in

Para Imam Mazhab di Tengah Perbedaan Pendapat


Melanjutkan kolom saya berjudul Sejarah Perbedaan Pendapat dalam Islam, kali ini saya akan merangkum bagaimana sikap para imam mazhab fikih menyikapi perbedaan di antara mereka. Perkara ini menarik lantaran beberapa alasan.

Pertama, di antara mereka hampir seluruhnya memiliki hubungan sebagai guru dan murid: di mana Imam Abu Hanifah pernah belajar dua tahun pada Imam Ja’far ash-Shadiq, Imam Abu Hanifah dan Imam Malik dihubungkan oleh dua murid utama Imam Abu Hanifah yang juga belajar pada Imam Malik, Imam Malik adalah guru bagi Imam Syafi’i sejak Imam Syafi’i berusia 13 tahun dan juga Imam Syafi’i menjadi murid dari murid Imam Abu Hanifah untuk mendalami fikih rasional Imam Abu Hanifah, dan akhirnya Imam Syafi’i adalah guru bagi Imam Ahmad bin Hanbal.

Namun, meskipun begitu, mereka tak tabu untuk saling berbeda dan murid mengkritik keras gurunya.

Kedua, fikih merupakan cabang keilmuan Islam yang paling sesak dengan perbedaan, namun di antara imam-imamnya justru sangat “mesra” hubungannya: saling memahami, saling memuji.

Ketiga, perbedaan dalam fikih bertolak dari perbedaan metodologis di tingkat mendasar, yakni ushul fikih. Karenanya, bisa jadi lantaran sifat perbedaannya yang metodologis itu yang menyebabkan perbedaan dalam fikih lebih mudah dipahami dan diterima.

Dimulai dari yang tertua, yakni Imam Ja’far ash-Shadiq, kita dapatkan darinya pujian tentang keabsahan firqah di luar firqah-nya (Syiah Imamiyah) sebagai kesatuan dalam khazanah agama Islam. Ia berkata, sebagaimana diriwayatkan oleh Sufyan bin as-Samath bahwa “agama Islam itu adalah seperti yang tampak pada diri manusia (kaum muslimin secara umum), yaitu mengakui tiada Tuhan selain Allah, mendirikan salat, mengeluarkan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa di bulan Ramadhan.”

Imam Abu Hanifah tercatat memiliki hubungan sangat dekat dengan Ahlul Bait yang dalam Syiah diyakini sebagai imam-imam mereka. Bahkan, kedekatan itu telah dimulai sejak kakeknya (Zauthi) dan Sayyidina Ali bin Abu Thalib. Saat baru masuk Islam dan hijrah ke Kufah, Zauthi berjumpa dengan Sayyidina Ali dan terbit kecintaan kepadanya. Saat putranya bernama Tsabit lahir, Sayyidina Ali mendoakan Tsabit agar keturunannya diberkahi Allah. Maka, lahirlah Nu’man bin Tsabit, yang tak lain adalah Imam Abu Hanifah.

Baca Juga :   Bonar Tigor: Bima Arya Pemimpin Pragmatis dan Ragu

Imam Abu Hanifah ketika ditanya tentang Imam Ja’far ash-Shodiq, beliau berkata: “Saya tidak pernah menyaksikan seseorang yang lebih faqih dari Ja’far bin Muhammad.” Kedekatan dan kecintaannya itu hingga membawanya melakukan penentangan terhadap Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah yang berlebihan dalam membenci, memusuhi, dan memperlakukan Ahlul Bait.

Bahkan, Imam Abu Hanifah dengan tegas berpendapat bahwa pemerintahan Bani Umayyah tidak sah karena tidak berdasarkan pada dasar-dasar pemerintahan dalam Islam. Karena itu, ia membela Zaid bin Ali Zainal Abidin (Syiah Zaidiyah) tatkala memberontak khalifah Bani Umayyah.

Begitu pula Imam Abu Hanifah menentang Bani Abbasiyah. Ia pernah meminta orang-orang untuk membela Ibrahim al-Imam dan saudara laki-lakinya, An-Nafs Zakiyah, yang keduanya putra Hasan bin Ali bin Abu Thalib ketika memberontak pada Khalifah al-Manshur.


Sebagaimana Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dikenal sangat tinggi kecintaannya pada Ahlul Bait. Bahkan, kecintaan itu hingga membuatnya kerap dituduh rafidhah dan terlibat bersama gerakan Syiah di masa Harun ar-Rasyid, sehingga ia meyindir mereka dengan mengatakan: “Jika kecintaan pada keluarga Muhammad menjadikanku Rafidhah, maka saksikanlah wahai jin dan manusia bahwa aku Rafidhah.”

Dalam pernyataannya yang lain, ia mengatakan: “Jika kami mengagungkan Ali, maka menurut orang bodoh, kami adalah Rafidhah. Tapi jika kami mengunggulkan Abu Bakar, maka kami dianggap sebagai pendukungnya. Kalau begitu, saya masih berstatus Rafidhah dan pendukung Abu Bakar. Saya akan terus menjalankan ajaran agama, meski harus berjalan di atas pasir.”

Di samping itu, seperti dicatat dalam Tahzib at-Tahzib karya Ibnu Hajar as-‘Asqallany, di antara sekian banyak guru Imam Syafi’i adalah Abu Ishaq bin Muhammad bin Abi Yahya al-Aslamy, seorang tokoh Syiah murid Imam Ja’far ash-Shodiq. Namun, karena kondisi politik yang begitu keras tekanan kepada Ahlul Bait dan pengikutnya saat itu, Imam Syafi’i tak selalu menyebut namanya, namun menyebutnya sebagai “seorang yang terpercaya”.

Baca Juga :   Mengapa Kita Saling Membenci?

Selanjutnya tentang Imam Abu Hanifah, ketika Imam Malik ditanya tentang Imam Abu Hanifah, maka ia memujinya dengan berkata, “Ya, aku telah melihat seorang lelaki yang seandainya Anda meminta ia untuk menjelaskan bahwa tiang kayu ini adalah emas, niscaya ia mampu menegakkan alasan-alasannya.”

Sedangkan Imam Syafi’i pernah berkata tentang Imam Abu Hanifah bahwa “semua orang ditanggung oleh lima orang. Siapa saja yang ingin mahir dalam bidang fikih, maka ia ditanggung oleh Abu Hanifah…”

Dalam Al-Muwaffaq al-Makki juga direkam bahwa Imam Syafi’i pernah berkata: “Sungguh saya biasa bertabarruk dengan Imam Abu Hanifah dan datang ke kuburannya setiap hari. Jika saya menghadapi masalah rumit, saya salat dua rakaat lalu datang ke kuburannya untuk memohon kepada Allah agar memenuhi hajat saya, dan tak lama kemudian hajat itu terpenuhi.”

Adapun tentang Imam Malik, Imam Syafi’i pernah berkata bahwa “aku tidak pernah menghormati seorang pun seperti penghormatanku pada Malik bin Anas.” Dalam catatan lain, Imam Syafi’i tercatat pernah berkata, “ketika berbicara tentang atsar, maka Imam Malik adalah bintangnya.”

Ia juga pernah berkata bahwa “Imam Maik adalah pendidikku dan guruku. Darinya aku menyerap ribuan pengetahuan. Tiada seorang pun yang lebih kupercayai mengenai agama Allah melebihi dirinya. Karenanya, aku menjadikannya sebagai hujjah antara diriku dan Allah.”

Sedangkan tentang Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya, “Apakah Syafi’i seorang ahli hadis?” Ia menjawab, “Ya, demi Allah, ia adalah ahli hadis.” Jawaban itu bahkan diulang tiga kali sebagai penekanan. Imam Ahmad bin Hanbal juga pernah berkata tentang Imam Syafi’i bahwa “Imam Syafi’i adalah mujaddid abad kedua dan imam panutan generasi-generasi berikutnya.

Sebelum keluar dari Baghdad dan berpisah dengan muridnya, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi’i memberi kesaksian pada pembesar ulama di kota itu dengan mengatakan, “aku telah keluar dari Baghdad. Aku tidak meninggalkan di dalam kota itu orang yang lebih bertakwa dan lebih tahu tentang fikih melebihi Ibnu Hanbal.”

Di lain waktu, ketika Imam Syafi’i di Mesir, ia berkata pada muridnya, Ar-Rabi’ bin Sulaiman tentang Imam Ahmad bin Hanbal bahwa “Ahmad adalah seorang imam dalam delapan perkara: hadis, fikih, bahasa, kefakiran, kezuhudan, wara’, dan Sunnah.”

Di luar lima mazhab tersebut, Zaid bin Ali yang merupakan imam mazhab Syiah Zaidiyah tercatat pernah belajar pada Washil bin Atha’ yang merupakan tokoh utama Mu’tazilah. Di sisi lain, Imam Abu Hanifah yang merupakan imam mazhab fikih Sunni Hanafi tercatat berbaiat kepada imam mazhab Zaidiyah setelah Imam Zaid, yakni Imam Muhammad bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Abu Thalib.

Baca Juga :   Mempertanyakan Eksklusivisme-Inklusivisme-Pluralisme dalam Beragama

Ketika baiat itu didengar oleh Khalifah al-Mansur, Imam Abu Hanifah ditangkap dan dipenjara sampai akhir hidupnya lantaran ia dituduh sebagai pecinta dan pendukung gerakan Ahlul Bait.

Di samping itu, Imam Syafi’i juga dikisahkan pernah berdebat sengit dengan muridnya, Yunus bin Abdi, hingga membuat Yunus marah dan meninggalkan majelis. Namun, Sang Imam justru datang menemui Yunus di rumahnya untuk menasihatinya bahwa perbedaan adalah lumrah dan rahmat. Di antara salah satu bait nasihatnya begini: “Engkau boleh mengkritik pendapat yang berbeda, namun tetap hormatilah orang yang berbeda pendapat.”

Inilah sedikit cuplikan sejarah keteladanan di tengah perbedaan dalam Islam. Meskipun berbeda pendapat sangat sengit dan dalam banyak perkara fikih maupun ushul fikih, termasuk juga beberapa dalam perkara politik dan kalam (teologi), mereka tetap saling mencintai dan memuji.

Dan akhirnya, yang menjadi pertanyaan sekaligus renungan bersama bagi kita, jika mereka saja tetap saling cinta dan memuji di tengah perbedaan, kenapa sebagian kita malah saling benci dan mencaci di tengah perbedaan?

Baca juga:

Tak Ada Paksaan dalam Agama. Titik!

Jangan-jangan Kita Sendiri yang Intoleran?

Keragaman Agama Itu Sunnatullah


Direktur Cultural Islamic Academy, Jakarta. Mahasiswa Tafsir Qur’an Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR