in

Khutbah Idul Fitri: Inikah Ramadhan Terakhir Kita?


اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا

Ramadhan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan sebulan yang lalu? Tidakkah kita idamkan agar Ramadhan tahun ini berbeda dengan Ramadhan sebelumnya? Bukankah kita telah berniat agar Ramadhan tahun ini tumbuh kembali spirit cinta kita kepada ilahi?

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamd

Ramadhan adalah persembahan seorang hamba kepada Sang Khaliq. Ketika sang Khaliq, dalam sebuah Hadits Qudsi, telah berseru: “Puasa itu untukKu”, maka setiap hamba bergetar saat memasuki Ramadhan. Getaran jiwa yang terus dijaga dan dipelihara selama bulan suci. Ke manakah getaran itu kini ketika Ramadhan telah berakhir?

Banyak yang berdebat menjelang datang dan berakhirnya Ramadhan: bilakah hilal telah terlihat? Namun jarang mereka memahami bahwa hilal juga bisa bermakna metafor: sudah siapkah jiwa kita yang penuh kegelapan tercerahkan oleh munculnya hilal di awal Ramadhan–cahaya untuk menyucikan diri. Maka, hari demi hari di bulan Ramadhan, cahaya hilal perlahan semakin terang benderang hingga puncak purnama di pertengahan Ramadhan.

Namun, perlahan cahaya bulan mulai meredup di pertengahan kedua, seiring fokus kita yang mulai berubah: kita mulai memikirkan baju baru untuk anak-istri; kita mulai menghitung hari kapan Tunjangan Hari Raya (THR) akan dibayarkan; dan kita mulai berkemas untuk mudik ke kampung halaman. Kita, iya saya dan Anda, telah menomorduakan Ramadhan sejak dua minggu lalu.

Cahaya bulan semakin meredup, ketika pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, Allah menyediakan lailatul qadar untuk para kekasihNya, dan kita menjalani sepuluh hari terakhir, tak lagi peduli malam ganjil atau genap, dalam antrian panjang loket terminal dan airport. Kita telusuri tiga-empat malam terakhir Ramadhan semakin khusyuk berada di tengah kemacetan jalur mudik. I’tikaf kita menyusuri panjangnya jalan raya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamd

Maka, tiba-tiba diri kita telah berada di pengujung Ramadhan dan semuanya kembali gelap, persis sebelum hilal Ramadhan muncul di atas ufuk. Lalu kita kembali berdebat: bilakah hilal Syawal akan terlihat? Seakan kita alpa bahwa hilal Syawal pun kembali menjadi metafor kehidupan kita. Adakah terlihat hilal Syawal di hati kita?

Baca Juga :   Oscar Lawalata dan Manufakturisasi Agama

Mengapa pula kita bergembira Ramadhan berlalu, padahal Nabi Muhammad selalu bersedih saat Ramadhan berakhir?

Apakah kita bergembira karena selesai sudah segala susah payah kita berpuasa sebulan penuh? Atau apakah kita bergembira Ramadhan berakhir karena kita bisa kembali menjadi manusia “normal” yang kembali menerjang apa yang Allah haramkan, dan berebut mencari serpihan tersisa dari apa yang Allah halalkan?

Tuhan kami, oh inikah akhir sebuah Ramadhan? Ketika ku lihat senyum indah di wajah sanak saudara yang telah lama tak bersua. Ku tengokkan ke kanan dan ke kiri, semua menyambut hari kemenangan. Semua memakai pakaian baru tanda mereka kembali ke fitrah mereka. Tapi mengapa tak ku lihat cahaya hilal Syawal di wajah mereka. Tadi pagi sebelum berangkat salat ied, aku bercermin, Allah Karim, tak ku lihat pula tanda hilal Syawal di wajahku. Ampuni kami, yang bergembira Ramadhan telah berakhir.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamd

Benarkah Ramadhan telah menjadi beban nasional? Lihatlah bagaimana Presiden dan Menteri sibuk mengatur segala sesuatunya agar harga kebutuhan bahan pokok tidak melejit gila-gilaan. Ramadhan yang seharusnya menjadi bulan penghematan, malah menjebol tabungan kita sampai tetes terakhir.


Mungkin ini sebabnya kita bergembira ketika Ramadhan berakhir: saat harga barang kembali “normal” dan konsumsi kita kembali masuk dalam rutinitas pengeluaran. Biaya tak terduga menjadi kembali bisa diprediksi. Oh Rabbana, tak layakkah kami bergembira dengan berakhirnya Ramadhan?

Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan:

كانوا يدعون الله ستة أشهر أن يبلغهم شهر رمضان، ثم يدعون الله ستة أشهر

أن يتقبله منهم

“Para ulama berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka disampaikan kepada bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa lagi selama enam bulan agar Allah mau menerima amalan ibadah mereka tersebut (selama di bulan Ramadhan)“

Boleh jadi mereka yang bergembira di bulan Ramadhan penuh harap agar amalan ibadah diterima Allah. Bukankah dalam Hadits Qudsi yang lain, Allah juga telah mendeklarasikan bahwa “Aku ini sebagaimana persangkaan hambaKu saja”. Bergembira di Hari Lebaran adalah tanda kita optimistis dan berbaik sangka Allah akan menerima ibadah kita.

Baca Juga :   Ancaman Pangan Jelang Idul Fitri

Tak ada yang salah dengan bergembira saat Ramadhan berakhir, bukan?

Tapi tak ada salahnya pula untuk cemas: jangan-jangan ini Ramadhan terakhir bagi kita, orang tua, pasangan kita, anak dan saudara. Masih bertemu kembalikah kita dengan Ramadhan tahun depan?

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamd

Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibn Mas’ud RA:
“Sekiranya umatku mengetahui kebajikan-kebajikan yang dikandung bulan Ramadhan, niscaya umatku mengharapkan Ramadhan terus ada ‘sepanjang tahun’.” (HR. Abu Ya’la, ath-Thabrani, dan ad-Dailami).

Iya, Rasulullah benar bahwa begitu banyak keutamaan Ramadhan. Bukankah para penceramah selama Ramadhan tak henti-hentinya mengingatkan kita bahwa ini bulan suci ketika orang-orang berpuasa dan menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah. Ini Ramadhan yang merupakan bulan yang Allah bukakan pintu-pintu surga, Dia tutup pintu-pintu neraka, dan Dia belenggu setan.

Bukankah para ustadz dan ustadzah telah mengutip sejumlah riwayat bahwa inilah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka. Bahkan ada pula yang mengingatkan kita bahwa inilah bulan ketika bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kesturi. Bahkan begitu dahsyatnya bulan suci ini ketika Allah setiap malamnya membebaskan ratusan ribu orang yang seharusnya masuk neraka.

Pendek kata, Ramadhan telah Allah jadikan sebagai penghubung antara orang-orang berdosa yang bertaubat dengan Allah Ta’ala.

Tapi benarkah wahai jamaah sekalian: bahwa setelah kita tahu keutamaan Ramadhan, kita menginginkan setiap hari menjadi Ramadhan, setiap bulan menjadi Ramadhan. Benarkah kita ingin Ramadhan sepanjang tahun? Mari jujur pada diri kita? Tuhan ampuni kami…

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamd

Allah SWT telah berfirman dalam surat Al’Araf 179 : “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah), mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.”

Baca Juga :   Mudik: Solipsisme dan Rezeki Kaum Pinggiran

Selepas Ramadhan, bagaimana dengan hati, mata, dan telinga kita? Apakah semuanya kembali menjadi lepas-bebas seperti yang Allah sindir dalam ayat di atas? Ramadhan berlalu, apakah kita kembali menjadi binatang ternak yang tersesat? Semua nafsu hewani yang telah kita ikat dan belenggu di bulan suci Ramadhan, apakah akan kita lepas kembali? Jika iya, untuk apa kegembiraan di Hari Raya ini? Tidakkah sepatutnya kita bersedih?

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamd

Dosa kita kepada Allah semoga diampuni dalam bulan Ramadhan, namun dosa kita kepada sesama manusia belum Allah hapuskan selama kita belum saling memaafkan. Inilah gambaran kaitan antara hablum minallah dan hablum minan nas.

Maka selepas salat, kita ulurkan tangan untuk bersalaman karena itu dapat menggugurkan dosa. Begitupula sehabis sebulan berpuasa, maka kita bermaaf-maafan dalam rangka menjaga hablum minallah dan hablum minan nas.

Memaafkan itu bukan soal kita menyerah dan mengalah. Memaafkan juga bukan soal kita mengaku salah. Memaafkan lebih dari itu: kita berakhlak seperti akhlak Allah yang gemar memaafkan. Memaafkan bukan sekadar basa-basi: kita memaafkan atas nama Allah di akhir Ramadhan agar kelak di akhirat tidak ada saling menuntut di antara kita.

Bagaimana dengan mereka yang begitu keji telah menzalimi kita atau telah merampas hak kita atau telah memfitnah kita secara keji? Tugas kita adalah memaafkan perbuatan mereka. Perkara Allah punya perhitungan sendiri terhadap efek dari perbuatan mereka, yakinlah semua ada hisabnya masing-masing. Maafkan dan serahkan pada Allah.

Mungkin ini Ramadhan terakhir kita. Mungkin ini Lebaran terakhir kita. Mungkin pula ini permintaan maaf terakhir kita.

Minal aidin wal faizin
Mohon maaf lahir batin
Selamat Idul Fitri 1438 H

Baca juga:

Idul Fitri: Melampaui Toleransi

Idul Fitri dan Kesinambungan Agama-Agama


Written by Nadirsyah Hosen

Nadirsyah Hosen

Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School, Australia.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR