Senin, Oktober 26, 2020

Bagaimana Rentetan Penelitian Menggoyang Bangunan Sosial Mapan

Jurnalisme Ala Bangku Kosong

“Raibnya” Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto di panggung publik akhir-akhir ini langsung direspon cepat oleh tayangan talk show Mata Najwa. Tim Mata Najwa seperti...

Menakar Kompleksitas Pemerintahan Baru Israel

Politik domestik Israel mengalami komplikasi hebat pasca pemilu dipercepat beberapa hari lalu. Hasil pemilu menunjukkan tak ada blok yang bisa membentuk pemerintahan sendiri. Pemerintahan...

Adakah yang Salah dengan Penggemar Tik Tok dan Bowo Alpenliebe?

Tik Tok sempat diblokir Kominfo pada awal Juli silam. Alih-alih tertarik pada isu pembatasan berekspresi dan berkreasi dengan senjata narasi moralitas ala pemerintah, saya...

Misteri BLBI dan Jeruk di Gedung Kejagung yang Terbakar

Mengejutkan! Tetiba gedung Kejaksaan Agung (Jagung) di Jakarta Selatan, Sabtu (23/8/020), terbakar nyaris ludes. Anehnya, respon publik terhadap peristiwa itu, macam-macam tapi nyinyir. Umumnya,...
Nurhady Sirimorok
Peneliti isu-isu perdesaan; Pegiat di komunitas Ininnawa, Makassar.

Siang itu terjadi ketegangan menjelang peresmian saluran air di sebuah desa. Acara akan digelar malam hari, sebagian penganan sudah siap, tamu undangan dari luar telah tiba, dan kepala desa belum kunjung memberi izin pemakaian halaman masjid desa.

Dipimpin seorang perempuan tua yang disegani, warga beramai-ramai mendatangi rumah kepala desa. Melihat rombongan warga dengan berani melempar protes terbuka kepadanya, lewat sebuah negosiasi alot, akhirnya kepala desa melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan, ia menyerah di hadapan publik, mengizinkan halaman masjid dipakai untuk acara peresmian.

Malamnya, acara peresmian berlangsung meriah, di sana saya melihat sang kepala desa datang membuka acara setelah melempar deretan pujian kepada para penyelenggara.
Hari itu, timbangan kekuasaan di desa itu mencapai satu titik balik.

Sejak itu kelompok petani yang mewakili keramaian itu berubah menjadi kelompok penekan yang efektif. Pemerintah desa senantiasa mengundang mereka dan meminta pendapat dalam banyak pengambilan keputusan publik, para anggotanya pun menjadi rujukan dan bahkan pelaksana dalam pelbagai urusan publik di desa.

Apa yang memungkinkan perubahan itu terjadi?

Di desa itu telah berlangsung pengorganisasian rakyat yang memanfaatkan metode Participatory Action Research (PAR). Sebuah metode penelitian yang meminta keterlibatan penuh warga, kadang atas bantuan pihak luar, dengan satu cita-cita: mewujudkan transformasi sosial.

Proses PAR berlangsung antara 2008 dan 2009, ketika desa itu didatangi dua program secara beruntun untuk mengusahakan kedaulatan pangan. Dari catatan lapangan dan cerita kawan-kawan saya yang bekerja di sana, dipadu dengan kesaksian sendiri, saya dapat melihat bagaimana di desa itu—satu desa di Sulawesi Selatan—PAR berhasil mengerjakan tiga hal sekaligus: memperkenalkan operasi berpikir dan proses penelitian ilmiah, menciptakan hasil nyata yang dibutuhkan warga, dan akhirnya mewujudkan perubahan sosial.

Program itu dimulai dengan serangkaian kajian dan diskusi bersama warga untuk menemukan isu yang dirasakan banyak warga. Setelah tinggal beberapa bulan di desa itu seorang pengorganisir bersama dua petani mulai mengajak sekelompok kecil warga membicarakan soal krisis air yang banyak dikeluhkan: dua hamparan sawah semakin sulit ditanami kacang pada masa sela yang jatuh pada musim kemarau.

Mereka sepakat memulai dengan mempelajari luasan lahan sawah dan petani terdampak di dua hamparan—mereka menemukan luasannya 15 hektare dan digarap 43 keluarga. Mereka kemudian mencari mata air yang paling cocok untuk mengairi hamparan tersebut, mempertimbangkan antara lain jarak, kecukupan debit air, dan medan yang harus dilewati air menuju hamparan. Mereka pun mencari tahu cara terbaik membangun saluran, berikut perkiraan ongkos pembangunannya.

Hasil kajian awal itu kemudian mereka sajikan secara informal kepada lebih banyak petani untuk mendapat dukungan. Gayung bersambut, ketika mereka menyelenggarakan rapat untuk menyusun agenda kerja pembangunan irigasi, 29 orang petani bersedia terlibat.

Mereka membangun penampung air (embung) di mata air di dalam hutan dan memasang pipa sepanjang tiga kilometer lebih untuk mencapai hamparan, di mana akan dibangun bak penampung air yang menjadi terminal terakhir sebelum air disalurkan ke lahan masing-masing petani. Mereka sepakat untuk bekerja setiap hari Kamis.
Mereka bekerja selama empat puluh Kamis, sejak Maret sampai November 2009.

Selama pekerjaan berlangsung, penampakan fisik kerja kolektif dan upaya sekelompok kecil petani menegosiasi petani terdampak lainnya, berhasil menambah jumlah warga yang terlibat dalam pembangunan irigasi. Mereka memanfaatkan pengetahuan sendiri mengenai jejaring dan momen sosial yang dapat menjadi wadah mengajak warga lain melibatkan diri.

Kerja awal ini membuktikan kemanjuran metode PAR dalam kerja pengorganisasian di desa, tetapi juga menunjukkan bagaimana dalam setiap tahapan riset pengetahuan warga setempat sangat menentukan. Penentuan letak penampungan air dan bahan konstruksi, misalnya, memanfaatkan pengalaman petani yang sebelumnya gagal ketika membuat saluran air di sekitar tempat tersebut.

Gagasan tentang potensi keuntungan mengairi dua hamparan itu pun datang dari pengalaman petani. Setiap musim kemarau mereka menanam kacang tanah di dua hamparan tersebut, namun pada tahun 1997 musim hujan yang datang terlambat berefek pada kenaikan produksi. Hujan tiba tepat ketika petani mulai menanam kacang. Menerima asupan air lebih banyak, produksi kacang menanjak antara tiga puluh sampai lima puluh persen.

Dengan demikian, selain mengenalkan pengetahuan dan metode ilmiah dari luar, PAR juga memungkinkan pembauran beraneka jenis pengetahuan, semisal perpaduan antara pengetahuan tentang teknik membangun saluran air dengan pengetahuan tentang ekosistem lokal. Dengan menautkan metode ilmiah dan pengetahuan lokal, warga desa bisa memproduksi pengetahuan baru.

Pengetahuan baru itu pun bisa langsung mereka pakai untuk mewujudkan hasil nyata dan memang diperlukan oleh warga yang selama ini terpinggirkan.

Sementara pembangunan saluran air berlangsung, di satu titik para petani menggelar rapat yang menetapkan aturan pengelolaan air dan pungutan untuk mencicil pembayaran pinjaman—untuk pembelian bahan bangunan. Dengan begitu, selain menetapkan aturan dan pungutan, mereka juga membentuk kelompok pengguna air, sebuah pranata yang kelak berkembang menjadi wadah bagi para petani membicarakan dan mengahadapi isu-isu mereka.

Salah satu rangkaian kerja kolektif penting yang memanfaatkan pranata baru itu ialah Sekolah Lapang yang melakukan ujicoba System of Rice Intensification (SRI). SRI adalah sebuah sistem budidaya padi organik.

Eksperimen ini muncul dari hasil diskusi setelah sekelompok kecil petani menyajikan hasil kaji cepat (assessment) mereka mengenai elemen-elemen belanja warga di desa itu.

Mengikuti skenario klasik revolusi hijau, sejak dasawarsa 1980-an desa itu mulai menanam benih ‘varietas unggul’ yang diperkenalkan pemerintah (semisal IR64), serta memakai pupuk dan pestisida kimia. Teknik budidaya ini sudah menjadi dominan sejak dasawarsa 1990-an, dan ongkos menanam padi terus meroket mengikuti harga input-input baru tersebut. Ujungnya, setiap tahun mereka harus berutang agar bisa menanam.
Karena itulah mereka mengerjakan uji coba SRI sebagai alternatif yang lebih menguntungkan, tidak membuat tergantung, dan ramah lingkungan.

