Minggu, Oktober 25, 2020

Tuhan Tidak Bisa Dibeli

Menuju Spiritualitas Gitu Aja, Kok, Repot

"Gitu aja, kok, repot!?" Kita mungkin merindukan ungkapan ini. Terbayang gestur Gus Dur kala mengucapkannya. Suaranya enteng meluncur bebas. Nadanya santai. Nuansa humor terasa...

Saatnya Membaca Kitab Tafsir atas Al-Maidah Ayat 51

Hari-hari ini publik di Tanah Air dihadirkan dengan polemik tentang makna yang tersimpan di dalam al-Qur'an surat al-Maidah ayat 51. Biasanya sebagian kelompok menggunakan...

Kontekstualisasi Islam: Memikirkan Kembali Wahyu Al-Qur’an

Dalam beberapa tulisan ke depan, saya akan mengelaborasi beberapa perkembangan baru dalam pemikiran Islam mutakhir. Tulisan berseri ini bertajuk "Kontektualisasi Islam" karena dilandasi oleh...

Khutbah: Antara Kebebasan dan Ujaran Kebencian

Gagasan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, berdasarkan aduan sebagian masyarakat Muslim, untuk membatasi materi khutbah-khutbah Jum'at yang memuat anjuran kebencian terhadap kelompok lain yang...
Avatar
Denny Siregar
Penulis dan blogger.

“Nanti aku mau naik haji…”
“Wah, hebat…”
“Iya, mau menghapus dosa di tanah suci..”

Entah kenapa aku terdiam sejenak. Ada yang salah, tapi aku tidak tahu di mana. Sesudah mengucapkan selamat aku pun menyingkir ke satu tempat, warung kopi kesukaanku di mana aku bisa ngutang dulu.

Sambil duduk menunggu matangnya air, aku merenung. Temanku adalah seorang rentenir, itu yang aku tahu. Ia meminjamkan uang dengan bunga yang besar kepada orang yang membutuhkan. Ia banyak mendapat rumah hasil sitaan dari apa yang dia lakukan. Bisa dibilang ia cukup sukses di bidang itu.

Aku pernah mengingatkan, “Kamu tidak takut hukumnya?” Dia bilang, “Gampang, naik haji saja nanti, dosa kita akan dihapuskan. Tuhan Maha Penyayang…”

Temanku lupa bahwa di balik sifat Maha Penyayang, Tuhan juga Maha Adil. Lalu, di mana sifat Maha Adil-nya, jika semudah itu terhapus dosa manusia? Bukankah semua sebab pasti ada akibat?

Ah, aku rasa temanku salah menafsirkan rukun Islam yang kelima, naik haji (bila mampu). Bila mampu di sini ditafsirkannya secara materi. Bahwa jika ada rezeki dan badan sehat, maka orang wajib naik haji.

Apakah dia tidak pernah melihat sisi pandang yang berbeda bahwa yang dimaksud ‘bila mampu’ bisa saja adalah mampu melepaskan diri dari keterikatan duniawi dan sudah pasrah kepada Allah karena selesai dengan dirinya sendiri?

“Kamu tahu bagaimana proses penghapusan dosa pada manusia di dunia?” Kata temanku yang lain ketika ia menjelaskan bagaimana ketika konsep Maha Penyayang dan Maha Adil bekerja.

“Tuhan akan memberikanmu banyak kesulitan di dunia. Begitu juga penyakit, kemiskinan, kehilangan, dan banyak hal yang menyakitkanmu di dunia. Begitulah prosesnya, ketika manusia bertobat memohon ampunanNya.

Memohon ampunan itu mudah, proses menyempurnakan ampunanNya itu yang susah. Karena Ia Maha Penyayang sekaligus Maha Adil, maka apa yang pernah kamu lakukan akan mendapat bayarannya.

Proses itu juga bagian dari ujian untuk melihat apakah manusia itu pada akhirnya pasrah.

Tuhan tidak bisa dibeli dengan materi apa pun di dunia. Tidak dengan ritual berlebihan dan tidak juga dengan angan-angan…”

“Jika perbuatan manusia harus dibayar dengan kesulitan, lalu di mana letak kasih sayang Tuhan?” tanyaku dengan wajah bingung.

Temanku tersenyum, “Dengan memberikan manusia kesempatan untuk membayar dosa-dosanya…”

Aku terjaga dari lamunanku. Kopi panas sudah menunggu di depanku. Ah, memang manusia merasa mudah sekali dia membayar apa yang pernah dia lakukan.

Ada yang sibuk ritual sehingga merasa paling beriman. Ada yang tertangkap korupsi mendadak reliji. Ada juga yang naik haji karena dikejar polisi.

Eh, naik haji dikejar polisi ?

Secangkir kopiku tertawa ketika terbayang wajah “seseorang yamg tidak boleh disebut namanya”, kabur dan tak pernah kembali.

Avatar
Denny Siregar
Penulis dan blogger.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Mengapa Pancasila Membolehkan Paham Ateisme?

Dalam pasal 156a KUHP disebutkan bahwa “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.