OUR NETWORK

Muhammadiyah Zaman Old dan Zaman Now (Tanggapan untuk Shofan)

Artinya, bukan hanya Muhammadiyah yang butuh penyegaran. Bisa jadi, JIMM juga butuh pembaharuan

Pada tanggal 7 Februari 2018, Mas Moh Shofan menulis tentang Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah. Satu dekade silam, komunitas yang (menurut mas Shofan) tidak ada kaitannya secara struktural dengan Persyarikatan ini menggebrak dengan rangkaian pemikiran progresif yang, sayangnya, dianggap “benalu” dalam Persyarikatan. Di Muktamar Malang (2005), aktivis-aktivis muda Muhammadiyah ini dianggap memiliki pemikiran yang tidak sesuai dengan ‘pakem’ Persyarikatan dan dianggap ‘benalu’.

Sebagai generasi muda Muhammadiyah yang tidak hidup sezaman dengan JIMM, saya mungkin tidak ingin berkomentar dengan tulisan Mas Shofan tersebut. Di tahun 2005, saya masih berada di Sekolah Menengah Pertama dan bersentuhan dengan Muhammadiyah sebatas aktif di Mesjid dan Keluarga.

Ajakan Mas Shofan bisa jadi penting: Anak-anak muda Muhammadiyah perlu kembali mewarnai kembali tradisi progresif-liberal KH Ahmad Dahlan sebagai the founding father Muhammadiyah. Setelah dua abad, Muhammadiyah dihadapkan pada tantangan yang baru. Ijtihad dan pembaharuan, dengan demikian, adalah niscaya. JIMM bisa jadi punya relevansi di sana -kendati akan berhadapan dengan generasi yang lebih tua.

Namun demikian, ada satu problem disini: JIMM sudah berusia lebih dari satu dekade. Generasi yang dulu ‘muda’ kini sudah menjadi bagian dari pengurus dan intelektual Muhammadiyah yang kiprahnya juga lebih besar. Sebagian mewarnai dunia politik dan aktivisme masyarakat sipil. Sebagian sibuk dengan aktivitas mengajar.

Artinya, bukan hanya Muhammadiyah yang butuh penyegaran. Bisa jadi, JIMM juga butuh pembaharuan. Ini bukan berarti JIMM tidak lagi relevan -sebagaimana pendapat Mas Shofan- masih dibutuhkan untuk menyegarkan pembaharuan pemikiran keagamaan dalam Muhammadiyah. Namun demikian, kita juga harus mengakui bahwa setelah satu dekade, JIMM perlu reposisi kiprah gerakan, agar tidak lekang ditelan zaman.

Sebagai generasi muda Muhammadiyah yang lahir setelah tahun 2000, saya merasakan betul bedanya ‘menjadi Muhammadiyah’ dengan generasi orang tua atau kakak-kakak saya dulu. Ada banyak faktor: profesi yang semakin ‘tidak nyambung’ dengan Muhammadiyah, persentuhan dengan ‘wacana Islam’ dari gerakan-gerakan lain yang sangat beragam, hingga tren keberagaman.

Perdebatan keagamaan zaman dulu mayoritas terjadi antara Muhammadiyah dan NU. Sekarang, muncul banyak tradisi beragama lain: Tarbiyah, HTI, Tabligh, Salafi, hingga model-model keagamaan ‘pop’ yang malas mengafiliasikan diri dengan gerakan apapun yang lebih tua.

Belum dengan tantangan profesional. Berkuliah di Yogyakarta dan menjadi peneliti, dunia yang saya geluti ternyata tidak banyak bersambung dengan pemikiran Muhammadiyah. Apalagi bagi ilmuwan sosial seperti saya.

Beruntung, saya lahir dan besar dari keluarga Muhammadiyah dan berkenalan dengan KH Ahmad Dahlan. Tapi apa pentingnya Muhammadiyah dalam kajian-kajian tentang ASEAN, Politik Luar Negeri Indonesia, Teori Hubungan Internasional Kritis, hingga Transformasi Ekonomi Politik Global? Mungkin Muhammadiyah punya gagasan dan kiprah, yang juga saya pelajari, tapi mungkin hanya sedikit yang beririsan dengan subjek kajian saya.

Di sisi lain, saya mendapati referensi keagamaan Muhammadiyah yang ‘ofisial’ semakin tidak menarik bagi generasi muda seusia saya. Mungkin ada banyak Ustadz Muhammadiyah atau Intelektual JIMM yang memiliki pemikiran bagus, menyampaikan dalam Seminar, dalam pengajian-pengajian Cabang Muhammadiyah. Atau mungkin di kelas.

Tapi ketika saya membuka internet, saya tiba-tiba lebih sering membaca Indoprogress atau Mojok yang tampilan websitenya lebih bagus dan, yang paling penting, isinya lebih segar, walau ndak terlalu “Muhammadiyah”. Tentu karena saya agak kekiri-kirian – bagi yang kekanan-kananan tentu akan lebih memilih mendengar Khalid Basalamah atau Ust Adi Hidayat di Youtube.

Mungkin hal-hal ini bisa jadi juga adalah salah saya sendiri: mengapa justru jauh dari Muhammadiyah dan tidak bergaul dengan aktivis-aktivis persyarikatan? Tapi ini juga terjadi karena saya pernah lahir dan besar di lingkungan aktivisme Muhammadiyah, dan membaca referensi-referensi pemikiran Muhammadiyah.

Ada banyak orang lain yang mungkin juga lahir dari keluarga Muhammadiyah, bersekolah di Sekolah Muhammadiyah, tapi memilih PKS, NU, atau mungkin malas berafiliasi dengan Muhammadiyah karena secara personal merasa jauh dari Persyarikatan.

Perjalanan waktu memang mengembalikan saya kembali ‘dekat’ dengan Muhammadiyah (baik di Inggris, maupun ketika pindah ke Australia. Namun demikian, saya jadi berefleksi: jika tujuan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah adalah, meminjam bahasa dari mas Shofan, mendorong agar Muhammadiyah membuka diri terhadap pikiran-pikiran progresif, maka bisa jadi strategi dan pemikirannya juga perlu direorientasi.

Sebab, hukum besi ‘progresivitas’ meniscayakan pembaharuan terus-menerus. Reorientasi ini berarti membuka diri pada munculnya area-area baru dimana Muhammadiyah bisa melakukan inovasi. Pemikiran Islam berkembang -bukan hanya di lokus-lokus semacam IAIN atau PTM, tetapi juga di ruang-ruang yang lebih ‘umum’.

Lantas, apa yang perlu dilakulan? Jika memang JIMM masih relevan di ‘zaman now’ -dan saya masih percaya itu- maka ada beberapa hal yang bisa ditawarkan.

Pertama, produksi pemikiran baru dari ‘pemikiran Islam’ menjadi ‘pengetahuan tentang Islam’. Maksudnya, JIMM ke depan tidak lagi hanya dituntut untuk menelurkan pemikiran Islam yang bersifat Studi Islam secara Eksklusif, tetapi jug Studi Islam Interdisipliner. Artinya, kajian tentang pemikiran Islam bukan lagi hanya terletak pada ‘heterogenisasi tafsir’ tetapi juga ‘aktualisasi tafsir’ dengan membawa insight dari disiplin yang beragam.

Saat ini, bisa jadi, intelektual Muhammadiyah tidak lagi hanya berlatarbelakang studi Islam, tetapi juga Ekonomi, Politik, Fisika, Hubungan Internasional, hingga sub-sub disiplinnya. Ini penting karena tren riset semakin berkembang. Kajian Islam harus berdialog dengan tren perkembangan ini, termasuk juga pemikiran-pemikiran dalam Muhammadiyah, agar klaim berkemajuan  Muhammadiyah bisa dipertahankan.

Kedua, Strategi Intelektual Baru. Jika dulu pemikiran Muhammadiyah didiskusikan dalam forum-forum Seminar dan Workshop Offline, dilakukan selama 3 hari menginap di Kaliurang atau Tawangmangu, maka sekarang bisa jadi forum-forum semacam itu juga perlu dilakukan di Website, Youtube, Grup-Grup Whatsapp, hingga live Instagram.

Paper-paper perlu dipublikasikan secara open access. Website perlu update dan dikelola secara profesional. Jurnal perlu Go Online. Definisi tentang ‘kontribusi’ perlu diperluas, tidak hanya di dengan bakti sosial atau kiprah langsung (yang tentu penting) tetapi juga dengan tulisan atau video live di instagram.

Ketigakaderisasi pemikir-pemikir baru. Kita juga harus mengakui bahwa generasi JIMM sepuluh tahun lalu kini sudah menikah, punya anak, dan menjadi lebih dewasa. Mereka kemudian menjadi ‘orang tua’ bagi generasi saya sebagaimana Moeslim Abdurrahman dan Buya Syafii Maarif bagi Pradana Boy atau Ahmad Fuad Fanani.

Ini artinya, JIMM perlu kaderisasi -mendidik intelektual muda yang baru lulus kuliah, masih punya rambut gondrong, dan tentunya jomblo. Inilah tantangan JIMM ‘zaman now’!

Ahmad Rizky Mardhatillah Umar adalah Peneliti Doktoral di School of Political Sciences and International Studies, University of Queensland, Australia. Ia terlibat aktif di Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) dan Jaringan Riset Earth System Governance (ESG). Artikel-artikel di laman ini adalah opini pribadi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…