OUR NETWORK

Oscar Lawalata dan Manufakturisasi Agama

hijab
Ilustrasi (Foto Beritasatu.com)

Dalam akun Facebooknya (17/5/2016), desainer Oscar Lawalata menyampaikan: “Ada yang bertanya kepada saya, mengapa saya tidak mendesain dan membuat busana Muslim dan jilbab? Sebuah komoditi bisnis yang menjanjikan di Indonesia. Jauh saya berbicara pada nurani saya, apakah saya mau mengeruk harta dan uang dari hasil berjualan atribut agama yang dikaitkan dengan pentas dunia fashion?”

Pernyataan Oscar di atas menyelipkan sebuah kegelisahan batin sekaligus otokritik kepada beberapa pihak yang getol menggunakan agama sebagai medium personifikasi ajaran dan ekspresi keyakinan teologis dalam dimensi ekonomi yang berafiliasi kuat terhadap pemenuhan keuntungan material.

Otokritik tersebut kian terasa dan semakin menggugah kesadaran kita saat umat Islam sedang menjalani ibadah puasa.  Kita tahu pada bulan puasa Ramadhan ada semacam festival of consumption yang digelar oleh berbagai pihak untuk meraup pendapatan.

Melalui pengemasan syiar Ramadhan secara ekonomis, berbagai pihak memotifikasi produknya dengan nuansa agama agar memperoleh pangsa pasar dan minat pembeli yang besar. Berbagai jenis produk pangan dan sandang maupun ritus keagamaan seperti ibadah umrah kian berpadu dengan nalar konsumtif masyarakat yang sama-sama terlibat dalam pemenuhan kepuasan duniawi.

Bahkan pada titik tertentu beberapa pihak menggunakan beberapa teks keagamaan untuk melegitimasi barang dagangannya adalah yang paling “syar’i” dan ditunjang oleh figurisasi beberapa person yang dianggap memiliki daya panutan spiritual—seperti komunitas para ustadz—di mata masyarakat. Dengan cara demikian, komoditasnya bisa menuai animo dari para calon pembeli.

Dalam potret kesilang-dukungan antara pihak yang memotifikasi agama sebagai medium ekonomisasi dan beberapa figur yang “ditokohkan sebagai agamawan” oleh sekelompok masyarakat, semakin meneguhkan bahwa agama dianggap sebagai dimensi yang bersifat “sui generis” untuk menghasilkan pendapatan.

Apalagi, dalam mekanismenya turut memanfaatkan momen tertentu yang sangat menjanjikan seperti bulan Ramadhan yang secara sosiologis dianggap bulan keberkahan material. Sebuah anggapan yang tentu bertolak belakang dari makna esensial “keberkahan” Ramadhan yang merujuk pada dimensi yang bersifat transendental.

Sistem Kapitalisasi
Penggambaran agama sebagai aspek yang bersifat “sui generis” dalam bingkai manufakturisasi dijelaskan secara detail oleh Russell T. McCutheon dalam buku Manufacturing Religion: The Discourse on Sui Generis Religion and The Politics of Nostalgia. Dalam analisisnya, agama menjadi sesuatu yang sui-generis untuk digunakan sebagai strategi mempengaruhi berbagai pihak. Semisal dalam aspek sosio-politik, agama dimanufakturisasi melalui fatwa-fatwa keagamaan maupun jaringan indoktrinasi untuk menguasai sebuah arena kekuasaaan sekaligus menggerakkan dukungan massa.

Tak terkecuali dalam dalam aspek ekonomi, agama pun dapat diatribusi sebagai strategi pemasaran untuk meraih sistem kapital yang paling menguntungkan. Masing-masing pihak yang berkepentingan mengoptimalisasi pendapatan ekonominya saling menghadirkan slogan-slogan keagamaan yang bersumber dari beberapa dalil al-Qur’an maupun hadis. Bahkan, untuk lebih meyakinkan bahwa produknya adalah yang paling layak digunakan dan dikonsumsi, tak pelak mencari legitimasi dari pihak-pihak terkait yang memiliki otoritas keagamaan sebagai pandu keabsahan.

Apalagi di bulan Ramadhan ketika perhatian dan pemenuhaan umat beragama begitu besar terhadap komoditas pangan dan sandang. Momen ini menjadi ajang kompetisi para pelaku ekonomi untuk menaikkan sistem produksinya dan mengemasnya dengan model pencitraan bernuansa keagamaan. Demikian pula berbagai tayangan televisi banyak menyiarkan acara dan tontonan keagamaan untuk menyesuaikan sebuah momen di masa Ramadhan.

Seolah-olah Ramadhan adalah bulan yang paling menjanjikan bagi pelipatgandaan keuntungan. Bahkan, bisa jadi bulan Ramadhan adalah ajang nostalgia bagi semua pihak untuk melampiaskan hasratnya dan memenuhi keinginannya. Tak peduli apakah secara esensial praktik berpuasa di bulan Ramadhan perlahan-lahan mengalami pergeseran makna dari jangkar transendentalitasnya.

Dalam kondisi demikian, agama pun menjadi gegar. Keberadaannya tak lagi sakral. Karena, di dalam kehadirannya telah dilingkupi oleh para penguasa kapital yang menstimulasi banyak pihak untuk tunduk dalam relasi kuasanya. Para pencari keuntungan benar-benar memanfaatkan agama sebagai unsur yang sui-generis yang bisa membukakan segala pintu peluang dan kesempatan, tempat bersemainya para penikmat ragawi.

Di tengah ramainya banyak pihak yang berlomba-lomba memanfaatkan agama sebagai unsur yang sui-generis untuk meraih keuntungan material, Oscar Lawalata tetap memilih jalan kesucian sekulernya (hallowed secularism) dengan memisahkan dan melepaskan agama dari arena peruntungannya di dunia fashion.

Oscar mencoba meletakkan fashion pada dunianya yang otentik yang dimensinya untuk mengeksplorasi kebebasan berekspresi dan berkreasi dengan nilai-nilai keindahan yang ada pada fashion. Sedangkan agama dia letakkan pada dunianya sendiri yang keberadaannya bersifat transenden dan imanen serta peruntukannya memang untuk Tuhan yang tidak dimaterialisasi dan tidak dikomersialisasi.

Oleh karena itu, ketika agama yang kita peluk diyakini sebagai jalan untuk membentuk pribadi yang shaleh, dan ketika puasa Ramadhan yang kita jalani diyakini sebagai momen membentuk pribadi yang shaleh pula, maka kita pun perlu belajar kepada Oscar Lawalata yang telah mengingatkan jalan kesalehan kepada kita melalui cara menempatkan agama pada titik fitrahnya yang otentik.

Fathorrahman Ghufron

Wakil Katib Syuriyah PWNU dan Pengurus LPPM Universitas NU (UNU) Yogyakarta. Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

REKOMENDASI

KARTUN HARI INI

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…