Rabu, Desember 2, 2020

Anomali Dukungan terhadap Basuki?

Petani Jambu dan Harapan Baru

Sektor pertanian adalah cerita kebesaran Indonesia, setidaknya pada masa lalu. Indonesia pernah menjadi eksportir gula nomor 2 terbesar dunia, sebelum menjadi importir sejak 20...

Bahaya Politisasi Agama

Bagaimana hubungan agama dan politik adalah perdebatan klasik yang tak kunjung usai, entah sampai kapan. Ada yang mengatakan perdebatan ini akan berhenti dengan sendirinya...

Bagaimana Indonesia Jadi Budak Investor Asing

Jika kualitas pembangunan sumberdaya manusia menjadi ukuran kemakmuran, Indonesia jauh ketinggalan dari negeri-negeri Amerika Latin. (Lihat Tabel). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia kurang-lebih sama...

Pseudo Sunyi, Ramadan Pandemi

Sebelum memasuki awal Ramadan 2020/1441H, umat Muslim dan juga warga dunia dihentakkan dengan wabah baru yang menyebar ke segala penjuru benua. Wabah flu mematikan...

ahok-semanggiGubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menjelaskan proyek jembatan layang simpang susun Semanggi dalam acara groundbreaking di Jakarta, Jumat (8/4). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Dalam beberapa survei yang sudah dirilis menyangkut Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta, Gubernur petahana, Basuki Tjahaja Purnama, mendapat dukungan yang signifikan. Popularitasnya nyaris 100 persen, dan elektabilitasnya di kisaran angka 50 persen atau lebih. Banyak kalangan menganggap, termasuk Basuki sendiri, tingginya popularitas dan elektabilitas ini merupakan anomali.

Anomali merupakan sesuatu yang berada di luar kebiasaan. Dalam bahasa lain penyimpangan atau keanehan yang terjadi. Saya lebih suka memaknai sebagai bentuk penyimpangan dalam pengertian yang positif atau konstruktif. Misalnya sesuatu yang dianggap negatif namun berdampak positif itulah anomali.

Dukungan terhadap Basuki bisa disebut anomali karena tiga sebab. Pertama, Basuki merupakan representasi dari minoritas kuadrat. Minoritas dari segi agama dan minoritas dari segi suku (ras). Dalam tataran yang normal, agama dan ras merupakan dua aspek yang memiliki keterkaitan yang signifikan antara pemilih dan yang dipilih.

Karena faktor suku, misalnya, Jusuf Kalla pernah berujar bahwa dirinya tidak akan bisa menjadi presiden RI karena bukan berasal dari Jawa, suku mayoritas Indonesia. Dalam memilih pasangan calon presiden, mempertimbangkan kejawaan untuk salah satu dari pasangan menjadi keniscayaan.

Dalam soal agama, bukan sekadar representasi, bahkan sebagai non-Muslim, Basuki digempur dengan dalil-dalil yang mengharamkan umat Muslim untuk memilih pemimpin non-Muslim.

Kedua, Basuki selalu dikait-kaitkan dengan kasus tindak pidana korupsi, terutama pada kasus pembelian tanah Rumah Sakit Sumber Waras dan pada kasus reklamasi pantai utara Jakarta. Soal apakah tuduhan itu benar atau tidak, bukan hal yang penting bagi mereka yang tidak menyukai Basuki, tapi tuduhan yang bertubi-tubi itu, pada tataran yang normal mestinya akan menggerus popularitas Basuki.

Ketiga, Basuki dituduh anti rakyat kecil karena kebijakan-kebijakannya yang tegas dalam menertibkan beberapa tempat yang menjadi hunian rakyat kecil, seperti dalam kasus relokasi warga Kampung Pulo (Jakarta Timur), Kalijodo (Jakarta Barat), dan kawasan Luar Batang (Jakarta Utara). Menurut data demografi, warga Jakarta mayoritas merupakan kalangan menengan ke bawah. Mereka inilah yang menurut para pembenci Basuki merupakan warga yang dipinggirkan oleh kebijakan-kebijakan Basuki.

Lantas mengapa Basuki tetap disukai dan didukung oleh mayoritas warga Jakarta yang dalam ukuran normal seharusnya tidak mendukungnya? Ada tiga jawaban untuk pertanyaan ini.

Pertama, karena keberhasilan Basuki dalam mereformasi birokrasi di Jakarta. Warga Jakarta merasakan betul perubahan yang terjadi dalam sistem birokrasi, yang sebelumnya lambat menjadi serba cepat, yang sebelumnya koruptif menjadi bersih. Dalam pengurusan KTP, kartu keluarga, dan hal-hal lain yang terkait langsung dengan kebutuhan warga, dapat dilayani dengan cepat dan tanpa biaya.

Kedua, tingkat kepuasan publik yang tinggi terhadap kinerja Basuki berjalan paralel dengan tingkat elektabilitasnya. Bagi para petahana, penilaian kepuasan kinerja menjadi faktor utama untuk menjadikannya terpilih kembali. Justru menjadi sangat aneh jika kepuasan terhadap kinerja tidak dibarengi dengan tingginya elektabilitas.

Ketiga, berdasarkan kedua fakta di atas, warga Jakarta masuk dalam kategori pemilih yang rasional. Memilih bukan berdasarkan alasan-alasan yang subjektif dan emosional, melainkan berdasarkan pada alasan-alasan yang objektif dan rasional. Maka, perbedaan agama, suku, dan tuduhan-tuduhan yang dinilai tidak objektif tidak akan banyak berpengaruh bagi para pemilih rasional.

Di luar ketiga hal di atas, bisa jadi, keluhan-keluhan tentang Basuki yang selama ini terekspose, terutama di media sosial, berasal bukan dari warga Jakarta. Mereka pada umumnya berasal dari kota-kota penyangga Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Penduduk yang berasal dari kota-kota penyangga ini pada umumnya tidak puas dengan keberadaan kotanya sendiri yang masih diliputi beragam persoalan, terutama yang berkaitan dengan pelayanan publik, kemacetan, dan banjir.

Ketidakpuasan mereka kemudian ditimpakan juga pada Jakarta karena dalam aktivitas sehari-harinya lebih banyak dilakukan di Jakarta, baik disebabkan karena keberadaan tempat pekerjaan maupun karena alasan-alasan lain yang membuat mereka lebih banyak berada di Jakarta.

Padahal, dalam survei-survei yang menyangkut kinerja Basuki, mereka yang bukan penduduk Jakarta ini tidak termasuk dalam objek survei. Keluhan-keluhan mereka tentang Jakarta (yang sebenarnya imbas dari ketidakpuasan mereka pada kotanya sendiri) tidak terekam dalam temuan survei sehingga tidak ada korelasinya dengan tingkat kepuasan dan keterpilihan Basuki.

Jadi, kalau ada ungkapan, semakin dicaci maki, Basuki akan semakin disukai, ini sama sekali bukan karena anomali, tapi karena yang mencaci maki Basuki adalah mereka yang masih menilai dan memilih pemimpin berdasarkan alasan-alasan yang subjektif dan emosional, sementara warga Jakarta pada umumnya menilai dan memilih berdasarkan alasan-alasan yang objektif.

Atau bisa jadi, karena yang mencaci maki Basuki pada umumnya bukan merupakan penduduk Jakarta yang otomatis tidak memiliki hak pilih di Jakarta. Mereka hanya menjadikan Jakarta dan gubernurnya sebagai sasaran sumpah serapah dari permasalahan-permasalahan hidup yang mereka hadapi.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.