OUR NETWORK

Bagaimana Ramadhan Menjadi Bulan Paling Agung

ramadhanMenjelang puasa Ramadhan seperti sekarang, para penceramah mulai menghimpun bahan-bahan untuk mendakwahkan keutamaan bulan suci ini. Mereka akan mengulang-ulang apa yang disampaikan tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya. Mulai dari Ramadhan sebagai bulan turunnya al-Qur’an hingga pahala amal ibadah yang dilipat-gandakan. Terlebih lagi soal keutamaan berpuasa di bulan suci tersebut.

Menariknya lagi, acara-acara televisi didesain sedemikian rupa sehingga Ramadhan berbeda dari bulan-bulan lain. Kapan dan bagaimana Ramadhan menjadi bulan yang begitu diagung-agungkan?

Bagi sebagian kalangan, pertanyaan ini terlalu mengada-ada karena Ramadhan memang bulan agung sejak zaman Nabi Muhammad. Namun demikian, jikapun asumsi itu benar, beberapa riwayat mengindikasikan bahwa pengagungan Ramadhan terjadi secara bertahap. Bahkan sangat dimungkinkan (most likely) keagungan Ramadhan seperti yang kita yakini sekarang mengkristal lebih lamban daripada yang umum dibayangkan, yakni setelah wafatnya Nabi.

Keutamaan Ramadhan
Banyak teks Islam dipahami sebagai bukti keutamaan Ramadhan. Misalnya, ayat al-Qur’an yang merujuk pada bulan ke-9 dalam kalender Hijriyah sebagai “syahrul Qur’an” (bulan turunnnya al-Qur’an). Surat al-Baqarah (2) ayat 185: “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan dari petunjuk tersebut dan juga sebagai pembeda.”

Sebenarnya ayat di atas tidak serta-merta menunjukkan bahwa Ramadhan sedari awal sudah dianggap sebagai bulan agung. Maksud saya, bukan karena bulan Ramadhan itu agung maka diturunkan al-Qur’an yang agung. Tapi, sebaliknya, karena al-Qur’an yang agung diturunkan pada waktu Ramadhan, maka bulan itu pun dipersepsikan punya status agung.

Kalau mengikuti klasifikasi tradisional tentang turunnya ayat-ayat al-Qur’an, maka kita akan sampai pada kesimpulan bahwa pengakuan terhadap keagungan Ramadhan terjadi secara gradual. Surat al-Baqarah di mana ayat syahrul Qur’an itu termaktub dikategorikan ulama sebagai surat Madaniyah, yang berarti bahwa ayat tersebut diwahyukan kepada Nabi saat beliau sudah di Madinah.

Apakah ayat itu merujuk pada (1) diterimanya ayat-ayat pertama oleh Nabi atau (2) diturunkannya al-Qur’an pada langit bumi, keduanya menguatkan argumen gradualitas pengakuan Ramadhan sebagai syahrul Qur’an. Sebab, terkait pendapat pertama, pengakuan itu terjadi lebih dari 13 tahun setelah Nabi menerima wahyu pertama. Sementara, reaksi kita terhadap pendapat kedua ialah “wa-Llahu a’lam” (hanya Allah yang tahu!).

Dalam ayat yang sama (QS 2:185) dilanjutkan, “Barang siapa melihat bulan (Ramadhan), maka berpuasalah.” Menarik didiskusikan bagaimana Ramadhan kemudian dijadikan bulan puasa, padahal sebelumnya Nabi memerintahkan pengikutnya berpuasa pada bulan Muharram, yang dikenal dengan hari Asyura.

Seperti jamak diketahui, begitu tiba di Madinah setelah menghadapi banyak kesulitan di kota kelahirannya, Mekkah, Nabi Muhammad mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura, 10 Muharram. Dalam tradisi Yahudi, hari itu disebut Yom Kippur (hari pengampunan). Yakni, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil, dan Nabi Musa berpuasa sebagai wujud syukur.

Setelah mendengar penjelasan orang-orang Yahudi, Nabi bersabda, “Saya lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.”

Saya kira ada aspek lain dari ajaran Nabi soal puasa hari Asyura tersebut. Yaitu, terkait sikap Nabi yang mengeras terhadap orang-orang Yahudi. Ada banyak alasan untuk meyakini bahwa semasa masih di Mekkah, Nabi mengimpikan kaum Yahudi akan mengakui kenabian dan mengikuti ajarannya. Mereka meyakini agama tauhid, kitab suci mereka juga dikonfirmasi oleh al-Qur’an. Untuk mendapat dukungan mereka, Nabi membenarkan—dan bahkan mengamalkan—praktik keagamaan mereka, seperti salat menghadap ke Yerusalem, berpuasa pada Yom Kippur.

Namun setelah kecewa dengan penolakan orang-orang Yahudi, Nabi mengubah arah kiblat salat dari Yerusalem ke Mekkah. Bagi banyak sarjana modern, perubahan kiblat itu merupakan sikap frustrasi Nabi atas penolakan kaum Yahudi. Bukan hanya perubahan arah kiblat, Nabi juga menetapkan kewajiban puasa pada bulan Ramadhan, sementara status puasa Asyura “diturunkan” menjadi sunnah saja.

Perlu segera ditambahkan, penetapan Ramadhan sebagai syahrul Qur’an dan bulan puasa tentu tidak serta-mesta menjadikannya begitu istimewa.

Ramadhan Pasca Kenabian
Pasca periode kenabian, status Ramadhan terus beranjak naik yang dibuktikan dengan banyaknya hadits-hadits yang sebenarnya menggambarkan perkembangan belakangan.

Memang ada kecenderungan di kalangan ulama Muslim awal untuk mengaitkan keagungan Nabi dengan bulan-bulan agung. Kelahirannya di bulan Rabi’ul awal juga bertepatan dengan bulan Adar dalam tradisi Yahudi, yang merupakan bulan kelahiran Musa.

Sebenarnya bulan yang diagungkan pada masa pra-Islam ialah Rajab, yang pada bulan itu tidak boleh terjadi peperangan. Seperti dicatat oleh Zurqani dalam Syarh ‘ala al-mawahib al-ladunniyah, sebuah riwayat yang mengindikasikan bahwa Nabi lahir pada bulan Rajab, tepatnya tanggal 27.

Ketika Ramadhan belakangan dipandang begitu agung, maka muncul riwayat-riwayat yang menjadikannya sebagai bulan kelahiran Nabi. Sumber-sumber tradisional juga menjadikan kesucian bulan Ramadhan bersifat universal. Karena bukan hanya al-Qur’an yang diturunkan pada bulan tersebut, melainkan juga kitab suci agama terdahulu.

Ahmad bin Hanbal, dalam al-Musnad-nya, meriwayatkan Watsilah bin al-Asqa berkata bahwa suhuf Ibrahim diturunkan pada 1 Ramadhan, Taurat diturunkan kepada Musa pada 6 Ramadhan, Injil diturunkan kepada Isa pada 13 Ramadhan, dan al-Furqan diturunkan (kepada Muhammad) pada 24 Ramadhan. Sahabat Jabir bin Abdullah berkata, Zabur diturunkan kepada Dawud pada 11 Ramadhan.

Tentu saja deskripsi Ramadhan di atas lebih menggambarkan perkembangan belakangan ketika keagungan bulan suci semakin diterima luas. Namun demikian, kesinambungan dengan tradisi pra-Islam juga tidak begitu saja dihapuskan. Suyuti mencatat sebuah hadits yang tampaknya memprediksi status Ramadhan pasca kenabian, “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”

Demikianlah Ramadhan diperlakukan pada periode awal perkembangan Islam. Adalah penting melihat perkembangan gradual tersebut sebagai wujud nyata bagaimana agama ini dibentuk oleh iklim tertentu dalam pertumbuhannya menjadi Islam yang kita kenal sekarang.

Dan perkembangan tersebut terus berlanjut. Semarak Ramadhan yang dipertontonkan acara-acara TV saat ini merupakan bukti bagaimana keagungan Ramadhan dikonstruksi pada zaman modern.

Terkait:

Bagaimana Ramadhan Menjadi Bulan Paling Agung

Mun'im Sirry
Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA, Owner KEPITING++. Beberapa karyanya: "Islam Revisionis: Kontestasi Agama Zaman Radikal" (Suka Press, 2018), "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis atas Kritik Al-Quran terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…