in

Membincang Ritual Islam di Bulan Ramadhan


Umat muslim melaksanakan salat tarawih pertama di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (26/5). Pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1438 Hijriah jatuh pada hari Sabtu 27 Mei 2017. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Barangkali tak ada aspek paling sentral dalam Islam tapi sekaligus tidak mendapatkan perhatian serius dalam diskusi kesarjanaan melebihi soal ritual. Biasanya masalah ritual dibicarakan dalam kerangka kesalehan dan spiritualitas, bukan perbincangan intelektual.

Kata “ritual” sulit dicarikan padanannya dalam kosakata Islam. Terma “ibadah” terlalu luas karena bisa mencakup apa saja. Kata Arab paling dekat dengan makna “ritual” ialah manasik, tapi kata yang terakhir ini seringkali digunakan khusus untuk ritual haji.

Ritual merupakan bentuk ibadah tertentu yang terdiri dari gerakan dan bacaan dengan syarat dan ketentuan khusus, misalnya salat, puasa, zakat, dan haji. Ditambah dengan syahadah, ritual keagamaan tersebut menjadi rukun Islam, lima pilar bangunan agama yang dianut lebih dari 1,6 miliar umat manusia. Sebagai ritual, praktik ibadah di atas dilakukan secara berulang-ulang.

Penekanan pada aspek ritual ini juga membedakan Islam dari agama lain, seperti Kristen. Identitas keagamaan Kristen lebih berpusat pada penerimanaan atas keimanan dan dogma tertentu. Tentu ini tidak berarti Kristen tidak memiliki elemen ritual, sebagaimana juga tidak berarti Islam tidak punya klaim teologis tertentu. Namun demikian, penekanannya pada keimanan menjadikan Kristen kerap dikaitkan dengan ortodoksi (pandangan yang benar), sementara Islam dengan ortopraksi (praktik yang benar).

Selama bulan Ramadhan ini saya akan merefleksikan aspek-aspek ritual dalam Islam, mulai dari soal syahadah, salat, puasa, dan zakat (mungkin ibadah haji didiskusikan pada bulan Dzul Hijjah nanti). Tulisan kali ini dimaksudkan sebagai pengantar. Saya tertarik pada aspek sejarah dan hal-hal yang menjadi perhatian kesarjanaan modern. Jadi, jangan berharap Anda akan mendapatkan petunjuk praktis bagaimana agar lebih rajin dan khusyuk beribadah atau sebaliknya.

Pandangan Tradisional

Dalam pandangan tradisional, berbagai bentuk ibadah yang kita kenal sekarang diyakini diajarkan oleh Nabi Muhammad atau sudah menemukan bentuknya yang tetap sejak zaman Nabi. Keyakinan ini didasarkan pada dua alasan utama.

Pertama, Nabi telah memberikan petunjuk detail tentang bagaimana salat, puasa, zakat dan haji dilakukan. Dalam soal salat, misalnya, disebutkan Nabi bersabda, “Salatlah sebagaimana aku salat.” Keyakinan bahwa segalanya sudah diajarkan oleh Nabi begitu kuat sehingga inovasi baru yang dianggap tidak dipraktikkan Nabi disebut bid’ah dan diancam dengan api neraka.

Baca Juga :   Lagi, Puasa dan Kesinambungan Agama

Kedua, kenyataan bahwa ibadah kaum Muslim di berbagai belahan dunia tidak berbeda-beda juga dijadikan alasan bahwa ritual Islam itu sudah permanen sejak zaman Nabi. Memang, mungkin ada perbedaan dalam detailnya, misalnya saat duduk tahiyat dalam salat, jari telunjuk bergerak-gerak atau tetap lurus. Tapi, dalam bentuknya yang fundamental, ibadah kaum Muslim tidak berbeda dari dahulu hingga sekarang.

Hal ini tidak berarti bentuk ritual Islam tidak mengalami perkembangan pada zaman Nabi. Sumber-sumber Muslim mengakui perubahan bentuk ibadah. Misalnya, puasa. Ketika baru tiba di Madinah (sebelumnya disebut Yatsrib), Nabi memerintahkan supaya kaum Muslim berpuasa pada tanggal 10 Muharram, yang dikenal dengan “Asyura” (dari bahasa Aramaik, yang berarti hari ke-10). Namun, pada tahun ke-2 di Madinah, puasa Asyura diturunkan derajatnya menjadi sunnah dan diganti dengan puasa bulan Ramadhan. Demikian juga soal kiblat, yang disebutkan berpindah arah dari Jerusalem menuju Ka’bah di Mekkah.


Sebenarnya pandangan tradisional ini lebih merupakan asumsi yang diterima luas. Sebab, sumber-sember Muslim sendiri mencatat berbagai riwayat yang menunjukkan bahwa aspek-aspek ritual dalam Islam juga terus berkembang, bahkan setelah Nabi meninggal. Dalam kolom Bagaimana-ramadhan-menjadi-bulan-paling-agung, saya sudah tunjukkan bahwa keagungan bulan Ramadhan terjadi secara bertahap.

Lebih dari itu, kalau dibaca teks fondasi Islam, yakni al-Qur’an, tak ada petunjuk rinci soal ritual. Salat, puasa, zakat dan haji memang disebutkan, tapi tak disertai dengan petunjuk pelaksanaan. Al-Qur’an semata menyebut praktik ritual tersebut telah juga dilakukan oleh umat terdahulu. Itu praktik normal dalam kehidupan keagamaan.

