in ,

Kaligrafi Islam dan Ikonografi Kristen [Mengapresiasi Rinto Pangaribuan]


seni-islam-kristen
Hagia Sophia, bangunan bekas gereja kuno yang diubah menjadi masjid, dan sekarang menjadi museum di Istanbul, Turki (sumber: http://e-suprayogo.blogspot.co.id)

Sudah lama saya ingin menulis tema kesenian dalam Islam dan Kristen. Dorongan itu semakin kuat setelah membaca refleksi Saudara Rinto Pangaribuan (Geotimes, 21/7/2016), yang menelusuri ekspresi teologis Kristen ke dalam Alkitab.

Dalam tulisan ini saya akan diskusikan bagaimana keyakinan teologis itu bukanlah obrolan yang mengawang-awang, tapi mengejawantah dalam keseharian, termasuk dalam ekspresi kesenian. Mengapresiasi kesenian agama bisa menjadi basis toleransi yang otentik karena merefleksikan hal-hal subtil dalam keyakinan dan pengalaman keagamaan.

Berbicara tentang seni dalam Islam dan Kristen, tak ada yang lebih menonjol dari kaligrafi dan ikonografi. Setiap masuk masjid, saya selalu terkesima dengan keindahan tulisan kaligrafi yang menghiasi dinding-dinding masjid. Seperti halnya ketika masuk gereja saya selalu terkesan dengan lukisan ikon-ikon dari Bunda Maria yang menggendong Yesus hingga tokoh-tokoh Kristen sejak zaman apostolik.

Bagaimana menjelaskan kedua fenomena itu? Saya akan menelusuri dampak estetik dari konsep “wahyu” dalam Islam dan Kristen terhadap seni dan bagaimana sikap kedua agama tersebut dibentuk oleh konteks sosio-historis.

Wahyu, Kaligrafi, dan Ikonografi
Konsep “wahyu” cukup rumit. Masing-masing penganut agama memahaminya berbeda. Cara terbaik memahami wahyu ialah sebagaimana dipersepsikan oleh mereka yang mengimaninya. Walaupun Islam dan Kristen ialah agama wahyu, sebagaimana diyakini pengikut kedua agama itu, konsepsi wahyu mereka jelas berbeda. Dan perbedaan tersebut berpengaruh terhadap ekspresi seni.

Dalam Islam, wahyu adalah firman Allah yang tercatat dalam al-Qur’an. Kaum Muslim meyakini bahwa al-Qur’an merupakan kalam Allah verbatim. Karenanya, teks al-Qur’an sangat sentral dalam tradisi Islam.

Dalam tradisi Kristen, wahyu dipahami sebagai “penyingkapan” diri Tuhan yang mencapai kulminasinya pada Yesus. Karenanya, yang sentral dalam tradisi Kristen bukan Alkitab, melainkan Yesus Kristus sebagai inkarnasi Tuhan. Alkitab yang diterima Gereja sebagai kanon tak lebih dari kesaksian normatif atas wahyu (Yesus) itu.

Baca Juga :   Mengenang Huston Smith

Perbedaan konsepsi wahyu ini punya implikasi estetis. Sementara kaum Muslim menonjolkan aspek verbalitas wahyu (teks) karena firman Allah mengambil bentuk “kata”, umat Kristiani menekankan visualitas wahyu (gambar) karena firman Allah termanifestasi dalam wujud manusia.

Maka, secara alamiah, perbedaan tersebut berimplikasi terhadap cara mereka mengagungkan dan mengekspresikan kesaksian pada wahyu Ilahi itu. Yang satu dengan kaligrafi yang indah (Islam), yang lain dengan gambar dan lukisan yang menawan (Kristen).


Kaum Muslim meyakini bahwa Nabi Muhammad menerima dan menyampaikan firman Allah melalui perantaraan malaikat Jibril. Wahyu tersebut tidak berbentuk manusia, sebagaimana dalam tradisi Kristen, tetapi dalam bentuk verbal. Karena itu, representasi visual dari wahyu tersebut berpusat pada teks, bukan gambar atau lukisan.

Dalam tulisannya Principles of Islamic Art (1995), Seyyed Hossein Nasr memberikan argumen menarik kenapa kesenian Islam cenderung menonjolkan keindahan kata (teks) ketimbang gambar (lukisan). “Tuhan yang maha absolut tidak akan turun ke dalam dunia bentuk,” kata Nasr. Itulah sebabnya kenapa kesenian Islam tidak mencoba menggambarkan Tuhan secara langsung, melainkan tanda-tanda kehadiran dan keindahannya di dalam alam manusia. Dan seni kaligrafi bersifat indikatif, bukan ikonik.

Di pihak lain, tradisi visual Kristen dibangun di atas kewujudan Tuhan di bumi (inkarnasi). Bertolak belakang dengan warisan Yahudi, umat Kristiani dibolehkan bahkan didorong untuk menggambarkan Tuhan karena Tuhan telah menjadi manusia (firman menjadi daging).

Lebih dari itu, tubuh manusia sendiri—bukan hanya soal Tuhan menjadi manusia—dapat dikuduskan. Karena itu, dapat dimengerti kenapa lukisan figur-figur penting dalam sejarah Gereja yang panjang dapat dijumpai di setiap katedral. Tubuh sangat terkait dengan jiwa dan secara inheren bagus. Menggambarkan bentuk tubuh, sebagai kendaraan menuju keselamatan, merupakan sebuah karya besar.

Baca Juga :   Menteri Lukman dan Politik Takfir

Apakah Islam Anti-Lukisan, Sementara Kristen Pro-Lukisan?
Pertanyaan ini seringkali dijawab afirmatif. Padahal, kenyataannya lebih kompleks dari yang kita duga.

Saya pernah punya pengalaman buruk ketika kuliah di Pakistan. Seorang teman Wahhabi mencoret bagian wajah foto orangtua saya yang digantung di dinding kamar hostel. Alasannya, karena Nabi melarang gambar/lukisan makhluk bernyawa.

Saya tidak bermaksud mendiskusikan alasan normatif di atas karena kenyataannya ada hadis-hadis lain yang mengindikasikan Nabi menolerir gambar, bahkan patung boneka. Konon, Aisyah sendiri ketika dinikahi Nabi masih suka main boneka!

Sejarah juga mencatat, saat penaklukan Mekkah, walaupun memerintahkan penghancuran patung-patung yang ada di sekitar dan di dalam Ka’bah, Nabi Muhammad menyuruh para sahabatnya untuk menyimpan patung Maryam dan Isa.

Jadi, sikap Islam terhadap lukisan orang atau bahkan patung tidaklah hitam-putih sebagaimana dipahami sebagian orang, termasuk teman Wahhabi saya itu. (Saya masih anggap dia teman, lho, walaupun mencoret foto orangtua saya!) Reaksi negatif Nabi pada karya seni figural tampaknya lebih disebabkan oleh kekhawatiran terhadap kemusyrikan.

Demikian juga sikap Kristen tidak sepenuhnya pro-lukisan. Sebagaimana kaum Muslim, umat Kristiani juga khawatir tentang potensi kaitan antara seni figural dan syirik. Pada tahun-tahun awal Kristen, lukisan figural sangat jarang ditemukan. Jikapun ada, tak satu pun terkait lukisan Yesus.

Para sarjana berbeda pendapat tentang apa penyebabnya. Sebagian sarjana melacak pada anikonisme Yahudi. Sebagian lain merujuk pada instabilitas ekonomi yang menyebabkan umat Kristen awal tidak mampu melahirkan karya seni secara umum. Ada juga yang mengaitkan kelangkaan lukisan tentang figur-figur dengan stigma sosial penggambaran Yesus, terutama kematian Yesus yang dianggap sebagai isyarat kelemahan.

Baca Juga :   Imagined Indonesia: Belajar dari Bantul dan Pesantren Ngalah

Menarik dicatat, soal koneksi lukisan dan syirik sempat beberapa kali mengemuka sepanjang sejarah Kristen. Misalnya, pada abad ke-8 muncul penolakan terhadap lukisan (dikenal dengan sebutan “iconoclasm”) di Bizantin yang dianggap bisa menjerumuskan umat pada kesyirikan. Sebagai respons atas fenomena itu, St. Yuhanna dari Damaskus menulis secara ekstensif pembelaan terhadap pentingnya lukisan figural.

Juga ketika Reformasi yang kemudian melahirkan agama Protestan bergejolak pada abad ke-16, banyak lukisan dan patung dihancurkan dan dirobohkan. Sebagai reaksi terhadap ikonoklasme estetik modern, Paus Yohannes Paulus II menulis surat kepada para artis untuk mengembangkan karya seni figural.

Kendati perkembangan seni lukisan bersifat fluktuatif, ajaran Kristen tentang seni selalu didasarkan atas doktrin inkarnasi. Setiap seniman/pelukis Kristen merujuk pada manifestasi Tuhan dalam bentuk daging sebagai justifikasi penggambaran Tuhan secara fisik. Para kaligrafer Muslim pun bertujuan mengagungkan kalimat-kalimat Allah melalui goresan pena mereka.

Demikianlah, Kristen dan Islam tidak mencapai suatu posisi tertentu tentang seni hingga ratusan tahun dalam sejarah panjang kedua agama. Di jantung keragaman ekpresi kesenian agama ialah refleksi dan pengalaman teologis yang menuntut kita untuk mengapresiasi perbedaan, seperti disarankan Saudara Rinto Pangaribuan. Seni itu indah dan mengapresiasi keindahan adalah keindahan yang tiada tara.

Boston, 21 Juli 2016


Written by Mun'im Sirry

Mun'im Sirry

Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA. Tiga karyanya: "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis Atas Kritik Al-Quran Terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR