tiga kilometer lebih untuk mencapai hamparan, di mana akan dibangun bak penampung air yang menjadi terminal terakhir sebelum air disalurkan ke lahan masing-masing petani. Mereka sepakat untuk bekerja setiap hari Kamis.
Mereka bekerja selama empat puluh Kamis, sejak Maret sampai November 2009.

Selama pekerjaan berlangsung, penampakan fisik kerja kolektif dan upaya sekelompok kecil petani menegosiasi petani terdampak lainnya, berhasil menambah jumlah warga yang terlibat dalam pembangunan irigasi. Mereka memanfaatkan pengetahuan sendiri mengenai jejaring dan momen sosial yang dapat menjadi wadah mengajak warga lain melibatkan diri.

Kerja awal ini membuktikan kemanjuran metode PAR dalam kerja pengorganisasian di desa, tetapi juga menunjukkan bagaimana dalam setiap tahapan riset pengetahuan warga setempat sangat menentukan. Penentuan letak penampungan air dan bahan konstruksi, misalnya, memanfaatkan pengalaman petani yang sebelumnya gagal ketika membuat saluran air di sekitar tempat tersebut.

Gagasan tentang potensi keuntungan mengairi dua hamparan itu pun datang dari pengalaman petani. Setiap musim kemarau mereka menanam kacang tanah di dua hamparan tersebut, namun pada tahun 1997 musim hujan yang datang terlambat berefek pada kenaikan produksi. Hujan tiba tepat ketika petani mulai menanam kacang. Menerima asupan air lebih banyak, produksi kacang menanjak antara tiga puluh sampai lima puluh persen.

Dengan demikian, selain mengenalkan pengetahuan dan metode ilmiah dari luar, PAR juga memungkinkan pembauran beraneka jenis pengetahuan, semisal perpaduan antara pengetahuan tentang teknik membangun saluran air dengan pengetahuan tentang ekosistem lokal. Dengan menautkan metode ilmiah dan pengetahuan lokal, warga desa bisa memproduksi pengetahuan baru.

Pengetahuan baru itu pun bisa langsung mereka pakai untuk mewujudkan hasil nyata dan memang diperlukan oleh warga yang selama ini terpinggirkan.

Sementara pembangunan saluran air berlangsung, di satu titik para petani menggelar rapat yang menetapkan aturan pengelolaan air dan pungutan untuk mencicil pembayaran pinjaman—untuk pembelian bahan bangunan. Dengan begitu, selain menetapkan aturan dan pungutan, mereka juga membentuk kelompok pengguna air, sebuah pranata yang kelak berkembang menjadi wadah bagi para petani membicarakan dan mengahadapi isu-isu mereka.

Salah satu rangkaian kerja kolektif penting yang memanfaatkan pranata baru itu ialah Sekolah Lapang yang melakukan ujicoba System of Rice Intensification (SRI). SRI adalah sebuah sistem budidaya padi organik.

Eksperimen ini muncul dari hasil diskusi setelah sekelompok kecil petani menyajikan hasil kaji cepat (assessment) mereka mengenai elemen-elemen belanja warga di desa itu.

Mengikuti skenario klasik revolusi hijau, sejak dasawarsa 1980-an desa itu mulai menanam benih ‘varietas unggul’ yang diperkenalkan pemerintah (semisal IR64), serta memakai pupuk dan pestisida kimia. Teknik budidaya ini sudah menjadi dominan sejak dasawarsa 1990-an, dan ongkos menanam padi terus meroket mengikuti harga input-input baru tersebut. Ujungnya, setiap tahun mereka harus berutang agar bisa menanam.
Karena itulah mereka mengerjakan uji coba SRI sebagai alternatif yang lebih menguntungkan, tidak membuat tergantung, dan ramah lingkungan.

Selama menguji coba mereka menanam sembari mengamati dan mencatat perlakuan yang mereka terapkan terhadap lahan percobaan (demplot). Mereka melakukannya selama dua musim sampai tiba pada volume produksi yang sedikit lebih besar daripada padi dengan perlakuan yang memakan jauh lebih banyak input kimia, bibit, dan air.

Akhirnya mereka punya produksi lebih besar dan tak lagi perlu meminjam uang sebelum menanam. Pada musim ke empat lebih dari setengah petani padi di desa itu sudah menerapkan SRI di lahan masing-masing.

Cerita tentang keberhasilan itu, berikut teknik penerapannya, tersebar cepat mengikuti cara warga setempat membagi informasi: lewat pesan berantai dari mulut ke mulut, melihat langsung di lahan yang berhasil, dan obrolan-obrolan santai sambil menikmati kopi di beranda. Diseminasi tak butuh satu proyek lagi.

Dengan cara itulah PAR mewujudkan sejumlah hasil nyata: peningkatan produktifitas lahan, penurunan ongkos produksi, dan memproduksi pengetahuan baru.

Bila kita mundur ke belakang, sejak masa-masa awal penerapannya, PAR memang dirancang untuk mengatasi isu atau situasi problematis yang dihadapi warga, dalam kasus ini soal kekurangan air dan ketergantungan yang diciptakan modernisasi sistem budidaya padi. Penelitian dalam langgam PAR bukan dipicu oleh tujuan akademik semisal menelusuri pertanyaan teoretik tertentu atau mengejar ‘keketatan’ praktik penelitian.

Penelitian model ini juga diadakan bukan untuk memenuhi pesanan pihak dari luar desa yang membutuhkan data tertentu bagi kepentingan mereka.

Sebaliknya, rentetan penelitian warga ini memang dirancang dengan berangkat dari persoalan spesifik yang tengah mereka hadapi, menggunakan metode-metode yang cocok untuk keperluan tersebut, dan hasilnya langsung dimanfaatkan oleh warga sendiri. Seluruh rangkaian penelitian dan praktik yang disarankanya, siklus aksi-rekfleksi (praxis), terus berlangsung di lokasi penelitian.

Para peneliti dari luar lebih banyak memfasilitasi rangkaian proses tersebut, dalam kasus ini termasuk menyediakan tenaga-tenaga teknis yang relevan untuk melatih warga menjalankan eksperimen SRI dan pembuatan pupuk organik.

Deretan kerja PAR juga mendatangkan perubahan sosial, lebih tepatnya perubahan struktur sosial: perubahan pola relasi dan sistem pemaknaan (system of meaning) sebuah kelompok masyarakat yang sudah bertahan lama sehingga dianggap wajar. PAR, dengan kata lain, bekerja untuk meruntuhkan status quo.

Kerja bersama membangun irigasi bukan hanya membentangkan saluran air dan mendongkrak produktifitas lahan, tetapi juga membentuk pranata baru tempat petani bisa secara teratur membicarakan persoalan bersama, menyusun rentetan agenda demi menghadapinya, serta mengatur kerja-kerja kolektif yang sedang dan akan berlangsung. Dari sanalah PAR berlanjut dan berkecambah.

Keberhasilan membangun irigasi membuat para petani semakin percaya pada kemanjuran kerja bersama, mereka pun semakin yakin para organisasi buatan sendiri yang menjadi basis penyelenggaraan kerja-kerja kolektif tersebut. (Kerja kolektif atau collective action di sini dipahami sebagai kerja bersama sejumlah orang yang dilakukan secara terorganisir dan sukarela).

Dalam kurun eksperimen SRI, misalnya, mereka menjalankan setiap bagiannya secara kolektif: menyiapkan lahan secara berkelompok dengan bergiliran mengerjakan lahan setiap anggota kerja kelompok, sembari bersama-sama membuat pupuk organik padat dan cair.

Ini membalik kecenderungan kerja kolektif di desa itu sebelumnya, yang biasanya terbatas pada kerja-kerja berjangka pendek semisal kerja bakti, kerja insidentil seperti perbaikan jembatan desa—yang kadang diikuti sebagian warga secara malas-malasan, dan penyelenggaraan ritual-ritual siklus hidup semisal kelahiran, perkawinan, syukuran rumah baru, atau tahlilan. Sangat sulit menemukan kerja kolektif yang bisa berlangsung dalam jangka panjang terutama untuk urusan ekonomi dan politik.