Lebih menarik lagi, ketika al-Qur’an memberikan isyarat petunjuk pelaksanaan, kita justru temukan informasi yang disuguhkan al-Qur’an tampak berbeda dengan praktik ritual yang kita saksikan sekarang. Misalnya, soal salat lima waktu. Beberapa ayat al-Qur’an mengisyaratkan, pelaksanaan salat itu hanya dua kali sehari. Atau, bisa ditafsirkan tiga kali. Para mufasir perlu mencari-cari alasan untuk menjustifikasi salat lima waktu dari perspektif al-Qur’an.

Baca Juga :   Kiai Hasyim Muzadi dalam Kenangan (Aktivis) Muhammadiyah

Juga, soal haji. Menurut surat al-Baqarah (ayat 158), memutari Shafa dan Marwa itu tidak termasuk rukun haji karena al-Qur’an menggunakan kata “la junaha alaihi”. Artinya, orang yang melakukan haji boleh atau tidak dilarang bertawaf di keduanya, tapi bukan kewajiban sebagaimana yang kita tahu sekarang. Lagi-lagi, para mufasir menghadapi kesulitan menjelaskan ayat tersebut.

Rincian waktu salat dan rukun haji hanya ditemukan dalam hadits. Untuk mengatasi berbagai kesulitan tersebut, status hadits/sunnah perlu ditingkatkan menjadi selevel dengan al-Qur’an. Barangkali, Imam Syafi’i adalah orang pertama yang menggagas supaya hadits Nabi dikategorikan sebagai wahyu. Ide cemerlang Syafi’i tersebut memang berhasil mengatasi satu masalah, tapi banyak masalah lain muncul (yang tak mungkin didiskusikan di sini).

Pendekatan Akademis

Dalam kesarjanaan akademis, kajian tentang ritual (ritual studies) cukup berkembang, termasuk dari sudut perbandingan. Pada tiga agama yang kerap disebut “agama-agama Ibrahim”, memang terdapat persamaan sekaligus perbedaan.

Penggunaan air dalam bersuci dapat dijumpai dalam Islam, Kristen dan Yahudi. Kesamaan Islam dan Yahudi dalam hal bersuci dengan air (dan debu) sangat menonjol, namun Kristen pun menggunakan air dalam upacara baptis. Hal yang sama ditemukan dalam agama-agama yang muncul di India.

Salah satu aspek perbedaannya terletak pada elemen komemorasi (peringatan) dari ritual dalam Islam. Banyak ritual dalam Yahudi dan Kristen terkait peristiwa tertentu di masa lalu. Kecuali haji yang dikaitkan dengan menapaktilasi jejak Ibrahim dan keluarganya, ritual Islam seperti ibadah salat, puasa, dan zakat tidak punya aspek komemorasi tersebut.

Hal lain yang disorot dalam kesarjanaan akademis ialah asal muasal ritual dalam Islam. Kalangan orientalis klasik gemar melacak asal-usul ritual Islam dari tradisi agama-agama sebelumnya, terutama Yahudi dan Kristen. Ada juga yang melacak ritual Islam pada pengaruh sekte-sekte tertentu, seperti Samaritan atau sekte yang bermukim di Qamran, yang belakangan ditemukan menghasilkan teks yang dikenal Suhuf Laut Mati (Dead Sea Scroll).

Teori tentang pengaruh ritual Yahudi dan Kristen itu telah banyak dipersoalkan dalam kesarjanaan yang lebih mutakhir. Misalnya, ritual haji yang dinilai lebih dekat dengan praktik kaum Pagan Arab ketimbang pengaruh Yahudi atau Kristen. Sumber-sumber Muslim sendiri membenarkan bahwa beberapa aspek dari ritual haji dipraktikan sebelum kedatangan Islam.

Baca Juga :   Ini Ramadhan-Ku, Mana Ramadhanmu?

Sarjana Barat Gustave von Grunebaum menyebutkan, prosesi dari Muzdalifah ke Mina awalnya dipraktikkan oleh mereka yang menyembah matahari. Nabi Muhammad meng-islam-kan prosesi yang dikenal dengan ifadhah itu dengan cara memulai prosesi sebelum matahari terbit. Artinya, proses Islamisasi manasik Muzdalifah-Mina sebelum terbit matahari dimaksudkan untuk memutuskan keterkaitan ritual ifadhah dengan penyembahan matahari.

Demikialah beberapa ide, asumsi, dan metode yang dikembangan sejumlah sarjana akademis yang mengkaji sejarah awal ritual Islam. Mereka memang punya pandangan yang berbeda. Namun demikian, mereka bersepakat bahwa perkembangan ritual Islam seperti yang kita saksikan sekarang terjadi secara bertahap dan lebih lamban daripada yang diasumsikan oleh kaum Muslim.

Hal itu sejalan dengan kesimpulan kalangan sejarawan revisionis yang melihat kemunculan Islam sebagai agama membutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun setelah wafatnya Nabi. Gelombang kesarjanaan revisionis yang mendapat momentum sejak 1970-an itu kini juga digunakan untuk melacak sejarah dan perkembangan aspek-aspek ritual dalam Islam.

Kesimpulannya, perkembangan praktik ritual dalam Islam itu seiring dengan gradualitas kemunculan masyarakat Muslim. Fakta bahwa tidak ada perbedaan signifikan di kalangan Muslim dari berbagai generasi dan kelompok (Sunni, Syi’ah, Khawarij, dan lainnya) bisa jadi memang membuktikan elemen ritual sudah ada sangat awal sejak formasi Islam. Namun, hal itu tidak berarti bahwa semuanya tidak berubah sejak zaman Nabi.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan.

Baca juga:

“Agama-Agama Ibrahim, Makhluk Apakah Itu?


Written by Mun'im Sirry

Mun'im Sirry

Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA. Tiga karyanya: "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis Atas Kritik Al-Quran Terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR