OUR NETWORK

Refleksi Milad Muhammadiyah ke-105: Dahulukan Nilai di Atas Identitas

Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir.

Dalam sebuah seminar di Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS), Singapore, kurang lebih dua tahun lalu, saya diminta menyajikan topik tentang pengaruh Timur Tengah terhadap praktik pendidikan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Pada sesi tanya jawab, muncullah sebuah pertanyaan menarik dari seorang peserta: “Sebagai aktivis Muhammadiyah, bagaimana Anda memandang Islam Nusantara yang berkembang di kalangan Nahdlatul Ulama’?” Demikian pertanyaan yang ditujukan kepada saya itu.

Saya cukup kaget dengan pertanyaan sulit ini. Lalu, saya sampaikan sejumlah respons. Hal yang paling inti adalah bahwa sebagai nilai, cita-cita dan gagasan, saya sama sekali tidak ada masalah dan keberatan dengan konsep Islam Nusantara. Pemahaman saya tentang “Islam Nusantara” adalah sebagai sebuah ikhtiar untuk menghadirkan Islam yang menyejarah, Islam yang tidak berjarak dari realitas sosial dalam masyarakat di mana Islam berkembang dan menjadi basis nilai dalam setiap dimensi kehidupan umat Islam.

Dalam makna sebagai nilai ini pula, “Islam Nusantara” mengandung nilai-nilai universal yang keberlakuannya tak memandang identitas primordial. Namun demikian, begitu menjelma sebagai politik identitas, “Islam Nusantara” segera berubah menjadi bersifat partikular, dan sedikit banyak memiliki potensi fragmentaris dalam kehidupan masyarakat.

Saya ingin membawa dialog ini dalam konteks Muhammadiyah, karena hal yang sama juga terjadi pada organisasi ini. Belakangan, Muhammadiyah memperkenalkan dan memperkuat citra diri sebagai organisasi Islam bercorak modernis melalui gagasan “Islam Berkemajuan”. Jika difahami dari aspek nilai universal, maka siapapun mereka, baik anggota Muhammadiyah atau bukan, sepanjang ia adalah seorang Muslim, bisa dipastikan akan dengan mudah menyetujui konsep itu.

Tidak ada satu Muslim pun yang ingin menyaksikan Islam mengalami kemunduran. Toh, secara intrinsik, kemajuan adalah juga sifat yang secara inheren melekat dalam Islam. Ungkapan para ahli hukum Islam Islamu shalihun likulli zaman wa makan (Islam senantiasa relevan dengan ruang dan waktu), sesungguhnya adalah pengakuan pada nilai ini.

Namun demikian, sebagaimana “Islam Nusantara” yang sangat mungkin ditarik sebagai salah satu elemen dalam politik identitas, maka demikian pula dengan “Islam Berkemajuan”. Di sinilah permasalahannya. Berbagai jargon yang diusung oleh organisasi Islam di Indonesia, pada dasarnya, mengandaikan pencapaian nilai universal. Namun, tak jarang nilai universal itu dengan mudah telantar dalam lipatan-lipatan politik identitas yang nyatanya jauh lebih kuat dibandingkan dengan pencapaian nilai universal.

Inilah salah satu paradoks yang menghantui era ini. Secara materiil, manusia modern digiring pada suatu kondisi global. Revolusi teknologi informasi telah menjadikan manusia semakin dekat, bahkan serasa hidup dalam–meminjam istilah Yasraf Amir Piliang–sebuah dunia yang dilipat. Pada saat yang sama pula, dunia terasa menyempit dan mengglobal. Namun, di tengah situasi itu rupanya manusia mengalami penjarakan dari sesamanya. Manusia mengalami ancaman dari arah yang mungkin tak terduga, yakni penguatan sentimen primordial.

Inilah sesungguhnya salah satu tantangan paling nyata yang dihadapi oleh Muhammadiyah di era ini. Takhayul, bid’ah, dan churafat (TBC) yang menjadi salah satu sebab utama kelahiran Muhammadiyah, dalam wujud lamanya barangkali masih ada. Namun, yang justru penting direfleksikan adalah TBC yang mewujud dalam penyakit sosial seperti prioritas berlebihan pada identitas, hingga mengabaikan nilai-nilai universal.

Maka, sebuah refleksi mendasar pada Milad yang ke-105 ini adalah bagaimana Muhammadiyah dengan semangat “Islam Berkemajuan” yang disandang harus kembali tampil menjadi pelopor bagi pengutamaan nilai di atas identitas dalam tata interaksi kehidupan masyarakat kontemporer.

Sebagai sebuah organisasi, Muhammadiyah telah sangat besar. Tak hanya besar, Muhammadiyah juga telah memiliki kemandirian yang mapan dalam berbagai bidang. Maka, tak imbang rasanya jika dalam konteks pergaulan eksternal, Muhammadiyah masih berputar pada persoalan identitas, dan menomorduakan nilai. Karena kemandirian itu sebenarnya Muhammadiyah tak terlalu terikat pada komitmen-komitmen yang bersifat materialistis.

Konsekuensinya adalah, Muhammadiyah akan menjadi pengawal bagi lahirnya merit-based society dalam konteks kehidupan kebangsaan secara luas. Tentu bukan hal mudah melakukan hal yang demikian ini. Karena ketika Muhammadiyah telah berusaha melakukannya, pastilah akan muncul kelompok-kelompok sosial lain yang mengutamakan identitas dan mengesampingkan nilai. Namun, jika tidak ada keberanian untuk menerobos kebuntuan ini, maka paradoks penguatan sentimen identitas primordial di tengah masyarakat global ini, perlahan tapi pasti akan menjadi semangat yang menggerakkan dinamika interaksi di antara berbagai kelompok masyarakat baik pada level mikro maupun makro.

Sesungguhnya, dalam banyak konteks, Muhammadiyah telah melakukan pola ini. Namun, di tengah tarikan-tarikan dan godaan sentimen primordial dalam kancah dunia politik yang selalu berorientasi kepentingan, Muhammadiyah tak boleh larut dalam pertarungan identitas primordial itu. Tentu saja, mendahulukan nilai di atas identitas dalam konteks eksternal ini, harus diimbangi dengan penguatan identitas pada level konsolidasi internal sebagai sebuah organisasi. Karena jika ini tak dilakukan, maka Muhammadiyah akan mengalami kerapuhan di sisi dalam.

Namun, ini tak bermakna bahwa Muhammadiyah inkonsisten dan berstandar ganda. Ini terjadi karena setiap konteks memerlukan kosa-katanya masing-masing. Karena itu, sebisa mungkin Muhammadiyah menghindarkan diri dari kesalahan dalam mengartikulasikan kosa-kata dan sikap tersebut. Maka, sekali lagi, ini sebuah pekerjaan rumah yang sangat penting dan fundamental di tengah peringatan ulang tahunnya yang ke-105 ini. Selamat Milad Muhammadiyah.

Kolom terkait:

Muhammadiyah dan Tantangan Jihad Digital

Menjadi Muhammadiyah Milenial

Muhammadiyah dan Tantangan Islam Moderat

Muhammadiyah dan Komitmen Membangun Peradaban

Muhammadiyah yang Bukan Muhammadiyah

Pradana Boy ZTF
*) Dosen Universitas Muhammadiyah Malang. Pengasuh Lembaga Bait al-Hikmah, Malang. Asisten Staf Khusus Presiden Republik Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…