Rabu, Januari 20, 2021

Menembus Dimensi Ruhaniah [Renungan Isra’ Mi’raj-1]

Bahkan untuk MenyembahNya, Hamba Perlu Pertolongan Tuhan

MALAM itu, selepas Isya, saya menelusup di antara jama'ah. Seusai pengajian, saya bersegera mendekati Syaikhul Masyaikh KH Abuya Muhtadi Dimyathi al-Bantany di sudut depan....

Menjaga Pemikiran Cak Nur

Nurcholish Madjid yang lebih akrab disapa Cak Nur merupakan salah satu pemikir Islam terkemuka di Tanah Air. Karya-karya ilmiah (skripsi, tesis, disertasi) sudah banyak...

Refleksi Milad Muhammadiyah ke-105: Dahulukan Nilai di Atas Identitas

Dalam sebuah seminar di Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS), Singapore, kurang lebih dua tahun lalu, saya diminta menyajikan topik tentang pengaruh Timur Tengah...

Idulfitri dan Kesinambungan Agama-Agama

Menjelang Hari Raya Idulfitri, hiruk-pikuk senantiasa mewarnai festival terbesar kaum Muslim ini. Dari tradisi mudik ke kampung halaman, takbir bersama dan keliling hingga acara...
Avatar
Candra Malik
Budayawan sufi yang bergiat di bidang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan spiritualitas.

“SALAT pada waktunya, as-shalatu ‘ala waqtiha,” demikian Rasulullah SAW menjawab ketika Abdullah bin Mas’ud bertanya, ”Amal apa yang paling Allah cintai?” Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari ini, Muhammad bin Abdullah juga menyebutkan dua amal lainnya, yaitu berbakti kepada orang tua dan berjihad di jalan Allah.

Ketiga amal paling dicintai Allah ini selayaknya menjadi renungan kita memperingati Isra’ Mi’raj. Mengapa salat paling luhur?

Rasulullah SAW menempatkan salat dan waktu dalam satu garis kedudukan yang mulia, menjadikannya pasangan yang tak terpisahkan. Lihatlah betapa ia dalam doa iftitah menyatukan salat dan segala ibadah lain dengan hidup dan mati dalam ikatan keberserahan kepada Allah semata. “Inna shalatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillahi rabbil ‘aalamiin, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, matiku, hanya untuk Allah, Tuhan semesta.”

Rentang antara hidup dan mati itulah waktu bagi manusia di dunia, yang kita sebut usia. Dan di sepanjang usia itu, salat dan ibadah diwujudkan sebagai penghambaannya kepada Allah. Jelas di dalam Q.S. Az-Zariyat: 56, ”Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu.” Oleh karena itu, meski waktu salat fardhu telah diatur sedemikian rupa, bukan berarti ada celah waktu untuk tidak dalam keadaan salat.

Salat yang telah melampaui waktu sejak mewujud kesadaran untuk tetap berada dalam keadaan salat disebut Shalat Daim. Ia menembus dimensi ruhaniah sehingga menyempurnakan kebersujudan jasmaniah. Dengan selalu dalam keadaan salat, niscaya siapa pun terjaga dari sikap suka berkeluh-kesah dan sifat kikir. Tidak lalai ia di dalam salat, sebagaimana Q.S. Al-Ma’un: 4-5, sehingga ia tidak termasuk orang-orang salat yang celaka.

Momentum Isra’ Mi’raj sangat baik untuk membaca kembali pesan-pesan kesalehan personal dan sosial yang ternyata berporos pada salat. Q.S Al-Ma’arij di ayat 19-21 menyebutkan, ”Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir.” Namun, Allah menjaga ia yang menjaga salat, dan menjadikan sabar dan salat sebagai penolong.

Diteguhkan dalam ayat 22-23, bahwa manusia suka berkeluh-kesah ketika susah dan kikir ketika senang, ”Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya.” Manusia-manusia inilah yang dalam waktu dan keadaan sempit maupun lapang tak berhenti mengingat Allah. Mereka menjalankan Q.S. An-Nisa: 103, ”Maka apabila kau telah menyelesaikan salat, ingatlah Allah di waktu berdiri, duduk dan berbaring.”

Manusia yang merawat dan membina kesadaran di dalam dan luar salat ini, yang khusyu tidak hanya ketika salat, yang menjaga pandangannya lurus dan berserah kepada Allah, terus-menerus mengerjakan salat, ia menjalani salat daim. Dan, hakikatnya ia diperjalankan menaiki anak tangga mi’raj kepadaNya. Seperti dalam kitab tafsir Ruhul Ma’ani, Naisabur, dan Ruhul Bayan, ”as-shalatu mi’rajul mu’miniin” (salat pun menjelma mi’raj bagi orang-orang beriman).

Ya, peristiwa Isra’ Mi’raj fenomenal dan monumental. Tak bisa hanya diringkas sebagai peristiwa turunnya perintah salat lima waktu. Apalagi, dalam sejumlah riwayat, Muhammad SAW disebutkan telah melaksanakan salat pagi dua raka’at dan salat sore dua raka’at pada tahun awal kenabian, sejak Jibril AS mengajarinya wudhu dan salat. Bahkan, sebelum Khadijah wafat, tentu ini sebelum Isra’ Mi’raj, ia telah diajari salat oleh Nabi.

Namun demikian, tahun-tahun awal kenabian digunakan Muhammad SAW untuk meletakkan dasar-dasar Tauhid dan menguatkannya sehingga waktu itu salat belum disyariatkan. Menjelang hijrah ke Madinah, Muhammad SAW mengalami Isra’ Mi’raj. Berangkat dari rumah Ummu Hani, kakak Ali bin Abi Thalib yang sangat dihormatinya, ia kemudian dijemput Jibril dengan Buraq pada saat berada di Hijr Ismail di sisi Baitullah, di kawasan Masjidil Haram.

Jika diperinci, ada sembilan hal yang adiluhung dari Isra’ Mi’raj yang bisa dijadikan pegangan. Mulai dari Allah menyebut DiriNya Subhana (Maha Suci), memperjalankan, hambaNya, pada malam hari, dari Masjidil Haram, ke Masjidil Aqsa, yang telah Allah berkahi sekelilingnya, agar Allah perlihatkan kepadamu tanda-tanda (kebesaran) Kami, hingga Dia tegaskan DiriNya yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Q.S. Al-Isra’: 1).

Intisari dari Isra’ Mi’raj ialah perjumpaan hamba dengan Tuhan, Tuannya yang Sejati. Oleh karena itu, Allah Yang Maha Suci memperjalankan Muhammad SAW dalam Isra’ Mi’raj bukan dalam kedudukannya sebagai nabi, rasul, teladan terbaik, maupun pemimpin umat. Tapi, ia diperjalankan dalam kedudukan sebagai hamba. Ia yang merendahkan dirinya serendah-rendahnya di hadapan Allah diangkat setinggi-tingginya derajat oleh Allah.

Sudah serendah apakah kita tunduk, sujud, patuh, dan taat kepada Allah? Jika telah tiba waktu, dan amal yang pertama ditanya adalah salat, hendak bagaimana kita menjawabnya? Saya akan menulis lebih lanjut pada seri ke-2 kolom ini.

Di dalamnya tentu saja akan dibahas pula dua amal lainnnya yang paling dicintai Allah setelah salat, yaitu berbakti kepada orang tua dan berjihad di jalan Allah. Semoga Allah menjadikan kita orang yang mendirikan salat. (bersambung)

Kolom terkait:

Nabi Menuntun Kita Ber-Isra’ Mi’raj

Berdoa, Sebaik-baik Meminta itu dengan Memberi (3-Habis)

Salat, Proyek yang Belum Selesai?

Bersama Memi’rajkan Diri [Renungan Isra’ Mi’raj]

Pertanyaan Abadi Manusia: Bagaimana Seharusnya Aku Hidup di Dunia? (3)

Avatar
Candra Malik
Budayawan sufi yang bergiat di bidang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan spiritualitas.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.