Dengan demikian, pranata itu membentuk sebuah bangunan relasi sosial baru: hubungan yang lebih setara, dengan pengambilan keputusan terbuka dan kolektif, dan bekerja bagi kepentingan yang lebih luas.

Sembari terus bekerja, pelan-pelan kelompok petani itu menjadi kekuatan tandingan dalam kerangka relasi kuasa di desa yang ketika itu berlangsung cukup timpang. Tanpa terhindarkan, mereka harus melewati konflik ketika menghadapi struktur sosial lama yang dominan. Orang-orang yang terlanjur nyaman atau diuntungkan oleh pranata lama lazimnya tak rela melepas kuasa mereka dengan gampang. Ketika ruang kuasa tampak menyempit bagi mereka, konflik menjadi keniscayaan.

Di titik itu, yang dibutuhkan ialah pengetahuan mendalam mengenai kultur masyarakat setempat agar dapat mengelola konflik dengan baik, demi menekan ongkos sosial yang ditimbulkannya.

Di desa itu, relasi sosial yang timpang terekspresikan lewat kekuasaan kepala desa yang, mengikuti kebiasaan lama, menghadirkan diri sebagai patron bagi warganya. Peristiwa menjelang peresmian saluran air menunjukkan salah satu momen titik balik berubahnya perimbangan kekuasaan, yang berarti bentuk hubungan patron-klien telah diguncang dari dalam oleh relasi yang lebih egaliter.

Dengan berhimpun, memakai metode PAR, para petani dapat mewujudkan perubahan-perubahan yang lebih mendasar—transformasi sosial. Mereka berhasil menggoyang dua struktur sosial dominan yang sudah mapan, dua struktur yang saling menguatkan.

Pertama, struktur sosial yang mewujud sebagai hubungan patron-klien. Dalam bentuk relasi lama itu pengambilan keputusan publik, termasuk penyelenggaraan kerja-kerja kolektif, dikuasai sang patron. Dalam hubungan semacam itu, rakyat adalah klien yang menggantungkan nasib pada kebaikan sang patron. Kritik, apalagi protes terbuka, kepada sang patron akan dilihat sebagai kelancangan, keluhan-keluhan publik biasanya berakhir sebagai rahasia umum.

Sementara dalam relasi sosial baru bentukan rakyat petani, keputusan-keputusan penting mengandalkan hasil diskusi bersama. Dan sejak menjadi kekuatan penekan baru, mereka bisa membawa urusan-urusan publik ke ruang yang lebih luas dan terbuka. Dengan kata lain, mereka menempa bentuk hubungan sosial yang lebih demokratis. Dari luar jalur resmi, mereka menjalankan demokrasi dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, struktur lain yang terganggu ialah jenis relasi yang menciptakan ketergantungan petani terhadap sistem budidaya padat modal, sistem yang terus berusaha menerungku mereka dalam mekanisme pasar. Lewat PAR, para petani berhasil lepas dari jerat modernisasi pertanian ala Revolusi Hijau yang dipaksakan oleh pemerintah sejak masa Orde Baru. Sehingga, sadar atau tidak, mereka telah melawan kapitalisme pertanian, setidaknya sampai taraf yang dapat mereka jangkau.

Apa yang dilakukan para petani di desa itu mungkin berlangsung dalam lingkup kecil, tapi mereka bisa menunjukkan kepada kita bagaimana dengan PAR para petani bisa mewujudkan transformasi sosial sembari menyelesaikan beraneka persoalan keseharian mereka. Lewat penelitian demi penelitian mereka pernah menjalankan demokrasi.

Serentang masa sudah berlalu sejak mereka beramai-ramai mendatangi rumah kepala desa, boleh jadi sebagian kerja kolektif mereka telah susut oleh beraneka tekanan baru. Tapi, walaupun itu benar terjadi, ingatan kolektif dan pranata yang mereka bangun akan hidup lebih lama. Mereka, dan mungkin kita, selalu bisa mulai dari sana.

Peneliti isu-isu perdesaan; Pegiat di komunitas Ininnawa, Makassar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…