in

Sejarah Perbedaan Pendapat dalam Islam


Pengetahuan kita soal Islam tak se-kaffah pengetahuan para sahabat Nabi Muhammad yang merupakan generasi terbaik dan para imam di masa-masa setelahnya. Minimal, mereka melihat langsung praktik Islam Nabi, atau hidup tak jauh dari masa Nabi. Perbedaan di antara kita juga tak sedasar dan setajam perbedaan di antara mereka.

Bisa jadi perbedaan kita hanya turunan atau semacam “catatan kaki” dari perbedaan mereka. Mazhab kalam (teologi) atau fikih toh itu-itu saja. Namun, entah kenapa, perbedaan di zaman ini justru seolah hal baru yang dianggap mengancam Islam sehingga mengerikan dan harus ditumpas.

Perbedaan pendapat juga bukan hanya terjadi di antara sahabat atau imam, namun bahkan di antara para nabi sekalipun. Sebagaimana dikisahkan QS. Al-Anbiya: 78-79, bagaimana Nabi Daud dan Nabi Sulaiman berbeda pendapat, hingga kemudian Allah mewahyukan bahwa kebenaran berada di pihak Nabi Sulaiman. Namun, dalam ayat itu juga disebutkan bahwa ilmu dan hikmah diberikan kepada keduanya, bukan hanya pada Nabi Daud. Artinya, perbedaan bukan hanya menjadi rahmat bagi yang salah, tapi juga yang benar.

Selain itu, sebagaimana dikemukakan dalam Tafsir Ibnu Katsir, dalam ayat itu Allah memuji Sulaiman yang tidak mencela Daud. Artinya, al-Qur’an melalui para nabi mengajarkan agar di tengah perbedaan tak terjadi saling cela, apalagi benci. Merujuk pada hadis dalam Shahih Bukhari, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa di tengah perbedaan dalam ijtihad, seperti terlihat dalam kasus Nabi Sulaiman dan Nabi Daud, maka pihak yang salah sekalipun tetap mendapat satu pahala.

Jika merujuk pada al-Qur’an, misalnya QS. Hud: 118 dan al-Maidah: 48, lebih jauh lagi menegaskan bahwa perbedaan sudah ada sejak manusia diciptakan. Tuhan tak memilih, meski Dia Yang Maha Kuasa itu bisa untuk menjadikan manusia sebagai umat yang satu. Tuhan membiarkan manusia berbeda-beda pendapat sebagai sebuah karunia, di mana di sanalah justru diletakkan-Nya tantangan: bercekcok hingga konflik atau justru berlomba-lomba dalam kebaikan (bukan “dalam kebenaran”).

Baca Juga :   Banyak Jalan "Kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah"

Di samping pula rentetan hikmah lain dari perbedaan, misalnya versi Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang bijaksana itu, sebagaimana dipotret dalam Al-Inabah Al-Kubra dan Faidhul Qadir: “Tidaklah menggembirakanku jika saja para sahabat Rasulullah tidak berbeda pendapat, karena jika mereka tidak berbeda pendapat maka tidak akan ada rukhshah atau keringanan.”

Atau versi Imam Sayuthi yang menyatakan bahwa perbedaan mazhab di kalangan umat Islam adalah nikmat besar dan anugerah yang agung. Di dalamnya tersembunyi rahasia mulia yang diketahui oleh orang-orang yang mengerti dan tidak disadari oleh orang-orang yang jahil.

Di zaman Nabi sendiri, perbedaan pendapat di antara para sahabat telah terjadi dan Nabi membenarkan kedua pendapat yang berbeda tersebut. Yakni, perbedaan para sahabat dalam menyikapi perintah Nabi saat Perang Ahzab untuk tidak salat ashar kecuali di Bani Quraizhah, saat sebagian mereka masih di perjalanan pas masuk waktu ashar. Maka, sebagian mereka berpendapat bahwa mereka tidak akan salat ashar kecuali setelah sampai di Bani Quraizhah sesuai perintah Nabi.


Sedangkan sebagian lagi berpendapat bahwa mereka harus salat karena mereka memahami perintah Nabi itu bertujuan agar mereka mempercepat jalannya untuk bisa salat ashar di Bani Quraizhah, bukan harus salat di tempat itu. Tetapi, perbedaan pendapat di kalangan para sahabat pada zaman Nabi itu semuanya dikembalikan kepada Nabi dan Nabi membenarkan kedua pendapat tersebut.

Lanjut ke era pasca-Nabi, perbedaan itu sudah dimulai sejak era Khulafaur Rasyidin. Di antaranya, Asy-Syahrastani dalam Al-Milal wa al-Nihal mencatat berbagai kasus tentang bagaimana perbedaan–bahkan begitu tajam–terjadi di antara sahabat Nabi. Dan itu terus berlanjut di zaman tabi’in, tabi’at tabi’in, hingga zaman para ulama terdahulu.

Baca Juga :   Catatan dari Notre Dame: Belajar Menghargai Perbedaan Keyakinan

Di antara beberapa perbedaan di masa-masa awal Islam, terjadi mengenai persoalan pembangkang zakat. Berdasarkan ijtihad Sayyidina Umar, para pembangkang zakat tidak perlu diperangi. Dia beralasan pada hadis Nabi bahwa beliau diperintahkkan Allah untuk memerangi manusia, kecuali mereka yang telah mengikrarkan syahadat. Sedangkan Sayyidina Abu Bakar berijtihad sebaliknya, yakni mereka harus diperangi dengan alasan telah memisahkan antara kewajiban salat dan zakat.

Khalifah Utsman diriwayatkan juga pernah menambah jumlah adzan pada hari Jum’at hingga tiga kali. Padahal Nabi tidak pernah memerintahkan adzan Jum’at hingga tiga kali. Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Saib bin Yazid berkata, “Adzan di hari Jum’at pada awalnya ketika imam duduk di atas mimbar pada masa Nabi, Abu Bakar, dan Umar. Lalu, pada saat Utsman menjabat sebagai khalifah dan manusia sudah semakin banyak, beliau juga memerintahkan orang-orang untuk mengumandangkan adzan yang ketiga. Adzan tersebut dilakukan di atas Zaura’ (nama pasar di Madinah) dan ketetapan itu diberlakukan untuk masa selanjutnya.”

Namun, apa yang terjadi di tengah perbedaan itu semua? Setajam apa pun perbedaan di antara mereka, mereka tetap memegang teguh adab yang didasarkan pada kesadaran bahwa perbedaan adalah niscaya dan rahmat, serta kebenaran hanya ada pada Qur’an dan Sunnah (bukan tafsir kita atas keduanya). Misalnya, Imam Malik begitu menghormati perbedaan pendapat dan mempersilakan umat untuk memilih pendapat mana yang akan mereka ikuti sesuai relevansinya dengan konteks mereka masing-masing.

Hal itu terlihat saat beliau menolak permintaan Khalifah Makmun (salah satu khalifah Bani Abbas) agar menjadikan kitab al-Muwaththa’ sebagai rujukan hukum setiap umat Islam pada masa itu. Beliau menolak dengan berkata, “Wahai amirul mukminin, biarkanlah umat memilih pandangan yang relevan bagi diri mereka sendiri.”

Masih dari Imam Malik, “Apabila para sahabat menghadapi masalah yang berat, maka mereka tidak akan memberikan jawaban sebelum mereka mengambil jawaban sahabatnya yang lain.”

Para sahabat, imam, dan ulama terdahulu dengan keilmuan yang dimilikinya tidak berat hati bila ada sahabt, imam, atau ulama lain yang berbeda pendapat. Sebaliknya, mereka mengapresiasi perbedaan pendapat di antara mereka. Sedemikian tinggi apresiasi ini, sehingga beberapa ulama semisal Ibn Hajar al-Haitami pernah berucap, “Mazhab kami benar, tetapi mengandung kekeliruan. Dan mazhab selain kami keliru, tetapi mengandung kebenaran.”

Sejarah juga mencatat, bagaimana di antara mereka justru begitu rendah hati di tengah perbedaan pendapat di antara mereka. Imam Abu Hanifah pernah berkata, “Ucapan kami ini hanyalah pendapat. Inilah yang terbaik yang dapat kami capai. Jika ada orang yang datang dengan pendapat yang lebih baik dari pada kami, ia adalah yang paling dekat dengan kebenaran ketimbang kami.”

Para sahabat, imam, dan ulama terdahulu mengajarkan untuk tidak bersikap fanatik pada mazhab atau pandangan sendiri dan sinis terhadap apa yang orang lain yakini. Sebaliknya, mereka mengajarkan kita untuk bersikap terbuka, saling menghargai, dan toleran. Sebab, sikap fanatik lagi tertutup serta sinis menjauhkan umat dari hikmah, pelajaran, dan pesan yang boleh jadi terdapat di luar keyakinan kita.

Baca Juga :   Beda Tafsir Bukan Penodaan Agama

Seperti disebutkan dalam perkataan Sayyidina Ali, “Hikmah adalah barang hilang setiap orang mukmin. Maka, ambillah ia walaupun dari mulut orang-orang munafik.” Lebih dari itu, sikap negatif terhadap perbedaan cenderung tidak memberikan gambaran yang utuh atau objektif terhadap pendapat atau pemahaman di luar pendapat atau pemahamannya.

Baca juga:

Jangan-jangan Kita Sendiri yang Intoleran?

Tak Ada Paksaan dalam Agama. Titik!

“Islamic Enlightenment”, Kenapa Tidak?


Direktur Cultural Islamic Academy, Jakarta. Mahasiswa Tafsir Qur’an Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR