Senin, November 30, 2020

Para Imam Mazhab di Tengah Perbedaan Pendapat

Kapan Islam sebagai Agama Muncul?

Pandangan konvensional menyebutkan bahwa Islam sudah muncul sebagai agama dalam pengertian identitas konfesi sejak zaman Nabi Muhammad. Pandangan ini didasarkan pada sumber-sumber Muslim yang...

Menteri Lukman dan Politik Takfir

Munculnya selebaran, pamflet, dan spanduk di beberapa masjid di Jakarta yang mengancam tidak akan menyolatkan atau membantu mengurus jenazah mereka yang mendukung calon gubernur...

Islam dan Barat Bukan Teroris (Tanggapan untuk Anzi Matta)

Anzi Matta menulis kolom berjudul Ketika Barat Menunjuk Islam sebagai Terorisme (Geotimes.co.id, Selasa, 2 Agustus 2016). Semula saya tertarik dengan judul tulisan tersebut sebelum...

Kita “Ibrahim”, Siapa “Ismail” Kita?

Di pelosok lembah Mina yang sepi, Nabi Ibrahim telah bertekad untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Itu merupakan simbol totalitas penghambaan, juga kepatuhan Ibrahim atas...
Avatar
Husein Ja'far Al Hadar
Vlogger Islam Cinta yang tak lagi jomblo. Direktur Cultural Islamic Academy, Jakarta. Mahasiswa Tafsir Qur’an Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Melanjutkan kolom saya berjudul Sejarah Perbedaan Pendapat dalam Islam, kali ini saya akan merangkum bagaimana sikap para imam mazhab fikih menyikapi perbedaan di antara mereka. Perkara ini menarik lantaran beberapa alasan.

Pertama, di antara mereka hampir seluruhnya memiliki hubungan sebagai guru dan murid: di mana Imam Abu Hanifah pernah belajar dua tahun pada Imam Ja’far ash-Shadiq, Imam Abu Hanifah dan Imam Malik dihubungkan oleh dua murid utama Imam Abu Hanifah yang juga belajar pada Imam Malik, Imam Malik adalah guru bagi Imam Syafi’i sejak Imam Syafi’i berusia 13 tahun dan juga Imam Syafi’i menjadi murid dari murid Imam Abu Hanifah untuk mendalami fikih rasional Imam Abu Hanifah, dan akhirnya Imam Syafi’i adalah guru bagi Imam Ahmad bin Hanbal.

Namun, meskipun begitu, mereka tak tabu untuk saling berbeda dan murid mengkritik keras gurunya.

Kedua, fikih merupakan cabang keilmuan Islam yang paling sesak dengan perbedaan, namun di antara imam-imamnya justru sangat “mesra” hubungannya: saling memahami, saling memuji.

Ketiga, perbedaan dalam fikih bertolak dari perbedaan metodologis di tingkat mendasar, yakni ushul fikih. Karenanya, bisa jadi lantaran sifat perbedaannya yang metodologis itu yang menyebabkan perbedaan dalam fikih lebih mudah dipahami dan diterima.

Dimulai dari yang tertua, yakni Imam Ja’far ash-Shadiq, kita dapatkan darinya pujian tentang keabsahan firqah di luar firqah-nya (Syiah Imamiyah) sebagai kesatuan dalam khazanah agama Islam. Ia berkata, sebagaimana diriwayatkan oleh Sufyan bin as-Samath bahwa “agama Islam itu adalah seperti yang tampak pada diri manusia (kaum muslimin secara umum), yaitu mengakui tiada Tuhan selain Allah, mendirikan salat, mengeluarkan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa di bulan Ramadhan.”

Imam Abu Hanifah tercatat memiliki hubungan sangat dekat dengan Ahlul Bait yang dalam Syiah diyakini sebagai imam-imam mereka. Bahkan, kedekatan itu telah dimulai sejak kakeknya (Zauthi) dan Sayyidina Ali bin Abu Thalib. Saat baru masuk Islam dan hijrah ke Kufah, Zauthi berjumpa dengan Sayyidina Ali dan terbit kecintaan kepadanya. Saat putranya bernama Tsabit lahir, Sayyidina Ali mendoakan Tsabit agar keturunannya diberkahi Allah. Maka, lahirlah Nu’man bin Tsabit, yang tak lain adalah Imam Abu Hanifah.

Imam Abu Hanifah ketika ditanya tentang Imam Ja’far ash-Shodiq, beliau berkata: “Saya tidak pernah menyaksikan seseorang yang lebih faqih dari Ja’far bin Muhammad.” Kedekatan dan kecintaannya itu hingga membawanya melakukan penentangan terhadap Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah yang berlebihan dalam membenci, memusuhi, dan memperlakukan Ahlul Bait.

Bahkan, Imam Abu Hanifah dengan tegas berpendapat bahwa pemerintahan Bani Umayyah tidak sah karena tidak berdasarkan pada dasar-dasar pemerintahan dalam Islam. Karena itu, ia membela Zaid bin Ali Zainal Abidin (Syiah Zaidiyah) tatkala memberontak khalifah Bani Umayyah.

Begitu pula Imam Abu Hanifah menentang Bani Abbasiyah. Ia pernah meminta orang-orang untuk membela Ibrahim al-Imam dan saudara laki-lakinya, An-Nafs Zakiyah, yang keduanya putra Hasan bin Ali bin Abu Thalib ketika memberontak pada Khalifah al-Manshur.

Sebagaimana Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dikenal sangat tinggi kecintaannya pada Ahlul Bait. Bahkan, kecintaan itu hingga membuatnya kerap dituduh rafidhah dan terlibat bersama gerakan Syiah di masa Harun ar-Rasyid, sehingga ia meyindir mereka dengan mengatakan: “Jika kecintaan pada keluarga Muhammad menjadikanku Rafidhah, maka saksikanlah wahai jin dan manusia bahwa aku Rafidhah.”

Dalam pernyataannya yang lain, ia mengatakan: “Jika kami mengagungkan Ali, maka menurut orang bodoh, kami adalah Rafidhah. Tapi jika kami mengunggulkan Abu Bakar, maka kami dianggap sebagai pendukungnya. Kalau begitu, saya masih berstatus Rafidhah dan pendukung Abu Bakar. Saya akan terus menjalankan ajaran agama, meski harus berjalan di atas pasir.”

Di samping itu, seperti dicatat dalam Tahzib at-Tahzib karya Ibnu Hajar as-‘Asqallany, di antara sekian banyak guru Imam Syafi’i adalah Abu Ishaq bin Muhammad bin Abi Yahya al-Aslamy, seorang tokoh Syiah murid Imam Ja’far ash-Shodiq. Namun, karena kondisi politik yang begitu keras tekanan kepada Ahlul Bait dan pengikutnya saat itu, Imam Syafi’i tak selalu menyebut namanya, namun menyebutnya sebagai “seorang yang terpercaya”.

Selanjutnya tentang Imam Abu Hanifah, ketika Imam Malik ditanya tentang Imam Abu Hanifah, maka ia memujinya dengan berkata, “Ya, aku telah melihat seorang lelaki yang seandainya Anda meminta ia untuk menjelaskan bahwa tiang kayu ini adalah emas, niscaya ia mampu menegakkan alasan-alasannya.”

Sedangkan Imam Syafi’i pernah berkata tentang Imam Abu Hanifah bahwa “semua orang ditanggung oleh lima orang. Siapa saja yang ingin mahir dalam bidang fikih, maka ia ditanggung oleh Abu Hanifah…”

Dalam Al-Muwaffaq al-Makki juga direkam bahwa Imam Syafi’i pernah berkata: “Sungguh saya biasa bertabarruk dengan Imam Abu Hanifah dan datang ke kuburannya setiap hari. Jika saya menghadapi masalah rumit, saya salat dua rakaat lalu datang ke kuburannya untuk memohon kepada Allah agar memenuhi hajat saya, dan tak lama kemudian hajat itu terpenuhi.”

Adapun tentang Imam Malik, Imam Syafi’i pernah berkata bahwa “aku tidak pernah menghormati seorang pun seperti penghormatanku pada Malik bin Anas.” Dalam catatan lain, Imam Syafi’i tercatat pernah berkata, “ketika berbicara tentang atsar, maka Imam Malik adalah bintangnya.”

Ia juga pernah berkata bahwa “Imam Maik adalah pendidikku dan guruku. Darinya aku menyerap ribuan pengetahuan. Tiada seorang pun yang lebih kupercayai mengenai agama Allah melebihi dirinya. Karenanya, aku menjadikannya sebagai hujjah antara diriku dan Allah.”

Sedangkan tentang Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya, “Apakah Syafi’i seorang ahli hadis?” Ia menjawab, “Ya, demi Allah, ia adalah ahli hadis.” Jawaban itu bahkan diulang tiga kali sebagai penekanan. Imam Ahmad bin Hanbal juga pernah berkata tentang Imam Syafi’i bahwa “Imam Syafi’i adalah mujaddid abad kedua dan imam panutan generasi-generasi berikutnya.

Sebelum keluar dari Baghdad dan berpisah dengan muridnya, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi’i memberi kesaksian pada pembesar ulama di kota itu dengan mengatakan, “aku telah keluar dari Baghdad. Aku tidak meninggalkan di dalam kota itu orang yang lebih bertakwa dan lebih tahu tentang fikih melebihi Ibnu Hanbal.”

Di lain waktu, ketika Imam Syafi’i di Mesir, ia berkata pada muridnya, Ar-Rabi’ bin Sulaiman tentang Imam Ahmad bin Hanbal bahwa “Ahmad adalah seorang imam dalam delapan perkara: hadis, fikih, bahasa, kefakiran, kezuhudan, wara’, dan Sunnah.”

Di luar lima mazhab tersebut, Zaid bin Ali yang merupakan imam mazhab Syiah Zaidiyah tercatat pernah belajar pada Washil bin Atha’ yang merupakan tokoh utama Mu’tazilah. Di sisi lain, Imam Abu Hanifah yang merupakan imam mazhab fikih Sunni Hanafi tercatat berbaiat kepada imam mazhab Zaidiyah setelah Imam Zaid, yakni Imam Muhammad bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Abu Thalib.

Ketika baiat itu didengar oleh Khalifah al-Mansur, Imam Abu Hanifah ditangkap dan dipenjara sampai akhir hidupnya lantaran ia dituduh sebagai pecinta dan pendukung gerakan Ahlul Bait.

Di samping itu, Imam Syafi’i juga dikisahkan pernah berdebat sengit dengan muridnya, Yunus bin Abdi, hingga membuat Yunus marah dan meninggalkan majelis. Namun, Sang Imam justru datang menemui Yunus di rumahnya untuk menasihatinya bahwa perbedaan adalah lumrah dan rahmat. Di antara salah satu bait nasihatnya begini: “Engkau boleh mengkritik pendapat yang berbeda, namun tetap hormatilah orang yang berbeda pendapat.”

Inilah sedikit cuplikan sejarah keteladanan di tengah perbedaan dalam Islam. Meskipun berbeda pendapat sangat sengit dan dalam banyak perkara fikih maupun ushul fikih, termasuk juga beberapa dalam perkara politik dan kalam (teologi), mereka tetap saling mencintai dan memuji.

Dan akhirnya, yang menjadi pertanyaan sekaligus renungan bersama bagi kita, jika mereka saja tetap saling cinta dan memuji di tengah perbedaan, kenapa sebagian kita malah saling benci dan mencaci di tengah perbedaan?

Baca juga:

Tak Ada Paksaan dalam Agama. Titik!

Jangan-jangan Kita Sendiri yang Intoleran?

Keragaman Agama Itu Sunnatullah

Avatar
Husein Ja'far Al Hadar
Vlogger Islam Cinta yang tak lagi jomblo. Direktur Cultural Islamic Academy, Jakarta. Mahasiswa Tafsir Qur’an Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Berita sebelumnyaNgilu Kristiani di Kota Wali
Berita berikutnyaImaji Batu Hitam
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Konservatisme Agama di Indonesia: Fenomena Religio-Sosial, Kultural, dan Politik (2)

Ricklefs dalam trilogi bukunya yang sangat monumental (Mystic Synthesis in Java; Polarizing Javanese Society dan Islamisation and Its Opponents in Java) tentang enam abad Islamisasi di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.