Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Oscar Lawalata dan Manufakturisasi Agama

Urgensi Desentralisasi Partai Politik

Tak ada yang bisa menggaransi sejauh ini kalau demokrasi internal partai politik di tingkat lokal atau kepengurusan di daerah akan memperoleh kemandiriannya. Sebab, tidak...

Pidato Revisionis* Presiden Terpilih [Visi Keberlanjutan Indonesia]     

Assalamualaikum Wr. Wb. Salam sejahtera bagi kita semua Om swastiastu Namo buddhaya Salam kebajikan Bapak, Ibu, saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Seluruh rakyat Indonesia yang saya cintai. Hadirin yang berbahagia. Kita...

Tragedi Cinta Allah di Bumi Indonesia

Tragedi cinta di dunia yang terancam pertama kali terjadi ketika Adam dan Hawa diturunkan Tuhan ke bumi. Tuhan memisahkan mereka di bumi. Adam di...

Jangan Panggil Mereka Kafir, Sebuah Catatan Kecil

Forum Bahtsul Masa'il, Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Banjar, Jawa Barat pekan lalu menghasilkan beberapa keputusan. Salah satunya adalah, konsep Muwathin...
Avatar
Fathorrahman Ghufron
Wakil Katib Syuriyah PWNU dan Pengurus LPPM Universitas NU (UNU) Yogyakarta. Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga.

hijab
Ilustrasi (Foto Beritasatu.com)

Dalam akun Facebooknya (17/5/2016), desainer Oscar Lawalata menyampaikan: “Ada yang bertanya kepada saya, mengapa saya tidak mendesain dan membuat busana Muslim dan jilbab? Sebuah komoditi bisnis yang menjanjikan di Indonesia. Jauh saya berbicara pada nurani saya, apakah saya mau mengeruk harta dan uang dari hasil berjualan atribut agama yang dikaitkan dengan pentas dunia fashion?”

Pernyataan Oscar di atas menyelipkan sebuah kegelisahan batin sekaligus otokritik kepada beberapa pihak yang getol menggunakan agama sebagai medium personifikasi ajaran dan ekspresi keyakinan teologis dalam dimensi ekonomi yang berafiliasi kuat terhadap pemenuhan keuntungan material.

Otokritik tersebut kian terasa dan semakin menggugah kesadaran kita saat umat Islam sedang menjalani ibadah puasa.  Kita tahu pada bulan puasa Ramadhan ada semacam festival of consumption yang digelar oleh berbagai pihak untuk meraup pendapatan.

Melalui pengemasan syiar Ramadhan secara ekonomis, berbagai pihak memotifikasi produknya dengan nuansa agama agar memperoleh pangsa pasar dan minat pembeli yang besar. Berbagai jenis produk pangan dan sandang maupun ritus keagamaan seperti ibadah umrah kian berpadu dengan nalar konsumtif masyarakat yang sama-sama terlibat dalam pemenuhan kepuasan duniawi.

Bahkan pada titik tertentu beberapa pihak menggunakan beberapa teks keagamaan untuk melegitimasi barang dagangannya adalah yang paling “syar’i” dan ditunjang oleh figurisasi beberapa person yang dianggap memiliki daya panutan spiritual—seperti komunitas para ustadz—di mata masyarakat. Dengan cara demikian, komoditasnya bisa menuai animo dari para calon pembeli.

Dalam potret kesilang-dukungan antara pihak yang memotifikasi agama sebagai medium ekonomisasi dan beberapa figur yang “ditokohkan sebagai agamawan” oleh sekelompok masyarakat, semakin meneguhkan bahwa agama dianggap sebagai dimensi yang bersifat “sui generis” untuk menghasilkan pendapatan.

Apalagi, dalam mekanismenya turut memanfaatkan momen tertentu yang sangat menjanjikan seperti bulan Ramadhan yang secara sosiologis dianggap bulan keberkahan material. Sebuah anggapan yang tentu bertolak belakang dari makna esensial “keberkahan” Ramadhan yang merujuk pada dimensi yang bersifat transendental.

Sistem Kapitalisasi
Penggambaran agama sebagai aspek yang bersifat “sui generis” dalam bingkai manufakturisasi dijelaskan secara detail oleh Russell T. McCutheon dalam buku Manufacturing Religion: The Discourse on Sui Generis Religion and The Politics of Nostalgia. Dalam analisisnya, agama menjadi sesuatu yang sui-generis untuk digunakan sebagai strategi mempengaruhi berbagai pihak. Semisal dalam aspek sosio-politik, agama dimanufakturisasi melalui fatwa-fatwa keagamaan maupun jaringan indoktrinasi untuk menguasai sebuah arena kekuasaaan sekaligus menggerakkan dukungan massa.

Tak terkecuali dalam dalam aspek ekonomi, agama pun dapat diatribusi sebagai strategi pemasaran untuk meraih sistem kapital yang paling menguntungkan. Masing-masing pihak yang berkepentingan mengoptimalisasi pendapatan ekonominya saling menghadirkan slogan-slogan keagamaan yang bersumber dari beberapa dalil al-Qur’an maupun hadis. Bahkan, untuk lebih meyakinkan bahwa produknya adalah yang paling layak digunakan dan dikonsumsi, tak pelak mencari legitimasi dari pihak-pihak terkait yang memiliki otoritas keagamaan sebagai pandu keabsahan.

Apalagi di bulan Ramadhan ketika perhatian dan pemenuhaan umat beragama begitu besar terhadap komoditas pangan dan sandang. Momen ini menjadi ajang kompetisi para pelaku ekonomi untuk menaikkan sistem produksinya dan mengemasnya dengan model pencitraan bernuansa keagamaan. Demikian pula berbagai tayangan televisi banyak menyiarkan acara dan tontonan keagamaan untuk menyesuaikan sebuah momen di masa Ramadhan.

Seolah-olah Ramadhan adalah bulan yang paling menjanjikan bagi pelipatgandaan keuntungan. Bahkan, bisa jadi bulan Ramadhan adalah ajang nostalgia bagi semua pihak untuk melampiaskan hasratnya dan memenuhi keinginannya. Tak peduli apakah secara esensial praktik berpuasa di bulan Ramadhan perlahan-lahan mengalami pergeseran makna dari jangkar transendentalitasnya.

Dalam kondisi demikian, agama pun menjadi gegar. Keberadaannya tak lagi sakral. Karena, di dalam kehadirannya telah dilingkupi oleh para penguasa kapital yang menstimulasi banyak pihak untuk tunduk dalam relasi kuasanya. Para pencari keuntungan benar-benar memanfaatkan agama sebagai unsur yang sui-generis yang bisa membukakan segala pintu peluang dan kesempatan, tempat bersemainya para penikmat ragawi.

Di tengah ramainya banyak pihak yang berlomba-lomba memanfaatkan agama sebagai unsur yang sui-generis untuk meraih keuntungan material, Oscar Lawalata tetap memilih jalan kesucian sekulernya (hallowed secularism) dengan memisahkan dan melepaskan agama dari arena peruntungannya di dunia fashion.

Oscar mencoba meletakkan fashion pada dunianya yang otentik yang dimensinya untuk mengeksplorasi kebebasan berekspresi dan berkreasi dengan nilai-nilai keindahan yang ada pada fashion. Sedangkan agama dia letakkan pada dunianya sendiri yang keberadaannya bersifat transenden dan imanen serta peruntukannya memang untuk Tuhan yang tidak dimaterialisasi dan tidak dikomersialisasi.

Oleh karena itu, ketika agama yang kita peluk diyakini sebagai jalan untuk membentuk pribadi yang shaleh, dan ketika puasa Ramadhan yang kita jalani diyakini sebagai momen membentuk pribadi yang shaleh pula, maka kita pun perlu belajar kepada Oscar Lawalata yang telah mengingatkan jalan kesalehan kepada kita melalui cara menempatkan agama pada titik fitrahnya yang otentik.

Avatar
Fathorrahman Ghufron
Wakil Katib Syuriyah PWNU dan Pengurus LPPM Universitas NU (UNU) Yogyakarta. Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.