Selasa, Januari 19, 2021

Apa yang Diperkuat oleh Obat Kuat? Patriarki!

Pendidikan Agama Islam yang Pluralistis: Basis Nilai dan Arah Pembaharuan

Indonesia adalah negara yang majemuk dengan keragaman budaya, suku, dan agama. Keragaman merupakan kekayaan dan modal sosial, politik, dan spiritual yang apabila dikelola dengan...

Mengenang Sahabat Karib Saya, Bahtiar Effendy

Tadi pagi dalam perjalanan dari bandara ke rumah duka ada seorang wartawan bertanya tentang Almarhum Bahtiar Effendy dan saya jawab ringkas: Almarhum Bahtiar Effendy adalah...

Berkoalisi Membinasakan KPK

Dipenghujung masa jabatan Dewan Perwakilan Rakyat periode 2014-2019, seluruh fraksi bersepakat untuk merevisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi...

LGBT Juga Manusia

Baru-baru ini kita kembali agresif terhadap kaum LGBT. Bagaimana menyikapi ini? Mungkin, kita bisa mencontoh Paus Fransiskus. Dia tidak konservatif dan menerima orang lain...
Avatar
Ferena Debineva
Pendiri dan Ketua Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC).

obat-kuatPerkosaan, katanya, disebabkan oleh syahwat yang tak dikekang. Maka, untuk mencegahnya, sumbernya perlu diputus. Entah pelakunya dikebiri. Entah wanita tak boleh tampil terlalu bahenol atau keluyuran malam-malam.

Betulkah? Agaknya, sih, tidak selalu begitu.

Kultur punya peran dan letak kultur, yang jelas, bukan di selangkangan. Kultur kita membanggakan lelaki sebagai pelaku aktif kehidupan. Berbeda dengan perempuan yang dalam citra ideal dituntut santun dan nrimo, lelaki dituntut berbuat, mengambil keputusan, jadi agen perubahan—dan boleh juga ditambah, menyulut revolusi serta menyelamatkan dunia.

Karenanya, menjadi kuat bukanlah pilihan, melainkan kewajiban lelaki. Dan hal ini dianggap akan terdemonstrasi secara gamblang apabila ia sanggup menguasai orang lain. Laki-laki akan lebih memilih dilekatkan dengan “gagah”, “kuat”, “tangguh”, dibanding “lemah lembut”, “perhatian”, dan “penuh kasih”. Padahal, dua nilai yang dikira berseberangan ini seharusnya sama-sama penting.

Nah, pertunjukan kekuatan dan kekuasaan laki-laki, betapapun sudah dibangun laiknya menara tinggi menjulang, akan goyah seketika dihina dengan cercaan semacam “lemah syahwat”, “ejakulasi dini”, dan “disfungsi ereksi”. Pernahkah kita berpikir mengapa toko obat kuat menjamur, di setiap tikungan jalan, lapak jual beli online, grup Whatsapp, laman Facebook, atau dinding-dinding kantin dan kantor?

Jawabannya sederhana. Sesederhana teori ekonomi yang paling pertama kita pelajari di sekolah: kebutuhannya ada dan kebutuhannya memang setinggi itu.

Mulai dari viagra, chialis, tisu magic, hajar jahanam sampai ke ludah lebah, penis harimau, tanduk rusa, krim kuda jantan hitam, semua disediakan untuk memenuhi kebutuhan agar tak disebut “loyo”. Mungkin selanjutnya, pasar akan menyediakan pula air mata tujuh putri duyung di Kepulauan Bermuda.

Dan pernahkah Anda berpikir mengapa tidak ada Unicorn, kuda cantik bertanduk satu yang sering menghiasi cerita rakyat di sana-sini? Mungkin ia punah tanpa sisa karena diburu. Tanduknya dianggap obat kuat.

Pasar obat kuat, intinya, tidak pernah senyap. Apa yang dijajakan laris bak kacang goreng. Ia bahkan lazim menjadi hadiah spesial perkawinan bagi pasangan muda. Dan kalau mau efektif mengurangi jumlah perokok, mungkin pemerintah perlu menggiatkan kampanye rokok menyebabkan impotensi. Sejumlah laki-laki jelas-jelas menolak merokok menthol dengan alasan takut impotensi. Impotensi, bagi mereka, lebih menakutkan dibanding kanker dan kematian itu sendiri.

Tetapi bila Anda mau lebih terhibur, saya menyarankan membaca testimoni-testimoni obat kuat. Laki-laki pengonsumsinya mempertontonkan kuasa dan penaklukannya dengan bahasa yang menarik. “Istriku takluk dan menyerah”. “Cewekku kewalahan”. “Istri saya minta ampun”. “Mantap”. “5-0”.

Komentar tersebut tidak lain dan tidak bukan menggambarkan keinginan laki-laki dalam berhubungan intim dan berelasi. Hubungan intim diandaikan sebagai perburuan: agresif, penuh aksi, harga diri, dan mampu “mengalahkan” lawan main. Pada akhirnya, relasi bukan mengenai kasih sayang, perhatian, komunikasi, kompromi, dan kedekatan. Perkaranya hanya tiga: ereksi, durasi, ejakulasi.

Hubungan seksual pun melulu menjadi tontonan sirkus akrobatik, meledak-ledak, dan mengamini imajinasi laki-laki untuk menjadi ganas, buas, dan menjadi pemilik utuh atas pasangannya yang sebelumnya lebih tahan lama dibanding dirinya.

Dan saya nampaknya tidak perlu bicara tentang risiko kesehatan dari obat-obatan kuat ini, karena gagal ginjal dan gagal jantung lebih ringan dibandingkan gagal ereksi. Tak peduli betapa banyak bahaya yang dipaparkan atau fakta bahwa ia tak lebih dari sekadar plasebo. Obat kuat akan terus ada, tumbuh subur, laris, dan dipromosikan dengan gratis oleh kultur patriarkis.

Laki-laki membelinya bukan hanya dengan uang sejumlah sekian. Mereka menggadaikan pemecahan masalah hubungannya, kebutuhan afeksinya, demi kepuasan janggal tahan lima jam non-stop.

Esok-esok, karenanya, kita bisa menyalahkan obat kuat untuk ketidakmampuan laki-laki dalam memberikan kasih sayang. Ia menyibukkan mereka dengan persepsi, wanita harus dikalahkan, ditundukkan. Bukan disayangi.

Avatar
Ferena Debineva
Pendiri dan Ketua Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC).
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Apa Itu Tasalsul? Mengapa Tasalsul Mustahil?

Berbeda halnya dengan para teolog (al-Mutakallimun) yang bersandar pada dalil al-Huduts (dalam kebaruan alam), para filsuf Muslim pada umumnya menggunakan dalil al-Imkan (dalil kemungkinan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.