OUR NETWORK

Belajar dari Kisah Akhilles dan Agamemnon

Pertarungan kekuasaan antarelite yang tidak dewasa hanya akan menjadikan rakyat sebagai korban.

Cerita dimulai pada tahun ke-9, ketika suku-suku dalam wilayah Akhaia yang terletak di semenanjung Peloponesia menjalani perang Troya. Mereka terdiri dari klan-klan, kelompok-kelompok, dan kerajaan-kerajaan yang kemudian disebut secara kolektif sebagai suku besar Akhaia. Dalam cerita ini, dua orang tokoh Akhaia bertengkar hebat. Raja Agamemnon, raja Argos dan Mykenai, sang raja tertinggi dari segala raja dan suku-suku yang mendiami wilayah Akhaia, dan Akhilles, raja Mermidon dan pejuang terkuat Akhaia.

Semua ini bermula karena ego Agamemnon sebagai seorang pemimpin. Ia menolak mengembalikan putri Chryses, pendeta pengikut Dewa Apollo. Memang putri Chryses yang bernama Chryseis itu merupakan rampasan perang. Akan tetapi, Chryses sudah rela membayar putrinya itu dengan uang tebusan. Masyarakat Akhaia pun menyarankan Agamemnon menghormati pendeta Chryses, mengambil uang tebusan tersebut, dan mengembalikan putrinya Chryseis.


Tapi Agamemnon justru bersikap angkuh. Ia menolak mentah-mentah tebusan itu. “Aku tidak akan mengembalikan putrimu sebelum ia hidup dan tua bersamaku di sini, jauh dari rumahnya. Menjahit, dan tidur sekasur denganku. Pergi jauh! Kalau kau ingin pulang dengan selamat, jangan membuatku marah,” katanya kepada Chryses dengan kasar.

Chryses pun ketakutan. Ia pergi dari hadapan Agamemnon. Gagal membawa pulang putrinya, ia kemudian berdoa kepada Dewa Apollo, sang dewa matahari, cahaya, seni, panahan, pengobatan, dan wabah. Dewa Apollo mengabulkan doa ayah Chryseis. Akibatnya, selama sembilan hari, masyarakat Akhaia mendapat kiriman wabah dari sang Dewa. Kematian terjadi di mana-mana. Akhilles sadar bahwa ini tak dapat dibiarkan.

Pada hari ke-10, Akhilles membuat rapat besar dan meminta Agamemnon mencari tahu apa yang menyebabkan Dewa Apollo begitu marah hingga mengirim wabah mematikan kepada Akhaia. Seorang peramal, Calchas, kemudian menjelaskan bahwa Dewa Apollo marah atas sikap Agamemnon yang menolak mengembalikan Chryseis, putri Chryses.

Alih-alih menyelesaikan persoalan, Agamenon justru mengamuk dan menuduh Calchas tidak pernah menceritakan hal-hal baik kepadanya. Agamemnon tetap bersikukuh tak akan mengembalikan Chryseis. Bahkan ia mengakui bahwa dirinya lebih menyukai Chryseis dibanding istrinya sendiri. Meski demikian, Agamemnon menyatakan siap mengembalikan Chryseis jika memang itu yang terbaik.

“Aku ingin semuanya selamat, bukan mati semua seperti ini. Tapi aku tidak mau menjadi satu-satunya orang yang tidak mendapat hadiah rampasan perang. Ini tidak adil untukku,” katanya.

Namun, kata-kata Agamemnon itu bersayap. Di satu sisi, ia berucap ingin rakyatnya selamat. Di sisi lain, ia tetap mempertahankan ego pribadinya. Akhilles mencoba bijak dalam menyikapi gaya kekanak-kanakan Agamemnon. Ia menjelaskan kepada Agamemnon bahwa harta rampasan perang sudah dibagi habis. “Tapi jika kita berhasil menaklukan Troya, kami akan memberimu tiga atau empat kali lipat (harta rampasan perang),” ujar Akhilles.

Agamemnon tetap tak mau tau. Justru ia mengancam akan mengambil paksa rampasan perang salah seorang pejuang Akhaia. Akhilles marah besar mendengar hal itu. Ia merasa Agamemnon betul-betul tidak tahu diri. Selama ini, Akhilles tidak pernah memiliki masalah apa pun dengan warga Troya. Namun, demi menjaga kehormatan saudara Agamemnon, Menelaus, ia pun ikut dalam peperangan yang sudah menginjak tahun kesembilan tersebut.

“Pulang saja dari peperangan ini jika itu yang kau mau!” kata Agamemnon kepada Akhilles. Dengan kesombongan, Agamemnon menyuruh pejuang terkuatnya itu untuk pulang dari arena peperangan. Bukan hanya itu, ia juga akan mengambil paksa hadiah rampasan perang Akhilles. Seorang perempuan cantik, Briseis. Akhilles tak kuasa menahan emosinya dan hendak menghunuskan pedangnya ke arah Agamemnon. Untung saja Dewi Athena turun dari langit dan menghentikan langkah Akhilles tersebut. Tapi itu tak memadamkan pertengkaran yang ada. Agamemnon dan Akhilles lanjut beradu mulut dengan keras.

Agamemnon tetap mengambil Briseis dari Akhilles secara paksa. Akhilles pun bersedih, menangis, dan berdoa kepada Ibunya yang juga seorang Dewi. Akhilles memohon kepada ibunya agar meminta kepada Dewa Zeus untuk mengalahkan Akhaia dalam perang Troya. Akhilles ingin Agamemnon dan Akhaia sadar bagaimana pentingnya keberadaan Akhilles dalam perang tersebut.


Kisah mitologi Yunani di atas yang diceritakan oleh Homerus dalam salah satu karya besar kesusastraan dunia, The Iliad, begitu menarik. Paling tidak, ada dua hal penting yang dapat kita pelajari dari cerita di atas.

Pertama, bahaya memberikan kekuasaan begitu besar kepada seseorang. Ketika seseorang merasa paling berkuasa dan merasa paling kuat seperti Raja Agamemnon, ia hampir dipastikan akan berlaku sewenang-wenang. Itulah pentingnya pembagian kekuasaan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif seperti yang terjadi di Indonesia hari ini. Terlepas dari segala kekurangannya, fungsi check and balances yang dimiliki DPR (legislatif) dapat mencegah Presiden sebagai pemimpin pemerintahan (eksekutif) untuk mengambil keputusan sepihak dan sewenang-wenang.

Apalagi kekuasaan Raja Agamemnon didapat bukan melalui proses yang demokratis, sehingga ia merasa tidak ada kewajiban untuk menyenangkan pihak yang dipimpinnya. Kita patut bersyukur hidup di alam demokrasi dengan sistem pemilihan langsung di mana pemimpin skala lokal maupun nasional wajib berupaya semaksimal mungkin membawa kesejahteraan dan mendengarkan aspirasi yang dipimpinnya. Ketika ia gagal mewujudkan itu, ia terancam kehilangan kursi kekuasaanya atau tidak dipilih lagi dalam Pemilu berikutnya.

Kedua, cerminan ketidakdewasaan antar elite. Pada awal cerita ini, Akhilles terlihat begitu bijak. Tapi kemudian ia larut dalam emosi dan mengharapkan kekalahan Akhaia hanya karena kemarahannya pada Agamemnon. Akhilles akhirnya sama saja seperti Agamemnon yang rela mengorbankan kepentingan orang banyak demi kepentingan diri sendiri.

Ironisnya, cerita soal perebutan rampasan perang ini juga mencerminkan pentingnya bagi-bagi kue dalam kekuasaan. Kekuasaan harus dibagi agar stabilitas politik terjaga. Ketika kue kekuasaan diambil hanya oleh satu orang, yang muncul adalah perlawanan.

Kemarahan Akhilles mirip seperti barisan sakit hati yang sebenarnya hanya ingin pengakuan dari pemerintah. Begitu berisik dan getol mengkritik. Namun ketika sudah mendapat pengakuan berupa posisi dalam pemerintahan, mereka kemudian mendadak menjadi begitu manis.

Apa pun itu, pertarungan kekuasaan yang tidak dewasa antarelite hanya akan menjadikan rakyat sebagai korban. Seharusnya kita belajar dari kisah Agamemnon dan Akhilles yang akhirnya mengorbankan Akhaia hanya untuk ego masing-masing. Jangan justru meniru langkah kekanak-kanakan mereka.

Tsamara Amany
Ketua Bidang Eksternal DPP PSI, Penulis buku "Curhat Perempuan: Tentang Jokowi, Ahok, dan Isu-isu Politik Kekinian".

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…