Selama menguji coba mereka menanam sembari mengamati dan mencatat perlakuan yang mereka terapkan terhadap lahan percobaan (demplot). Mereka melakukannya selama dua musim sampai tiba pada volume produksi yang sedikit lebih besar daripada padi dengan perlakuan yang memakan jauh lebih banyak input kimia, bibit, dan air.

Akhirnya mereka punya produksi lebih besar dan tak lagi perlu meminjam uang sebelum menanam. Pada musim ke empat lebih dari setengah petani padi di desa itu sudah menerapkan SRI di lahan masing-masing.

Cerita tentang keberhasilan itu, berikut teknik penerapannya, tersebar cepat mengikuti cara warga setempat membagi informasi: lewat pesan berantai dari mulut ke mulut, melihat langsung di lahan yang berhasil, dan obrolan-obrolan santai sambil menikmati kopi di beranda. Diseminasi tak butuh satu proyek lagi.

Dengan cara itulah PAR mewujudkan sejumlah hasil nyata: peningkatan produktifitas lahan, penurunan ongkos produksi, dan memproduksi pengetahuan baru.

Bila kita mundur ke belakang, sejak masa-masa awal penerapannya, PAR memang dirancang untuk mengatasi isu atau situasi problematis yang dihadapi warga, dalam kasus ini soal kekurangan air dan ketergantungan yang diciptakan modernisasi sistem budidaya padi. Penelitian dalam langgam PAR bukan dipicu oleh tujuan akademik semisal menelusuri pertanyaan teoretik tertentu atau mengejar ‘keketatan’ praktik penelitian.

Penelitian model ini juga diadakan bukan untuk memenuhi pesanan pihak dari luar desa yang membutuhkan data tertentu bagi kepentingan mereka.

Sebaliknya, rentetan penelitian warga ini memang dirancang dengan berangkat dari persoalan spesifik yang tengah mereka hadapi, menggunakan metode-metode yang cocok untuk keperluan tersebut, dan hasilnya langsung dimanfaatkan oleh warga sendiri. Seluruh rangkaian penelitian dan praktik yang disarankanya, siklus aksi-rekfleksi (praxis), terus berlangsung di lokasi penelitian.

Para peneliti dari luar lebih banyak memfasilitasi rangkaian proses tersebut, dalam kasus ini termasuk menyediakan tenaga-tenaga teknis yang relevan untuk melatih warga menjalankan eksperimen SRI dan pembuatan pupuk organik.

Deretan kerja PAR juga mendatangkan perubahan sosial, lebih tepatnya perubahan struktur sosial: perubahan pola relasi dan sistem pemaknaan (system of meaning) sebuah kelompok masyarakat yang sudah bertahan lama sehingga dianggap wajar. PAR, dengan kata lain, bekerja untuk meruntuhkan status quo.

Kerja bersama membangun irigasi bukan hanya membentangkan saluran air dan mendongkrak produktifitas lahan, tetapi juga membentuk pranata baru tempat petani bisa secara teratur membicarakan persoalan bersama, menyusun rentetan agenda demi menghadapinya, serta mengatur kerja-kerja kolektif yang sedang dan akan berlangsung. Dari sanalah PAR berlanjut dan berkecambah.

Keberhasilan membangun irigasi membuat para petani semakin percaya pada kemanjuran kerja bersama, mereka pun semakin yakin para organisasi buatan sendiri yang menjadi basis penyelenggaraan kerja-kerja kolektif tersebut. (Kerja kolektif atau collective action di sini dipahami sebagai kerja bersama sejumlah orang yang dilakukan secara terorganisir dan sukarela).

Dalam kurun eksperimen SRI, misalnya, mereka menjalankan setiap bagiannya secara kolektif: menyiapkan lahan secara berkelompok dengan bergiliran mengerjakan lahan setiap anggota kerja kelompok, sembari bersama-sama membuat pupuk organik padat dan cair.

Ini membalik kecenderungan kerja kolektif di desa itu sebelumnya, yang biasanya terbatas pada kerja-kerja berjangka pendek semisal kerja bakti, kerja insidentil seperti perbaikan jembatan desa—yang kadang diikuti sebagian warga secara malas-malasan, dan penyelenggaraan ritual-ritual siklus hidup semisal kelahiran, perkawinan, syukuran rumah baru, atau tahlilan. Sangat sulit menemukan kerja kolektif yang bisa berlangsung dalam jangka panjang terutama untuk urusan ekonomi dan politik.

Dengan demikian, pranata itu membentuk sebuah bangunan relasi sosial baru: hubungan yang lebih setara, dengan pengambilan keputusan terbuka dan kolektif, dan bekerja bagi kepentingan yang lebih luas.

Sembari terus bekerja, pelan-pelan kelompok petani itu menjadi kekuatan tandingan dalam kerangka relasi kuasa di desa yang ketika itu berlangsung cukup timpang. Tanpa terhindarkan, mereka harus melewati konflik ketika menghadapi struktur sosial lama yang dominan. Orang-orang yang terlanjur nyaman atau diuntungkan oleh pranata lama lazimnya tak rela melepas kuasa mereka dengan gampang. Ketika ruang kuasa tampak menyempit bagi mereka, konflik menjadi keniscayaan.

Di titik itu, yang dibutuhkan ialah pengetahuan mendalam mengenai kultur masyarakat setempat agar dapat mengelola konflik dengan baik, demi menekan ongkos sosial yang ditimbulkannya.

Di desa itu, relasi sosial yang timpang terekspresikan lewat kekuasaan kepala desa yang, mengikuti kebiasaan lama, menghadirkan diri sebagai patron bagi warganya. Peristiwa menjelang peresmian saluran air menunjukkan salah satu momen titik balik berubahnya perimbangan kekuasaan, yang berarti bentuk hubungan patron-klien telah diguncang dari dalam oleh relasi yang lebih egaliter.

Dengan berhimpun, memakai metode PAR, para petani dapat mewujudkan perubahan-perubahan yang lebih mendasar—transformasi sosial. Mereka berhasil menggoyang dua struktur sosial dominan yang sudah mapan, dua struktur yang saling menguatkan.

Pertama, struktur sosial yang mewujud sebagai hubungan patron-klien. Dalam bentuk relasi lama itu pengambilan keputusan publik, termasuk penyelenggaraan kerja-kerja kolektif, dikuasai sang patron. Dalam hubungan semacam itu, rakyat adalah klien yang menggantungkan nasib pada kebaikan sang patron. Kritik, apalagi protes terbuka, kepada sang patron akan dilihat sebagai kelancangan, keluhan-keluhan publik biasanya berakhir sebagai rahasia umum.

Sementara dalam relasi sosial baru bentukan rakyat petani, keputusan-keputusan penting mengandalkan hasil diskusi bersama. Dan sejak menjadi kekuatan penekan baru, mereka bisa membawa urusan-urusan publik ke ruang yang lebih luas dan terbuka. Dengan kata lain, mereka menempa bentuk hubungan sosial yang lebih demokratis. Dari luar jalur resmi, mereka menjalankan demokrasi dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, struktur lain yang terganggu ialah jenis relasi yang menciptakan ketergantungan petani terhadap sistem budidaya padat modal, sistem yang terus berusaha menerungku mereka dalam mekanisme pasar. Lewat PAR, para petani berhasil lepas dari jerat modernisasi pertanian ala Revolusi Hijau yang dipaksakan oleh pemerintah sejak masa Orde Baru. Sehingga, sadar atau tidak, mereka telah melawan kapitalisme pertanian, setidaknya sampai taraf yang dapat mereka jangkau.

Apa yang dilakukan para petani di desa itu mungkin berlangsung dalam lingkup kecil, tapi mereka bisa menunjukkan kepada kita bagaimana dengan PAR para petani bisa mewujudkan transformasi sosial sembari menyelesaikan beraneka persoalan keseharian mereka. Lewat penelitian demi penelitian mereka pernah menjalankan demokrasi.

Serentang masa sudah berlalu sejak mereka beramai-ramai mendatangi rumah kepala desa, boleh jadi sebagian kerja kolektif mereka telah susut oleh beraneka tekanan baru. Tapi, walaupun itu benar terjadi, ingatan kolektif dan pranata yang mereka bangun akan hidup lebih lama. Mereka, dan mungkin kita, selalu bisa mulai dari sana.

Nurhady Sirimorok
Peneliti isu-isu perdesaan; Pegiat di komunitas Ininnawa, Makassar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.