Sabtu, Oktober 24, 2020

Anak Tiri Jokowi itu Bernama Novel Baswedan

Di Balik Silaturahmi Syekh Al-Azhar dan Paus

Senin lalu (23 Mei) pemimpin tertinggi Al-Azhar, Syekh Ahmad Muhammad al-Tayyib, mengunjungi Vatikan dan bertemu dengan Paus Fransiskus. Silaturahmi pemimpin umat Sunni dan Katolik...

Haji Bukan Ritual “Sadomasokis”

Untuk kesekian kalinya tragedi itu terjadi, dengan memakan korban nyawa para jamaah haji yang begitu banyak. Dan, sejauh ini belum ada upaya yang secara...

Catatan dari Notre Dame: Belajar Menghargai Perbedaan Keyakinan

(Ilustrasi). Dua perempuan Irak membawa Al-Quran dan Al-Kitab di tanah kelahiran mereka. www.avvenire.it Jumat, 29 April. Akhir semester musim semi di Universitas Notre Dame. Berarti,...

Ulama Salafi, Tajam Penanya Bukan Keras Mikrofonnya

Peradaban dibangun oleh budaya baca—literat. Bukan pidato di panggung sambil jari menunjuk berharap applaus. Lebih serem lagi, ngaku failasuf produksinya meme. Peradaban Yunani kuno dibangun...
Avatar
Feri Amsari
Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO), Pengajar Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang.

Nasib baik menghampiri Baiq Nuril. Presiden Joko Widodo bersedia turun tangan menyelamatkannya dari jerat pidana yang menimpanya. Sebagai korban pelecehan seksual yang mengalami kriminalisasi, Nuril patut mendapat keadilan. Rasa keadilan publik menyeruak ketika Presiden menghapuskan pertanggungjawaban pidana Nuril melalui amnesti berdasarkan Pasal 14 Ayat (2) UUD 1945. Dengan langkah-langkah konstitusional, Presiden telah menyelamatkan Nuril.

Respons sama ditunjukan pemerintahan Jokowi dalam kasus drg. Romi di Kabupaten Solok Selatan. Begitu kasus ketimpangan perlakuan terhadap penyandang disabilitas itu mencuat, beberapa menteri Kabinet Jokowi sigap bergerak menyelamatkan hak Romi. Langkah sigap yang sama juga dilakukan Jokowi terhadap korban kerusuhan 21-22 Mei lalu. Presiden segera mereparasi hak-hak konstitusional para pedagang yang mengalami kerugian materiil dalam kerusuhan politik tersebut.

Kesigapan Jokowi patut diacungi jempol. Hadir pada saat yang tepat. Sikap itulah yang dibutuhkan dari seorang kepala negara. Namun, kesan sigap itu hilang jika bicara penuntasan kasus Novel Baswedan, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang disiram air keras hingga mengalami cacat mata. Presiden memang menyadari kasus ini rumit, tapi bukan berarti tidak ada solusinya.

Beberapa langkah Presiden dianggap tidak maksimal, bahkan terkesan sengaja berputar-putar. Meski telah membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) dan telah mengumumkan hasilnya, tim bentukan Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian itu kabur dalam menentukan siapa dalang penyerangan Novel. Setelah hasil yang kabur itu disampaikan, Presiden malah memberi waktu tambahan untuk mengungkap dalang tak jelas itu.

Hebatnya, jika Presiden memberi batas waktu 3 bulan, tapi kepolisian tetap menghendaki 6 bulan untuk tugas tambahan itu. Lalu, apa yang membuat Presiden kehilangan kesigapan untuk menuntaskan kasus ini? Apa yang menyebabkan Novel diperlakukan laiknya anak tiri?

Persis penyebabnya tentu saya juga tidak mengetahuinya. Tapi, bukan tidak bisa memperkirakannya pelakunya. Misalnya, kasus-kasus yang ditangani Novel bisa menjadi alat penelusuran awal. Anehnya, beberapa kasus besar malah tidak dijadikan titik awal untuk menemukan pelaku. Padahal seluruh hal yang pernah ditangani Novel berpotensi ditemukannya pelaku penyiraman air keras.

Siapa pun pelakunya, Presiden punya kekuatan membongkar kasus ini, menemukan pelaku, dan motif yang melatarbelakanginya. Sebagai atasan dari kepolisian dan kejaksaan, Presiden bahkan dapat membentuk TGPF yang lebih mumpuni dan bebas kepentingan untuk membongkar kasus yang terlalu berat bagi polisi.

Hak Konstitusional Novel

Novel memiliki hak konstitusional yang harus dilindungi Presiden. Pasal 28G Ayat (2) UUD 1945 memberikan perlindungan terhadap setiap orang dari penyiksaan. Bahkan setiap serangan terhadap penyidik KPK merupakan tindak pidana tersendiri dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. Seluruh pihak yang terlibat dapat dikenakan pidana tindakan menghalang-halangi proses hukum dalam perkara korupsi dan tentu saja tindak pidana yang diatur dalam KUHP.

Jadi, Novel punya hak konstitusional yang sama dengan Baiq Nuril, drg. Romi, dan korban kerusuhan 21 Mei. Satu-satunya yang membuat Presiden yang sigap itu terkesan lamban bertindak dalam kasus Novel bukan tidak mungkin karena terlibatnya pelaku yang berasal dari “kelas atas” dari struktur masyarakat, yaitu politisi, pebisnis, dan/atau aparat penegak hukum.

Presiden yang memiliki kewenangan powerful itu harus berani tegas terhadap kelas atas yang terlibat. Sebab, rasa keadilan harus menyentuh seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyidik KPK yang menjadi korban kerakusan tangan-tangan kelas atas. Sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, tidak ada hambatan bagi Presiden untuk membongkar misteri ini semua. Sikap tegas Presiden tidak hanya ditunggu publik Tanah Air, tetapi juga pihak luar yang ingin menantikan kepastian hukum dapat ditegakkan dalam pemerintahannya.

Sebagai penyidik KPK, Novel adalah bagian dari Presiden Jokowi. Membiarkan pelaku penyerangan Novel berarti melecehkan pemerintahannya. Jangan sampai perlakuan yang berbeda terhadap kasus Novel menyebabkan Jokowi dituduh menganak-tirikan upaya pemberantasan korupsi.

Kolom terkait

Pak Jokowi, KPK Menjemput Maut

Denny Siregar dan Usaha Merobohkan Independensi KPK

Semangat Novel Baswedan, Mendefinisikan Korupsi (II)

Pak Jokowi, KPK Menjelang Ajal

Awas! Ada Musang Pro Koruptor Di KPK

Avatar
Feri Amsari
Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO), Pengajar Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

Pesan untuk Para Pemimpin dari Imam Al Ghazali

Dalam Islam, pemimpin mempunyai banyak istilah, di antaranya, rain, syekh, imam, umara’, kaum, wali, dan khalifah. Istilah rain merupakan arti pemimpin yang merujuk pada...

Gerakan Mahasiswa, Belum Beranjak dari Utopia?

Sampai hari ini retorika gerakan mahasiswa agaknya belum beranjak dari utopia yang meyakini perannya sebagai agen revolusioner yang mendorong perubahan. Sering kali retorika tersebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Gerakan Mahasiswa, Belum Beranjak dari Utopia?

Sampai hari ini retorika gerakan mahasiswa agaknya belum beranjak dari utopia yang meyakini perannya sebagai agen revolusioner yang mendorong perubahan. Sering kali retorika tersebut...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.