Jumat, Oktober 30, 2020

Air Bersih untuk Warga Berkat Dana Desa

Aksi 212, Wiro Sableng, dan Indikasi Makar

Bagi kalangan pembaca novel Wiro Sableng yang ditulis Tito Bastian, aksi 212 memiliki kenangan tersendiri. Angka 212 adalah bilangan bersejarah yang menganggit imajinasi setiap...

Godaan Melawai, Godaan Little Tokyo yang Aduhai

Bagi orang-orang Jepang yang bertugas di Jakarta dan sekitarnya, kawasan Melawai di Blok M adalah Little Tokyo alias Tokyo Kecil. Kawasan yang tadinya pusat...

Grace dan Eksperimen Politik PSI

Untuk apa partai politik didirikan? Jawaban normatif atas pertanyaan ini bisa kita temukan dalam puluhan atau bahkan ratusan buku yang membahas khusus tentang partai...

Empat Cendekiawan dari Ciputat

Tahun 70 awal yang merupakan masa pemerintah otoritarian, justru sangat subur para aktivis kampus yang kemudian mereka menjadi cendekiawan par excellent dengan reputasi bukan...
Ahmad Erani Yustika
Guru Besar FEB Universitas Brawijaya, penikmat kopi dan film.

Membangun desa sendiri bukanlah hal baru. Ia kisah lama, bahkan teramat panjang bila direntang. Dana Desa dengan cepat naik ke panggung utama pembangunan.

Dana Desa jadi program idola karena beberapa perkara. Pertama, dana itu langsung diberikan ke desa, setelah ditransfer dari rekening pusat ke kabupaten. Kedua, desa jadi subyek. Program diputuskan oleh desa dan warga lewat musyawarah desa (Musdes). Otoritas desa penuh karena dijamin oleh UU Desa No. 6/2014. Ketiga, seluruh kegiatan mesti menghidupkan potensi lokal: orang, material, juga nilai (lokal).

Semangat keswadayaan dan swakelola yang dikejar. Singkat kata, dengan cepat gerakan pembangunan desa membuncah, aneka kreativitas meluap. Beruntung saya pernah mengawal program ini sejak tahun pertama.

Tiap desa punya cerita. Menjelang petang saya tiba di Desa Pa’bentengan Kabupaten Maros (Sulsel) hendak menyiapkan kedatangan Presiden (Pak Jokowi) yang ingin melihat pemanfaatan Dana Desa (2016). Kepala Desa (Kades) dengan semangat menceritakan kemajuan desanya. Dari mulai bangun jalan desa sampai pelatihan warga. Saya tentu juga senang dengan kisah bahagia tersebut.

Namun, di antara warta itu, saya terkesiap dengan program pengadaan air bersih. Warga desa selama ini kesulitan memperoleh air bersih, juga sebuah gambaran dari desa-desa lainnya.

Banyak desa yang memanfaatkan Dana Desa untuk air bersih, tapi yang ini agak spesial. Kadesnya menghibahkan tanah pribadi sebagai lokasi produksi air bersih. Mesin dan pipa untuk menyalurkan air bersih baru diambil dari Dana Desa.

Hasrat pemimpin untuk memberi dan menghibahkan sumber dayanya itu yang amat berharga. Ketika sebagian orang punya pandangan miring kepada aparat desa, laku Kades ini menghidupkan kembali nyawa seorang pemimpin. Semangat kerelawanan mekar bergandengan dengan komitmen pemerintah. Sekarang warga desa itu ceria, hidup mereka makin tertata.

Kisah yang hampir sama juga terjadi di Desa Sungai Bakau Besar Laut (SBBL), Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Pada tahun pertama (2015), Dana Desa dipakai untuk membeli mesin pengolah air dan perangkat listrik energi surya. Listrik di sana belum ada. Pembangkit itu yang dipakai untuk menyalakan mesin pengolah air bersih. Dengan perangkat itu air bersih tersedia untuk warga desa. Iwan, Kades SBBL, tak henti menginisiasi dan mengawasi program tersebut. Seluruh waktunya dihabiskan untuk memastikan pelayanan sosial dasar sampai ke warga. Hari demi hari, pekan demi pekan.

Masalah tak lantas usai. Warga yang tinggal agak jauh, dan belum bisa mengakses air bersih, mesti datang langsung ke sentra pengolahan tersebut. Tidak efisien dan hanya dapat ambil air dalam jumlah kecil. Akhirnya musyawarah dibuat dan diputuskan tahun depannya lagi (2016) Dana Desa digunakan membeli pipa untuk disalurkan ke masing-masing rumah warga. Sekarang, tiap rumah tangga sudah dialiri air dan warga hanya membayar Rp 6000/bulan. Program ini juga menghidupkan organisasi ekonomi desa, yakni Bumdes (Badan Usaha Milik Desa). Operasionalisasi program ini sehari-hari dikelola oleh Bumdes tersebut.

Itulah sekelumit kisah pembangunan desa yang dipicu oleh Dana Desa. Gerakan pembangunan (bukan sekadar aktivitas pembangunan) telah bersemi. Warga bersuara karena desa punya rongga. Kewenangan desa dijalankan sebab pemerintah disiplin menegakkan aturan. Partisipasi meruap di lapangan dengan segala keterbatasan.

Musyawarah desa hidup, warga desa datang dengan agenda yang didiskusikan. Semangat kerelawanan menyala, memberikan apa pun yang dimiliki: tenaga, pikiran, waktu, uang, tanah, dan seterusnya. Gotong royong marak kembali.

Program direncanakan bersama dan dieksekusi secara berjamaah.

Memang masih jauh dari sempurna, tetapi benih pemberdayaan telah menjelma. Revolusi Dana Desa: Desa Bicara!

Ahmad Erani Yustika
Guru Besar FEB Universitas Brawijaya, penikmat kopi dan film.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.