Jumat, Januari 22, 2021

Save Afi Nihaya dan Sudut Pandangnya

Pertanyaan Abadi Manusia: Untuk Apa Aku Hidup di Dunia? (2)

AMMAR Abdillah mengutip Sayyidina Ali untuk melukiskan Cinta. Ia berkata, ”Cinta bagaikan sekuntum bunga. Meski kau merampasnya dari tangkai, bahkan mengoyak kelopaknya hingga hancur,...

Nalar Beragama Muslim Indonesia

Apakah Anda melihat pos atau meme tentang penolakan perayaan Tahun Baru 1 Januari 2017 ini? Saya ingin sedikit mendiskusikan fenomena tersebut dalam kerangka nalar...

Dua Wajah Agama

Agama adalah sebuah kata yang tak bisa lepas jika kita membicarakan sejarah dunia. Hampir bisa dikatakan agama akan selalu hadir dalam jejak rekam kehidupan...

Islam Otentik ala Gus Dur dan Dawam Rahardjo

Nahdlatul Ulama dan Muhammadyah adalah organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam yang paling mewarnai sejarah bangsa kita. Pendirian NU dan Muhammadyah merupakan pergulatan suatu komunitas lokal,...
Avatar
Fadhli Lukman
Pelajar ilmu al-Qur'an dan sosial kemasyarakatan yang sedang menempuh PhD di Albert-Ludwigs-Universität Freiburg.

Beberapa hari belakangan banyak orang membicarakan Afi Nihaya dan status Facebooknya. Beberapa hari berselang, tulisan tanggapan dari Gilang Kazuya Shimura muncul. Lalu, menyusul tulisan Candra Wiguna yang balik menanggapi Gilang. Tiga tulisan itu adalah yang viral. Selain ketiganya, masih banyak berseliweran komentar-komentar lainnya di media sosial.

Afi menulis refleksi empiris, Gilang menjawab dengan refleksi doktriner, dan Candra membalas mengafirmasi Afi. Ketiga tulisan ini menggambarkan dua cara berpikir yang berbeda. Dalam bahasa Prof. Amin Abdullah, antara kutub nomativitas dan historisitas.

Saya mau mulai dari tulisan Gilang. Gilang menanggapi Afi dengan ayat al-Qur’an dan Hadis. Rasulullah menyebut setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Faktor orangtua yang menjadikannya selain Islam. Juga ayat al-Qur’an yang self-proclaming akan kebenaran dan ketiadaan keraguan padanya, dan ayat lainnya yang mempersilakan orang untuk menganut agamanya masing-masing. Sederhananya, Gilang bilang begini ayat dan hadisnya mengajarkan, dan semua itu jelas.

Memang benar, memang jelas, begitulah normatifnya ayat dan hadisnya berbicara. Setiap Muslim akan mengaminkan itu. Wajar saja jika tulisan Gilang juga banyak di-share orang-orang. Apa yang disampaikan sudah benar secara konten.

Jika demikian, apakah tulisan Afi masih relevan?

Meskipun secara konten apa yang disampaikan oleh Gilang sudah benar, tidak demikian secara dialogis. Jika Anda ingin menanggapi ide seseorang, maka seharusnya Anda menawarkan sebuah antitesis. Sayangnya, tidak demikian dengan tanggapan Gilang. Justru, jawabannya menempati posisi sebagai tesis yang dalam tulisan Afi didiskusikan antitesis dan sintesisnya.

Afi sudah berangkat dari sikap yang sama dengan yang dijelaskan Gilang, bahwa bagi Muslim ada al-Quran dan Hadis yang menuntun, ada doktrin yang telah diajarkan, ada kepercayaan yang telah dipegang. “Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan Muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka,” tulisnya. Jelas kan, sikap yang sama dengan yang disampaikan Gilang?

Akan tetapi, Afi mempertimbangkan sebuah antitesis, bahwa ternyata di pihak lain juga ada pola serupa. “Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata,” tulisnya.

Itulah yang menjadi bahan dan dijabarkan lebih lanjut dalam refleksinya. Dari sini terlihat bahwa ternyata Gilang tidak memberikan apa-apa terhadap tulisan Afi dalam tanggapannya itu. Ia justru kembali ke awal, ke titik di mana dialog dalam level keberagaman tidak bisa dijalankan, titik yang menjadi pangkal kegelisahan Afi.

Saya banyak setuju dengan tanggapan Arif Maftuhin, dosen UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia membahasakan dengan “agama matematika” untuk menggambarkan cara pikir absolutis dalam beragama, yang sebanding dengan 1+1 adalah pasti 2. Ia juga menyorot nalar apologetik yang digunakan Gilang ketika menanggapi Afi yang justru tidak menggunakannya. Itulah mengapa ia berpendapat balasan dari Gilang tidak tepat sasaran.

Lalu, di mana relevansi tulisan Afi?

Relevansi tulisan Afi terasa ketika kita dituntut dan harus berbicara dalam sudut pandang yang lebih luas, melampaui sudut pandang orang dalam; sikap yang diambil oleh Gilang. Hampir seluruh bagian di dunia ini ditinggali oleh orang dengan rupa agama dan iman. Ketika berbicara dalam konteks keberagaman itulah sudut pandang Afi perlu ditempatkan.

Untuk konteks Indonesia sebagai negara yang ditinggali orang dengan rupa budaya, bahasa, dan agama, sudut pandang Afi perlu dikembangkan. Mari kita ambil analogi yang dikemukakan oleh Gilang. “Jangankan soal iman dek, soal artis Korea aja masih pada ngotot siapa yang paling ganteng/cantik,….”

Persis sekali, perdebatan semacam siapa yang paling ganteng/cantik tidak akan menghasilkan titik temu apa-apa jika pihak yang terlibat sudah datang dengan sebuah pre-kondisi dan prejudice, bahwa masing-masing sudah meyakini superioritas jagoan mereka.

Setiap Muslim akan tetap meyakini superioritas agama mereka, begitu juga Kristen, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu. Jika mereka bertemu dan memperdebatkan agama siapa yang paling benar, semua akan berakhir seperti sedia kala. Jika Gilang mengklaim orang yang menggunakan akalnya untuk mencari kebenaran yang sebenarnya akan menemukan Islam, maka pihak agama lain juga menyebut begitu.

Jika di Islam ada Zakir Naik, di Kristen ada Robert Spencer. Inilah dialog apologetik yang dimaksud di atas.

Akan tetapi, jika mereka mau bergerak melampaui itu, segera titik temu akan ditemukan. Pertanyaannya perlu ditingkatkan dari siapa yang paling ganteng, misalnya kepada pesan moral yang bisa didapatkan dari drama yang mereka bintangi? Sintesis yang dibincang oleh Afi mengambil sikap seperti ini. Ia mengambil sudut pandang lebih luas. Ia tidak hanya berbicara sebagai dan kepada Muslim, tetapi sebagai dan kepada orang Indonesia yang di dalamnya juga ada pemeluk agama lainnya. Itulah mengapa ia berbicara di titik-titik yang universal.

Refleksi semacam ini hanya mungkin dilakukan jika seseorang mengakomodasi sudut pandang historis tanpa terkotak kepada pendekatan normatif. Pengkajian Islam secara normatif adalah sudut pandang yang melihat ajaran agama sebagai norma. Untuk Islam, ayat-ayat Al-Quran dan hadis diturunkan dengan metodologi tertentu yang telah berkembang dalam sejarah intelektual Islam menjadi sekumpulan norma-norma agama. Norma-norma inilah yang kemudian menjadi tuntunan praktis bagi penganut, Muslim, dalam beribadah, bermu’amalah, bertetangga, mencari nafkah, dan sebagainya.

Akan tetapi, studi tentang agama tidak hanya secara normatif. Ia juga bisa dilihat dari sudut pandang historis. Dalam hal ini, perhatiannya bukan kepada ayat-ayat dan norma yang diturunkan darinya, melainkan kepada bagaimana manusia beragama tersebut hidup, beribadah, bermu’amalah, bertetangga, mencari nafkah, dan sebagainya. Tidak tentang ajarannya, tapi tentang manusianya. Bukan tidak mungkin, keluhuran ajaran justru terhalang oleh manusianya, al-Islāmu maḥjūbun bi al-muslimīn.

Oleh karena itu, pertanyaan dan refleksi Afi sangat fair. Pertanyaan yang diajukan Afi lebih kurang begini: “Agama mengajarkan kedamaian, tapi mengapa penganut agama masih sering berkonflik?” Sudut pandang normatif tidak cukup untuk menjawab ini karena norma membincang apa yang seharusnya terjadi.

Sudut pandang normatif hanya sampai pada “Islam mengajarkan kedamaian, dengan mengemukakan ayat-ayat tentang perdamaian, mendialogkannya dengan ayat-ayat perang, dan mengeluarkan kesimpulan tentang sikap Islam terhadap isu perdamaian”. Ia membahas “apa yang seharusnya terjadi”. Sementara itu, pertanyaannya tentang “apa yang sedang terjadi”. Bagaimana ia bisa menjawab, toh ia masuk ke dalam tubuh pertanyaan itu sendiri.

Sebagai remaja, Afi adalah sosok yang brilian. Sejujurnya satu bagian dalam hati saya pada awalnya tidak percaya bahwa tulisan Afi memang benar seorang siswa SMA. Ketika remaja seusia dia galau karena hal remeh temeh semacam merek telepon seluler dan jerawat di hidung atau termakan sama komodifikasi terminologi dan joke jomblo, ketika orang yang lebih dewasa galau tagihan bulanan dan tuntutan gaya hidup pribadi atau keluarga, Afi galau karena isu persatuan negara; sebuah beban pikiran yang berat, meskipun bagi orang sekelas Buya Syafi’i Ma’arif.

Avatar
Fadhli Lukman
Pelajar ilmu al-Qur'an dan sosial kemasyarakatan yang sedang menempuh PhD di Albert-Ludwigs-Universität Freiburg.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.