Selasa, Maret 2, 2021

Argentina yang Salah yang Kita Bayangkan

“Lebih TNI dari TNI” Adalah Wujud Sayang Prabowo ke TNI

Sebagian besar polemik politik terjadi lantaran berita bohong. Sebagian besar berita bohong muncul lantaran ketidakmampuan memahami konteks sebuah pernyataan. Anggapan Pak Prabowo menghina TNI...

Haji Bukan Ritual “Sadomasokis”

Untuk kesekian kalinya tragedi itu terjadi, dengan memakan korban nyawa para jamaah haji yang begitu banyak. Dan, sejauh ini belum ada upaya yang secara...

Saya dan Bang Tito

Akhir September 2006, saya baru tiba di Poso, Sulawesi Tengah. Suasananya masih tegang. Ketika itu, Tibo bersama dua orang rekannya baru saja dieksekusi hukuman...

Siapkah Jakarta Dipimpin Perempuan?

Apa kesamaan Jakarta dan Amerika Serikat? Sama-sama belum pernah dipimpin perempuan. Untuk masalah presiden perempuan, Indonesia lebih unggul ketimbang Amerika, sebab sudah punya lebih...
Darmanto Simaepa
Penulis buku "Tamasya Bola: Cinta, Gairah, dan Luka dalam Sepakbola"; Pengelola blog Belakanggawang.

Orang bilang, proyek timnas Argentina bersama Jorge Sampaoli telah gagal bahkan sebelum dimulai. Pertama, karena Sampaoli muncul di waktu yang salah. Krisis sepakbola Argentina telah mencapai titik nadir. Korupsi dan salah urus seperti tumor ganas stadium empat yang membusukkan organ dalam sepakbola Argentina.

Kehebatan Sampaoli meracik taktik tak bisa menyembuhkan tumor itu. Kekalahan dari Kroasia membuktikan segalanya. Mantranya tak mengurangi derita pemain di dalam lapangan. Formasi tiga bek itu bukan obat anestesi, melainkan operasi untuk mengamputasi kaki sendiri.

Kedua, Sampaoli gagal membuat tim yang padu sekaligus menyenangkan Messi. Alih-alih menciptakan tim yang membuat Messi menjadi pusat gravitasi, Sampaoli mengubah gajah kecil itu menjadi benar-benar seekor kutu yang tak tampak di pelupuk mata. Bukan hanya terisolasi dan tersesat, La Pulga seakan-akan hilang di layar televisi.

Namun, masalah Argentina bukan Sampaoli. Bukan pula omong kosong tentang Lionel Messi yang gagal menjadi Maradona. Sejak Messi masih balita dan Sampaoli belum berpikir ikut kursus kepelatihan, timnas senior Argentina tidak pernah juara turnamen besar. Jadi, kenapa mereka berdua harus bertanggung jawab atas semua kegagalan ini?

Masalah terbesar timnas Argentina adalah mereka mengikuti ekspektasi dan angan-angan yang salah. Publik sepakbola Argentina dan dunia menuntut dan meminta Argentina, siapa pun bintang dan pelatihnya, bermain seperti yang mereka bayangkan: menang dengan gaya mengesankan dan dengan pemain terbaik di dalamnya.

Ekspektasi dan bayangan itu jelas ahistoris. Kesuksesan sepakbola Argentina di pentas dunia tidak semata ditentukan oleh permainan yang indah dan bakat yang besar. Yang sesungguhnya terjadi adalah sebaliknya: mereka juara dengan cara-cara yang antisepakbola.

Coba kita kembali ke tahun-tahun penuh kejayaan mereka. Di tahun 1978, bintang Mario Kempes dan Osvaldo Ardilles bersinar cemerlang. Pelatihnya, Cesar Luis Menotti, disebut-sebut sebagai pembawa tradisi sepakbola yang menyerang. Ia juga dimitoskan sebagai simbol perlawanan atas kediktatoran melalui sepakbola.

Namun, kita tahu juga bahwa mereka mengangkat piala dengan tangan penuh lumpur dan kotoran. Mereka lolos ke final dan juara setelah mengkadali Brazil, memanipulasi sistem dan jadwal turnamen, dan mengirim jutaan ton gandum ke perbatasan Peru dengan balasan 6 gol cuma-cuma.

Bahkan konon di final, kaki tangan pemimpin junta militer Jorge Rafael Videla mengatur operasi kotor untuk membuat Belanda frustasi. Termasuk menunda tim masuk ke lapangan, mengeraskan volume suara penonton dan lantas menghujani bangku cadangan Belanda dengan konfeti.

Yang lebih penting: mereka juara dengan bek-bek yang tak hanya solid, tetapi juga ganas dan curang. Mereka kuartet solid, yang dikepalai penjagal bernama Daniel Pasarella. Jika Anda malas membaca buku sejarah sepakbola, coba tengok di Youtube.

Di tahun 1986, Argentina dibawa juara oleh pemain terbaik dunia. Ya, Maradona membuat seluruh dunia bertekuk lutut. Solo golnya ke gawang Inggris dan Belgia adalah tarian terbaik seorang maestro sepakbola dan menciptakan mitos tentang satu orang yang bisa memenangkan suatu pertandingan sendirian.

Namun, kehebatan Maradona menutupi sebagian kebenaran. Narasi yang berpusat pada Maradona menyembunyikan fakta bahwa Argentina tidak benar-benar bermain dengan gaya yang menghibur dan atraktif. Argentina 1986 barangkali adalah Portugal dua tahun terakhir ini.

Kejeniusan Maradona membuat orang lupa bahwa Argentina saat itu ditangani Carlos Billardo, pelatih yang tidak hanya berkarakter, tetapi juga seseorang yang menciptakan seni berbuat culas dalam sepakbola. Bahkan ia menulis manifesto menghalalkan segala cara agar menang.

Billardo meminta pemainnya mengulur-ulur waktu, pura-pura sakit untuk menghentikan irama permainan lawan, mengatur dokter tim masuk ke lapangan dengan botol minuman yang sudah dioplos dengan obat penenang dan memberikannya kepada pemain lawan, serta sederet seni mengelabui wasit lainnya.

Billardo juga belajar dari tim 1978. Kendati mengagumi kedisiplinan dan mencuri taktik 3-5-2 sepakbola Eropa, ia tak meninggalkan kenakalan dan keculasan Argentina. Ia menciptakan tim yang bermain hati-hati, ultradefensif, dan dengan tempo lambat.

“Pertandingan bisa dimenangkan kalau kita tidak kebobolan,” begitu ia berfilsafat. Beruntung, ia diberkahi bek-bek terbaik sepanjang sejarah Argentina di lini belakang. Pasarella berada di puncak kematangan. Meski ia kemudian cedera, Jose Luis Brown menjadi pengganti yang sepadan. Di sisi kanan, otot-otot dan tampang Oscar Ruggeri membuat lawan jerih. Di sisi kiri, inteligensia Jose Luis Cuciuffo melengkapi okol keduanya.

Billardo meracik taktik untuk membuat satu bintangnya bersinar. Di lini tengah, ia mempekerjakan gelandang-gelandang disiplin dan bertenaga dalam trio Ricardo Giusti, Sergio Batista and Héctor Enrique. Dengan lini belakang yang solid dan intimidatif, mengandalkan kekuatan otot dan akal, dan lini tengah yang punya daya rusak, Maradona punya kebebasan.

Pendek kata, sejarah kejayaan Argentina di Piala Dunia diisi oleh dua hal yang saling bertentangan. Separuhnya berisi kejeniusan bakat-bakat terbaiknya. Separuhnya lagi berisi riwayat kecurangan, permainan buruk, dan yang paling utama: kehebatan para penjagal di lini belakang.

Argentina yang solid, bertahan, dan garang inilah yang hilang dari bayangan dan ingatan kita hari-hari ini.

Sepanjang tiga dekade terakhir, Argentina cenderung punya obsesi untuk mewujudkan gagasan Marcelo Bielsa dan para pemeluk teguhnya. Mereka bersikeras menerapkan permain menekan, intensitas tinggi dan tempo cepat, menguasai bola dengan umpan-umpan pendek, dan permutasi posisi pemain tanpa henti.

Gaya ini jelas resep menuju kegagalan. Gaya itu menjauhkan Argentina dari formula suksesnya. Pertama-tama, gaya itu membuat bek-bek sangar yang tugas utamanya adalah menghentikan penyerang lawan punah. Kita tak lagi melihat bek-bek Argentina yang kekar tapi licin, licik sekaligus cerdik, culas dan cekatan, pintar membaca permainan sekaligus pandai mengelabui wasit. Kita tidak lagi melihat, dalam bahasa pandit Jonathan Wilson, “Defender who can defend“, melainkan para bek yang dituntut mahir olah bola. Pemain balakang yang punya gaya khas Argentina terakhir yang kita bisa kenali adalah Roberto Ayala. Dan dia sudah pensiun dekade yang lalu.

