Kamis, Desember 3, 2020

Arsenal Way: Cara Wenger Merawat Kuasa

Mengapa Puluhan Triliun Dana Desa Bisa Menguap Sia-sia?

Bila anda berkunjung ke desa, mungkin anda bisa berjumpa jembatan mangkrak, jalan tani tak terawat, atau bangunan publik yang lapuk tak terpakai. Anda pun...

Ancaman Terorisme dan Paradoks Perlindungan Data

Warga memperlihatkan sejumlah foto dan nama daftar pencarian orang (DPO) tindak pidana terorisme yang disebar melalui internet di Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Jumat (22/1). ANTARA...

ISIS, Negara atau Bukan?

Kelompok militan yang bercokol di Suriah pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi ini kadang disebut dengan nama yang berbeda oleh media dan banyak kalangan. Kelompok ini...

Muslim Uighur di Tengah Polarisasi Politik Lokal

Apa yang paling menjengkelkan dari polariasi politik adalah ia menumpulkan kemampuan kita untuk melihat persoalan dengan jernih. Polarisasi menjadikan pikiran kita monokrom, kesulitan melihat...
Avatar
Muhammad Qomarudin
Penikmat sepakbola layar kaca dan sesekali menulis tentang sepakbola

wenger-uefa
Arsène Wenger dan Laurent Koscielny (Foto www.uefa.com)

Burnley hampir saja menodai pesta perayaan 20 tahun Arsene Wenger bersama Arsenal. Kado spesial berupa kemenangan nyaris gagal dipersembahkan para punggawa Arsenal di momen spesial sang manajer.  Gempuran para pemain The Gunners sejak menit awal tak kunjung membuahkan hasil hingga laga hanya tersisa beberapa detik saja.

Bukan sepakbola namanya jika tidak ada drama di dalamnya. Dan drama itu kembali tersaji di Stadion Turf Moor pekan lalu. Ketika semua mengira laga akan berakhir tanpa gol, Laurent Koscielny muncul sebagai aktor yang mengubah segalanya. Terlepas dari kontroversi di dalamnya, bola sudah telanjur melewati garis gawang. Wasit mengesahkan itu menjadi gol.

Better late than never. Laurent’s late, late goal means we take all three points! Begitu tulis akun media sosial resmi milik Arsenal.

Ketika wasit meniupkan peluit akhir, sorot kamera langsung tertuju pada sosok lelaki tua di pinggir garis lapangan. Senyum sumringah Arsene Wenger sedikit mengurangi kerutan di wajahnya, tapi tidak dengan angka-angka usianya. Wenger tetaplah seorang pelatih berusia 66 tahun. Yang 20 tahun terakhirnya dihabiskan untuk melatih satu tim: Arsenal.

Kurun waktu 20 tahun tentu bukan masa yang singkat untuk sebuah pengabdian pada satu klub saja. Mendapat kepercayaan menukangi satu klub selama 20 tahun tentu juga bukan pencapaian sembarangan. Hanya orang-orang terpilih dan punya keahlian khusus yang bakal mampu meraih capaian itu. Tanpa perlu menengok torehan trofi yang dipersembahkan, bagi saya, Arsene Wenger tetaplah sosok pelatih spesial di dunia.

Jika menilik ulang catatan sejarah tentang awal kedatangannya ke London, tak sedikit yang memprediksi kalau karir kepelatihan Wenger bersama The Gunners hanya akan seumur jagung. Prediksi itu tentu sangat masuk akal mengingat Wenger adalah sosok “asing” di sepakbola Inggris. Kultur sepakbola Inggris kala itu masih sangat sulit menerima kehadiran sosok pelatih dari luar Britania Raya. Alasannya sederhana, sebelum kehadiran Wenger, tak pernah ada satu pun sosok pelatih dari luar Britania Raya yang sukses di Liga Inggris.

Sebagai pelatih berkebangsaan Prancis, Wenger dianggap tidak punya pengetahuan mumpuni tentang sepakbola kelas wahid ala Liga Inggris. Sebagai bangsa—yang katanya—penemu sepakbola, kecongkakan sebagain besar warga Inggris tentang sepakbola juga dirasakan Wenger.

Berbagai macam sindiran dari media-media Inggris juga turut menyambut kehadiran Wenger. Semua yang melekat pada Wenger menjadi bahan obrolan, tak terkecuali gaya berpakaiannya. Penampilan Wenger dianggap lebih mirip guru hononer dan jauh dari kesan sebagai sosok manajer klub besar di Liga Inggris.

Selain dianggap sebagai sosok asing, Wenger juga datang ke Arsenal tanpa dibekali CV kepelatihan yang gemilang. Datang sebagai mantan pelatih Nagoya Grampus Eight tentu menjadi modal awal yang tidak terlalu bagus bagi Wenger. Gelar juara bersama Nagoya Grampus dan penghargaan sebagai pelatih terbaik liga Jepang tetap dirasa belum cukup bagi Wenger untuk mengisi posisi prestisius di Arsenal.

Kemampuan Wenger menggunakan lima bahasa juga tak dianggap sebagai nilai plus. Kala itu, sepertinya, pecinta bola di Inggris sudah sepakat dengan satu pernyataan: pokoknya Wenger tidak pantas jadi pelatih Arsenal. Titik.

“Ketika saya datang ke sini (London) orang memiliki pemikiran bahwa seorang manajer asing tidak bisa sukses di Inggris. Tapi saya percaya bahwa kehidupan profesional yang sukses adalah bertemunya sikap (yang baik) dan seseorang yang memberi Anda kesempatan,” cerita Wenger di laman resmi klub.

Isu miring tentang proses kedatangan Wenger sempat menjadi obrolan warung kopi di London. Penunjukan Wenger sebagai manajer disinyalir karena ada deal di balik meja antara dirinya dan salah satu petinggi klub. Tuduhan itu cukup beralasan mengingat Wenger sejatinya memang punya kedekatan khusus dengan vice-chairman Arsenal David Dein.

Segala macam tuduhan pada Wenger boleh saja mengalir deras bak banjir bandang di Garut beberapa waktu lalu. Tapi keyakinan Wenger tetap berdiri kokoh layaknya mercusuar yang selalu tahu lebih dulu tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Tanpa basa-basi Wenger langsung melakukan perubahan besar-besaran di tubuh Arsenal sejak hari pertama dirinya bekerja, 1 Oktober 1996.

Semboyan “Arsenal Way” dicetuskan Wenger dengan perencanaan matang dan detail. Sebagai manajer yang memiliki wewenang penuh, Wenger memoles Arsenal menjadi klub sepakbola elegan. Secara tampilan luar, Arsenal disulap menjadi tim yang modis. Secara taktikal, filosofi permainan menyerang ala Wenger menjadi tontonan menyenangkan dan berhasil memikat perhatian khalayak. Tak butuh waktu lama bagi Wenger menjadikan Arsenal sebagai trendsetter, baik di luar maupun di dalam lapangan.

Dobel gelar langsung dipersembahkan Wenger di tahun keduanya bersama tim Gudang Peluru. Capaian itu semakin mengikis prasangka-prasangka buruk tentang pelatih yang awalnya selalu dicap bakal gagal.

Tak perhenti di situ, sang guru honorer kembali mempersembahkan capaian prestisius pada musim 2003-2004. Arsenal berhasil menjadi juara liga tanpa tersentuh kekalahan. Arsenal berhasil menyamai rekor Preston North End pada 1889 (bahkan melebihi mengingat Arsenal punya 16 pertandingan lebih banyak dari Preston). Sebuah rekor yang hingga saat ini belum mampu disamai oleh tim-tim kasta tertinggi Liga Inggris.

Kemampuan manajerial Wenger semakin terlihat sempurna berkat keahliannya di bidang ekonomi. Urusan neraca keuangan Arsenal sejauh ini tak pernah mengalami masalah. Bahkan ketika Arsenal harus berutang dalam jumlah besar untuk membangun sebuah stadion baru. Kapabilitas Wenger sebagai ekonom terpelajar dipertaruhkan ketika ia mengambil keputusan membangun stadion baru yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari Stadion Highbury. Langkah itu terbukti tepat dan Arsenal mulai merasakan hasilnya sejak beberapa musim terakhir.

Akumulasi pencapain Wenger bersama Arsenal kemudian menasbihkan dirinya sebagai Sang Profesor. Julukan The Professor semakin lekat bersama Arsene Wenger seiring dengan masih adanya kepercayaan petinggi Arsenal kepadanya. Wenger memang sang profesor sejati. Jika tidak demikian, petinggi Arsenal tak pernah punya pemakluman untuk puasa gelar yang sempat melanda The Gunners dalam beberapa tahun.

Karir The Professor bersama Arsenal sempat dispekulasikan awal musim lalu. Isu tentang pemecatan Wenger berembus kencang. Suara sumbang tentang mosi tidak percaya terhadap Wenger juga sempat menyeruak di kalangan suporter Arsenal. Tapi lagi-lagi pada kenyataannya petinggi Arsenal tetap tenang-tenang saja dan masih mempercayakan Arsenal pada The Professor.

Kepercayaan itu kembali dibayar lunas oleh Wenger dengan torehan hasil bagus di beberapa laga awal The Gunners. Spanduk bertuliskan “In Arsene We Trust” kembali muncul di Emirates Stadium.

Arsene Wenger seolah punya kuasa penuh untuk menentukan nasibnya sendiri di Arsenal. Berharap Wenger dipecat bisa jadi adalah hal yang sia-sia. Kalaupun ingin dia pergi, biarkan dia pergi dengan sendirinya.

Avatar
Muhammad Qomarudin
Penikmat sepakbola layar kaca dan sesekali menulis tentang sepakbola
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.