Minggu, Januari 24, 2021

Lagi, Puasa dan Kesinambungan Agama

Beda Tafsir Bukan Penodaan Agama

Kasus yang menimpa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ihwal dugaan penodaan terhadap al-Maidah 51 sesungguhnya merupakan perbedaan tafsir. Perbedaan tafsir tidak bisa dianggap sebagai penodaan...

Mengkaji Apa itu Islam

Pertanyaan apa itu Islam dan apa itu islami, penting dan aktual buat kita di Indonesia, yang berdebat apakah orang itu Muslim, atau kafir; apakah...

Semangat Kosmolitan Ibadah Haji

Ibadah haji adalah ritual tahunan yang sampai kapan pun tidak akan pernah sepi ditunaikan oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Bahkan untuk mencapainya tidak...

Muhammadiyah, Pilkada Jakarta, dan Politik Identitas

Muhammadiyah lahir pada 18 November 1912. Perjalanan organisasi Muhammadiyah yang sudah mencapai 104 tahun harus disyukuri dengan usaha yang positif dan berkemajuan. Kelahiran Muhammadiyah...
Avatar
Mun'im Sirry
Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA, Owner KEPITING++. Beberapa karyanya: "Islam Revisionis: Kontestasi Agama Zaman Radikal" (Suka Press, 2018), "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis atas Kritik Al-Quran terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).

Tema ini sudah menjadi perbincangan luas setiap Ramadhan dan saya tak yakin ada hal menarik lain yang dapat saya tambahkan. Al-Qur’an sendiri mengakui bahwa puasa bagi kaum Muslim diwajibkan sejalan dengan praktik puasa di kalangan umat-umat sebelumnya (Q 2:183). Barangkali poin kecil yang ingin saya sampaikan adalah cara Islam mengadopsi dan/atau mengapropriasi tradisi puasa dalam agama-agama sebelumnya lebih ekstensif dari yang umumnya diduga.

Bentuk-bentuk pergumulan Islam dengan tradisi keagamaan sebelumnya, termasuk dalam kasus puasa, memperlihatkan watak kesinambungan agama-agama. Lebih dari itu, kenyataan tersebut juga mendorong kita untuk memikirkan ulang konteks kelahiran Islam, yang tampak berbeda dari yang digambarkan dalam sumber-sumber Muslim tradisional.

Kelahiran Islam seringkali dikaitkan dengan iklim paganistik (syirk) di Arabia. Namun demikian, ekstensitas pengadopsian puasa mengisyaratkan bahwa iklim di mana Islam muncul tampak lebih multi-religius daripada yang umumnya digambarkan.

Hal ini sejalan dengan kajian-kajian baru yang mempersoalkan narasi kuno tentang konteks paganistik Arabia. Dalam banyak studi mutakhir, jazirah Arabia digambarkan tidak sedemikian terisolasi seperti yang kita pahami selama ini. Dan kesinambungan praktik puasa jelas menguatkan kesimpulan itu.

Paralelisme Praktik Puasa

Salah satu contoh yang banyak didiskusikan terkait kesinambungan praktik ibadah ialah puasa Asyura pada 10 Muharram. Ada beberapa versi hadits yang menggambarkan awal perintah puasa Asyura tersebut.

Dalam versi yang paling dikenal, ketika tiba di Madinah Nabi SAW melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Saat ditanya alasannya, mereka menjawab: “Pada hari ini Allah memberikan kemenangan kepada Nabi Musa dan Bani Israil atas Fir’aun.” Nabi pun memerintahkan puasa pada hari Asyura tersebut.

Dalam versi lain disebutkan bahwa Asyura merupakan hari yang diagung-agungkan oleh kaum Yahudi. Mereka menghiasi para istri dengan pakaian dan hiasan sebaik mungkin. Nabi memerintahkan puasa pada hari itu sembari bersabda, “Kalian harus berpuasa pada hari ini!”

Ada juga versi yang menyebutkan bahwa puasa Asyura sudah rutin dilakukan oleh kaum Quraisy sejak zaman jahiliyah. Dan praktik itu dilanjutkan oleh Nabi dan para pengikutnya hingga turun kewajiban puasa Ramadhan dan bagaimana Ramadhan menjadi bulan paling agung.

Dalam versi terakhir terdapat perbedaan sikap Nabi. Ada hadits yang menyebutkan Nabi tidak pernah menjadikannya sebagai puasa wajib. Dan hadits lain mengindikasikan bahwa Nabi mewajibkan puasa Asyura, dan baru kemudian dijadikan puasa sunnah setelah turun kewajiban puasa Ramadhan.

Dalam dua versi pertama, seperti kita lihat, ada pengakuan eksplisit bahwa puasa Asyura berasal dari tradisi Yahudi. Sementara versi pertama mengaitkan dengan Hari Pengampunan (Yom Kippur), versi kedua mengasosiasikan dengan hari besar keagamaan saja. Dalam versi terakhir, asal-usul puasa Asyura ditarik jauh ke belakang sejak zaman Nabi di Mekkah.

Sebenarnya keterkaitan puasa dengan agama-agama sebelumnya bukan terbatas pada hari Asyura. Puasa Senin dan Kamis pun sudah dipraktikkan sebelum kedatangan Islam. Menariknya puasa ini tidak pernah dikaitkan dengan tradisi agama-agama sebelumnya.

Ketika suatu saat Nabi ditanya kenapa puasa pada hari Senin, beliau menjelaskan, “ini adalah hari kelahiran saya dan pada hari ini pula saya pertama menerima wahyu.” Dalam versi lain, jawaban Nabi itu untuk merespons pertanyaan soal puasa Senin dan Kamis.

Ada beberapa versi hadits lain yang memberikan penjelasan berbeda. Misalnya, disebutkan alasan puasa Senin dan Kamis karena pada hari tersebut amal perbuatan diajukan (kepada Allah). Alasan lain, pada hari tersebut Allah mengampuni kaum Muslim, kecuali mereka yang bermusuhan dengan tetangganya.

Apa yang Distingtif dari Islam?

Kenapa puasa Senin dan Kamis tidak dikaitkan dengan tradisi agama sebelumnya? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini, terutama karena tidak ada indikasi dalam al-Qur’an bahwa Senin dan Kamis merupakan hari yang spesial.

Dalam sumber-sumber Yahudi disebutkan puasa Senin dan Kamis umum dipraktikkan pada abad-abad pertama Masehi sebagai puasa sunnah. Saya tidak berhasil melacak jenis puasa ini dalam literatur Yahudi kuno dan dalam konteks apa puasa Senin dan Kamis diperintahkan.

Setidaknya, ada alasan yang masih simpang-siur. Ada yang mengaitkan dengan penghancuran Kuil (Temple) atau pembakaran Taurat. Dalam Misynah ada referensi pada puasa tiga hari yang cukup dikenal dalam tradisi Yahudi. Yakni, Senin-Kamis-Senin.

Apakah dengan tidak disebut atau dikaitkan dengan tradisi Yahudi, puasa Senin dan Kamis menjadi distingtif Islam? Tampaknya ada upaya apropriasi yang dilakukan secara sengaja dalam sumber-sumber Muslim sehingga berbagai jenis puasa tersebut punya warna Islami (Islamic coloring).

Proses apropriasi semacam itu juga dapat dideteksi dalam pensyari’atan puasa Asyura. Misalnya, puasa ini dikaitkan dengan hari kemenangan Musa atas Fir’aun. Padahal, dalam tradisi Yahudi, puasa Asyura tidak menyangkut kasus Eksodus dari Mesir, melainkan Yom Kippur yang tak lain dan tak bukan terkait pengampunan Tuhan atas kelakuan umat Musa yang menyembah anak sapi emas (golden calf) selama Musa berada di atas bukit Sinai.

Yom Kippur merupakan hari suci bagi umat Yahudi. Menarik dicatat, tradisi Islam mengalihkan puasa Asyura dari Yom Kippur ini dan mengaitkannya dengan awal Eksodus Musa dari keangkuhan raja Fir’aun di Mesir.

Di sini terlihat bagaimana Islam mengakui asal-usul puasa Asyura sebagai berasal dari praktik kaum Yahudi tapi, pada saat yang sama, memberikan nuansa berbeda. Barangkali Eksodus Musa dari Fir’aun yang membesarkannya menjadi model hijrahnya Nabi dari kaum Quraisy Mekkah, suku yang membesarkan dan mempersekusinya.

Pola adopsi dan apropriasi seperti itu juga tampak dalam berbagai riwayat terkait puasa Ramadhan. Dalam riwayat al-Suddi, seperti dicatat oleh Tabari, disebutkan bahwa puasa Ramadhan diwajibkan bagi umat Kristiani. Mereka dilarang makan dan minum setelah tidur atau melakukan hubungan seks selama Ramadhan.

Lagi-lagi, ada pengakuan eksplisit tentang kesinambungan puasa Ramadhan dengan tradisi agama sebelumnya. Namun demikian, proses apropriasi tersebut melibatkan modifikasi tertentu. Misalnya, larangan makan setelah tidur tidak lagi diterapkan. Larangan tersebut jelas tertera dalam Talmud Babilonia, yakni Ta‘anits 12. Islam tidak melarang makan dan minum pada malam hari.

Waktu buka puasa juga bukan lagi datangnya gelap gulita (nightfall), melainkan terbenamnya matahari. Instruksi al-Qur’an (Q 2:187) sendiri lebih dekat dengan perintah Alkitab karena menyebutkan atimmu al-shiyam ila al-lail (selesaikan puasa hingga malam). Sebaliknya, dalam sejumlah hadits disebutkan, Nabi Muhammad mengajarkan supaya umat Muslim secepatnya berbuka puasa pada terbenamnya matahari, jangan menunda.

Dalam ayat tentang aturan puasa (Q 2:187), frasa al-Qur’an “makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar” memiliki kemiripan dengan aturan pembacaan doa syema pagi dalam Misynah Berakot 1:2. Disebutkan, seseorang boleh membaca doa pagi saat mulai terang baginya (benang) biru dari putih.

Metafor yang digunakan al-Qur’an dan Misynah tersebut merujuk pada datangnya waktu fajar. Sementara al-Qur’an menggunakan warna putih dan hitam, dalam Misynah justru putih dan biru. Jadi, memang ada upaya sistematis dan terstruktur untuk memberikan warna dan nuansa Islami bagi puasa, baik Ramadhan ataupun lainnya.

Sekali lagi, semua itu menunjukkan persinggungan yang cukup ekstensif antara Islam dan ajaran agama-agama sebelumnya.

Baca juga: 

Ramadhan dan Dialog Kitab Suci

Entropi Ramadhan: dari Selfie, Riya, hingga Citra

 

Avatar
Mun'im Sirry
Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA, Owner KEPITING++. Beberapa karyanya: "Islam Revisionis: Kontestasi Agama Zaman Radikal" (Suka Press, 2018), "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis atas Kritik Al-Quran terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Upaya Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan

Kasus KDRT khususnya terhadap perempuan masih banyak terdengar di wilayah Indonesia. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (6/03/20) juga meluncurkan catatan tahunan (CATAHU) yang...

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.