OUR NETWORK

Menanti Arsenal Baru ala Unay Emery

Apakah “cara baru” Unay Emery itu akan menciptakan Arsenal yang lebih garang, Arsenal yang lebih ingin menang?

Bersama Unay Emery, Arsenal memenangkan 10 pertandingan terakhirnya secara beruntun. Bangkit dari dua kekalahan di awal musim, Arsenal menggasak semua lawan yang dihadapinya. Namun yang terpenting, segalanya terlihat membaik. Dan semakin membaik.

Gol-gol mengalir. Secara bergantian, baik oleh Lacazette maupun Aubameyang. Musim ini tampak akan jauh lebih mudah dari musim sebelumnya. Dan jika tak ada cedera datang, jumlah gol dua digit dari masing-masing striker itu tinggal menunggu waktu saja. Arsenal, sejauh ini, adalah tim tersubur di Liga setelah Manchester City.

Kita juga menyaksikan kebangkitan Aaron Ramsey. Ia menjadi jauh lebih vital dari sebelum-sebelumnya. Dan itu juga yang menjadi kekhawatiran para pendukung Arsenal. Sebab ia belum juga memperpanjang kontraknya.

Tapi yang sangat mencolok, jika menilik pertandingan terakhir melawan Leicester City, adalah Mesut Ozil. Ia tampak pulih seperti sedia kala, seperti seharusnya Ozil yang kita kenal dan kita harapkan—kalian lihat umpannya untuk gol pertama dan kedua Aubameyang? Dan Ozil yang pulih adalah berita yang sangat membahagiakan bagi pendukung Arsenal (dan barangkali semua pencinta sepakbola), lebih-lebih jika mengingat bagaimana ia mengawali musim ini.

Sepulang dari Piala Dunia 2014, Ozil menyatakan pengunduran dirinya dari timnas Jerman dalam cara yang menggemparkan: ia menulis surat terbuka yang terang-terangan kepada Federasi Sepakbola Jerman; ia merasa dipersalahkan atas kegagalan Jerman yang memalukan di Rusia, bukan semata karena ia bermain buruk, tapi terutama karena ia anak seorang imigran (Turki) dan muslim. Dari seorang pahlawan di Piala Dunia 2014, ia berakhir jadi pesakitan dan terbuang.

Kekalahan Arsenal di dua pekan awal Liga, dengan penampilannya yang buruk minta ampun, membuatnya mendapat kritik sangat keras. Unay Emery justru menambahinya, dengan bilang bahwa Ozil tak bisa menghindari kritik setelah keputusannya mundur dari timnas. Kemudian ada fase ketika pertengkarannya dengan Emery di sesi latihan, yang berkait ketaksetujuannya dengan posisi baru yang diminta Emery, mencuat ke khalayak. Buntutnya, Ozil tak diturunkan di pertandingan pekan ke-3, melawan West Ham. Ironisnya, justru itulah kemenangan pertama Arsenal dari sepuluh kemenangan berikutnya.

Tapi tiba-tiba saja Ozil telah mencetak tiga gol, menggila di pertandingan melawan Newcastle dan Watford, dan puncaknya saat melawan Leicester, Selasa dini hari tadi. Untuk pertandingan terakhir, saat ia mencetak satu gol dan mengkreasi dua lainnya, Whoscored.com bahkan memberinya poin 9.03. Dan di pertandingan ini, untuk pertama kalinya, Ozil menjadi kapten Arsenal.

Posisi empat di pekan ke-9 seharusnya bukan apa-apa, meski para pandit sekarang sudah mulai ramai membahas apakah Arsenal memang pantas untuk masuk dalam persaingan perebutan juara Liga atau tidak. Lepas dari itu, Unay Emery mulai menyebut-nyebut soal “sepakbola seksi”.

***

“Sepakbola seksi”, seingat saya, disebut-sebut pertama kali ketika Ruud Gullit saat menjadi pelatih (awalnya di Chelsea, kemudian di Newcastle) di akhir ’90-an. Namun, sampai sejauh ini, konsep itu sulit dijelaskan, sebagaimana karier kepelatihan Gullit sendiri. Dan, tanpa menyebutnya sebagai sepakbola seksi pun, sepakbola yang dihasilkan Arsenal selalu menarik. Setidaknya, sejak kedatangan Arsene Wenger.

Arsenal, setelah kedatangan Wenger, adalah klub yang mudah untuk dicintai. Kecuali Anda pendukung Chelsea atau Spurs yang terlalu bersemangat, atau pendukung MU yang kelewat keras, atau suporter oportunis yang hanya mau mendukung tim yang pasti juara, Arsenal akan dengan gampang jadi tim kedua setiap penggemar sepakbola tiap musim kompetisi dimulai.

Sepakbola menyerang, umpan dan penguasaan bola, pemain-pemain berbakat yang didapat dari entah-berantah dan didapat dengan harga rendah, seniman-seniman di kotak penalti lawan, gol-gol spektakular, dan—belakangan—sebuah stadion megah dengan atmosfer yang selalu meriah, identik dengan Arsenal.

Datang pada 22 September 1996, setelah tujuh tahun yang jauh dari buruk di Monaco, dan petualangan singkatnya ke Jepang, Wenger memang tidak datang ke sebuah klub yang tengah hancur-lebur dan setengah mati ingin mengembalikan kebesaran masa lalunya, macam yang dihadapi Ferguson 10 tahun sebelumnya di MU. (Arsenal memenangi gelar Liga lima tahun sebelumnya, dan dua kali juara liga pada tiga musim terakhir era Divisi Utama.) Namun, Wenger mesti menghadapi stigma buruk yang disandang Arsenal, yang merupakan tinggalan rezim George Graham: “boring, boring, Arsenal”, Arsenal yang membosankan. Terutama karena kecenderungannya untuk mencukupkan diri menang tipis, dan menggantungkan sebagian besar kekuatannya di barisan pertahanan.

Stigma ini tak sanggup dibongkar pengganti Graham, Bruce Rioch. Tapi Wenger tak membutuhkan waktu lama untuk mengubah wajah dan sejarah Arsenal. Dan, dalam banyak hal, juga sejarah sepakbola Inggris.

Pada musim keduanya, 1997-98, Wenger tidak hanya mempersembahkan trofi baru (tak tanggung-tanggung, langsung dua) kepada pendukung Arsenal, tapi juga sebuah tim dengan cita rasa baru. Ia, dalam waktu yang tak lama, mengubah “Arsenal yang membosankan” menjadi “Arsenal yang menakjubkan”, yang menjadi percontohan tentang bagusnya kombinasi kekokohan pertahanan Britania Raya dan sepakbola mengalir ala Eropa Daratan.

Sebelumnya dikenal karena bek-beknya yang garang, Arsenal menjelma tim dengan bintang-bintang yang cemerlang di sisi sayap dan barisan penyerangan. Sementara sinar pemain-pemain belakang macam Tony Adams dan Lee Dixon belum redup, pendukung Arsenal telah punya sosok pujaan baru pada diri Patrick Viera di tengah, Marc Overmars di sisi sayap, dan Dennis Bergkamp di depan. Namun puncak itu semua adalah musim 2004.
Wenger dan Arsenalnya merebut gelar liga ketiganya dengan penuh gaya. Mereka tidak terkalahkan selama semusim. Inilah Arsenal “the Invincible“.

Di luar permainan, Wenger dan Arsenalnya juga menjadi contoh terbaik bagaimana sebuah klub dikelola secara bijaksana dan berkelanjutan. Dan itu menjadi luar biasa karena terjadi justru pada era klub-klub di Eropa sedang dipegang para taipan edan yang hanya memikirkan gelar dan/atau uang. Wenger gemar membeli pemain-pemain murah tak dikenal, untuk kemudian dijual sebagi bintang berharga mahal.

Arsenal mungkin bukan klub Inggris pemilik akademi dengan jebolan-jebolan jempolan seperti West Ham atau Southampton, atau pelahir generasi emas macam MU dengan Angkatan 92-nya. Tapi, Arsenal telah dijadikan Wenger sebagai tim terbaik tempat mengasah batu kali kasar jadi mutiara-mutiara berkilau—hal yang sebelumnya juga pernah dilakukannya di Monaco dan Strasbourg.

Menyebut kembali kisah tumbuh dan berkilaunya pemain macam Patrick Vieira, Thiery Henry, Nicolas Anelka, Kolo Toure, Freddie Ljungberg, Cesc Fabregas, hingga yang paling akhir Aaron Ramsey, mungkin hanya akan mengulang cerita yang sudah ratusan kali dituturkan.

Jelas juga karena Wenger, Arsenal selalu menjadi salah satu tim terbaik dalam hal keuangan. Ketika banyak klub bertumbangan prestasinya akibat salah urus keuangan atau karena tersandung gunungan utang, Arsenal tak pernah terlihat limbung.

Meski sejak memutuskan membangun stadion baru pada 2006 mereka menjadi salah satu klub besar paling irit di Eropa, Arsenal selalu ada dalam persaingan. Sejak kedatangan Wenger sampai musim 2015-2016, Arsenal tak pernah absen dari empat besar dan terlibat di Liga Champions, dan dengan demikian terus bisa mengisi kas klub dengan uang insentifnya yang besar itu. Meski diejek sebagai sekolah sepakbola, kebijakan transfer Arsenal dianggap sebagai yang terbaik, dan karena itu banyak ditiru.

Bahwa kemudian “efesiensi” Arsenal ini mesti dibayar mahal—mulai dengan absennya trofi Liga dari lemari piala Arsenal selama 14 tahun, memburuknya daya saing, terutama di masa-masa terakhir Wenger, dan puncaknya ujung karier Wenger sendiri di Arsenal, yang tak sebahagia seharusnya—jelas ada banyak hal yang mesti dilanjutkan atau setidaknya diperbaiki oleh siapa pun pelatih yang meneruskan kerja Wenger di Arsenal. Lebih dari sekadar cara mereka bermain sepakbola, tentunya. Dan tampaknya, Unay Emery menjanjikan hal itu.

***

Meski menyantumkan tiga tropi Europa Cup dalam tiga tahun berturut-turut bersama Sevilla dalam CV-nya, Unay Emery datang ke Arsenal sebagai pelatih yang dianggap gagal. Ia memang memberikan empat gelar domestik dalam dua musimnya di PSG, tim yang disokong dana yang tidak lebih kecil dari APBN satu negara. Tapi, jelas bukan itu yang diinginkan para pemodal PSG ketika menunjuknya. Membayar uang tebusan Neymar dalam jumlah memualkan, “meminjam” Kylian Mbappe dengan cara dan opsi aneh dari Monaco, dan mendatangkan seorang juara seperti Dani Alves, jelas mereka ingin Liga Champions.

Dalam dua musim, langkah PSG mentok di 16 besar. Tapi noda yang terlalu mencolok bagi karier kepelatihan Emery adalah kekalahan 6-1 dari Barcelona, setelah sebelumnya unggul 4-0 di leg pertama. Tak mengherankan, ketika ia kemudian datang ke Arsenal, ia bukan saja tak disambut dengan semestinya—Arsenal tak membuat acara khusus untuk memperkenalkannya. Ia bahkan cenderung dicibir.

Lebih jauh lagi, penunjukan Emery dianggap menggambarkan tak banyak beranjaknya target Arsenal dari masa-masa terakhir Wenger: mereka hanya ingin berebut empat besar, bukannya gelar.

Arsenal mungkin tidak hendak ingin langsung juara, tak seperti City menunjuk Guardiola atau saat MU minta dilatih Mou. Ini mungkin tidak sangat menarik bagi penggemar Arsenal, meskipun pada saat yang sama itu bukan juga sesuatu yang asing bagi mereka. (Mereka sudah 14 musim tak juara, dan menunggu beberapa musim lagi apa susahnya?)
Lagipula, melihat pemain-pemain baru yang masuk menyertai Emery, mereka memang tak melihat ambisi berlebih di sana. Lucas Torreira dan Matteo Guendouzi yang masih sangat muda tampak lebih cocok untuk proyek jangka panjang, sementara Stephan Lichsteiner dan Sokratis Papastathopoulous terlalu renta untuk bersaing dengan bek-bek mahal City dan Liverpool.

Unay Emery sendiri tampaknya tak terganggu dengan keraguan yang menyambutnya di London. Di jumpa pers pertamanya, dengan bahasa Inggris yang terbata, ia mengucapkan terima kasih kepada Arsene Wenger atas apa yang telah dilakukannya di Arsenal. Namun, beberapa hari kemudian, menjelang pertandingan Liga pertamanya, ia juga mengatakan, “masa lalu (Arsenal) hebat, tapi itu sudah selesai.” Lebih lanjut, ia menjanjikan “cara baru” bagi Arsenal di masa depan.

“Cara baru” ini dipersaksikan oleh Alexandre Lacazette, dalam sebuah wawancaranya dengan The Guardian. “Kami belajar (kembali) seperti kanak-kanak,” katanya. “Rasanya seperti klub baru,” kata Hector Bellerin. Sementara kiper Peter Cech dengan lebih jelas mengatakan bahwa mereka berlatih lebih keras di bawah pelatih baru. Yang menarik, ia bilang bahwa jika sebelumnya Arsene Wenger jauh lebih mementingkan gaya bermain dibanding kemenangan, Emery lebih mementingkan hasil.

Hasil dari “cara baru” ala Emery itu mungkin mulai bisa dilihat. Mengawali dengan dua kekalahan, Arsenal kini sudah berdesakan di pucuk klasemen, hanya berselisih dua angka dari pemimpin klasemen bersama, City dan Liverpool. Dan, tak bisa tidak, Arsenal pun mulai diperhitungkan.

Tapi, apakah Arsenal-nya Emery memang semenjanjikan itu? Kebanyakan pengamat bilang, banyak hal yang kurang dari Arsenal-nya Wenger tampak dengan pelan tapi pasti tengah diperbaiki Emery. Namun, pada saat yang sama, beberapa kelemahan khas Arsenal-nya Wenger masih ada dan bertahan pada timnya Emery.

Gol-gol tidak penting masih saja terjadi. Dan sejauh ini, dilihat dari angka kebobolannya, lini belakang Arsenal tampak mencolok buruknya dibanding tiga tim lain di empat besar. Padahal, para pengamat Liga Inggris meyakini, kuatnya lini pertahanan akan menjadi yang paling menentukan dalam pacuan perebutan gelar musim ini.

Di sisi lain, kemenangan Arsenal didapat dari tim-tim yang tidak menjadi pesaing langsungnya di papan atas. Mereka bahkan tampak kewalahan menghadapi tim-tim yang tengah kesusahan, macam Cardiff dan Newcastel. Sementara, saat menghadapi City dan Chelsea, Arsenal bukan saja kalah, tapi kalah kelas.

Jadi, bagaimanapun, masih banyak hal yang mesti dinanti dari Arsenal-nya Unay Emery—meski, melihat bagaimana mereka berkembang, menanti Arsenal kali ini jauh lebih menarik daripada sebelum-sebelumnya.

Untuk pendukung Arsenal, sebaiknya lupakan dulu soal “sepakbola seksi” yang disebut-sebut Emery. Mari menunggu, apakah “cara baru” Unay Emery itu akan menciptakan Arsenal baru. Arsenal yang lebih garang. Arsenal yang lebih ingin menang.

Penulis Novel "Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu"; Pengelola Blog Belakanggawang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…