OUR NETWORK

Apakah Anda Konspirator Sejati?

Contohnya, ketika Anda adalah seorang mahasiswa kemudian dengan gaya kuliah malas-malasan, ogah-ogahan, absen sana absen sini, Anda mendapatkan nilai akhir A di banyak mata kuliah.
Sumber ilustrasi dari penulis

Anda punya pilihan untuk mempercayai atau tidak mempercayai sesuatu. Namun pada dasarnya manusia cenderung lebih mudah mempercayai sesuatu yang positif dan sesuai harapan.

Contohnya, ketika Anda adalah seorang mahasiswa kemudian dengan gaya kuliah malas-malasan, ogah-ogahan, absen sana absen sini, Anda mendapatkan nilai akhir A di banyak mata kuliah. Sebagai mahasiswa, tentulah mendapatkan nilai yang baik apalagi sempurna adalah tujuan namun dengan usaha yang asal-asalan tentu saja tidak sebanding.

Namun berapa persen dari Anda yang pernah mengalami ini dan tidak protes kepada dosen Anda? Saya pastikan ini sedikit.

Lalu kalau kasusnya saya balik, Anda mahasiswa rajin yang mati-matian belajar hingga larut malam, belajar di perpustakaan setiap ada waktu luang sampai mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh.

Anda bisa tebak, perjuangan Anda sia-sia, dibanding beberapa teman Anda yang pemalas, Anda malah dapat nilai C.

Lalu mulai muncul sumpah serapah kepada sang dosen atau kalau berani, Anda akan mencoba melayangkan protes lalu bicara pengorbanan ini-itu yang sudah Anda lakukan.

Saya harap Anda paham analoginya, manusia cenderung lebih cepat melakukan tindakan untuk mengurangi rasa ketidaknyamanan akibat sikap, pemikiran dan perilaku yang bertentangan dengan motivasi mereka.

Hal pertama yang Anda lakukan, ketika sesuatu terjadi nampak jauh dari harapan adalah ‘mempertanyakannya’, selanjutnya bisa menangis, marah atau koprol itu terserah Anda.

Konspirasi

Namanya teori disonansi kognitif terkenal juga dengan teori anggur masam ini dipopulerkan oleh seorang psikolog bernama Leon Festinger pada tahun 1950-an.

Teori dalam ranah psikologi sosial dianalogikan dengan fabel dari Aesop yang berjudul “Serigala dan Anggur”. Seekor serigala yang sangat ingin makan anggur namun ia tidak bisa menggapai anggur tersebut. Karena kecewa, sang serigala membangun sebuah pemikiran bahwa anggur tersebut masam untuk mengurangi rasa kecewanya, padahal belum tentu.

Lalu apa yang membuat saya berfikir serigala ini adalah perwujudan dari para manusia pendukung konspirasi covid-19?

Setelah new normal diresmikan, lonjakan pasien Covid-19 tidak terelakkan. Setiap sore kita dijejali dengan pengumuman satuan tugas covid-19 dengan jumlah pasien dan korban yang meningkat. Rasa takut memborong hand sanitizer dan sabun antiseptik sudah berganti dengan kebosanan dan kekecewaan kita dengan sistem yang dilakukan pemerintah. Berita negatif tentang wabah ini semakin sering kita temukan dimana-mana, bahkan sampai kepada sosial media pribadi kita.

Kita takut, khawatir dan kecewa, namun karena ini telah terjadi berbulan-bulan kita menginginkan sesuatu dapat membuat kita nyaman. Perasaan inilah yang mendorong kita untuk melakukan suatu tindakan dengan dampak-dampak yang tidak dapat diukur.

Dalam teori ini disebut juga istilah disonansi yang membawa kita pada inkonsistensi, sebab itulah kita berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan pada konsisten, meski berada dalam krisis. Yang paling mudah adalah membentuk konspirasi.

Konspirasi tumbuh subur karena setiap masyarakat memiliki kecemasan dan obsesinya sendiri. Pernyataan ini dikemukakan oleh Karen Douglas, seorang psikolog sosial dari University of Kent. Konspirasi ini adalah bentuk perlawanan kita ditengah kecemasan yang berkepanjangan.

Ketika orang kehilangan kendali atau merasakan kecemasan, itu membuat mereka lebih rentan terhadap konspirasi kepercayaan. Sayangnya, ini berarti bahwa pandemi selalu menjadi tempat berkembang biaknya teori konspirasi

Saya yakin, konspirasi ini tidak akan ‘terlalu’ laku kalau kurva pertambahan dan kematian covid-19 melandai drastis.

Misleading

Beberapa saat lalu, sempat heboh seorang public figur yang berkomentar dengan opininya terhadap sebuah foto karya jurnalis foto di salah satu media.

Anji mengomentari sebuah unggahan foto karya jurnalis Joshua Irwandi mengenai jenazah pasien Covid-19 yang menjadi viral di media sosial. Anji menyebut ada beberapa kejanggalan dalam foto tersebut. Misalnya soal fotografer yang bisa melihat jenazah saat keluarga tidak diperkenankan.

Anji mengalami pola yang sama dengan analogi diatas, ada ketidaknyamanan dalam dirinya yang membuatnya bertanya-tanya. Kenapa begini-kenapa begitu. Salahnya, pertanyaan-pertanyaan ini tidak ia tanyakan langsung pada narasumber kompeten. Ia malah lari menyuarakan sesuatu yang ia sebut sebagai ‘opini’ lewat kanal sosial media.

Saya tidak akan membahas kasus ini lebih lanjut karena sudah selesai, namun yang mau saya garis bawahi adalah orang-orang yang terlanjur memakan ‘opini’ Anji mentah-mentah.

Efek setelah misleading yang dia tulis sebagai opini ini yang berbahaya. Singkatnya, Anji membawa Anda ke jalan kebingungan, dia sudah gak bingung, tapi Anda masih berputar-putar.

Kalau saya yang bukan siapa-siapa ini menggaungkan opini tak berdasar lewat sosial media, paling-paling teman-teman saya yang akan mencap saya sedang kurang makan, sampai-sampai tidak bisa berpikir jernih. Selebihnya, ya.. hanya dianggap angin lalu.

Berbeda lagi kalau Anda adalah public figure, atau istilah lebih kerennya influencer yang artinya sebagai orang yang memberikan pengaruh. Teori konspirasi akan lebih memiliki taring jika yang berbicara adalah orang-orang di ranah ini.

Berdasarkan pengertian yang dikemukakan Douglas, teori konspirasi berusaha menjelaskan bahwa ada pihak-pihak yang memiliki kekuatan, berkomplot secara rahasia untuk menampilkan sebuah situasi yang berdampak masif secara sosial dan politik.

Sedangkan menurut Joseph Kosinski, profesor ilmu politik dari University of Miami, menyebutkan bahwa Teori konspirasi merupakan alat bagi yang lemah untuk menyerang sekaligus bertahan melawan yang kuat.

Lalu mana pengertian yang benar? Saya rasa dua-duanya benar. Para influencer ini memang punya kekuatan mempengaruhi pengikut mereka, namun kekuatan mereka masih lebih lemah jika dibandingkan pemerintah yang memegang kekuasaan dalam sebuah sistem. Anda bisa bayangkan betapa lemahnya saya, orang biasa dalam hirarki ini.

Anda boleh bertanya-tanya, menjadi bodoh adalah hal wajar. Tapi ingat yang tidak boleh Anda lakukan adalah menjadi sok tahu. Apalagi sok tahu sampai mengajak orang lain.

Mungkin akan mengeluarkan sedikit tenaga, berkelana di internet, mencari-cari jurnal ilmiah terpercaya, sampai bertanya kepada orang-orang yang kompeten. Tidak apa-apa, ini adalah proses paling rasional yang bisa Anda lakukan untuk mendapatkan ketenangan dalam krisis besar seperti sekarang.

Saya adalah mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Jawa Barat. Sedang belajar menulis dan akan selalu belajar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.