OUR NETWORK

Takbiran

takbir-masjidHampir saja kebahagiaan mudik kami sekeluarga berubah menjadi bencana. Mobil yang kami tumpangi saat memasuki sebuah kota di Jawa Timur nyaris dihantam oleh truk pengangkut para gerombolan yang melakukan “pawai takbiran”, yang karena euforia lebaran, peraturan lalu lintas diabaikan.

Untunglah, sopir kami sigap menepikan mobil ke bahu jalan. Alhamdulillah, kami selamat sampai di kota kelahiran untuk merayakan Idul Fitri di rumah induk, tempat nenek kami menjadi “target sungkem”.

Takbir adalah tageline yang terdiri atas subjek “Allahu” dan predikat “akbar” (“maha besar” atau “lebih besar dari apa pun”). Premis ini menampati posisi yang sangat penting dalam Islam, karena menjadi password dalam salat, yang merupakan ekpresi lahiriah sebuah pengakuan akan kehambaan. Takbiratul-ihram berarti pengagungan (glorifying) yang menegaskan “cekal” (cegah dan tangkal) dari selain Allah.

“Allâh” adalah salah satu kata yang disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 980 kali, sebagaimana lafzh “ilâh” dalam beragam bentuknya (yakni dalam bentuk ilâh, ilâhan, ilâhuka, ilâhukum, ilâhunâ) 147 kali.

Sebagian ahli sejarah bahasa dan filologi beranggapan bahwa kata Allah berasal dari bahasa Ibrani, bukan Arab. Konon, orang-orang Yahudi biasa berkata ilahâ, lalu orang-orang Arab menghapus mad (bacaan panjang) pada akhir kata tersebut. Sebagian berpendapat bahwa kata Allah berasal dari bahasa Arab, karena orang-orang Arab telah menggunakan kata ini beberapa abad sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW.

Bangsa Persia menyebut-Nya khudâdan îzad. Bangsa Turki menyebut-Nya târî. Dalam bahasa Indonesia disebut Tuhan atau Hyang. Apa pun sebutannya, yang terpenting adalah substansi pemahamannya, yaitu zat yang eternal, tak berawal dan tak berakhir. Para filosof bahkan menyebutnya “Kausa Prima”.

Para ulama berselisih pendapat tentang artinya. Sebagian berpendapat bahwa Allah berasal dari kata uluhiyah yang berarti ibadah, yang mana ta’alluh mengandung arti ta‘abbud. Sebagian berpendapat bahwa kata Allah berasal dari kata dasar (walah), yang berarti tahayyur (kebingungan).

Ada pula yang berpendapat bahwa kata Allah berasal dari kata kerja (alaha) yang berarti (fazi‘a), yang berarti permohonan pertolongan dan perlindungan saat dicekam rasa takut. Sekelompok ahli bahasa lain beranggapan bahwa kata Allah berasal dari kata kerja (lâha) yang artinya ihtajaba (terhijab), karena angan-angan dan imajinasi manusia tidak mampu menggapai esensi-Nya. Selain itu, masih banyak pendapat tentang artinya.

Ragam penafsiran tentang asal usul bahasanya juga kontroversi seputar artinya menunjukkan betapa takbir memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam.

“Allahu akbar” adalah kata yang paling menyenangkan di malam terakhir bulan Ramadhan. Setiap masjid, surau, dan mushalla berlomba mengumandangkan takbir dengan nada dan irama khas lebaran. Meski sebagian suaranya fals, bagai dalam acara audisi untuk lomba nyanyi di telivisi, para pengumandang takbir lebaran tampak berusaha mengerahkan semua potensinya dan “menggeber” pita suaranya demi menyemarakkan malam yang dianggap sebagai awal “lahir ulang” (reborn) itu.

Takbir di Indonesia ternyata mengalami revisi, improvisasi, modifikasi dan bahkan remix. Kadang “Allahu akbar” tidak menggetarkan, malah menggoyangkan. Kadang “Allahu akbar” tidak menyejukkan, malah menyeramkan. Ironis, sebagian Muslim memberangus hak Muslim lain dengan teriakan “Allahu akbar”.

Setidaknya, ada beberapa tipe takbir. Salah satunya adalah “takbir tradisional” yang dikumandangkan pada malam lebaran hingga menjelang salat id melalui pengeras suara masjid dan surau. Ia lebih mirip lagu wajib tahunan.

Kedua adalah takbir yang belakangan mulai sering diteriakkan dengan nada sangat keras sebagai alat tekan terhadap kelompok lain. Biasanya, pemekiknya menggunakan atribut organisasi massa atau majelis taklim. Takbir tipe kedua ini bisa diberi nama “takbir horor”. Tidak disarankan mengkritiknya, demi alasan kesehatan.

Takbir tipe ketiga adalah jenis takbir yang mengambil posisi ekstrem dari takbir tipe kedua, yaitu “Allahu akbar” yang telah di-remix dengan sentuhan rap, house music, dan dangdut yang hot. Takbir yang juga dinyanyikan, terutama pada malam lebaran, ini bisa dikategorikan “takbir genit.”

“Allahu akbar” semestinya dipekikkan dengan hati dan akal sebelum dipekikkan dengan lidah dan mulut. Makna sejati takbir adalah kesadaran akan ke-serba-terbatasan yang meniscayakan kerendah-hatian dan kesantunan.

Karena hanya Dia yang besar, maka siapa pun tidak berhak membesarkan ego, organisasi, kelompok, dan pandangannya. Allah berfirman, Fala tuzakku anfusakum. Huwa a’lmu bil-muttaqin (Jangan sok suci. Dia lebih tahu tentang siapa yang bertakwa). Mohon maaf lahir dan batin.

Muhsin Labib
Pengajar filsafat Islam dan pemerhati isu-isu toleransi dan kemanusiaan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…