Dengan mengadopsi permainan cepat dan tempo tinggi ala Bielsa, pemain-pemain yang punya kemampuan merentangkan ruang dan waktu di lapangan juga tak punya tempat. Tak heran Bielsa bertengkar dengan Juan Roman Riquelme dan Ariel Ortega. Tak heran Pablo Aimar tersingkir ke pinggir dan gagal menjadi protagonista. Jika bukan karena bermain dan sukses di Barcelona, Messi juga akan bernasib serupa.

Empat tahun lalu, Alejandro Sabella berusaha mengembalikan tradisi Argentina yang membosankan tapi solid itu. Ia sukses membangun tim yang kompetitif meskipun tidak atraktif. Dengan cara itu, ia berhasil menciptakan ruang yang lebar buat Messi untuk menampilkan diri.

Namun, kegagalan di final membuat semua orang menuntut dan membayangkan Argentina bermain seperti Spanyol atau Chili. Dan sampailah kita pada Sampaoli—setelah sebelumnya melihat murid Bielsa yang lain, Tata Martino, gagal total.

Sampaoli pelatih yang jenius. Coba tanya saja warga Chili atau pendukung Sevilla. Ia menginginkan Argentina yang dinamis, selalu berlari dan mengejar bola, menyerang dari sayap dengan tiga bek yang naik tinggi sehingga bisa mengalihkan perhatian lawan dari kaki Messi. Namun di situlah masalahnya. Ia terkesan berusaha terlalu keras untuk menjadi Pep Guardiola atau versi revisi dari Marcelo Bielsa.

Ia juga berusaha meniru Billardo dengan memakai tiga bek. Namun, ia tak punya pemain belakang dan gelandang yang solid. Alih-alih memperlambat tempo, agak menunggu dan bermain ke dalam sehingga merentangkan ruang untuk Messi, ia menciptakan tim Argentina persis yang dibayangkan dan diangankan mayoritas pendukung sepakbola: Argentina yang bermain cepat, menekan, dan menguasai bola.

Tapi ini juga bukan semuanya salah Sampaoli. Barangkali waktu memang tidak berpihak padanya. Argentina keteteran, pertama-tama, karena mereka tak punya pemain dan taktik yang, well, sangat Argentina. Selain tak punya bek-bek kuat secara fisik, brutal dan percaya diri, gaya menekan dan menguasai bola Sampaoli jelas tak memberi ruang bagi serangan balik.

Secara taktik, tim Argentina tak disiapkan untuk bertahan, menyerap tekanan pelan-pelan dan membuat frustrasi lawan, lantas dengan cerdik menyusun rencana khusus bagi Messi untuk memenangkan pertandingan. Tekanan besar dan angan-angan kebanyakan orang agar Argentina bermain atraktif dengan penguasaan bola telah membuat Argentina, selama seperempat abad terakhir, berusaha menjauh dari tradisinya.

Sampaoli jelas jauh lebih pintar dari seluruh pengamat dan penulis sepakbola paling hebat di dunia—jadi, tidak ada gunanya mengkritiknya. Namun, Argentina yang sedang ia bayangkan (yang juga dibayangkan oleh miliaran orang) jelas-jelas sebuah amnesia sejarah.

Sebagai pendukung Argentina hingga ke tulang, saya tak peduli Argentina bermain seperti apa dan dengan cara apa saja. Asalkan menang, saya rela jika mereka bermain dengan cara Iran atau Tunisia. Yang jelas Argentina masih punya kesempatan.

Izinkan pendukung Argentina yang merana ini sedikit mengutarakan harapan: Mudah-mudahan Sampaoli dan para pemainnya sedikit berani mengambil jalan yang telah di tempuh oleh Carlos Billardo atau Alejandro Sabella. Mereka tak harus bersikeras untuk menjadi imitasi Barcelona. Sebaliknya, semoga mereka bermain solid dan sesuai materi dan kebutuhan. Dengan begitu, telur yang sedang terjepit di bebatuan itu bisa saja pecah, dan menetas menjadi ayam kecil yang tertawa paling akhir usai pertandingan ke tujuh.

Konon, Piala Dunia di mulai dari pertandingan ketiga. Argentina bisa bangkit dari koma, mengalahkan Nigeria, dan melepaskan Messi dari kutukan sepakbola dan mengangkat trofi Piala Dunia.

Darmanto Simaepa
Penulis buku "Tamasya Bola: Cinta, Gairah, dan Luka dalam Sepakbola"; Pengelola blog Belakanggawang.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.