in ,

Alienasi Guru dalam Ideologi Kompetisi


Sejumlah murid Sekolah Dasar(SD) berjajar antre untuk bersalaman kepada gurunya sambil mengucapkan Selamat Hari Guru di halaman Sekolah Dasar 1 Mlati Lor Kudus, Jawa Tengah, Jumat (25/11). Selain untuk memperingati Hari Guru kegiatan tersebut juga untuk menumbuhkan rasa mencintai dan menghormati para guru. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/pd/16.
Sejumlah murid SD antre bersalaman kepada gurunya sambil mengucapkan Selamat Hari Guru di halaman SD 1 Mlati Lor Kudus, Jawa Tengah, Jumat (25/11). Selain memperingati Hari Guru, kegiatan tersebut juga untuk menumbuhkan rasa mencintai dan menghormati para guru. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/pd/16.

“Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan.”
[Lagu Hymne Guru, R. Sartono]

John Tylor Gatto memutuskan untuk menyudahi karier cemerlangnya sebagai guru pada tahun 1991. Ironis, di tahun ke-30 pengabdiannya sebagai guru di Community District 3, Manhattan, itu ia sesungguhnya meraih gelar The New York State Teacher of the Year, guru teladan se-Negara Bagian New York. Deretan penghargaan dan hadiah telah dia raih sebelumnya sebagai guru yang sukses.

Keputusan itu tak terpisahkan dari urusan konflik pribadinya dengan otoritas pendidikan. Izin mengajarnya dua kali dibekukan dengan tuduhan “insubordinasi”. Izin akhirnya benar-benar dicabut saat ia menjalani cuti medis.

Dua belas tahun kemudian Gatto menerbitkan buku berjudul Underground History of American Education, A Schoolteacher’s Intimate Investigation Into The Problem of Modern Schooling (2003). Ia antara lain membeberkan pembelaan diri dalam konflik tersebut.

Anggap saja pembelaan dan kasus personalnya tak relevan, dan jangan ditiru. Namun, sengatan provokatifnya dalam membedah problem persekolahan modern cukup pantas menjadi bahan renungan di Hari Guru ini. Gatto tidak sedang menampilkan diri provokatif sebenarnya dengan buku itu. Ia bahkan memberi judul Bab Dua buku itu, An Angry Look at Modern Schooling. Ia merasa harus marah pada sistem persekolahan modern.

Bab itu dibuka dengan kalimat Suzanne Comforth dari lembaga konsultan public relations Paschall & Associates, yang dikutip koran New York Times edisi 15 Juli 1998:
“Sponsor-sponsor korporat masa kini ingin melihat uang mereka digunakan dengan cara-cara yang sejalan dengan tujuan-tujuan bisnis… Ini adalah generasi baru sponsor-sponsor korporat dan mereka menemukan keuntungan dari membangun hubungan jangka panjang dengan institusi-institusi pendidikan.”

Baca Juga :   Tidak Ada Larangan Kepemimpinan Non-Muslim dalam Al-Qur'an

Marah, karena sejak merasuknya ideologi Prussianisme ke dalam sistem pendidikan Amerika menjelang akhir abad ke-18, persekolahan modern tak lebih dari instrumen industri. Sekolah menjadi instrumen untuk menghasilkan bahan baku industri berupa tenaga-tenaga terampil yang diproduksi secara massal dan seragam, untuk dipanen secara berlimpah dan dibeli industri dengan harga yang bisa ditekan sekecil mungkin.

Hasilnya adalah, seperti yang digambarkan Gatto, alienasi murid dan guru sekaligus. Mereka terkurung berjam-jam dalam penjara ruang-ruang kelas yang membosankan dan menyiksa, untuk sesuatu yang di kelak disadari tak banyak berhubungan dengan kehidupan nyata anak-anak sekolah. Mereka telanjur tercetak menjadi produk-produk pabrik lulusan yang seragam dengan varian-varian label kualitas pada ijazah.

Mari coba bercermin dengan “kemarahan” Gatto untuk menengok apa yang dialami para guru dalam sistem persekolahan Indonesia. Walaupun kinerjanya praktis tidak pernah diaudit serigid hasil pencapai belajar anak-anak melalui sistem Ujian Nasional, guru Indonesia pada hakikatnya terkooptasi dalam sistem ideologi perlombaan.

Guru terikat pada sistem standardisasi yang dirinci menjadi Delapan Standar Pendidikan Nasional, yakni Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Pendidik dam Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan Pendidikan, dan Standar Penilaian Pendidikan.

Kurikulum memang berganti-ganti mengiringi pergantian rezim pemerintahan. Namun, dari kedelapan aspek standardisasi itu, Standar Kompetensi Lulusan selalu menjadi fokus dominan dalam praktik persekolahan, sekaligus menjadi fokus evaluasi pendidikan nasional. Aspek standardisasi ini dipertajam melalui mekanisme Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Baca Juga :   Qurban Politik Idul Adha

Tidak langsung memang, namun mekanisme ini berdampak pada nasib guru melalui performa hasil ujian akhir nasional anak-anak sekolah. Hasil ujian akhir anak-anak sekolah telah diterima dengan penuh khidmat sebagai indikator utama (kalau bukan satu-satunya) prestasi sekolah. Dan, itu menjadi ukuran keberhasilan guru. Semakin tinggi indikator, semakin tinggi selling point sekolah, sehingga menciptakan strata-strata sekolah unggul, bonafide, sampai yang biasa-biasa saja dan sekolah bermutu rendah.

Maka, yang paling aman bagi guru adalah berjibaku mencapai standar KKM. Dengan itu, guru sudah sangat sibuk untuk memburu bagaimana “cara mengajar terbaik” agar anak-anak mencapai KKM. Itu jelas berbeda dengan bagaimana cara terbaik membantu anak tumbuh dan belajar optimal sesuai dengan potensi-potensi khas mereka. Sebab, bagaimanapun KKM adalah standar baku dan seragam. Semakin guru berusaha menyelami dan mengikuti kekhasan laju serta potensi tiap-tiap anak, semakin kecil peluang untuk mencapai standar KKM, yang berarti peluang untuk membangun predikat tinggi “mutu” sekolah.

Inilah bentuk alienasi guru dari peran sejatinya sebagai pelita kehidupan. Di dalam ruang-ruang kelas, guru memang tetap menjadi sosok dominan, tapi ia semakin kehilangan otoritasnya sebagai “embun penyejuk dalam kehausan”. Guru semakin terkurung dalam fungsi-fungsi mekanis pengantar paket-paket pengetahuan yang harus dituangkan secara tergesa-gesa ke dalam otak anak-anak sekolah.

Lebih tragis lagi, guru semakin sibuk menjadi pelatih anak untuk menjadi peserta-peserta ujian (test takers). Lalu, angka-angka hasil pergumulan sepanjang hidup anak-anak sekolah itu ternyata kelak tak “bunyi” dalam kehidupan nyata. Karena, sebagaimana terlukis dalam sebuah adagium Latin, non scholae set vitae discimus, sekolah sepatutnya bukanlah untuk mengejar angka-angka, tapi sekolah adalah untuk kehidupan.

Baca Juga :   Hei Orangtua, Anak Bukan Samsak Tinju! [Hari Anak Nasional]

Mengubah sistem yang telah berurat-berakar tentu tak akan pernah mudah. Menanti hadirnya keputusan politik yang benar-benar memulihkan kembali keagungan dan kemuliaan sekolah sebagai institusi pendidikan itu ibarat menanti datangnya lebaran kuda. Namun, efek destruktif sistem persekolahan yang disebut Gatto sebagai “tempat berbahaya” itu sesungguhnya bisa direduksi kapan saja, dari ruang-ruang kelas.

Yang dibutuhkan adalah memperbanyak menyelami kekhasan anak, menyelami bagaimana cara dan laju belajar mereka. Sediakan waktu lebih banyak untuk mendengarkan dan menggali impian-impian mereka. Sediakan kesempatan lebih banyak bagi anak untuk belajar apa yang mereka sukai. Sediakan waktu lebih banyak bagi mereka untuk menuangkan ketimbang menerima materi pembelajaran.

Dari sanalah guru dan anak-anak sekaligus bersama-sama beroleh inspirasi yang kaya untuk belajar dan cinta belajar untuk kehidupan. Tapi, tentu saja, itu tak bisa seiring dengan cara pandang yang tetap terpenjara oleh keutamaan KKM dan kompetensi grosiran .

Selamat Hari Guru Nasional!


Written by Yanto Mushtofa

Yanto Mushtofa

Alumni Fakultas Tarbiyah, Jurusan Tadris Bahasa Inggris, Universitas Islam Syarif Hidyatullah Jakarta. Pemimpin Redaksi Majalah "Media Panduan Sentra", Ketua Yayasan Insan Nahlah Semesta Bogor.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR