Sabtu, Desember 5, 2020

Menuju Jalan Lurus dengan Menyadari Siklus

Sesalah-salahnya Google, Sebenar-benarnya Ulama

Saya sedih melihat perbedaan pandangan di antara mereka yang, konon, belajar agama dengan baik dipertontonkan seperti terjadi di acara Indonesia Lawyers Club - TVOne...

Benarkah Agama Menyebabkan Tindakan Kekerasan? [1]

"Jika aku bisa mengayunkan tongkat sihirku dan harus memilih apakah melenyapkan perkosaan atau agama, aku tidak akan ragu-ragu lagi untuk melenyapkan agama," tulis Sam...

Kenapa Gus Ishom Luar Biasa?

Nama Gus Ishom—panggilan akrab kiai muda Ahmad Ishomuddin—melejit bak meteor. Orang-orang di seantero negeri kerap membincangkan namanya, baik yang pro maupun yang kontra, setelah...

Islam Menolak Rasisme dan Fanatisme Etnis

Menjelang Pemilihan Kepala daerah DKI Jakarta, unsur suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA) dipakai senjata. Dalam tulisan sebelum ini saya sudah membantah penggunaan al-Qur'an...
Avatar
Candra Malik
Budayawan sufi yang bergiat di bidang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan spiritualitas.

AL-FATIHAH mempunyai makna surat pembuka. Di dalam Al-Qur’an, ia memiliki kedudukan yang teramat tinggi. Di antara enam ribu ayat yang lain di dalam kitab suci, tujuh ayat Al-Fatihah adalah ayat-ayat yang dibaca berulang-ulang pada setiap raka’at di dalam salat, baik yang fardhu maupun yang sunnah. Bahkan, dianggap tidak sempurna salat jika tak dibacakan Al-Fatihah di dalamnya. Apa sesungguhnya kekayaan kandungannya? Mengapa pula ia induk segala mukjizat?

Surat ini dibuka dengan keberserahan kepada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dilanjutkan dengan pemujaan dan pemujian kepada Rabb, yang mengatur alam semesta. Diteguhkan dengan penetapan keyakinan yang tidak berubah, pun tidak tergoyahkan ragu, betapa Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Disempurnakan dengan peletakan dasar kehambaan yang paling mendasar bagi penghambaan, yakni Allah-lah Yang Maharaja, bukan kita.

Dipungkasi dengan sikap lahir dan batin bahwa kepadaNya-lah kita menghamba dan mengiba, iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin adalah ikhtiar mengekalkan penyembahan dan persembahan. Tapi, apa yang bisa kita persembahkan kepada Allah? Adakah yang dapat kita haturkan kepada Tuhan Yang Maha Memiliki? Satu-satunya yang bisa hamba berikan kepada Allah ialah pengakuan atas kelemahan, kekurangan, keterbatasan, dan kekalahan kita sendiri jika tanpa pertolonganNya.

Hendak mengaku kuat seperti apa, jika menghadapi lapar saja kita lemas, dan jika mengalami kantuk saja kita lemah? Akan seperti apa menolong diri sendiri jika tak bisa berbuat apa pun untuk menahan laju waktu? Akan mandiri seperti apa jika tak pernah bisa seorang diri mengurus diri sendiri? Jika untuk kenyang harus mulai dari menanam padi, jika untuk tidur harus mulai dari menanam pohon randu, jika untuk mengurus diri sendiri harus mulai dari bisa serba bisa, sanggupkah kita?

Tidak. Tidak sanggup. Kita membutuhkan pertolongan. Kita memohon pertolongan dari Allah. Dialah yang mengatur alam semesta, bukan kita. Tatkala meminta pertolongan kepadaNya, sesungguhnya kita pun memohon pertolonganNya untuk mengingatkan kita atas sifat dan sikap kita yang suka jumawa dan sok jawara. Betapa suka kita mengatur, padahal kita bukan pengatur. Bahkan kita bagian dari kebersatuan dan kemenyatuan semesta yang diatur oleh sistem pengaturanNya.

Segala upaya untuk melepaskan diri dari kepengaturan Sang Maha Pengatur hanya akan menyebabkan siksa. Perlawanan ini, ketidakpatuhan dan ketidaktaatan atas keberaturan pengaturan dan peraturan Allah, adalah sumber penderitaan. Belum dihakimi Allah di Hari Pembalasan, kita telah menghukum diri kita sendiri di dunia ini dengan akibat-akibat dari penolakan dan perlawanan kita atas sunnatullah. Bahagia atau derita adalah konsekuensi dari keberserahan hamba kepada Allah.

Dengan pemahaman ini, Al-Fatihah pun menjelma siklus, sesuatu yang berulang-ulang. Setiap sampai pada ayat meminta pertolongan, setiap itu pula kesadaran kembali kepada ayat memuji Rabb yang mengatur alam semesta. Setiap meminta kepada Yang Maha Mengabulkan Doa, kita tidak meminta selain memberiNya pujian. Inilah makna dari sabda, “Afdhalu ‘d-du’a alhamdu lillahi rabbi ‘l-‘aalamiin,” dari Rasulullah: sebaik-baik permintaan adalah pemberian pujian kepada Allah.

Jika memang Al-Fatihah adalah pembuka, mengapa kita berulang-ulang membaca tujuh ayat ini? Apakah selalu tertutup lagi setiapkali kita membuka pintu kesadaran kita? Ya, kita sendiri yang selalu menutup pintu keberserahan diri, pemujaan dan pemujian, kehambaan dan penghambaan, serta penyembahan dan persembahan, kepada Allah. Kita lebih suka menolak daripada menerima. Kita lebih suka pula mengingkari daripada mengakui. Kita pun lebih suka melanggar daripada menaati.

Sampai-sampai Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan tentang perang yang lebih besar dari Perang Badar, yaitu perang melawan diri sendiri. Oleh karena itulah, sampai-sampai pula dalam urusan mimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW, ada seorang arif yang mengatakan, “Ya, memang, tidak ada setan yang dapat menyerupai Muhammad, Sang Utusan. Namun, bukan itu yang kukhawatirkan. Aku lebih khawatir pada diriku sendiri, pada ingin yang bisa menjelma angan.”

Meski sesaat, manusia bisa sesat. Lebih-lebih, kita memang tidak memiliki kuasa atas waktu. Kita pikir, kita bisa mengatur waktu, padahal tidak. Padahal waktulah yang mengatur kita dengan batas-batas. Tidak ada yang bisa mengendalikan laju waktu agar lebih cepat atau lebih lambat. Waktu selalu tepat waktu. Kita sangka kita mempercepat atau memperlambat waktu, padahal gerak ruang yang kita percepat atau perlambat. Kita kira usia bertambah, padahal sesungguhnya waktu berkurang.

Betapa makhluk tidak bisa menolong diri sendiri dan sepatutnya menghamba dan mengiba kepada Khalik. Betapa hamba tak sanggup mempersembahkan sesuatu kepada Tuannya selain dengan meminta pertolonganNya. Betapa ketika meminta, ternyata sebaik-baik permintaan adalah pemberian pujian kepada Sang Pemberi. Inilah siklus kehidupan, yang barang siapa menemukan pola keteraturan di dalam Al-Fatihah, maka ia akan menemukan poros dari pusaran perputaran itu. Poros apa?

Inilah poros Shirath al-Mustaqim, jalan yang lurus, episentrum kehidupan menuju Allah Al-Hayyu al-Qayyum, titik temu bagi setiap persimpangan, titik evakuasi bagi setiap penyimpangan. Siapa berharap penyelamatan dan keselamatan, maka tidak bisa tidak, ia harus berkumpul di Shirath al-Mustaqim sebelum jalan yang lurus ini menjelma titian rambut dibelah tujuh; tipis dan semakin tipis, lembut dan semakin lembut, lalu menghilang, dan entah bagaimana kelak kita berpulang. (bersambung).

Kolom terkait:

Tuhan Tidak Menghendaki Olok-olok

Bahkan untuk MenyembahNya, Hamba Perlu Pertolongan Tuhan

Mengapa Kita Saling Membenci?

Jangan-jangan Kita Sendiri yang Intoleran?

Rumah Tuhan dan Hal-Hal yang Terkunci

Avatar
Candra Malik
Budayawan sufi yang bergiat di bidang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan spiritualitas.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Islam Kosmopolitan

Diskursus tentang keislaman tidak akan pernah berhenti untuk dikaji dan habis untuk digali. Kendati demikian, bukan berarti tidak ada titik terang. Justru, keterkaitan Islam...

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Refleksi Natal dari Seorang Mukmin]

Setiap menjelang perayaan Natal, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang boleh tidaknya kaum Muslim mengucapkan selamat Natal menjadi perbincangan. Baru-baru ini MUI kembali menambah...

Nasib Petani Sawit Kalau Premium Dihapus

What? Chaos macam apa lagi ini? Itu pikiran saya saat beberapa bulan lalu terdengar kabar dari radio bahwa ada rencana pemerintah untuk menghapus bahan bakar...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.