OUR NETWORK

Anies Baswedan dan Muhadjir Effendy di Mata Nahdliyyin

anies-muhadjir
Anies Baswedan dan Muhadjir Effendy.

Saya nahdliyyin sejak kecil hingga sekarang. Tidak hanya nahdliyyin kultural, namun struktural plus administratif karena saya juga memegang kartu tanda Nahdlatul Ulama. Pokoknya lengkap. Jika disuruh memilih dua kader terbaik Muhammadiyyah di posisi puncak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pak Anies Baswedan atau Pak Muhadjir Effendy, saya akan memilih yang pertama. Dengan demikian Pak Muhadjir jelek? Tidak sama sekali.

Keduanya saya yakin memiliki visi sama terkait revolusi mentalnya Joko Widodo. Hanya saja mazhabnya agak berbeda. Contohnya, Pak Anis mengambil sikap zero tolerance penggunaan kekerasan dalam dunia pendidikan. Sedangkan Pak Muhadjir lebih nyentrik, let’s just say an old-fashioned way.

Pak Muhadjir mengingatkan saya waktu masih bocah. Saat ngaji, pembimbing saya kerap memegang penggaris kayu panjang. Tentu dia tidak sedang mengajar geometri pada saat yang sama. Ia saya kira tengah memutar switch saklar. Kasih sayang yang awalnya bernuansa lembut mendadak bertiwikrama secara intimidatif. Tidakk usah nanya apakah saya pernah kena sabet penggaris itu. Jangan pula kepo betapa gugupnya saya saat datang mengaji. Kekhawatiran selalu merambat. Fokus saya terpecah: antara bait al-Qur’an dan ancaman penggaris.

Di surau lain, tempat kawan saya mengaji, tiwikramanya malah unik. Anda tahu balsem? Itu lho krim ijo yang kerap digunakan saat perut mules atau mengurut saat kaki terkilir, yang panasnya minta ampun itu. Pembimbing ngaji kerap mewanti-wanti para murid agar benar mendengungkan makhrajul huruf, tajwidnya harus tertib. Begitu pula panjang pendek bacaan. Jika tidak, ia berkata sembari memperlihatkan tube bergambar burung, “Krim putih pedas ini akan mampir ke bibirmu.” Jleb.

Saya dan kawan saya tidak pernah tanya kenapa harus dengan penggaris atau krim “nikmat” itu? Kami tidak punya cukup keberanian untuk bertanya. Kami terlalu penakut untuk protes. Justru kami menganggap praktik tersebut sebagai rasa cinta pembimbing pada muridnya. Kalau kami mengadu ke orangtua biasanya mereka memaklumi tindakan pembimbing. “Makanya belajar ngaji yang benar, Le,” begitu mereka pernah bilang.

Sejujurnya kami tidak suka dengan bagaimana kami diperlakukan, but was there any other options we had? Tidak ada. Kami selalu merasa opsi yang tersedia hanya take it or leave it.

Belakangan, saya tahu terdapat semacam code of conduct yang wajib dipatuhi oleh murid dalam tradisi Islam sunni. Satu di antaranya adalah murid dilarang keras berprasangka jelek terhadap apa pun yang dilakukan gurunya. Bahkan jika murid menganggap tindakan guru itu masuk dalam kategori kemungkaran atau tidak diridhai Alloh sekalipun. Imam al-Ghazali dalam Bidayat al-Hidayah, kitab wajib di kalangan pesantren, menganggap gurulah satu-satunya entitas yang mengetahui rahasia yang terkandung dalam perbuatannya, bukan murid.

Sufisme (tarekat) yang begitu mengakar dalam tradisi pesantren punya pengaruh cukup kuat bagaimana relasi guru-murid dipersepsikan. Dalam konteks ini, murid tidak dianggap punya posisi tawar sedikit pun di hadapan gurunya (mursyid). Ia harus rela dilucuti hak-haknya. Patuh total seperti mayat. Dalam Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf, Abubakar Atjeh melukiskan ringkihnya posisi murid dengan telanjang.

“Engkau laksana mayat terlentang
Di depan gurumu terletak membentang
Dicuci di balik laksana batang
Janganlah engkau berani menentang
Perintahnya jangan engkau elakkan
Meskipun haram seakan-akan
Tunduk dan taat diperintahkan
Engkau pasti ia cintakan
Biar semua perbuatannya meskipun berlainan dengan syara’nya
Kebenaran nanti akan nyatanya
Bagimu akan jelas putus asa
Pada akhirnya ia terasa
Pada akhirnya jelaslah sudah
Tampak padanya secara mudah
Kekuasaan Allah tidak tertadah
Ilmunya luas tidak termudah”

Hingga sekarang pengalaman kekerasan atas nama pendidikan dalam hidup saya menebalkan keyakinan: kekerasan itu tidak enak, bahkan atas nama kasih sayang sekalipun. Kasih sayang yang bersandar pada ancaman represivitas sesungguhnya adalah ketakutan, bukan penghormatan. Itu barangkali yang melandasi kuatnya kesepakatan global penghapusan penggunaan dalam berbagai bentuk, termasuk pada orang yang sudah divonis bersalah sekalipun.

Dalam 10 tahun terakhir ini, saya sering menjadi guru kagetan di berbagai forum pelatihan maupun workshop, sebutan umumnya fasilitator. Saya tidak pernah sekalipun membawa penggaris maupun krim neraka setiap kali mengorkestrasi forum, apalagi sembari ngomong “Yang tidak menghormati forum akan saya olesi krim ini!” Meskipun demikian, saya merasa forum tetap berjalan tertib, santai, demokratis. Dan tidak sedikit pun saya merasa kehilangan respek peserta.

Kekerasan dalam pendidikan adalah cara kuno. Ia selalu meyakini setiap orang tidak akan berubah menjadi baik tanpa kekerasan. Dulu, cara mendidik seperti ini kerap diterapkan oleh tuan terhadap budaknya. Budak dianggap bukan sepenuhnya manusia tapi separuh hewan, yang oleh karenanya wajib diperlakukan sebagaimana layaknya binatang: butuh kekerasan.
Tidak, saya tidak pernah dan tidak akan menganggap siapa pun sebagai binatang.

Saya percaya ada banyak cara yang bisa dilakukan selain kekerasan dalam pendidikan. Ini bukan teori, karena saya mempraktikkannya.

Dengan reasoning demikianlah saya lebih suka Pak Anies. Bagi Anda yang merasa lebih cocok dengan Muhadjir’s way, silakan saja. Akan tetapi kita harus sadar setiap pilihan yang kita ambil mengandung konsekuensi-konsekuensi di dalamnya.

Aan Anshori
Kordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD), aktifis GUSDURian.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…