in ,

Aming-Kevin dan Problem Multiplisitas Identitas


aming3Pekan lalu komedian Aming Supriatna Sugandha alias Aming resmi menikahi Evelyn Nada Anjani atau yang disapa Kevin. Sebetulnya tak ada yang istimewa ketika ada orang yang saling jatuh cinta kemudian menikah. Tetapi, pernikahan Aming dan Kevin menjadi perhatian publik bukan sekadar karena mereka selebriti, melainkan juga karena pernikahan mereka dinilai sebagai pernikahan yang penuh misteri. Ada pula yang menilai sebagai sejenis.

Di dunia maya, tak sedikit orang menyampaikan ucapan selamat kepada keduanya. Tetapi, sebagian netizen tidak sedikit pula yang mengecam pernikahan mereka karena dianggap pernikahan ala lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Para netizen yang terbiasa melihat pernikahan heteroseksual, ketika melihat pernikahan Amink-Kevin wajar jika bereaksi. Bisa jadi itu karena ketidakjelasan status gender pasangan itu.

Siapa pun yang melihat foto-foto pernikahan Aming-Kevin tentu akan bertanya siapa sebetulnya yang laki-laki dan siapa pasangan perempuannya?

Meski secara biologis Aming laki-laki, dalam banyak sinetron, film, dan acara yang dibintanginya ia acap kali tampil sebagai sosok banci yang menampilkan perilaku perempuan dan melambai. Sedangkan istri Aming yang secara biologis lahir sebagai perempuan, dalam penampilannya justru tampak macho.

Masyarakat yang sudah terbiasa hidup dalam konstruksi normatif bahwa pernikahan harus heteroseksual, tentu jengah dan bahkan mungkin bersikap kritis ketika yang mereka saksikan adalah pernikahan pasangan dengan identitas gender yang amat cair, dan bahkan bisa saling tukar satu dengan yang lain.

Baca Juga :   Tasrif Award, LGBT, dan Menteri Lukman Saifuddin

Multiplisitas Identitas
Dalam perspektif masyarakat yang terbiasa hanya mengenal pembagian jenis kelamin laki-laki dan perempuan, munculnya kategori baru gender yang didasarkan orientasi seksual dan peran yang dikembangkan di dunia nyata, tentu menimbulkan guncangan tersendiri. Bagi masyarakat yang cenderung bersikap kaku pada norma-norma heteroseksual, tentu sulit menerima perkembangan baru di masyarakat tentang munculnya fenomena LGBT.


Aming sebelumnya pernah membuat heboh masyarakat ketika tampil di parade LGBT di Amerika Serikat dengan pakaian yang sangat minimalis. Maka, wajar belaka jika pernikahannya mengejutkan banyak pihak. Kevin, pasangan Aming, walau secara biologis perempuan, ia tampak tampil maskulin, sehingga pernikahan mereka pun kemudian dipandang sebagai ekspresi dari kelompok liyan (the other) yang acap kali dipandang sinis, dikucilkan, dan bahkan diharamkan.

Pada titik inilah, wajar jika ada sebagian netizen yang kemudian mempertanyakan pernikahan Aming-Kevin.

Bagi masyarakat yang tak mengakui adanya multiplisitas identitas yang mengimplikasikan anti-identitas atau bahkan non-identitas (Ritzer, 2014), niscaya mereka akan menolak keyakinan dan nilai-nilai yang diusung kelompok LGBT. Kelompok ini dinilai cenderung menentang pengetahuan normatif dan identitas, dan mendefinisikan dirinya sebagai tak dapat didefinisikan.

Di mata sebagian masyarakat, pernikahan Aming-Kevin dikhawatirkan akan dapat mempengaruhi perkembangan iklim buruk masyarakat karena seolah melegalisasi pernikahan sejenis.

Bagi orang-orang tertentu, mungkin juga termasuk Aming dan pasangannya, umumnya tidak mementingkan identitas. Sebab, dengan identitas normatif yang dikonstruksi masyarakat justru yang terjadi biasanya adalah menempatkan kelompok lain yang tidak disukai seperti mereka sebagai the other. Tetapi, bagi masyarakat yang selama berabad-abad telah terkonstruksi bahwa identitas gender hanya mengenal status laki-laki dan perempuan, yang dirasakan kemudian adalah ketidakpastian, pertanyaan, dan bahkan gugatan.

Baca Juga :   Bunuh Diri dan Keterasingan

Batu Ujian
Pernikahan Aming-Kevin tampaknya adalah fenomena baru dan menjadi model pertama kemungkinan terjadinya pernikahan dalam konteks bukan selalu pernikahan heterogenitas yang konvensional seperti layaknya masa-masa lalu. Menyikapi pernikahan Aming-Kevin, tentu sah-sah saja jika ada sikap sebagian masyarakat yang menolak atau mempergunjingkan pernikahan seperti itu. Dan sah-sah pula jika ada sebagian masyarakat lain yang memahami dan bisa menerima hal itu sebagai konsekuensi perkembangan zaman.

Dalam konteks masyarakat yang masih didominasi nilai-nilai patriarkis, tentu sulit diharapkan sebagian masyarakat yang konvensional akan mau berlapang dada mengakui adanya pernikahan sejenis dalam komunitasnya, apalagi di rumahnya. Tetapi, dalam konteks perkembangan masyarakat postmodern yang makin cair dan mengakui identitas gender yang terfragmentasi dan partikularistik, kemungkinan adanya masyarakat yang bersikap lebih terbuka bukan berarti tidak ada.

Sebuah pernikahan yang kental dengan muatan LGBT, niscaya akan selalu menyulut kontroversi. Tetapi, apakah sikap memperlakukan orang-orang dengan orientasi baru gendernya yang cair sebagai pihak tertuduh, the other, dan karenanya sah untuk dikucilkan merupakan jawaban yang adil?

Kalaupun kita sepakat menganggap LGBT adalah bagian dari perilaku masyarakat yang menyimpang dan aneh, lantas apa yang seharusnya kita lakukan agar kita tidak semata memperlakukan mereka sebagai terdakwa yang disalah-salahkan?

Sebelum memutuskan untuk menghakimi apakah LGBT perlu diharamkan atau tidak, dan apakah pernikahan seperti yang dilakukan Aming-Kevin sah atau tidak, ada baiknya jika masyarakat mencoba memahami persoalan ini dari perspektif yang berbeda, kritis, dan kemudian mencarikan jalan keluar yang terbaik dari situasi yang ambigu seperti ini.

Baca Juga :   LGBT Tidak Pernah Memilih

Kontroversi pernikahan Aming-Kevin adalah sebuah batu ujian. Jika kita gagal melewati ujian ini, dan tidak berusaha menyikapi kasus ini dengan segala kearifan, jangan kaget jika kelak di kemudian hari kita akan dihadapkan pada persoalan kepastian identitas gender yang makin pelik.

Terkait:

Belajar Gender dan Orientasi Seksual dari Pernikahan Aming


Written by Nadia Egalita

Nadia Egalita

Lulusan Faculty of Art Monash University Australia. Sekarang melanjutkan pendidikan ke Program S2 Communication and Media Studies, Monash University Australia

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR