in

Rumah Tuhan dan Hal-Hal yang Terkunci

MASJID adalah Rumah Allah. Pun gereja, pura, wihara, klenteng, dan rumah-rumah ibadah lainnya untuk masing-masing penganut agama. Namun, tentu saja, Tuhan tidak bisa disebut sebagai penghuni rumah. Sebab, dalam keyakinan Islam, difirmankan bahwa Allah meliputi segala sesuatu, inna ‘l-Laaha ‘ala kulli syai’in qadir. Dia tidak di dalam dan luar, sekaligus berada di dalam dan luar. Hanya Tuhan yang benar-benar Maha Tahu tentang AdaNya, KeadaanNya, dan KeberadaanNya. Kita ini, apalah kita ini?

Namun, demi menjaga Rumah Allah, tentu masjid perlu dikunci. Jika berpagar, maka gerbangnya pun perlu digembok agar tak ada yang bebas keluar-masuk di luar jam masjid dibuka untuk umum, khususnya ya tentu saja untuk jamaah. Bahkan, jika ada orang tertentu yang mencurigakan, layak dia diawasi. Bahkan, jika perlu, kita tanya nama, asal-muasal, dan keperluannya apa, kok, sampai masuk ke masjid. Tunjukkan KTP itu standarnya. Menginap? Di masjid? Wah, nanti dulu. Pertanyaannya bisa kian panjang dan jawabannya harus lebih rinci.

Logikanya, menginap di rumah raja saja pasti susahnya minta ampun, apalagi ini menginap di Rumah Maha Raja. Untuk sekadar rebahan saja, boleh dicoba kok, apalagi untuk menginap. Coba saja! Pasti kena tegur. Belum lagi kalau gara-gara Sampeyan menginap di masjid lalu ada barang hilang, bagaimana? Di sini, ada banyak barang berharga. Dari kotak infaq sampai amplifier. Kalau sampai hilang, terus siapa yang menanggung? Itu semua milik Allah! Eh, milik pengurus masjid! Tiap pekan harus dilaporkan ke jamaah.

Sampai di sini, logika saya mentok. Saya tak tahu lagi, masjid itu rumah Allah atau bukan atau sudah bukan lagi. Jika kita memang orang-orang yang ikhlas, kok rasanya kita tak perlu menerima apalagi meminta laporan keuangan dari pengurus masjid, ya? Kalau atas nama transparansi, kok mengembangkan sikap curiga bahwa pengurus masjid tidak amanah ya? Dan, kalaupun sampai ada penyalahgunaan infaq–na’udzu billah tsumma na’udzu bullahi min dzalik–apa iya pengurus masjid tidak takut dosa dan kualat?

Baca Juga :   Mitos Seputar Biografi Nabi Muhammad [Renungan Maulid]

Kalau sampai ada amplifier yang hilang, apa iya itu amplifier milik tuhan? Atau itu milik pengurus masjid? Atau, apakah ada batasan yang jelas mana yang milik Allah dan mana yang milik pengurus masjid? Jika memang masjid adalah Baitullah, atau Rumah Allah, bukankah itu termasuk segala yang di dalamnya ya? Bukankah tanah, dan bangunan di atasnya, yang telah diwakafkan atau diikrarkan sebagai masjid seharusnya langsung dibebaskan dari hak kepemilikan manusia, baik itu seseorang atau sekelompok orang?

Atau begini: masjid adalah Rumah Allah yang dikelola sekelompok orang yang diamanahi menjadi pengurus masjid dan oleh karena itu mereka wajib menjaga sebaik-baiknya segala hal di dalam Rumah Allah itu. Begitu? Lalu, seberapa besarkah rasa memiliki yang dipunyai pengurus masjid atas inventaris di Rumah Allah? Apakah karena Rumah Allah, maka masjid adalah zona yang terbebas dari rasa memiliki? Atau, ya terserah saja deh bagaimana pengurus masjid mengatur hal-hal mengenai dan di dalam masjid?

Sekarang ini, rasanya semakin susah saja i’tikaf di dalam masjid tanpa diketahui oleh siapa pun selain kita sendiri dan Allah. Sebab, jika sudah lewat waktu ba’da Isya yang ditentukan oleh pengurus masjid, apalagi jika tidak ada pengajian, kecil kemungkinan masjid tetap dibuka untuk umum. Tapi, memang serba-repot. Jika dibiarkan tidak dikunci, jika tanpa jam buka-tutup, apalagi jika tanpa manajemen kepengurusan masjid yang baik, kini tidak hanya barang-barang di masjid yang terancam raib. Bahkan masjidnya juga.

Sudah rahasia umum, masjid kini dibeda-bedakan. Ada masjid untuk aliran ini, dan untuk aliran itu. Untuk jamaah organisasi ini saja, tidak untuk jamaah lain. Namun, ini sensitif untuk dibicarakan selain hanya di belakang punggung. Tapi, itu lebih baik daripada tidak dibicarakan samasekali. Sebab, jangan sampai ada masjid yang tidak bertuan. Bisa diambil-alih kelompok tertentu. Anggota kelompok itu mula-mula datang untuk ikut beribadah. Lalu, ikut menyapu masjid. Lalu, menggantikan muadzin yang sesekali datang terlambat.

Baca Juga :   Homosexual Ulama

Lalu, berdiri iqamat. Lalu, tiba-tiba ia sudah memeriksa shaf, memerintahkan agar barisan dirapatkan. Lalu, lain hari, sudah berani menampilkan keyakinannya yang berbeda. Lalu, tidak takut lagi untuk menyalahkan yang berbeda. Lalu, hilang sudah itu masjid. Pilihannya tinggal satu: tetap menjadi jamaah masjid itu dengan “kepemimpinan” imam baru atau berhenti ke masjid itu atau berpindah ke masjid lain.

Saya, mohon maaf, sangat terlambat menulis ini. Sebab, sudah ada lebih dulu insiden berebut menjadi imam salat. 

Sudah ada pula, gesekan horisontal di garis batas vertikal: rebutan masjid. Dan, sudah ada pula seorang jamaah yang dibakar hidup-hidup atas dugaan telah menggondol amplifier “milik” masjid. Semoga, yang terakhir saya sebut itu juga terakhir kalinya terjadi di masjid dan seputarannya. Mari makmurkan lagi masjid-masjid yang adalah Rumah Allah itu dengan kasih sayang dan seruan-seruan kasih sayang. Dengan pujian-pujian kepada Allah dan Rasulullah, dan saling puji di antara kita, bukan benci. 

Baiklah, silakan kunci Rumah Allah jika memang sudah bukan waktunya salat berjamaah dan pengajian. Tapi, jangan kunci hati kita. Biarkan jamaah masuk ke hati kita. Jamaah itu merindukan Allah dan UtusanNya. Merindukan sujud dan diterima sujudnya.

Merindukan lantunan al-Qur’an dan keindahannya yang selalu menggetarkan. Merindukan dzikir dan kesadaran yang agung. Merindukan doa dan didoakan. Merindukan maghfirah (ampunan) dari Allah dan syafa’at dari Rasulullah. Juga merindukan salam, jabat erat, dan peluk tulus dari sesama hamba Allah.

Baca juga:

Ulama Sejati dan Ulama Penebar Kebencian

9 Renungan Sesudah Tragedi Bekasi

Sejarah Perbedaan Pendapat dalam Islam

Para Imam Mazhab di Tengah Perbedaan Pendapat

Written by Candra Malik

Candra Malik

Budayawan sufi yang bergiat di bidang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan spiritualitas.

Leave a Reply

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR