Senin, Oktober 26, 2020

Bagaimana Ilmu Hubungan Internasional Melihat Politik Dunia Kini?  

Empat Cendekiawan dari Ciputat

Tahun 70 awal yang merupakan masa pemerintah otoritarian, justru sangat subur para aktivis kampus yang kemudian mereka menjadi cendekiawan par excellent dengan reputasi bukan...

Arsenal Way: Cara Wenger Merawat Kuasa

Burnley hampir saja menodai pesta perayaan 20 tahun Arsene Wenger bersama Arsenal. Kado spesial berupa kemenangan nyaris gagal dipersembahkan para punggawa Arsenal di momen...

Memahami Substansi Delik Penodaan Agama

Sejak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dituduh menistakan al-Qur'an surat al-Maidah ayat 51, istilah menista dan penistaan (penodaan) begitu akrab di tengah khalayak akhir-akhir ini....

Kartini dan Politik (Partai) Wanita!

Salah satu bolong besar dalam pergerakan dan perjuangan politik perempuan, terutama dalam alam politik demokrasi liberal, barangkali adalah tidak adanya partai politik perempuan. Secara...
Avatar
Musa Maliki
Musa Maliki Dosen FISIP UPN Veteran Jakarta; Kandidat Doktor Charles Darwin University Australia; Tokoh Jaringan Intelektual Berkemajuan; Karyanya (bersama Asrudin Aswar) "Oksidentalisme: Pandangan Hassan Hanafi terhadap Tradisi Ilmu Hubungan Internasional Barat" (2019)

Dalam artikel ini, saya hanya ingin bercerita hal yang mendasar tentang Ilmu Hubungan Internasional (IHI) baik sebagai suatu disiplin ilmu maupun sebagai cara pandang kita melihat realitas dunia internasional, khususnya isu-isu yang terkait di tahun 2019.

Sejarah singkat Ilmu Hubungan Internasional

Awalnya, Hubungan Internasional adalah sebuah studi yang menempel di berbagai macam studi, khususnya sejarah, hukum, dan filsafat di banyak universitas Eropa. Hubungan Internasional adalah kajian kuliah saja (course), bukan jurusan atau departemen khusus.

Seiring dengan perkembangan politik dunia, setelah Perang Dunia ke-1 lahirlah disiplin ilmu Hubungan Internasional (IHI) di Aberystwyth, Wales, UK, pada 1919. Kemunculan IHI tidak lepas dari konteks upaya menjaga perdamaian dunia dan mencegah perang.

Damai demi siapa? Demi pihak-pihak yang berseteru, yakni antar negara-negara Barat yang sejak dulu juga perang berlarut larut. Toh setelah Perang Dunia ke-1 usai, Perang Dunia ke-2 terjadi. Lalu dilanjutkan dengan Perang Dingin. Lalu unilaterisme AS. Singkatnya perdamaian selalu penuh kepentingan (ideologis) bagi pihak-pihak pemenang Perang untuk terus menopang kepetningan mereka. IHI begitu kental dengan proyek negara-negara Barat pemenang perang.

Ide perdamaian ini tidak lepas dari seorang filsuf liberal Jerman, Immanuel Kant yang menulis tentang “Perdamaian Abadi”. Perdamaian disertai dengan pengandaian negara demokrasi. Jika bukan demokrasi, maka negara cenderung akan konflik dan perang seperti pengalaman Perang Dunia ke-2 dan Perang Dingin dipicu oleh adanya Fasisme lalu/dan Sosialisme/Komunisme. Singkatnya, bagi ‘cara-pandang’ HI Barat, dunia harus didemokratisasikan demi mencegah perang (perdamaian).

Dalam perkembangannya, Ilmu Hubungan Internasional (IHI) diajarkan ke seluruh dunia dengan cara pandang Eropa terhadap dunia melalui kurikulumnya. Setelah konteks dunia bergeser dari dominasi Eropa khususnya Inggris ke AS, maka sentralisme kurikulum pun menjadi lebih kental dengan rujukan AS.

Hal itu bukan karena AS sebagai suatu entitas independen menyeluruh secara langsung semua negara mengikutinya. Namun ada semacam relasi abstrak yang sistemik yang mengharuskan negara-negara pinggiran seperti yang berada di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah mengikuti cara pandang dan kurikulum AS.

Transisi ini sebenarnya diikuti oleh sarjana non-Barat yang kuliah di AS. Awalnya, sarjana non-Barat lebih dominan berkuliah di wilayah Eropa dan kemudian bergeser ke AS. Di Indonesia, IHI berdiri bersumber dari para sarjana politik yang belajar di AS seperti Prof Mohtar Mas’oed, Prof Yahya Muhaimin, dan Prof Amien Rais (sudah tidak di UGM). Dari Prof Mohtar Mas’oed, kita memiliki ‘kitab suci HI’ di seluruh Indonesia yang secara relatif setiap mahasiswa Hubungan Internasional (HI) pernah membaca “Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metolologi”.

Walaupun kita tidak bisa menafikan lulusan Inggris dan Eropa, tapi yang ingin ditekankan adalah pada kurun awal sekali IHI lahir di Indonesia memang didominasi oleh sarjana lulusan AS yang mendapat beasiswa dari yayasan-yayasan di AS. Lalu sekitar 2000an, banyak sarjana lulusan dari Australia yang tentunya dididik oleh sarjana lulusan Eropa dan AS. Jadi ada nasab (garis/transmisi/estafet/turun-temurun) keilmuan yang cukup kuat dalam tradisi Hubungan Internasional Barat.

Kisah singkat di atas memberi kesadaran bahwa selama ini kita membutakan mata kita akan tradisi kita (non-Barat) dengan memakai ‘mata’ Barat dalam memandang (memaknai) dan mendefinisikan realitas politik dunia.

Namun akhir-akhir ini, banyak sarjana bersekolah di negara yang dianggap non-Barat seperti Turki, Cina, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara di Asia Tenggara. Di Eropa pun ada yang lulusan Eropa Timur seperti Rusia. Sarjana HI, dosen peneliti, dan praktisinya semakin beragam.

Ada pula yang walaupun belajar di negara-negara Barat, tapi karena krisis ilmu pengetahuan Barat, khususnya HI, sarjana HI di dunia Barat semakin beragama. Sarjana HI Barat terkemuka, Barry Buzan antusias mendukung tradisi non-Barat untuk berkembang, karena peradaban besar tidak hanya Barat, tapi India dan Cina.

Cara pandang atas politik dunia

Dalam menghadapi isu-isu internasional tahun 2019, para sarjana HI, walaupun masih didominasi oleh tradisi ‘mata-pandang’ AS, tapi tradisi menggugat ‘mata-pandang’ HI Barat tengah bermunculan. Di sini saya dan sahabat saya, Asrudin meramu suatu buku pengantar IHI, “Oksidentalisme: Pandangan Hassan Hanafi terhadap Tradisi Ilmu Hubungan Internasional Barat”. Karya ini sebagai respon dari krisis keilmuan Barat, khususnya IHI dari inspirasi Hassan Hanafi.

Karya itu tidak menafikan HI Barat, tapi mengantarkan transisi keilmuan ideologis HI Barat menuju pluralisme IHI. Selain itu buku ini menjembatani keilmuan HI Barat dan non-Barat dengan tidak serta merta menunjukkan cara pandang hitam-putih, sebab dalam setiap tradisi selalu ada shared values dan prinsip serta kini tradisi IHI semakin kompleks dan eklektik.

Buku itu memberi ‘mata-pandang’ tentang stagnasi keilmuan peradaban Barat, kemunafikan negara-negara Barat yang mengingkari teori-teori HI yang mereka buat sendiri, dan peluang kajian non-Barat seperti Hubungan Internasional Cina, India, dan ASEAN.

Karya seperti filsuf Islam, Hassan Hanafi dari Mesir, seorang diplomat ulung Singapura yang kini menjadi sarjana HI terkemuka dunia, Kishore Mahbubani dan ilmuwan HI lulusan Yale sekaligus PhD dari Harvard University keturunan India terkemuka, Fareed Zakaria, adalah fondasi dari karya ini. Karya ini memberi kesadaran bagi kita bahwa potensi IHI non-Barat terbuka lebar, khususnya pendalaman tradisi peradaban Cina, India, dan Asia Tenggara yang dulu terkubur oleh zaman kolonialisme Barat.

Dari elaborasi pemikir-pemikir tersebut, karya itu membuahkan salah satu kesimpulan yang optimis untuk ASEAN. Wilayah yang paling relatif damai di dunia adalah Asia Tenggara. Hal ini berkat kejeniusan para pemimpin ASEAN dalam menjaga perdamaian. Perdamaian bukan sesuatu yang given, tapi sesuatu yang secara serius dan cukup melelahkan dikuatkan dan dijaga oleh komunitas ASEAN.

Hal itulah yang membuat ekonomi Asia menjadi lebih unggul dibandingkan ekonomi negara-negara Barat. Dalam hal ini, ASEAN menjadi kajian yang sangat penting di IHI baik di Barat maupun di negara-negara non-Barat.

Kita tidak perlu lagi terobsesi dengan perspektif Barat sebagai solusi politik dunia sebab solusi-solusinya justru membuahkan masalah baru dan seringkali mengingkari teori-teori HI yang mereka buat sendiri seperti kasus Israel-Palestina, Invasi AS ke Irak, invasi Saudi Arabia ke Yaman, stagnasi perjanjian lingkungan, Arab-Spring, perang sipil Suriah, terorisme, dan sebagainya.

Baru baru ini, kasus Uighur, Xinjiang menjadi senjata Barat, khususnya AS untuk mendelegitimasi citra Cina dalam konteks perang dagang antara keduanya. Kasus internal Uighur yang sebenarnya seumur Jalur Sutra lamanya ini tiba-tiba menginternasional seperti kasus baru kemarin sore dengan membawa bawa agama di dalamnya.

Masyarakat awam termakan isu yang oleh AS dibumbui agama, padahal mereka secara tanpa sadar menyederhanakan masalah dengan ‘mata-pandang’ Barat dan langsung berkomentar miring atau melihatya secara hitam-putih terhadap kasus tersebut. Berikutnya, mereka melakukan aksi penghakiman baik di sosial media maupun di ‘jalanan’.

Beberapa Sarjana HI telah memberi penjelasan yang memadai di media-media. Mereka paham betul kompleksitas permasalahan ini sehingga baik AS dan Cina memang bermasalah, tapi cara kita menyikapinya tidak perlu berlebihan dan emosional. Jadi ada semacam prioritas realitas dalam kita menyikapi isu yang kita hadapi.

Dalam kasus politik dunia antara AS dan Cina, masyarakat awam seringkali menjadi ‘domba-domba yang tersesat’ karena perspektif mereka tidak sedalam sarjana HI yang bertahun-tahun belajar politik dunia.

Disarankan masyarakat awam melakukan kerja-kerja yang lebih bermanfaat untuk hidupnya dan lingkungan terdekatnya daripada secara serampangan, semena-mena berkomentar seolah-olah telah menjadi ‘ahlinya ahli’ yang kuliah HI bertahun-tahun tentang isu politik dunia. Apalagi terlibat aksi-aksi yang tidak jelas tanpa tahu masalahnya, ukuran hasilnya dan malah merusuhkan keadaan. Disarankan masyarakat awam minimal membaca komen-komen dari sarjana HI di bidang keahliannya daripada membaca komen-komen yang bukan ahlinya.

Cara pandang sarjana IHI menjadi lebih beragam di era the post-American world (meminjam istilahnya Fareed Zakaria). Dalam isu perang dagang AS dan Cina, banyak komentar sarjana HI yang secara terang benderang memaparkan kompleksitas permasalahan, tanpa terjebak pada bias keilmuan HI Barat, khususnya AS. Hal ini menjadi titik terang bagi masyaraat awam agar lebih bijak menyikapi isu-isu yang muncul dewasa ini.

Jangan sampai masyarakat awam secara semena-mena menciptakan opini publik yang merusak kepentingan nasional bangsa Indonesia. Jangan sampai alam demokrasi kita justru membodohkan kita dengan mengkonsumsi berita-berita tendensius ke dalam otak kita. Alam demokrasi Indonesia justru seharusnya membuat kita mau berpikir (berefleksi) bukan hanya mengkonsumsi informasi saja, tanpa mencernanya.

Avatar
Musa Maliki
Musa Maliki Dosen FISIP UPN Veteran Jakarta; Kandidat Doktor Charles Darwin University Australia; Tokoh Jaringan Intelektual Berkemajuan; Karyanya (bersama Asrudin Aswar) "Oksidentalisme: Pandangan Hassan Hanafi terhadap Tradisi Ilmu Hubungan Internasional Barat" (2019)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

ARTIKEL TERPOPULER

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.