OUR NETWORK

Surat Al-Maidah Itu Ayat-Ayat Polemik

shutterstock_198800375

Surat al-Maidah menjadi begitu populer dalam beberapa hari terakhir. Selain dikutip karena mengandung ayat yang sering dipahami sebagai larangan memilih pemimpin non-Muslim, surat al-Maidah menjadi perbincangan hangat terutama karena disebut-sebut oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang juga calon gubernur dalam Pemilihan Kepala Daerah Jakarta dalam pertemuannya dengan masyarakat di Kepulauan Seribu baru-baru ini.

Dalam video yang beredar luas, Ahok berkata, “Jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu nggak pilih saya, ya kan? Dibohongin pake al-Maidah 51, macem-macem itu, itu hak Bapak-Ibu. Jadi, Bapak-Ibu nggak bisa milih, nih, ‘karena saya takut masuk neraka’, nggak apa-apa.”

Banyak orang menyayangkan dan bahkan marah dengan kalimat Ahok yang tidak perlu di atas. Dan Ahok sendiri sudah mengklarifikasi dan meminta maaf bahwa dia sama sekali tidak bermaksud melecehkan siapa pun, apalagi Kitab Suci kaum Muslim. Bagi sebagian orang, kata “dibohongin” memang dirasa keterlaluan. Reaksi saya, iya… tapi.

Yang luput dari perhatian publik, baik mereka yang mendukung ataupun melawan calon petahana, ialah kenyataan bahwa Ahok menyebut surat al-Maidah ayat 51 itu dalam suasana polemik menjelang Pilkada DKI. Dalam iklim polemik, klaim-klaim yang bersifat “melebih-lebihkan” bukan sesuatu yang aneh, melainkan menjadi bagian kampanye di negara yang paling beradab sekalipun.

Ketika Ahok mengatakan “dibohongin pake al-Maidah 51”, dia sebenarnya sedang berpolemik melawan kelompok-kelompok tertentu yang menggunakan atau menyalah-gunakan agama untuk tujuan politik (duniawi). Tujuan polemik ialah untuk memenangkan pertarungan argumen. Bahwa kalimat Ahok mengandung distorsi atau melebih-lebihkan, itu dapat dimengerti sebagai pernyataan polemik.

Tulisan ini tidak bermaksud membandingkan pernyataan Ahok dengan surat al-Maidah, melainkan mendiskusikan watak polemik. Al-Qur’an saja terkesan “melebih-lebihkan” ketika berpolemik melawan orang-orang yang menolak ajakannya. Salah satu surat al-Qur’an yang menggambarkan aspek polemik itu ialah al-Maidah, sebuah surat yang juga sering dijadikan argumen polemik.

Polemik Teologis

Surat al-Maidah memuat banyak kritik terhadap keyakinan agama lain, terutama Yahudi dan Kristen. Salah satunya ialah kritik al-Qur’an terhadap umat Kristiani karena mereka mengatakan, “Allah adalah al-Masih putra Maryam” (Q.5:72).

Kritik al-Qur’an ini menarik karena tidak ada kelompok Kristen yang mengatakan “Tuhan ialah Yesus”. Yang diyakini oleh umat Kristiani ialah “Yesus itu Tuhan”, bukan “Tuhan itu Yesus”. Perbedaan dua kalimat tersebut bukan semata bersifat semantik.

Itu bukan satu-satunya tempat di mana al-Qur’an mengkritik sesuatu yang sebenarnya tidak dikatakan oleh kaum Kristen sendiri. Karena itu, penting memahami kritik-kritik tersebut sebagai pernyataan polemik yang sebenarnya merefleksikan konteks polemik di mana al-Qur’an muncul.

Contok polemik yang lebih eksplisit ialah kritik al-Qur’an terhadap doktrin Trinitas. Baca, misalnya, surat al-Maidah ayat 73: “Telah kafir mereka yang mengatakan: Tuhan itu ketiga dari tiga”. Di sini, tampak, al-Qur’an menuduh umat Kristiani mengimani tiga tuhan. Allah itu ketiga dari tiga tuhan. Lagi-lagi, tidak ada kelompok Kristen yang mengimani tiga tuhan.

Yang dikritik al-Qur’an adalah triteisme (keyakinan tentang tiga Tuhan), bukan Trinitas. Sebab, Trinitas bukan tiga tuhan, melainkan satu Tuhan dengan tiga hypostasis.

Lebih menarik lagi ialah identitas tiga tuhan yang dikritik al-Qur’an. Dari surat al-Maidah ayat 116, kita dapat simpulkan bahwa tiga tuhan tersebut adalah Allah, Isa, dan Maryam. Padahal, Trinitas yang dipahami orang-orang Kristen terdiri dari Bapa, Anak, dan Ruh Kudus.

Tiga soal di atas telah menyulitkan para mufasir al-Qur’an dari zaman klasik hingga modern. Di kalangan penulis modern, ada yang menganggap al-Qur’an salah paham terhadap doktrin-doktrin Kristen karena al-Qur’an mengkritik hal-hal yang tidak mereka imani. Sebagian orang berapologi bahwa al-Qur’an bukannya salah paham melainkan kritiknya diarahkan pada kelompok-kelompok Kristen heretik.

Dua pandangan di atas sama-sama problemik. Pandangan pertama sulit diterima kaum Muslim. Sebagai wahyu ilahi, tak terbayangkan kaum Muslim akan menerima pandangan yang menyebut al-Qur’an mengandung miskonsepsi atau kesalahpahaman. Pandangan kedua juga sulit diterima karena berimplikasi bahwa al-Qur’an tidak mengenal apa yang sesungguhnya diyakini umat Kristiani.

Di situlah letak pentingnya memahami kritik-kritik al-Qur’an sebagai pernyataan polemik. Sebenarnya al-Qur’an mengetahui bahwa umat Kristiani tidak mengatakan “Tuhan itu Yesus” melainkan “Yesus itu Tuhan” atau mengimani tiga tuhan melainkan Trinitas. Tetapi, al-Qur”an sedang berpolemik untuk memenangkan argumentasi melawan mereka yang menolak ajakannya.

Sebagai pernyataan polemik, argumen lawan dipresentasikan sedemikian rupa untuk dipatahkan. Dan argumen polemik itu bukan hanya terkait persoalan teologis, tapi juga aspek interaksi sosial seperti soal “awliya” (teman, pemimpin, sekutu, penjamin).

Ayat 51 sebagai Ayat Polemik

Ayat 51 yang menjadi locus classicus perdebatan pro-kontra kepemimpinan non-Muslim juga perlu dibaca sebagai pernyataan polemik. Aspek polemik tersebut dapat ditelisik dari bukti internal ayat itu ataupun konteks turunnya.

Mari kita lihat bukti tekstual (internal) dalam ayat itu sendiri. Ayat lengkapnya sebagai berikut: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi awliya; sebagian mereka adalah awliya bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi awliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim” (Q.5:51)

Kata “awliya” sengaja tidak diterjemahkan karena menjadi poin kontestasi. Dan sudah banyak tulisan mendiskusikan apakah kata “awliya” diartikan sebagai “pemimpin” atau “teman” atau “sekutu”, dan seterusnya.

Bukti internal yang memperlihatkan aspek polemik ayat tersebut adalah asumsi bahwa “sebagian mereka (Yahudi dan Kristen) adalah awliya bagi sebagian yang lain”. Mereka yang belajar sejarah Yahudi dan Kristen akan tahu bahwa Yahudi dan Kristen tidak menjadikan satu sama lain sebagai awliya. Mereka cenderung saling bermusuhan sepanjang sejarah daripada berteman, bersekutu atau sebagian menjadi pemimpin bagi yang lain.

Tentu saja al-Qur’an mengetahui sejarah hubungan kedua agama tersebut yang penuh konflik, rivalitas, dan bahkan pertumpahan darah. Lagi-lagi, al-Qur’an sedang berpolemik sehingga meletakkan mereka dalam satu kanvas untuk disapuratakan.

Aspek polemik lebih tampak lagi dalam konteks turunnya (asbab al-nuzul) ayat tersebut. Saya memang skeptis terhadap akurasi historis asbab al-nuzul, dan berbagai narasi terkait surat al-Maidah ayat 51 semakin menguatkan skeptisisme saya. Seperti sudah diulas oleh beberapa penulis, para mufassir menyebut lebih dari satu versi konteks yang menjadi latar belakang ayat tersebut.

Bagi mereka yang punya naluri historis, beragam narasi itu memunculkan pertanyaan serius: Mana asbab al-nuzul yang benar? Mungkin tidak satu pun. Sebab, asbab al-nuzul bersifat eksegetikal belaka.

Saya setuju dengan pandangan Muhammad Rasyid Rida (w. 1935) dalam Tafsir al-Manar-nya. Yakni, kalaupun asbab nuzul khusus (sabab khas) ayat 51 sulit diverifikasi, namun iklim polemik dapat dipastikan menjadi kondisi yang melahirkan ayat tersebut (sabab ‘am). Jika aspek polemik dan konteks polemik ayat 51 dipahami dengan baik, maka mudah dimengerti kenapa surat al-Maidah menggeneralisasi kaum Yahudi dan Kristen agar tidak dijadikan awliya.

Dalam konteks ini, pandangan Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah perlu direnungkan. Yang menyebabkan Yahudi dan Kristen dilarang dijadikan awliya, kata Prof. Shihab, bukan karena mereka itu Yahudi atau Kristen, melainkan karena sifat-sifat negatif yang disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya. Dengan kata lain, siapa pun berperilaku tercela yang disebutkan dalam ayat 49 dan 50 (di antaranya “mengikuti hawa nafsu” dan “menerapkan hukum jahiliyah”) tidak boleh dijadikan awliya.

Demikianlah betapa pentingnya memahami aspek polemik surat al-Maidah. Saya juga berpendapat, kita perlu menempatkan pernyataan Ahok secara proporsional sebagai pernyataan polemik dalam suasana Pilkada Jakarta. Para penolak Ahok juga menggunakan retorika polemik tertentu untuk meruntuhkan reputasinya. Sesuatu yang lumrah terjadi menjelang pilkada/pemilu. Mari bersikap adil!

Baca:

Umat Kristiani Itu Kaum Beriman, Bukan Kafir

Mun'im Sirry
Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA, Owner KEPITING++. Beberapa karyanya: "Islam Revisionis: Kontestasi Agama Zaman Radikal" (Suka Press, 2018), "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis atas Kritik Al-Quran terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…