Sabtu, Oktober 24, 2020

Politisasi Agama: Dari Rohingya, Palestina, sampai ISIS

Imagined Indonesia: Belajar dari Bantul dan Pesantren Ngalah

Yogyakarta terasa tak henti-hentinya terkurung duka intoleransi. Setelah diterpa aksi penurunan baliho jilbab milik Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) pertengahan Desember lalu, provinsi yang...

Ketika Al-Qur’an Lebih Membela Non-Muslim

Zaid bin As-Samin, seorang Yahudi di Madinah, sedang gundah gulana. Ia tak pernah mengira dituduh sebagai pencuri. Terbayang, hukum potong tangan akan segera dijatuhkan....

Politik Arab dalam Kisah Pengorbanan Ismail

Kaum Muslim merayakan hari lebaran Idul Adha, festival kurban, untuk memperingati kepatuhan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah untuk menyembelih Ismail, putranya, dan kerelaan Ismail...

Kahlil Gibran dan Anak-Anak Ibrahim

KAHLIL GIBRAN belum lahir ketika Ismail dibaringkan di atas pelipisnya dan Ibrahim AS tak pernah benar-benar siap meski telah berserah penuh kepada Allah. Bergetar...
Ibrahim Ali-Fauzi
Pelancong yang kadang cuma ngupi-ngerumpi di pojok @geotimes dan Thamrin School of Climate Change and Sustainability, Jakarta. Kasir di Kepiting++ Management: ngejepit tanpa jeda.

Biksu Ashin Wirathu (U Wirathu) menjadi cover majalah TIME.

Krisis yang menimpa Muslim Rohingya berbasis pada sederet faktor. Masalah utama dan dasarnya adalah kewarganegaraan: Myanmar enggan mengakui kewarganegaraan etnis Rohingya yang “kebetulan” adalah Muslim.

Nah, dari celah kecil “kebetulan” itu, faktor lain penunjang muncul dengan aktor utama seorang biksu yang memang dikenal kontroversial di Myanmar dan komunitas Buddha di sana, yakni Biksu Ashin Wirathu (U Wirathu). Pada 2003, ia divonis penjara 25 tahun karena menyebarkan kebencian anti-Muslim.

Agama memang selalu “seksi” untuk dimanfaatkan oleh oknum-oknumnya guna menyulut atau memperkeruh masalah atau konflik, berbanding terbalik dari semangat, doktrin, dan visi agama itu sendiri yang diturunkan untuk meredam konflik dan menyemai rasa aman serta perdamaian. Berkembanglah “politisasi Buddha” dalam sengkarut krisis Rohingya. Ironi!

Padahal, kenyatannya, toleransi pada minoritas Muslim di Myanmar cukup baik. Setiap Idul Adha dan Idul Fitri, misalnya, pemerintahnya menetapkannya sebagai hari libur sebagai penghormatan atas hari besar Islam. Di Yangon, juga tidak sulit mencari masjid dan warung makan halal.

Biksu U Wirathu tentu adalah oknum Buddha. Oleh karena itu, ia ditentang keras oleh Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI) karena bertentangan dengan ajaran Buddha yang toleran.

Politisasi agama memang seperti amunisi mematikan. Ia kerap hadir dalam sengkarut konflik: politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Dalam konteks konflik Israel-Palestina, misalnya, “politisasi Yahudi” menjadi salah satu tonggak propaganda Israel.

Zionis pada dasar dan awalnya adalah sekuler. Secara terang-terangan, kaum Zionis menunjukkan penolakan mereka terhadap agama lantaran Yahudi dinilai melemahkan bangsa Yahudi dengan mengajak mereka menunggu “Sang Messiah”. Ketertarikan banyak kaum Yahudi pada mereka lantaran mereka sukses secara mengagumkan dalam mengubah Tanah Israel, salah satu simbol paling suci dalam agama Yahudi menjadi realitas praktis, duniawi, dan rasional.

Tak seperti kalangan Yahudi religius yang merenungkannya secara batin (halakhah) dan sejak awam menilai tindakan Zionisme itu menginjak-injak realitas sakral secara sangat menghinakan Tuhan yang disengaja untuk menentang tradisi religius selama berabad-abad, maka Zionisme adalah “politisasi Yahudi”.

Karena itu, sejak pertama kali gagasan Zionisme digulirkan, hingga kini ia terus ditentang oleh para rabi Yahudi sendiri. Dalam bentuk organisasi, ada Neturei Karta (secara bahasa berarti “Penjaga Kota”), organisasi tertua yang menentang gerakan dan ideologi Zionisme. Dimulai pada abad ke-18, secara resmi tepatnya pada 1935, sebagai reaksi atas munculnya Zionisme dan rencana pembentukan negara Israel.

Pelopornya adalah kelompok Yahudi Ortodoks yang dipimpin oleh Rabbi Yisroel ben Eliezer. Neturei Karta kerap menyebut diri mereka sebagai “Perserikatan Yahudi Penentang Zionis”. Salah satu tokoh dan juru bicara Neturei Karta, Rabbi Yisroel Dovid Weiss, yang pernah berkunjung ke Indonesia atas undangan mahasiswa Universitas Indonesia pada seminar internasional tentang Palestina, menyebut “Zionisme adalah ajaran yang mengkhianati Yudaisme! Zionisme adalah kepercayaan setan”.

Begitu pula dalam Islam, ada Islamic State (IS) atau populer disebut ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) yang kian menjadi aktor utama “politisasi Islam” paling mengerikan abad ini di dunia. Mereka melakukan penyelewengan tafsir atas al-Qur’an dan hadis untuk kepentingan politiknya dengan menebar kebencian bukan hanya kepada non-Muslim yang mereka labeli kafir yang halal darahnya, tapi juga pada Muslim yang berbeda paham atau sekadar berbeda pandangan sekalipun dengan mereka.

Sekadar menyebut tiga politisasi agama tersebut untuk memudahkan kita mengimajinasikannya. Mengapa? Karena kekejamannya kini terhampar di depan mata kita melalui media. Di depan mata kita, etnis Rohingya, rakyat Palestina, dan rakyat Irak-Suriah kini didiskriminasi, disiksa, hingga dibunuh. Penting mengimajinasikannya bukan hanya untuk menumbuhkan solidaritas kita pada mereka, namun yang tak kalah pentingnya adalah imajinasi itu menjadi modal bagi kita untuk menentang keras segala bentuk politisasi agama.

Seperti kata Ibn Rusyd, bagi orang bodoh, dengan bungkus agama, kekejaman akan terlihat sebagai “perang suci” yang memukau. Semua agama bisa menjadi korbannya. Kita juga di sini. Benih-benihnya pun mulai ada.

Lihatlah bagaimana perlakuan oknum Muslim pada jemaah Ahmadiyah, Syiah di Sampang, Kristen di Bogor, dan lainnya. Maka, sembari bersolidaritas, mari sadar, mawas diri, dan mulai membersihkan “diri” ini dari politisasi agama.

Kolom terkait:

Palestina di Tengah Keabsurdan Dunia Islam [Hari Al-Quds Internasional]

Persekusi dan Nestapa Muslim Rohingya di Myanmar

5 Tahun Terusir: Syiah Sampang, Kesetiaan dan Absennya Negara

Ibrahim Ali-Fauzi
Pelancong yang kadang cuma ngupi-ngerumpi di pojok @geotimes dan Thamrin School of Climate Change and Sustainability, Jakarta. Kasir di Kepiting++ Management: ngejepit tanpa jeda.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

Pesan untuk Para Pemimpin dari Imam Al Ghazali

Dalam Islam, pemimpin mempunyai banyak istilah, di antaranya, rain, syekh, imam, umara’, kaum, wali, dan khalifah. Istilah rain merupakan arti pemimpin yang merujuk pada...

Gerakan Mahasiswa, Belum Beranjak dari Utopia?

Sampai hari ini retorika gerakan mahasiswa agaknya belum beranjak dari utopia yang meyakini perannya sebagai agen revolusioner yang mendorong perubahan. Sering kali retorika tersebut...

Nelangsa Mahasiswa Handphone Kentang dan Laptopnya Potato

"Kuliah hari ini saya berikan beberapa pertanyaan tentang mata kuliah kita, kalian jawab dan dikumpulkan 1 jam dari sekarang” “Ting tong” sebuah notifikasi muncul di...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Gerakan Mahasiswa, Belum Beranjak dari Utopia?

Sampai hari ini retorika gerakan mahasiswa agaknya belum beranjak dari utopia yang meyakini perannya sebagai agen revolusioner yang mendorong perubahan. Sering kali retorika tersebut...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.